
Beberapa hari ini semua berjalan lancar. Hubungan Shaka dan Gendhis mulus bagai jalan tol. Satu persatu aral rintangan telah mereka lalui. Kini, tinggal misi Shaka memberitahukan kepada orang tuanya di Jakarta, bahwa dirinya akan melamar Gendhis. Tentu, ayahnya tahu siapa Gendhis. Ia tahu kisah cinta putranya dulu yang menyakitkan itu.
"Kamu itu Papa tugasin ke Jogja bukan untuk nyari perempuan, Shaka." Suara Pak Yofan di telepon, saat Shaka menghubunginya malam itu.
Shaka tergelak. Ia tahu, ayahnya hanya bercanda. Tentu saja Pak Yofan bukan orang tua kolot yang senang menjodoh-jodohkan anaknya dengan anak rekan bisnis-misalnya; sangat sinetron sekali.
Malam ini Shaka hanya ingin meminta pada Papa-nya untuk datang ke Jogja lalu melamar Gendhis untuk dirinya. Dan walaupun Pak Yofan dalam ucapannya terdengar complain, lelaki itu dengan senang hati kita tidur.
"Maaafkan sebelumnya, Bu. Anak saya ini sudah dari kemarin-kemarin mendesak saya. memang nggak sabaran," ucap Pak Yofan saat bertatap muka dengan Bu Ningsih. Lelaki paruh baya itu melirik Shaka yang duduk di sampingnya, memijit tengkuknya sambil meringis. "Saya datang ingin melamar Gendhis untuk anak saya, Shaka."
Bu Ningsih mengulas senyumnya. Ia perhatikan ayahnya Shaka ini penampilannya sederhana. Namun, terlihat berkelas. "Saya sebagai orang tua Gendhis setuju-setuju saja, Pak. Saya lihat mereka berdua juga sudah ndak sabar."
Pak Yofan mengangkat kedua tangannya. Bibirnya mencebik sambil kepalanya mengangguk-angguk. "Kalau gitu selanjutnya saya serahkan ke anak saya saja untuk mengaturnya."
Shaka meringis senang. Ayahnya ini orang sibuk. Namun, demi dirinya ia rela untuk meluangkan waktu ke Jogjakarta untuk melamar perempuan pujaan anaknya. Setelah tugasnya selesai pun, Pak Yofan tidak menginap di kota itu. Hanya beberapa jam di rumah Gendhis dan langsung kembali ke Jakarta.
"Kalau di keluarga kami masih menerapkan ngitung weton, Nak Shaka," kata Bu Ningsih saat Shaka kembali keesokan harinya untuk menjemput Gendhis kencan dan membicarakan rencana pernikahan mereka.
"Weton, kaya hari baik gitu ya, Bu?" tanya Shaka seraya menatap Gendhis yang baru saja muncul dari balik pintu. Takjub. Calon istrinya itu begitu cantik dengan balutan pakaian casual. Celana denim warna coklat, sweater panjang, dan sepatu putih casual. Rambut panjangnya digerai begitu saja. Riasan tipis di wajahnya membuatnya terlihat menawan.
"Gitu loh, Nak Shaka."
"Emm ... iya, gimana, Bu?" Shaka gelagapan karena tidak terlalu memperhatikan Bu Ningsih yang baru saja menerangkan mengenai penghitungan tanggal baik pernikahan. Ia terlalu terpukau dengan makhluk manis di hadapannya itu.
"Halaah, Nak Shaka ini. Yowes lah, sesuk-sesuk neh Ibu terangken," gerutu Bu Ningsih.
"Siap, Bu," kekeh Shaka. "Gendhisnya aku culik dulu, ya?" Ia meraih tangan Gendhis dan menuntunnya turun dari teras rumah.
"Yoo, Gendhis ojo dikapak-kapake loh, Nak Shaka. Belum resmi. Belum halal!" seru Bu Ningsih.
"Aman, Bu!" Shaka menyahut seruan calon ibu mertuanya, kemudian berbisik ke telinga Gendhis, "Kan dulu udah aku apa-apain, ya, dua ka ... aauhhh!" pekik Shaka saat cubitan keras Gendhis mendarat di pinggangnya.
"Mas Shaka, ih! Nggak usah ngomongin itu terus," desis Gendhis sebal. Malunya minta ampun kalau kejadian itu diungkit kembali oleh Shaka. Pasalnya, dirinya dulu yang mendatangi rumah Shaka dan menyerahkan segalanya pada lelaki yang kini menjadi calon suaminya itu.
