Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 24. Ngapunten, Bu.



"Boleh mampir nggak, sih?" tanya Shaka pada Gendhis saat ia baru saja menghentikan mobilnya di depan pintu pagar rumah gadis itu.


"Jangan, Mas. Lagi ada tamu kayaknya." Gendhis memperhatikan mobil kijang yang terparkir di halaman rumahnya, yang ia tahu itu adalah mobil Bisma. Sudah pasti pemuda itu datang bersama keluarganya, seperti yang sudah dikabarkan sang ibu padanya.


"Kenapa, sih? Oh, ada Bisma, ya?" tunjuk Shaka pada mobil di halaman rumah Gendhis.


"I-iya, kayaknya." Gendhis menelan salivanya pelan.


"Nah, kebetulan ada Bisma, aku mau sekalian nunjukin kalau kamu udah jadi pacarku sekarang, Dhis."


Gendhis menghela napasnya. Bagaimana menjelaskannya pada Shaka kalau keluarga Bisma juga sedang ada di rumahnya. "Besok-besok aja ya, Mas. Kayaknya rumah lagi ramai juga." Ia memasang tatapan memohon pada Shaka, membuat pemuda itu terpaksa menuruti.


"Ya udah, deh. Tapi, Bisma gimana, tuh? Dia bakal ngarepin kamu terus kalau nggak dikasih tahu."


"Nanti aku kasih tahu pelan-pelan sama dia, Mas. Lagian ... emmm ... kayaknya Mas Bisma dateng bareng keluarganya."


Mata Shaka membulat. "Loh, mau apa dia? Ngelamar kamu?"


"Ish!" Gendhis memukul pelan pinggang Shaka, membuat pemuda itu terbahak. "Udah biasa kok mereka ke sini. Silaturahmi aja." Padahal pada kenyataannya, Bisma lebih sering datang sendiri.


"Jangan diterima loh, Dhis, kalau Bisma ngelamar kamu. Inget, kamu punyaku sekarang," ujar Shaka diselingi dengan kekehan, namun sebenarnya ia sungguh-sungguh mengatakannya.


"Nggak ada lamar-melamar," sahut Gendhis. "Ya udah, Mas ... aku turun dulu." Gadis itu hendak membuka pintu mobil, namun Shaka buru-buru menahan lengannya.


"Main pergi aja kamu, Dhis. Ciumnya mana?" Shaka menaik-naikkan kedua alisnya sembari tersenyum jahil.


"Mas Shaka, ish!" sungut Gendhis sebal.


"Ya udah, deh, kalau nggak mau cium. Peluk aja, ya?" Shaka membuka kedua tangannya, mempersilahkan Gendhis untuk masuk ke dalam pelukannya.


Gendhis memanyunkan bibirnya. Lalu pelan menyambut permintaan pelukan dari Shaka. Ia nikmati rasa nyaman berada dalam pelukan pemuda yang kini telah menjadi kekasihnya.


"Udah ya, Mas. Aku turun dulu," ucap Gendhis seraya menyudahi pelukan itu.


Shaka merapikan anak-anak rambut Gendhis yang jatuh di kening gadis itu. "Sampai besok, ya? Aku jemput kamu pulang kerja."


Gendhis mengangguk. Lalu ia melangkah keluar dan berdiri di samping mobil Shaka, menunggu pemuda itu melajukan mobilnya, hingga menghilang di persimpangan jalan. Gadis itu pun membuka pintu pagar bambu dan memasuki halaman rumahnya.


Masuk ke dalam rumah, ia disambut oleh keluarga Bisma dan kedua orang tua pemuda itu, serta bapak-ibunya yang tampak begitu sumringah. Dan Gendhis sungguh berharap kedatangan ketiga orang ini bukan untuk tujuan seperti yang dipikirkan oleh Shaka.


"Owalah, Ndhuk, Gendhis, lama ndak ketemu, kok tambah ayu to kamu." Yang berucap adalah ibunya Bisma, Bu Ratmi namanya. Seorang perempuan paruh baya berhijab dengan riasan wajah yang cukup tebal.


"Duduk sini loh, Nduk. Deketnya Bisma," pinta ayahnya Bisma, Pak Noto namanya. Seorang lelaki paruh baya dengan kumis tebal tanpa jenggot.


