
Sosok Nita yang sedang duduk di teras rumahnya, membuat Shaka yang baru saja masuk ke halaman rumah dengan mobilnya, terkejut. Tidak hanya terkejut, namun dirinya tidak habis pikir kenapa perempuan itu datang lagi, sendirian.
Karena itu, begitu keluar dari mobil, Shaka tidak mengulas senyum sedikit pun. Ia takut Nita akan mengartikan bahwa ia senang dengan kehadiran sang mantan kekasih.
"Kamu ngapain ke sini, Nit?" tanya Shaka saat sudah berada di depan pintu rumahnya. Dilihatnya penampilan Nita cukup kacau. Mata sembab, hidung memerah, rambut disisir seadanya, dan tubuhnya meskipun masih ramping, terbalut dengan pakaian yang terkesan asal pakai. Entah kesan apa yang ingin ditunjukkan oleh perempuan itu di mata Sakha.
"Aku nggak tahu harus ke mana lagi. Bisa tampung aku barang sehari atau dua hari, Ka, please."
Sakha melirik koper kecil yang ada di sebelah kursi tempat Nita duduk. "Kamu kabur dari rumah atau ... diusir sama Dimas?" tanyanya. Sungguh, perempuan ini benar-benar kacau. Kacau dalam berpikir dan mengatasi masalah yang sedang ia hadapi.
"Aku pergi dari rumah."
"Anakmu gimana, Nit?" Sebuah pertanyaan retorik Shaka lontarkan pada perempuan berambut sebahu itu.
"Sama Dimas di rumah."
"Dimas tahu, nggak, kamu pergi?"
Nita mengangguk pelan. "Aku dan Dimas mau cerai bentar lagi. Rumah itu kan milik orang tua Dimas, jadi aku yang harus pergi."
Shaka menghela napasnya. "Aku turut prihatin, Nit. Sayang banget, sih, kalau kalian sampai pisah. Tapi, yah, itu masalah intern kalian. Cuman, aku nggak bisa nolongin kamu buat tinggal di sini sementara. Aku nggak mau kena masalah, Nit."
"Cuma satu atau dua hari aja, Ka. Kamu nggak kasihan apa sama aku?" tanya Nita memelas. "Aku tuh nggak punya tabungan sepeser pun. Makanya aku pergi dari rumah Dimas tanpa bawa Alikha, karena aku belum bisa ngasih makan ...." Nita pun terisak.
"Bukan masalah aku nggak mau bantuin atau aku nggak kasihan sama kamu. Tapi, masalah rumah tangga itu sensitif banget. Kalian kan lagi dalam proses cerai, kalau aku tampung kamu di sini, aku bisa aja dicap merebut istri orang." Dan sejujurnya bukan hanya karena tidak ingin kena masalah saja ia menolak menampung Nita. Shaka merasa risih saja dengan perempuan itu.
Isak tangis Nita mulai terdengar jelas. Shaka menyugar rambutnya kasar. Ini sungguh merepotkan. Setelah berpikir sejenak dan membiarkan Nita tenggelam dalam tangisannya tanpa berniat untuk menghibur perempuan itu.
"Gini aja, deh. Kamu ada pegang duit, nggak?" tanya Shaka, saat ia menemukan solusi.
Nita menggeleng. "Duit buat ongkos doang."
Shaka mengambil dompet dari saku celananya, dan mengeluarkan sepuluh lembar kertas berwarna merah dan meletakkannya di atas meja. "Kamu pakai dulu ini buat nyari kos, Nit."
Perempuan itu menatap Shaka dengan mata berkaca-kaca. Ya, tentu saja ia butuh uang. Tapi bukan itu yang ia inginkan. Ia ingin Shaka mengizinkannya tinggal di rumahnya ini. Ia ingin dekat dengan pemuda itu. Ia ingin merasakan kembali pelukan hangat Shaka, mendengarkan kembali gurauan recehnya, atau sikap jahil pemuda itu yang kadang membuat dirinya ngambek, namun Shaka selalu berhasil menggodainya. Semua kenangan itu, yang ingin direguknya kembali.
Nita menghela napasnya dalam-dalam. Mungkin ia harus pelan-pelan mendekati Shaka. Ini terlalu agresif. Bisa-bisa Shaka menjauh. Toh, sekarang ia sudah punya banyak waktu untuk dekat dengan Shaka kembali. Ia akan segera berpisah dengan Dimas, dan hak asuh Alikha jatuh di tangan calon mantan suaminya itu.
"Ya, udah, Ka. Makasih banget, ya?" ucap Nita seraya mengambil uang yang diberikan oleh Shaka. "Nanti kalau aku udah dapet kerjaan, aku ganti duitnya."
