
"Kak Shaka nyebelin!" gerutu Reina. Sebal, apalagi setelah ia tahu Shaka bersama seorang perempuan, yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Perempuan dengan penampilan sederhana, namun anehnya, mampu membuat dirinya, yang modis, elegan, cantik bak selebriti, insecure.
"Mana aku tahu kamu mau ke sini," jawab Shaka santai. Meskipun ia tahu pun, tidak mungkin dirinya akan mengajak si gadis menyebalkan yang super manja itu.
"Kan bisa ngajakin. Kak Shaka gitu sukanya. Nggak pernah inget sama aku." Reina memanyunkan bibir. Lalu melirik sinis pada Gendhis yang berdiri tidak jauh darinya dan juga Shaka. Belum juga mengenal siapa perempuan itu, bibit-bibit kebencian sudah tumbuh dengan suburnya.
"Ya udah aku pulangnya sama kakak aja, ya? Mobilku biar dibawa sama temenku." Reina tidak memberi kesempatan pada Shaka untuk protes. Gadis itu menghambur pergi, sepertinya menemui seorang teman dan memberikan kunci mobil padanya. Lalu secepat kilat Reina kembali lagi ke hadapan Shaka.
"Eh, nggak bisa gitu dong, Rei ... aku sama temenku ini loh." Shaka langsung saja melancarkan aksi protesnya. Enak saja Reina mau mengganggu waktunya bersama Gendhis.
"Pokoknya nggak mau tahu, aku pulang bareng Kak Shaka!"
"Lah, gimana ceritanya sih ini? Nggak, nggak, nggak bisa!" Shaka mengambil topeng yang tadi hendak dibawanya ke kasir, lalu meraih tangan Gendhis untuk menghindar dari Reina.
"Emm ... nggak papa, Mas. Barengan aja. Atau aku pulang nge-grab aja." Gendhis menarik tangannya yang sudah digandeng oleh Shaka. Gadis cantik yang sedang kesal itu sepertinya tidak suka akan kehadirannya. Jadi, lebih baik ia saja yang mengalah.
"Tuh! Mbaknya aja nggak keberatan." Reina menimpali ucapan Gendhis dengan cepat. "Mbaknya naik grab nggak papa, kan?"
"Oh ya, nggak papa, Mbak." Gendhis mengulas senyum tipis.
Shaka mendecak. Ia meletakkan topeng di tangannya ke dalam rak. Kali ini ia tidak tahan lagi dengan sikap Reina yang sering seenak jidatnya itu. "Dhis, tadi berangkatnya kamu aku jemput, jadi pulangnya juga aku yang nganter, okay? Kamu tunggu di sini bentar. Jangan ke mana-mana, ya?!" tegasnya pada Gendhis dengan wajah serius. Lalu menarik lengan Reina dan membawa gadis itu ke balik rak.
"Kak Shaka sama siapa, sih?" serang Reina. "Jangan bilang itu pacarmu, ya?" ujarnya seraya melepaskan cekalan tangan Shaka pada lengannya.
"Calon pacar, puas? Makanya kamu jangan gangguin."
Mulut Reina menganga. Ia tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya dari mulut Shaka. "Kak Shaka tega banget, sumpah!" Gadis itu sudah bersiap-siap menumpahkan cairan bening dari matanya. Hatinya hancur, tentu saja. Bagaimana tidak? Dirinya sudah menyukai Shaka sejak lama, namun Shaka malah melakukan pendekatan dengan perempuan lain. Ini benar-benar tidak adil untuknya.
"Duh, drama banget kamu, Rei," ucap Shaka saat melihat wajah Reina yang sudah memerah dan matanya pun mulai basah. "Udah, ya ... aku mau nganter Gendhis dulu."
Shaka meninggalkan Reina begitu saja tanpa berniat untuk menghibur si cantik yang hatinya tengah hancur berkeping-keping itu. Ia menghampiri Gendhis yang masih menunggunya di tempat semula.
"Sorry ya, Dhis, ada gangguan," kekeh Shaka seraya mengambil kembali topeng Buto Gedruk di dalam rak, lalu mengajak Gendhis ke kasir untuk menyelesaikan pembayaran.
"Aku nggak enak sama mbaknya tadi, Mas," ucap Gendhis saat keduanya sudah berada di dalam mobil, menelusuri jalanan di sekitar Malioboro yang ramai.
"Alah, cuekin aja. Dia emang kaya gitu orangnya, suka seenaknya aja. Nggak bisa dikasih harapan dikit. Harus ditegesin."
