
"Mas, kita ke rumah ibu sekarang," pinta Gendhis pada Bisma yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan wajah cemas.
"Ada apa, Dhis?" tanya Bisma sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Nggak tahu, pokoknya ibu minta kita ke sana."
"Iya, aku pake baju dulu."
Gendhis menutup pintu kamar dan menunggu Bisma di ruang tengah. Benaknya diliputi kecemasan. Beberapa saat lalu ibunya menelepon menyuruhnya dan Bisma untuk segera datang. Ada sesuatu yang akan perempuan itu bicarakan dengannya dan juga Bisma.
Ada apa lagi ini? Apa yang diinginkan lagi oleh ibu? Bukankah keinginannya sudah terkabul? Apa lagi yang akan ia tuntut sekarang?
"Ayo, Dhis." Bisma keluar dari kamar dengan pakaian rapi. Gendhis lalu mengikuti lelaki itu menuju ke halaman rumah di mana mobilnya berada.
"Ada apa kira-kira ya, Dhis?" tanya Bisma. Ia pun tidak mampu menyembunyikan rasa penasarannya.
"Nggak tahu," sahut Gendhis pendek. "Moga-moga aja nggak ada apa-apa."
"Iya, semoga aja ibu cuma lagi kangen," kekeh Bisma.
Gendhis mengulas senyum tipisnya sekilas. Lalu melempar pandang kembali keluar jendela. Jalanan Jogja yang semakin hari semakin ramai, justru membuat hatinya semakin sepi. Dan ia berharap bisa melihat sosok itu di antara keramaian itu.
Sampai di rumah Bu Ningsih, Gendhis dan Bisma segera masuk dan mendapati perempuan paruh baya itu sedang duduk di ruang tengah sembari memijit kepalanya. Sementara di seberangnya, Lingga duduk dengan kepala tertunduk.
Melihat kedatangan Gendhis dan Bisma, Bu Ningsih beranjak dari duduknya dan menghambur ke arah anak dan menantunya. Perempuan itu sedikit terkejut melihat Gendhis yang tampak lebih kurus dari terakhir kali ia melihatnya. Namun, ia tidak ingin membahas keadaan Gendhis karena ia sedang dirundung masalah yang begitu berat.
"Ada apa, Bu?" tanya Bisma. Ia melirik Lingga sekilas. Pemuda itu masih menundukkan wajahnya.
"Nak Bisma ... Ibu ndak tahu harus bagaimana. Lingga kuwi loh, Ya Gusti." Bu Ningsih terkulai lemas. Ia hampir saja roboh kalau saja Bisma tidak segera menangkapnya.
"Ada apa, Bu?" Gendhis memapah sang ibu kembali ke kursinya. "Ada apa, Dek?" Ia menatap Lingga, menuntut pemuda itu menjelaskan sesuatu.
"Lingga memghamili anak gadis orang, Dhis!" pekik Bu Ningsih tertahan. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak.
Gendhis terkejut bukan main mendengar penuturan sang ibu. Begitu juga Bisma. Keduanya saling melempar pandang, lalu bersamaan mereka mengalihkan tatapan pada Lingga. "Bener, Dek?"
Lingga tidak punya nyali untuk mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Bisma serta Gendhis. Rasanya ia sudah tidak merasakan keberadaan tubuhnya lagi.
"Berat sekali ujian hidup Ibu. Satu masalah selesai, muncul masalah baru," isak Bu Ningsih dalam pelukan Gendhis.
"Lingga, bisa ikut Mas ke depan?" pinta Bisma. Lingga mengangguk lemah. Masih dengan kepala tertunduk, ia pun mengekori Bisma menuju ke teras rumah.
"Bener yang dibilang sama Ibu?" tanya Bisma saat keduanya saling tatap.
"Tolongin aku, Mas." Lingga meraup wajahnya kasar. "Aku kapok, Mas. Aku tobat," erangnya.
"Sebentar-sebentar ...." Bisma mengelus dagunya. "Ini gimana ceritanya kok kamu bisa kena masalah besar kaya gini, Ngga?" Tentu saja ia tidak pernah menyangka sosok Lingga yang pendiam, mampu melakukan perbuatan tercela itu.
"Mas, tolongin aku. Aku nggak tahu harus gimana." Lingga meratap.
"Teman sekolahmu?"