Shaka meringis. Lalu membukakan pintu mobil untuk Gendhis. Mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah yang luas.
"Sederhana aja ya acaranya, Mas. Aku kan udah pernah nikah. Nggak enak kalau rame-rame gitu," ucap Gendhis saat keduanya sedang menikmati makan malam di lesehan ayam goreng yang ada di daerah Malioboro.
"Ngikut aja aku, sih. Terserah kamu sama Ibu. Yang penting aku bisa ni durin kamu tiap malam, eh ... tidur peluk kamu tiap malam." Shaka tergelak. Memang otaknya itu tidak bisa berhenti membayangkan malam pertama mereka nanti. Ia yakin akan lebih panas dari saat itu mereka melakukannya dalam keadaan penuh kesedihan.
"Wah, kamu nggak tau sih gimana kesiksanya jadi cowok nahan-nahan begituan bertaun-taun. Kayaknya ntar keluarnya udah jadi batu kapur, deh."
"Apa sih, Mas?" gerutu Gendhis sebal. Pipinya merona merah menahan malu. Setiap membicarakan hal intim seperti itu, dadanya selalu berdebar tidak karuan. Membayangkan sentuhan Shaka di atas kulitnya, membuat bulu romanya berdiri. Makanan yang sedang dikunyahnya pun rasanya sulit untuk melewati tenggorokannya. Mungkin sebaiknya ia mengalihkan topik pembicaraan saja. Dan pertama kali yang terlintas di benaknya adalah, sekretaris Shaka yang bernama Ninda. Beberapa hari lalu Shaka bercerita kalau gadis itu menyatakan perasaannya pada Shaka.
Sungguh kasihan. Sudah diputus oleh tunangannya, gayung pun tidak tersambut oleh Shaka. Pasti perasaan si sekretaris cantik itu sakit sekali.
"Mas, keadaan Ninda gimana sekarang?" tanya Gendhis. Ia membantu menyuwir daging ayam di piring Shaka, supaya Shaka mudah untuk memakannya. Pasalnya, calon suaminya ini makan dengan menggunakan sendok dan garpu.
"Kenapa sih nanyain Ninda?" tanya Shaka keheranan.
"Nggak papa. Aku kepikiran aja, sih."
"Baik-baik aja dia." Shaka menimpali ringan. Wajahnya datar saja meskipun Gendhis membuka obrolan tentang sekretaris yang jatuh cinta padanya itu.
"Mas Shaka kok gitu sih? Kasihan loh Ninda tuh. Udah ditinggal tunangannya, ditolak pula sama Mas Shaka."
Shaka tergelak. "Trus aku harus ngapain? Aku nggak mau, ya ... ntar aku hibur dia, deket sama dia, ada yang ngambek-ngambek," sindirnya.
Bibir Gendhis mencebik. "Nggak, ya ... kan aku udah tahu Mas Shaka cuma nganggep dia sahabat."
"Pokoknya aku mau kurangi intensitas interaksiku sama Ninda. Nggak bakal kaya dulu lagi. Bahaya."
Gendhis melirik Shaka yang masih dengan cueknya mengunyah suwiran daging ayam. "Bahaya? Ia mengusap dagu. "Jangan-jangan Mas Shaka takut jatuh hati, ya?" tuduhnya kemudian.
Shaka mendecak. "Kalau aku bisa jatuh hati sama Ninda, udah dari dulu kali, Dhis."
"Ya siapa tau."
"Hmmm ... jangan mancing deh. Perempuan emang ya, suka nyari-nyari perkara kalau masalah ginian." Shaka menggeleng pelan. "Sekali salah jawab, beeegh ... kiamat."
Gendhis meringis. Ia merasa tertohok dengan ucapan Shaka. Meskipun tidak sepenuhnya benar. Perihal rasa simpatinya pada Ninda, itu benar datang dari lubuk hatinya. Namun memang, ia sedikit ingin memancing Shaka apakah calon suaminya ini memang benar-benar tidak ada rasa secuilpun pada sekretaris cantiknya itu, bahkan selama lebih dari dua tahun selalu bertemu setiap harinya.
"Fokus aja sama kita, Dhis. Aku cinta kamu, aku mau hidup sama kamu. Hal-hal kecil kaya yang lagi kita bahas ini, nggak penting," ucap Shaka membuat Gendhis tersenyum lebar.
***