Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 7. Nurani.



"Dhis ...." Bu Ningsih memanggil anak gadis semata wayangnya yang sedang membantunya berkutat di dapur menyiapkan makan malam.


"Nggih, Bu, pripun (Ya, Bu, gimana)?" Gendhis yang sedang mengupas bawang putih menoleh ke arah sang ibu.


"Nak Bisma itu sudah diangkat jadi pegawai negeri to?"


"Iya, mungkin, Bu. Aku nggak tahu."


Bu Ningsih terkikik. "Calon mantu idaman. Sudah ganteng, mapan, sopan. Ya to, Dhis?"


Gendhis menghela napas pelan. Sangat pelan sehingga sang ibu tidak mendengarnya. "Iya, mungkin, Bu."


"Pisau, Dhis." Bu Ningsih mengulurkan tangan meminta Gendhis untuk mengambilkan pisau yang tergeletak di samping gadis itu. "Kamu sama Nak Bisma itu gimana to, Nduk?"


"Gimana apanya, Bu?" Gendhis mengulurkan pisau pada Bu Ningsih. Sejujurnya ia tahu arah pertanyaan sang ibu.


"Ya hubunganmu sama Nak Bisma itu loh, gimana?"


Gendhis mengambil ciri beserta muthu-nya, lalu mulai menghaluskan bawang putih yang tadi dikupasnya. "Temen biasa aja, Bu."


Terdengar suara helaan napas Bu Ningsih. Entah kecewa atau apa yang sedang dirasakan perempuan paruh baya itu. "Umurmu to, Nduk, sudah pas buat membina rumah tangga. Ibu bukannya mau menjodohkan kamu sama Nak Bisma. Tapi, orang tuanya kan sudah kenal sama keluarga kita. Nak Bismanya juga suka sama kamu, Dhis. Apa nggak mau dipikirkan? Kasihan to, dia nungguin kamu terus."


Tidak menjodohkan, tapi ngaruh-aruhi. Pembicaraan tentang Bisma sudah sering terjadi antara Gendhis dan ibunya. Rasanya gadis itu mulai bosan menjelaskan kalau ia tidak memiliki perasaan apapun terhadap pemuda itu, selain sebagai teman biasa. "Aku belum bisa mikir ke arah situ, Bu. Masih menikmati waktu sendiri dulu."


"Mau sampai kapan to, Nduk? Ibu itu sampai nggak enak hati setiap ngumpul sama teman-teman ibu, atau saudara-saudara, kamu ditanyain terus kapan nikahnya."


"Mbok ya biarin aja, Bu. Nggak usah didengerin."


"Ya selain itu juga ibu kan pingin menimang cucu. Temen-temen ibu sudah pada punya cucu," kekeh Bu Ningsih.


Sungguh pembicaraan ini sangat membuat Gendhis merasa tidak nyaman. Pasalnya, ia tidak tahu musti menjawab apa. Menikah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi mencari pasangan yang cocok. Sebaik, sesopan, semapan apapun Bisma, kalau dirinya merasa tidak ada klik, mau bagaimana lagi. Apa ia harus menikah karena alasan ingin membuat orang tua senang? Atau hanya untuk membungkam mulut orang-orang agar tidak dianggap perawan tua?


Umurnya baru dua puluh lima tahun dan ia hidup di zaman modern. Bukan zaman dulu yang sebagian besar wanitanya menikah muda.


Dan Gendhis lebih memilih diam daripada mendebat sang ibu dengan prinsipnya; prinsip yang lebih tepat disebut kekarepan (keinginan). Atau lebih buruknya lagi disebut tuntutan.


***


"Shaka! Kopinya dingin, nih." Perempuan berambut sebahu yang sedang menggendong balita montok di pinggangnya itu berseru dari arah teras sebuah rumah berdesain minimalis. Wajah perempuan itu tampak pucat, dan pakaian yang dikenakannya tampak seadanya.


"Okay, Nit, bentar. Aku belum selesai diskusi ama suamimu, nih." Shaka hanya menoleh sekilas pada si perempuan, lalu kembali fokus berbicara dengan seorang lelaki di samping mobil sedan berwarna silver. Lelaki berkaus putih dengan potongan rambut rapi itu adalah teman kuliahnya dulu di Jakarta. Dimas. Dan perempuan yang sedang bercengkrama dengan anak balitanya di teras, adalah Nita. Yang juga teman kuliahnya. Atau lebih tepatnya adalah, mantan pacarnya dulu.


