Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 8. Ketidaksengajaan.



Mendengar tangisan seorang anak dari luar kelas yang cukup mengagetkan, Gendhis yang sedang menata buku-bukunya di dalam kelas segera berlari keluar dan mendapati seorang anak usia tiga tahunan yang sedang menangis hebat sambil memegangi lututnya yang berdarah. Sementara anak-anak lain mulai mengerumini.


"Ya, Gusti!" pekik Gendhis sambil meraih tangan Alikha, balita yang sedang menangis meraung-raung itu dan menggendongnya. Ia berjalan buru-buru menuju ruang UKS. Seorang rekan guru mengikutinya dengan wajah cemas.


"Ada apa, Bu Gendhis?" tanya Bu Rieka, perempuan berumur tiga puluhan tahun yang kini sudah berjalan di sampingnya, memperhatikan Alikha yang ada di dalam gendongan Gendhis.


"Jatuh, Bu. Saya lagi rapiin buku tadi di dalam kelas. Anak-anak sudah di luar semua termasuk Alikha." Gendhis dengan raut wajah penuh sesal mendorong pintu ruang UKS dan masuk ke dalamnya. Ia membaringkan Alikha yang masih menangis di atas ranjang kecil memanjang yang mirip dengan ranjang rumah sakit. "Alikha, boleh ibu lihat lukanya?" bujuknya saat bocah perempuan itu menutupi lutut dengan erat.


"Nggak maauu, sakittt ... berdaraahh ...." Alikha dengan wajah sembab dan air mata yang berderai-derai, berseru dan menggeleng.


"Alikha ... boleh dibersihkan dulu lukanya supaya tidak infeksi, ya?" Kini giliran Bu Rieka yang membujuk anak itu. Namun tetap saja bersikeras untuk tidak membiarkan siapapun menyentuh luka di lututnya.


Perlu waktu lama untuk meyakinkan Alikha, hingga anak itu pun akhirnya menyerah, kemudian membiarkan Gendhis membersihkan dan mengobati lukanya. Kulit lututnya sedikit terkelupas dan mengeluarkan darah. Sepertinya saat terjatuh, lutut Alikha membentur dan bergesekan dengan lantai cukup keras. Gendhis berharap hanya kulit terkelupas saja tanpa ada retak tulang atau terkilir. Namun, mendengar tangis Alikha beberapa saat lalu yang begitu histeris, membuatnya mau tidak mau berpikiran buruk.


"Saya yang lalai, Bu Rieka," ucap Gendhis seraya mengelus punggung Alikha yang kini sudah berada di pangkuannya.


"Tidak apa-apa, Bu Gendhis. Kejadian seperti ini sudah biasa terjadi. Namanya juga anak-anak, mereka aktif, kita sebagai guru juga manusia biasa yang terkadang tanpa disengaja bisa lalai. Nanti, kalau orang tua Alikha njemput, Bu Gendhis lapor saja. Mereka juga nggak akan nyalahin guru pastinya."


Gendhis menghela napas berat. Mungkin mereka tidak akan menyalahkan kelalaiannya. Namun, bisa saja mereka akan menilai kinerjanya sebagai guru sangatlah buruk.


Dan siangnya, saat ibunya Alikha datang menjemput, ucapan Bu Rieka tentang orang tua bocah perempuan itu yang bisa memaklumi kecelakaan kecil yang menimpa sang putri, tidak terbukti. Perempuan kurus berwajah kusut, dengan riasan tipis yang tidak mampu menutupi area cekung di sekitar matanya, mengucapkan hal-hal yang membuat Gendhis, merasa tidak enak hati.


"Iya, saya mohon maaf, Bu Nita ... saya memang lalai. Semua salah saya, Bu. Kebetulan guru yang biasanya membantu saya di kelas sedang tidak masuk." Gendhis mencoba mengalah untuk menghindari pertikaian. Karena sepertinya perempuan yang jika dilihat secara seksama itu, cukup cantik dengan rambut sebahunya, terlihat tidak terima lutut anaknya terluka.


"Guru yang membantu nggak masuk bukan alasanlah, Bu. Saya sungguh menyesalkan kenapa anak saya bisa jatuh. Tugas ibu di sini kan mengawasi dan menjaga murid termasuk anak saya. Iya kalau cuma luka lecet. Nanti kalau saya bawa ke dokter, ternyata ada tulang yang retak, bagaimana? Terus, besok-besoknya gimana, Bu? Saya kan jadi nggak tenang nitipkan anak saya di sini." Perempuan itu, Nita, berbicara panjang lebar.


