
Setelah membujuk Gendhis dengan susah payah untuk diantar pulang, karena perempuan ayu itu tidak membawa kendaraan sendiri, Shaka akhirnya berhasil membawa Gendhis ke dalam mobilnya. Dan Shaka pun mulai menyusun kata-kata untuk mengawali obrolan dengan makhluk manis di sampingnya itu, diiringi dengan lagu sendu milik Bobby Vinton, I love how you love me.
"Jadi inget jaman dulu ya, Dhis," ucap Shaka memecah keheningan di antara mereka.
Gendhis hanya mengulas senyum tipis. Ia bahkan masih tidak mengerti dengan dirinya yang begitu lemah, luluh oleh bujukan Shaka.
"Jadi gimana, Dhis? Tadi kayaknya jawaban kamu belum pasti deh, mengenai les tari karyawan kantorku."
"Emm ... ya, bisa aja sih, Mas."
Shaka tersenyum senang. "Okay, deal ya berarti."
Gendhis mengangguk. "Kapan rencananya?"
"Nanti tak koordinasi sama mereka dulu. Kalau udah dapet harinya, baru aku kabarin ke kamu. Eh, tapi gimana ngabarinnya, ya? Kan aku nggak ada nomer kamu yang baru," kekeh Shaka. Ia lalu merogoh saku celananya dan memberikan ponsel miliknya pada Gendhis. "Tulis nomermu, ya? Bisa kan? Nggak aku lock kok layarnya."
Gendhis pun pasrah. Lalu berkali-kali ia meyakinkan diri kalau ini hanya urusan pekerjaan. Ya, sungguh ia berharap hanya sebatas itu saja. Meskipun, ia meragukan keteguhan hatinya sendiri. Lalu, diserahkannya kembali ponsel milik Shaka.
"Rumahnya mana kemarin? Congcat, ya?" tanya Shaka.
"Iya, Mas."
"Masih inget jalan di sini nggak, ya," kekeh Shaka seraya memutar kemudi masuk ke jalan yang lebih kecil. "Bener kan, lewat jalan ini tembusannya kalau mau ke daerah Congcat?"
"Bener, Mas."
Shaka mengulas senyum tipisnya. Ia melirik si perempuan pujaan yang tampak sering memperbaiki posisi duduknya. Entah karena gelisah atau karena sedang salah tingkah. Yang jelas ia menangkap kegugupan dan gerak-gerik Gendhis.
Betapa inginnya Shaka menanyakan tentang status pernikahan Gendhis sekarang, namun ia begitu takut akan mendengar jawaban yang akan membuat hatinya sakit hati. Mungkin jika Gendhis tidak bahagia dengan pernikahannya, ia akan dengan senang hati merebutnya dari tangan suaminya. Namun, jika ternyata kehidupan pernikahan Gendhis baik-baik saja, apa ia bisa menjadi orang jahat yang menghancurkan sebuah pernikahan demi egonya? Dan yang paling menakutkan adalah, bagaimana jika Gendhis ternyata sudah menyerahkan hatinya pada Bisma?
"Mas Shaka kenapa?" tanya Gendhis heran melihat Shaka mengacak rambut panjangnya yang diikat sembarang.
"Oh, nggak papa, keinget sesuatu yang nyebelin aja," kekeh Shaka.
"Owh." Gendhis tidak ingin menanyakan lebih lanjut. Barangkali sesuatu yang menyebalkan itu berhubungan dengan cerita masa lalu mereka.
"Dhis ...."
"Ya?"
Shaka menarik napasnya pelan. "Boleh bilang sesuatu, nggak?"
"Apa, Mas?"
Shaka menelan salivanya untuk melicinkan tenggorokan. "Malam itu, waktu kamu dateng ke rumah ...."
"Mas ...," potong Gendhis.
"Maaf, Dhis," ucap Shaka. "Sebenarnya aku cuma pingin kamu tahu, kalau aku seneng banget bisa ketemu kamu lagi."
Gendhis menimpali ucapan Shaka dengan senyuman tipis. Sejujurnya ia juga merasakan hal yang sama. Senang, rindu, namun lagi-lagi karena keadaan yang tidak lagi sama, yang tidak mungkin baginya dan Shaka melepas kerinduan yang begitu membuncah.
"Kamu seneng nggak sih, ketemu aku lagi?" tanya Shaka.
"Seneng, Mas."
"Beneran? Kok lempeng gitu mukanya kalau emang seneng," goda Shaka. Ia mencoba tetap menjadi Shaka yang hangat dan selalu bisa menghidupkan suasana saat bersama perempuan sediam Gendhis.
"Aku kan emang gini, Mas. Lupa?"
Shaka terbahak. "Nggak lupa lah, Dhis. Nggak pernah lupa aku sama semua yang ada di kamu."
Hati Gendhis menghangat. Seperti sedang menyelami masa-masa manisnya dulu bersama Shaka, yang ia rasakan hanya rasa nyaman. Ia tidak menyangka dirinya bisa merasakan atmosfer yang begitu membahagiakan ini lagi setelah sekian lama hatinya kosong dan dingin.