"Kalau gue saranin sih dirombak total interiornya, Dim." Shaka mengungkapkan pendapatnya. "Gue cek udah pada lapuk juga besi-besi di dalamnya, nih." Ia menunjukkan beberapa spot di dalam mobil yang sudah tampak lusuh.


"Lo siapain dua puluh juta ajalah. Udah bagus itu. Ntar gue cariin yang semi kulit deh buat cover joknya. Budget segitu udah top sih. Nggak perlu turun mesin juga kok."


"Dua puluh juta udah sama audio belum, nih, Ka?" kekeh Dimas.


"Ntar audionya gue sesuaiinlah. Lo nggak minta yang merk bagus, kan?"


"Nggaklah, yang penting enak buat denger lagu."


"Sip kalau gitu, Dim. Besok lo anter ke bengkel aja. Langsung gue kerjain."


Dimas mengangguk-angguk senang. "Ngopi dulu, Ka. Udah dibikinin dari tadi tuh sama Nita."


Shaka terkekeh lalu mengikuti langkah Dimas menuju teras. Di sana, Nita dan anaknya sudah menunggu. Perempuan itu mengulas senyumnya saat melihat Shaka mendekat.


"Masuk dulu sana! Kita mau ngerokok!" Dimas memberi perintah pada sang istri. Karena tidak ingin anak mereka terkena asap rokok nantinya.


Dengan berat hati, Nita meraih anaknya yang baru berusia tiga tahun itu dan membawanya masuk ke dalam rumah. Dalam hatinya ia merasa kecewa. Kecewa karena tidak bisa berada di dekat Shaka. Ya. Kehadiran Shaka di Jogja telah menimbulkan desiran aneh di dalam dada perempuan beranak satu itu.


Mau tidak mau, tragedi yang pernah terjadi antara dirinya, Shaka dan Dimas, sewaktu kuliah dulu, mulai segar kembali dalam ingatannya. Shaka adalah kekasihnya dulu, dan Dimas adalah sahabat Shaka. Namun, dirinya dan Dimas melakukan kesalahan fatal sehingga menyebabkan ia hamil.


Sudah tentu, persahabatan kedua pemuda itu hancur. Ia harus menikah dengan Dimas karena telah mengandung anaknya. Meski sempat memburuk, setelah setahun Dimas menikahinya, hubungan suaminya dan Shaka mulai membaik hingga sekarang, meskipun keduanya terpisah kota.


Namun, ia tidak menduga kalau pernikahannya dengan Dimas begitu hambar. Ya, tentu saja. Mereka menikah karena keterpaksaan. Dan tepatnya beberapa bulan lalu, saat ia tau Shaka tinggal di kota yang sama dengannya, ia mulai merasakan bibit-bibit penyesalan dalam hatinya.


"Bini gue tuh gitu banget dah." Terdengar Dimas mengeluh pada Shaka yang sedang menikmati rokoknya.


"Kenapa emang?" tanya Shaka sembari menyesap kopinya yang telah dingin.


"Lo liat sendiri penampilannya. Sejak punya baby, si Nita nggak pernah sedep lagi dipandang." Dimas terkekeh. "Ya, ya ... gue tahu lo bakal nyukurin gue karena udah ngerebut dia dari lo dulu."


"Waduh, gue nggak ada pikiran sama sekali ke arah situ, Bro." Shaka mengangkat tangannya. Dan memang ia tidak peduli lagi dengan tragedi yang pernah terjadi di antara dirinya dan sepasang suami istri itu. Baginya, hidupnya sudah berlanjut tanpa beban kisah cinta di masa lalu.


Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya, gue lagi curhat aja sih, Ka."


"Urusan rumah tangga lo kayaknya gue nggak bisa kasih pendapat apa-apa, Dim. Mendingan lo curhat masalah financial daripada curhat urusan rumah tangga." Kini Shaka yang terkekeh.


Tawa Dimas berderai. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya kasar. Sementara Shaka hanya bisa menggeleng pelan. Dalam hati ia tidak menampik, hukum sebab akibat, tabur tunai, atau istilah bekennya karma, memang benar adanya.


***