"Iya, Bu ... saya mohon maaf, Bu. Saya janji hal seperti ini nggak akan terjadi lagi," ucap Gendhis. Rasanya ia sudah merendahkan diri dengan tidak mendebat bahwa manusia biasa bisa saja lalai, dan kejadian seperti ini bisa terjadi pada siapa saja. Namun, ibunda Alikha sepertinya bukan perempuan yang mudah berkompromi. Tipe-tipe perempuan yang tidak mudah mengalah.


"Saya mau bicara dengan kepala sekolah ya, Bu. Permisi." Nita menggendong Alikha keluar dari ruang guru.


Sepeninggal perempuan itu, Gendhis memijit keningnya. Ia tidak habis pikir, jarak waktu antara ia membiarkan anak-anak keluar sendiri dan dirinya merapikan buku-buku hanya sebentar saja. Mungkin jika rekan gurunya tidak izin hari ini, kejadian ini tidak akan terjadi. Karena biasanya ada yang mengawasi mereka di luar kelas saat Gendhis masih sedikit sibuk. Hari ini ia memang sedikit kewalahan.


Gendhis menghela napas berat. Ia memakai sweater yang tersampir di sandaran kursi, lalu memakainya. Diraihnya tas selempang dan beranjak meninggalkan ruang guru.


Ia melambai pada beberapa rekan guru yang sedang mengobrol di koridor. Lalu melangkah keluar melewati gerbang. Langkahnya terhenti saat melihat sosok jangkung berbalut seragam bengkel biru tua yang ada di bawah jaket semi parka warna krem, berdiri di bawah tiang lampu di trotoar.


"Mas Shaka," sapa Gendhis.


"Dari mana, Mas?" Gendhis berbasa-basi.


"Mlaku-mlaku (Jalan-jalan)," kekeh Shaka dengan aksen Jawa-nya yang lucu.


Gendhis mengangguk-angguk sambil mengulas senyum. Orang Jakarta kalau bicara bahasa Jawa kenapa bikin gemas, pikirnya. "Owh, lagi istirahat, ya?"


"Iya, nih ... terus, nggak ada temen buat makan siang bareng. Aku jadi inget kamu, makanya aku ke sini. Siapa tahu mau nemenin lagi, gitu."


"Owh." Gendhis baru ingat kalau ia belum sempat makan siang karena tadi harus mengurus Alikha, setelah itu bertemu dengan ibu anak itu.


"Kalau aku lihat-lihat kamu belum makan nih kayaknya. Kelihatannya lemes banget," goda Shaka seraya memiringkan kepalanya memperhatikan wajah Gendhis yang sedikit menunduk.


"Iya, belum, Mas." Gendhis tersenyum malu. Sejujurnya ia lemas bukan karena belum makan siang. Namun, lebih kepada terbebani dengan pikiran tentang Alikha dan kata-kata Nita.


"Nahhh!" Shaka berseru girang. "Kebetulan banget. Makan, yuk. Ada tempat enak nggak, ya, deket-deket sini?" tanyanya seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling.


"Itu di seberang ada warung padang, Mas," tunjuk Gendhis dengan polosnya.


"Owh, masakan padang enak juga, sih. Cuman, kayaknya kalau buat sambil ngobrol-ngobrol lama tuh enggak enak deh. Rame pula tuh. Aku mau cari tempat yang nyaman, Dhis."


Gendhis tidak mengerti apa maksud Shaka. Kalau hanya untuk mengisi perut, warung padang di seberang jalan sudah sangat cukup. Porsi banyak dan murah lagi.


"Kamu bisa tunggu sini dulu, nggak? Aku ambil mobil bentar," ucap Shaka.


"Ke-kenapa harus ambil mobil?" tanya Gendhis gugup.


"Ya buat nyari tempat yang agak jauh dari sini, Dhis. Masa mau jalan kaki," gelak Shaka. "Aduh, ya ampun! Kamu nggak bawa motor, kan?"


Gendhis menggeleng. "Enggak, Mas."


"Ya udah, bentar, ya?" pinta Shaka. Namun, saat ia hendak memutar badan meninggalkan Gendhis, sebuah panggilan dari arah pintu gerbang membuatnya seketika menoleh.


"Loh, Nit ... anakmu sekolah di sini?"


***