"Harapan? Ditegesin? Maksud Mas Shaka?" Gendhis mengerutkan kening keheranan.
"Namanya Reina. Dia itu udah lama suka sama aku." Shaka melirik Gendhis yang sedang mengangguk-angguk menimpali ucapannya.
Reina. Ah, Gendhis mengingat nama itu. Ia tidak sengaja melihatnya di layar ponsel Shaka saat nama itu muncul di panggilan masuk. "Memangnya Mas Shaka nggak suka sama dia?"
"Nggaklah. Ribet orangnya. Kalau untuk temenan sih okelah. Buat jadiin dia pacar, big no!"
Kembali Gendhis mengangguk-angguk. Ia tidak mengerti kenapa jawaban Shaka membuat hatinya lega. Gadis sesempurna itu diabaikan begitu saja oleh si tampan yang sedang duduk di belakang kemudi ini.
"Mas Shaka udah lama kenal sama Reina?" Sejujurnya Gendhis masih penasaran tentang sosok Reina dalam hidup Shaka.
"Udah lama. Dia dari Jakarta juga. Kebetulan Papaku sama papanya Reina rekan bisnis."
"Owwh ...." Gendhis menyahut. "Cantik sempurna kaya seleb gitu kok nggak mau sih, Mas?" pancingnya.
Gendhis menelan salivanya pelan. Entah kenapa perkataan Shaka membuat dadanya berdebar cukup kencang entah karena alasan apa.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di depan rumah Gendhis. Sebenarnya Shaka berniat untuk langsung pergi begitu Gendhis nanti turun, namun saat dilihatnya ada seorang pemuda yang sedang duduk di teras, ia pun mengurungkan niatnya.
"Siapa tuh, Dhis?" tanya Shaka saat Gendhis sedang bersiap-siap untuk turun dari mobil.
"Owh, Mas Bisma ... yang aku ceritain pas di pantai," jawab Gendhis seraya menyunggingkan senyum kecut. "Makasih ya, Mas," ucapnya seraya membuka pintu mobil.
"Yang suka sama kamu itu, kan?"
Gendhis meringis. "Iya. Seperti itu."
"Ikut turun bentar boleh, ya?" pinta Shaka. Tiba-tiba ia ingin menunjukkan diri di hadapan pemuda yang dari cerita Gendhis, begitu mengharapkan gadis itu menjadi kekasihnya. Buktinya ia begitu sabar menanti cinta Gendhis selama bertahun-tahun.
"Mau turun?" Gendhis mengulang permintaan Shaka.
"Iya, Dhis ... boleh?"
Gendhis hanya mengangguk ragu. Namun, sejujurnya di dalam hati ia merasa senang, entah karena alasan apa.
Kedatangan Gendhis bersama dengan seorang pemuda tentu saja membuat Bisma seketika memikirkan hal-hal yang membuat dadanya berdebar kencang.
"Udah lama, Mas?" tanya Gendhis saat menginjakkan kaki di teras.
"Belum. Lagi dibikinin minum sama ibu." Mulut Bisma menjawab pertanyaan Gendhis, namun netranya bertemu pandang dengan pemuda tampan berpenampilan casual yang sedang berdiri di belakang Gendhis. Keduanya saling beradu tatap. Seakan-akan mereka langsung menyadari posisi masing-masing sebagai rival.
"Duduk dulu, Mas," ucap Gendhis mempersilahkan Shaka untuk duduk. Kemudian ia pamit untuk masuk sebentar ke dalam rumah.
"Temennya Gendhis? Kenal di mana?" Bisma bertanya dengan nada dingin, dan sorot mata serupa.
"Ah ya, kenalin ... Shaka." Shaka mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Bisma.
"Bisma," sahut pemuda berpenampilan rapi itu pendek.
"Kalau kenalannya sama Gendhis, panjang ceritanya." Shaka menjawab pertanyaan kedua dari Bisma.
"Dari mana tadi?" tanya Bisma. Ia melirik gambar kepala naga di lengan Shaka.
"Keliling Jogja, nyari tempat-tempat seru."
"Asli mana, Mas?"
"Jakarta, Mas."
"Owh ...."
Jika di teras sedang terjadi ketegangan level medium yang berbalut percakapan basa-basi antara Shaka dan Bisma, di dapur rumah itu telah terjadi perseteruan antara Gendhis dan Bu Ningsih yang membuat mereka lupa menyuguhkan teh yang sudah diseduh pada dua pemuda penanti cinta.
***