"Nggak papa, dong. Kenapa, Dhis?"
Gendhis menggeleng. Namun, Shaka sepertinya tahu ke mana arah ucapan Gendhis. "Aku masih sendiri, kok," ucap Shaka seraya mengulas senyumnya.
"Aku nggak punya pacar, Dhis. Selama ini aku nggak pernah dekat sama perempuan mana pun." Shaka menegaskan sekali lagi ucapannya saat dilihatnya Gendhis sedang mencerna kata-katanya.
Dada Gendhis berdebar tidak karuan. Shaka masih sendiri. Lalu perempuan yang aku lihat malam itu siapa?
"Nggak ada yang bisa gantiin kamu."
Gendhis menelan salivanya. Shaka begitu jujur. Dan selama ini Shaka tidak pernah berhubungan dengan perempuan mana pun. Apakah lelaki ini menjaga hatinya untuk Gendhis?
"Nggak tahu ya, Dhis. Mungkin selama ini orang pikir aku bodoh atau apa lah. Tapi, aku selalu percaya aku bakal ketemu kamu lagi, Dhis. Entah gimana pun jalannya. Nyatanya, bener kan kita ketemu lagi," kekeh Shaka.
Betapa ingin Gendhis menangis mendengar ucapan jujur Shaka. Hatinya merasakan kesedihan yang teramat sangat.
"Bodoh aku, Dhis. Seharusnya dulu aku berjuang lebih keras lagi, dari pada menyerah begitu saja kamu diambil orang." Suara Shaka bergetar. Gendhis melihat cengkeraman tangan Shaka pada roda kemudi begitu kuat, seperti sedang menggambarkan kegeraman hatinya.
"Dhis, kamu nggak perlu menimpali apa pun ucapanku. Aku cuma pingin kamu dengerin aja dulu. Biar kamu tahu yang aku rasakan selama ini."
"Nggak sedikitpun perasaanku berubah sama kamu, Dhis."
Gendhis memejamkan matanya. Gustiii ... sekali saja bolehkah aku menjadi orang yang egois? Bolehkah aku memikirkan kebahagiaanku sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain?
"Mas, masuk ke gang depan itu," tunjuk Gendhis.
Shaka mengangguk. Lalu memutar kemudi masuk ke dalam gang bergapura yang menunjukkan bahwa mereka masuk ke dalam area perumahan. "Yang mana rumahmu, Dhis?" tanya Shaka seraya memeriksa sekeliling.
"Gang kedua. Jalan Anggrek, Mas."
"Okay ...."
Masuk ke gang yang ditunjuk oleh Gendhis, Shaka menepikan mobilnya di depan sebuah rumah bercat putih yang cukup besar. "Rumahnya bagus," puji Shaka berbasa-basi.
"Rumahnya Mas Bisma. Aku cuma numpang kok," timpal Gendhis.
"Owh." Apakah Gendhis sedang mencoba memberitahukan padanya kalau hubungannya dengan suaminya itu sudah berakhir. Shaka bahkan belum sanggup untuk menanyakan hal itu secara langsung.
"Makasih ya, Mas," ucap Gendhis seraya membuka pintu mobil dan bersiap untuk keluar.
"Emmm ... nanti aku kabarin hari kamu ngajar les-nya, ya. Yang penting nggak tabrakan sama jadwal ngajar kamu yang udah ada, kan?"
Gendhis mengangguk. Ia menutup pintu mobil dan berdiri menunggu Shaka berlalu dari hadapannya. Ia menghela napasnya berat. Dirinya merasa sedang membiarkan perasaannya larut dalam nostalgia yang menyenangkan, namun ia tidak tahu apa yang sedang menunggu di depannya.
"Mbak Gendhis pulang sama siapa tuh?"
Gendhis menoleh ke arah sampingnya. Seorang perempuan muda sedang mendorong stroller bayi masuk ke halaman rumah sebelah.
"Dianter temen, Mbak Yani." Gendhis menjawab dengan seulas senyum ramah.
"Wah, Mbak, suami lagi sakit di rumah orang tua, malah pergi-pergi sama temen laki-laki."
Gendhis tersenyum mendengar ucapan tetangganya. "Tadi kebetulan ketemu di tempat saya ngajar, Mbak Yani. Karena satu arah, temen saya itu nawarin tumpangan. Lumayan kan hemat ongkos ojek." Ia menjawab dengan santai. Lalu berpamitan pada tetangganya yang dipanggil dengan nama Yani itu. Si tetangga mencibir begitu Gendhis memutar badan melangkah masuk ke dalam rumahnya.
***
Turut berduka yang sedalam-dalamnya, atas pulangnya teman kita Mami Theresia Setyawati (Mami Thesa). Beliau salah satu pembaca saya dan komunikasi saya dengan beliau terjalin baik.
Mami Thesa orang baik dan semoga beliau ditempatkan di tempat yang indah. Amen.