Lingga menggeleng. Ini yang paling parah. Gadis yang ia hamili adalah gadis yang baru ia temui di rumah Rafi, sahabatnya. Ah, jika waktu dapat diputar kembali, ia akan menolak ajakan Rafi. Seharusnya, sejak kakinya sembuh, ia menjadi anak baik dan penurut saja.
"Aku belum siap nikah, Mas."
Bisma menghela napas dalam-dalam. "Makanya kita cari solusi bareng-bareng. Mas harus ketemu orang tua cewekmu ... emmm ... sapa namanya?'
"Najwa, Mas. Tadi mereka udah dateng ke sini."
"Terus, mereka nuntut apa?" tanya Bisma.
Lingga menyugar rambutnya kasar. "Ya itu, Mas ... mereka minta aku nikahin Najwa. Kalau nggak, mereka bakal laporin ke polisi, Mas," ujarnya frustfasi.
"Udah, tenang dulu, Ngga. Nggak ada masalah yang nggak bisa diselesaikan." Bisma menepuk-nepuk pundak sang adik ipar. Ia memosisikan dirinya sebagai satu-satunya orang yang bisa diandalkan dalam keluarga itu.
***
"Ndak henti-hentinya cobaan yang ibu alami. Ibu capek, Ndhis." Bu Ningsih mengusap air mata di pipinya dengan ujung pakaian. Perempuan itu tampak putus asa.
Gendhis terdiam seraya mengelus pelan punggung perempuan paruh baya itu. Ia hanya menjadi pendengar yang baik. Tidak mencoba untuk memberi solusi atau pun menghibur dengan ucapan-ucapan manis. Ia bahkan merasa tidak sudi untuk berbasa-basi dengan perempuan itu.
Ia merasa luka hatinya yang hampir kering kembali basah saat bertatap muka dengan sang ibu. Ia tidak tahu perasaan macam apa yang ia rasakan untuk perempuan yang telah melahirkannya itu. Dosakah ia jika dirinya kini tidak memiliki simpati atas masalah yang sedang Bu Ningsih hadapi?
"Ndhis ... kamu marah ya sama Ibu?"
Gendhis terkesiap. Ia mengadu pandang dengan Bu Ningsih. Sedikit terkejut, saat sekilas ia melihat sorot mata sang ibu terlihat berbeda. Sorot mata yang belum berani ia artikan. Yang jelas, pertama kalinya dalam dua tahun belakangan, semenjak ia memutuskan untuk menerima Shaka menjadi kekasihnya, ia tidak lagi melihat sorot mata penuh kebencian dari perempuan itu.
"Kamu kurus sekali, Ndhuk. Apa kamu sakit?"
Ibu yang bikin aku sakit!
Gendhis memalingkan wajahnya menghindari kontak mata dengan perempuan itu. Ia tidak mau memakinya.
"Ndhis?" Bu Ningsih meraih tangan putrinya itu. "Kamu sakit, Ndhuk?"
"Nggak, Bu." Gendhis memaksakan senyumnya. Ia yakin sang ibu tidak bodoh untuk dapat melihat keadaannya. Kecuali jika memang hatinya sudah tertutup awan hitam, seperti selama ini, yang tidak mampu melihat betapa menderita dirinya kehilangan Shaka.
Luka hati Gendhis pun kembali menganga.
"Kamu bahagia sama Nak Bisma?"
Gendhis mendecih, dalam hati. Kenapa baru sekarang sang ibu menanyakan hal itu padanya? Setelah apa yang perempuan itu lakukan padanya.
Ia menarik tangannya dari genggaman Bu Ningsih. Tiba-tiba saja ia merasa muak dengan sikapnya. "Menurut Ibu?" Ia menjawab pertanyaan sang ibu.
"Melihat kamu seperti ini, Ibu takut menyimpulkan, Ndhis."
Memang seharusnya Ibu tidak usah menyimpulkan apa-apa. Aku muak sama Ibu.
Gendhis mengulas senyum tipisnya yang hambar. Ia berdiri, lalu terdiam sejenak, mencoba mengontrol dirinya agar ucapan yang akan keluar dari mulutnya bisa ia kendalikan.
"Bu, masalah Lingga, nanti biar diurus sama Mas Bisma, nggih?" ucap Gendhis tanpa melihat ke arah perempuan itu.
***