"Nggak usah, Nit. Pakai aja," ujar Shaka. Ia ingin sekali perempuan itu segera pergi dari rumahnya. Ia benar-benar merasa risih. Pasalnya, ia tidak habis pikir kenapa Nita memilih untuk mendatanginya saat menghadapi badai rumah tangga. Kenapa ia tidak meminta bantuan keluarga, atau teman-temannya yang lain? Kenapa pula perempuan itu tidak fokus saja berjuang mengambil hak asuh anaknya? Daripada berkeliaran seperti itu, seperti orang yang tidak tahu arah tujuan.
"Makasih banget, Ka." Nita beranjak dari duduknya, meraih pegangan koper, dan berpamitan pada Shaka.
Sepeninggal Nita, Shaka tidak segera masuk ke dalam rumah. Ia duduk di kursi terasnya, menggulir layar ponsel untuk menelepon seseorang. Dimas, tentu saja. Ia tidak ingin terjadi kesalahpahaman dengan lelaki itu tentang kedatangan Nita barusan, dan juga bantuan sekadarnya yang ia berikan pada perempuan itu.
***
"Arkha, boleh mengantri, Nak?" Gendhis meraih lengan anak bertubuh gempal dengan pipi chubby itu dan membawanya masuk kembali ke dalam antrian makan siang bocah-bocah balita yang mulai tidak beraturan dan saling menyerobot.
Waktu makan siang adalah saat yang paling membutuhkan ektra tenaga dan kesabaran menghadapi anak-anak balita itu. Tidak mau mengantri mengisi piring makanan, saling berebut antrian, berantem, jatuh, dan semua tingkah anak-anak yang bisa membuat kepala pening. Namun Gendhis, sudah terbiasa menghadapi kerewelan murid-muridnya dengan sabar.
Gadis itu dengan telaten mengatur posisi melingkar anak-anak didiknya untuk melakukan doa bersama sebelum acara makan siang dimulai. Ia cekatan menata piring-piring berisi menu makan siang milik anak-anak itu di atas meja yang sudah disusun melingkar, sambil sesekali menegur beberapa anak yang tidak sabar ingin menyantap makanannya.
"Mari, Teman-teman ... kita berdoa dulu sebelum makan, ya. Bagaimana posisi tangan saat berdoa? Tangan ke atas ...." Suara salah seorang rekan gurunya terdengar memimpin doa.
Gendhis duduk memangku Alikha yang siang itu sangat rewel. Sedikit-sedikit menangis, sedikit-sedikit merengek. Gadis kecil itu sepertinya sedang dalam suasana hati yang buruk. Pagi tadi, tidak seperti biasanya, yang mengantar Alikha adalah pengasuhnya. Saat ditanya kenapa bukan mamanya yang mengantar, sang pengasuh mengatakan jika sang mama sedang berada di luar kota untuk beberapa hari. Batin Gendhis, mungkin karena hal itu, Alikha menjadi rewel.
"Alikha, boleh makanannya tidak dijadikan mainan, Sayang?" tegur Gendhis lembut saat melihat gadis itu *******-***** nuggets dengan jemari mungilnya. Namun, teguran lembut saja membuat Alikha menangis.
"Al-likha nggak mau makaann!" rengek gadis kecil berambut panjang itu.
"Alikha, ingat yang Bu Ndhis bilang? Manusia harus makan biar ...."
Alikha menggeleng keras. "Nggak mauu, nggak mauu ... Alikha mau mamaaa ...."
"Iya, Alikha ... nanti ketemu mama, ya ... sekarang Alikha makan dulu," bujuk Gendhis.
"Mama nggak pulaaang." Tangis Alikha semakin menjadi. Anak itu bahkan membalik piringnya sehingga makanan pun tumpah hingga ke bawah meja. Hal itu menarik perhatian seisi ruangan. Untung saja piring terbuat dari bahan plastik PVC yang tidak mudah pecah.
"Ada apa, Bu Gendhis?" tanya seorang rekannya yang tadi memimpin doa. Perempuan berkerudung itu menghampiri Alikha dan Gendhis.
"Alikha tidak mau makan, Bu Ambar. Dari pagi memang sudah sedikit rewel," jawab Gendhis setengah berbisik seraya memunguti nuggets dan sayuran yang berhamburan di meja dan lantai.
Perempuan berusia empat puluhan yang dipanggil Bu Ambar itu menghampiri Alikha yang sedang menelungkupkan wajahnya ke atas meja.
"Saya ambilkan dulu makanan baru untuk Alikha, Bu." Gendhis bergegas menuju meja di sudut ruangan yang dipakai untuk menyimpan sisa menu makan siang yang belum dibagikan. Sambil mengisi piring baru untuk Alikha, Gendhis sesekali menoleh ke arah gadis kecil yang sedang dibujuk oleh Bu Ambar itu. Firasatnya mengatakan ada yang tidak beres dengan orang tua Alikha.
Ada apa, ya, sama Alikha? Kira-kira apa Shaka tahu, apa yang sedang terjadi di rumah muridnya itu?
***