Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab Tetangga Usil.



Seminggu menikah sedang manis-manisnya. Bulan madu singkat; di rumah saja, sebab Gendhis malas pergi ke mana-nana, dilalui dengan kebahagiaan yang membuncah.


Shaka yang mengambil cuti kerja juga mencurahkan semua perhatiannya pada Gendhis. Ia menyukai sisi lain Gendhis yang ternyata begitu manja padanya.


Pokoknya, banyak kebiasaan yang baru mereka temui satu sama lain, dan semua itu terasa begitu manis.


"Mas," panggil Gendhis sambil mengguncang bahu Shaka. Pagi itu, sang suami masih terlelap setelah semalaman mereka hampir saja begadang.


"Hmmm." Shaka hanya menggumam. Malas rasanya membuka mata yang terasa begitu berat.


"Bangun, dong. Udah jam berapa ini," tunjuk Gendhis pada jam di dinding, meski Shaka masih enggan membuka mata. Jam menunjukkan jam sembilan pagi.


"Ngantuk, Sayang." Shaka hanya bergerak sedikit, kemudian melanjutkan tidurnya.


Gendhis mendecak sebal. "Aku udah bikin sarapan, loh."


"Iya, iya ...." Mendengar sang istri sedikit kesal, Shakapun segera bangun. "Nih, udah bangun," tunjuknya ke arah sesuatu yang ada di bawah sana.


Mata Gendhis membulat dan mulutnya mendesis. Ia pukul bahu Shaka gemas. "Bukan itu maksudnya, Mas," keluhnya dongkol.


Shaka tergelak. "Iya, iya, bercanda, Dhis. Masak apa, sih?" tanyanya sambil beranjak turun dari ranjang.


Diikuti oleh Gendhis, Shaka melangkah keluar kamar, lalu menuju meja makan. Di atas meja telah terhidang dua piring bihun goreng campur seafood yan terlihat lezat.


"Enak, nih," ucap Shaka seraya seraya mengambil sendok dan menyuapi dirinya. Tetapi, Gendhis buru-buru menepis tangannya.


"Do'a dulu, Mas," tegur Gendhis.


"Oh, iya," kekeh Shaka. Sebagai kepala rumah tangga, Shaka pun memimpin do'a pada alam semesta yang telah melimpahkan rahmatnya pagi itu.


"Ke mana, nih, kita hari ini?" tanya Shaka kemudian. "Perasaan dari acara nikahan, kita belum ke mana-mana, deh. Kamu pingin ke mana, gitu? Masa mau di rumah aja?"


Shaka heran. Biasanya perempuan yang baru menikah, sangat bernafsu mengajak suaminya untuk pergi bulan madu. Tetapi, Gendhis berbeda. Ia lebih senang menghabiskan waktu bersama di rumah. Memasak makanan enak untuknya, dan melayani segala kebutuhannya.


Gendhis benar-benar seorang istri yang nyaris sempurna.


"Mas, aku masih boleh ngajar tari, kan?" tanya Gendhis saat keduanya sedang bersantai di taman belakang, siang itu.


"Ya, boleh, dong, Sayang. Masa nggak boleh?" Shaka mengulas senyumnya seraya mengelus pipi Gendhis. "Aku bukan suami yang suka ngebatasi gerak istri, kok. Kecuali ... di ranjang," gelaknya.


"Ish! Mas Shaka, larinya ke situ mulu," sungut Gendhis.


Shaka tertawa renyah. "Abis enak banget."


Wajah Gendhis memerah menahan malu. Malu akan dirinya sendiri yang cukup liar saat bersama Shaka di atas ranjang. Bagaimana tidak, rasanya ia ingin terus meluapkan rasa rindunya pada Shaka. Rasa dahaganya atas sentuhan kekasihnya itu seakan tidak ada habisnya.


"Mas Shaka bosen, ya, di rumah terus?" tanya Gandhis.


"Ah, nggak, cuma seminggu doang, kok. Lagian kan di rumah sama kamu. Mana ada bosen," kekeh Shaka seraya menaik-naikkan alisnya.


Gendhis tersenyum malu-malu. Rasa canggungnya dengan Shaka, meskipun Shaka sudah melihat dirinya luar dalam. Tetapi, saat membicarakan hal yang menjurus ke arah kemesraan mereka.


***


Sore itu, saat Gendhis baru saja pulang mengajar, tetangganya mengajaknya mengobrol. Seorang wanita seumuran dirinya dengan satu anak balita dalam gendongannya. Namanya Ratih. Gendhis memang beberapa kali bertemu namun hanya sekedar menyapa dengan senyum dan lambaian.


Pembawaannya tipe ibu-ibu muda komplek yang full time mengurus rumah. Cantik karena wajahnya dipoles riasan yang cukup tebal.


"Sudah sering sapa-menyapa, tapi, belum sempat ngobrol, ya, Mbak." Ratih memulai pembicaraan.


Gendhis tersenyum sambil sesekali menggodai anak balita yang digendong Ratih. "Iya, Mbak."


"Namamu Mbak Gendhis, kan, ya?" tanya Ratih. Pandangannya penuh selidik pada Gendhis, membuat perempuan itu sedikit jengah.


"Betul, Mbak."


"Beruntung, ya, dapetin Mas Shaka. Sudah ganteng, kaya lagi," kekeh Ratih.


Dalam hati Gendhis mengiyakan. Namun, hanya bibirnya yang mengulas senyum.


"Oh ya, Mbak. Ini bener Mbak Gendhis yang dulu mantan menantunya Bu Ratmi, kan?" tanya Ratih.


"Iya, Mbak. Gimana?"


"Aku turut berduka, ya, atas kematian suami terdahulu."


Gendhis mengangguk. Ia merasa ada Ratih akan menyampaikan padanya sesuatu yang kurang baik.


"Kebetulan, kan, mertuaku tinggalnya nggak jauh dari rumah Bu Ratmi. Nah, kemarin pas nengok ke sana, aku ketemu Bu Ratmi."


"Terus?" tanya Gendhis penasaran.


"Ini maaf, loh, sebelumnya. Bukan maksud mau menyinggung atau gimana. Aku denger cerita Bu Ratmi, suami Mbak meninggal karena sakit jantung?"


"Iya, Mbak." Gendhis tampaknya tidak terlalu nyaman dengan pembicaraan tetangganya itu.


"Tapi, penyakit jantungnya karena dipicu sama perselingkuhan Mbak Gendhis dengan Mas Shaka. Bener, gitu, Mbak?"


"Mohon maaf, loh, ini. Bukan maksud mau gimana-gimana. Cuma, aku pingin tahu aja dari sisinya Mbak sendiri.''


Gendhis seketika mampu menilai sifat si tetangga yang suka mencampuri urusan orang lain. Ia pun segera membentengi diri untuk tidak terlalu akrab dengan perempuan itu.


"Aku cukup kaget, sih, Mbak. Masa iya, Mbak Gendhis yang kelihatannya lemah lembut, sopan, begini, mampu melakukan hal-hal kaya gitu. Nggak mungkin, kan?" Dari sorot mata Ratih, terlihat kalau ia menuntut jawaban Gendis.


"Monggo aja, Mbak. Mau berpikiran gimana-gimana. Semua itu sudah menjadi bagian dari masa lalu." Gendhis mengulas senyum bijak sebelum akhirnya berlalu meninggalkan perempuan itu.


Mau tidak mau, Gendhis memikirkan ucapan sang tetangga yang telah termakan hasutan mantan mertuanya.


***