Gendhis mengulas senyum tipisnya. "Kulo lenggah teng mriki mawon (Saya duduk di sini saja), Pak)," ucap Gendhis seraya mengambil tempat duduk di samping bapak dan ibunya.


Obrolan para orang tua itu berlanjut dan Gendhis hanya diam mendengarkan. Bahkan ia malas memandang ke arah Bisma, yang ia tahu sering sekali mencuri pandang padanya.


"Kamu pulang sama siapa tadi?" Bu Ningsih berbisik pada Gendhis di sela-sela obrolan.


"Mas Shaka, Bu," jawab Gendhis jujur, yang tentu saja membuat sang ibu geram, meski perempuan itu berusaha menahannya agar tidak terlihat oleh sepasang suami istri yang ia gadang-gadang akan menjadi besannya, dan juga pemuda yang ia harapkan akan menjadi menantunya. "Trus piye iki kelanjutannya, Mbak Ratmi? Anaknya sudah di sini ini, loh," kekehnya.


"Oh iyo, Mbak Ningsih," sahut Bu Ratmi seraya mengalihkan pandang ke arah Gendhis. "Ndhuk, jadi kedatangan kami kemari, karena mau ngepek kamu sebagai mantu, buat Bisma."


"Piye, Ndhuk?" Yang mengulang tanya adalah Pak Noto, karena Gendhis tidak segera menjawab istrinya.


"Ngapunten, Pak, Bu ... saya mau bicara dengan Mas Bisma dulu, nggih," jawab Gendhis seraya memandang ke arah Bisma.


Bu Ningsih terkekeh. "Ya sudah, kita kasih kesempatan anak-anak berdiskusi tentang masa depan mereka berdua dulu, Mbak Ratmi, Mas Noto."


Gendhis beranjak dari duduknya dan melangkah keluar menuju teras, diikuti oleh Bisma. Ia benar-benar merasa kesal dengan semua orang yang berada di ruang tengah itu. Namun, Bismalah yang paling membuatnya kesal.


"Mas, kenapa bisa kaya gini, sih? Mas Bisma nggak konfirmasi dulu sama aku." Gendhis langsung saja menyerang Bisma dengan ucapannya begitu ia duduk berhadapan dengan pemuda itu.


"Aku udah cukup lama nunggu kamu, Dhis. Nggak ada perkembangan apa-apa. Satu-satunya jalan ya aku harus bawa orang tuaku ke sini, biar hubungan kita bisa naik ke tahab selanjutnya," ucap Bisma, penuh percaya diri.


"Hubungan? Hubungan seperti apa sih, Mas? Aku kan belum pernah kasih jawaban apa-apa ke Mas Bisma." Gendhis sedikit menaikkan nada bicaranya. Tiba-tiba ia merasa muak melihat wajah Bisma.


"Kamu nggak lihat apa, Dhis, gimana deketnya keluarga kita? Nggak pingin bikin orang tua seneng, gitu?"


Hati Gendhis bergemuruh mendengar ucapan Bisma. Gadis itu sampai-sampai mengepalkan tangannya. "Aku udah punya seseorang, Mas," ucapnya tanpa menatap mata Bisma.


Bisma tersenyum miring. "Maksudnya cowok yang kemarin itu?"


"Namanya Shaka!" tegas Gendhis.


"Udah jelas-jelas bapak-ibu nggak suka sama dia."


"Mas!" seru Gendhis. "Maaf, aku nggak bisa terima lamaran Mas Bisma." Ia langsung saja pada intinya. Hatinya sudah diliputi kekesalan. Ia beranjak dari duduknya, meninggalkan Bisma sendirian di teras rumahnya.


Sementara Bisma duduk termenung dengan hati yang kacau. Rupanya ia sudah keduluan pemuda bernama Shaka itu. Bisma menggeleng. Pikirnya, ia tidak bisa menyerah begitu saja. Dirinya sudah menunggu Gendhis begitu lama, tidak akan ia biarkan siapapun yang baru masuk ke dalam kehidupan gadis itu, mengambil posisi yang seharusnya menjadi miliknya. Meskipun Gendhis sudah terang-terangan menolaknya, namun ia masih memegang kunci, yaitu kedua orang tua gadis itu. Jika harus bersaing kembali mati-matian dari pemuda itu, maka Bisma pun siap.


***


Udah kangen aja nih aku, heran.


Gendhis tersenyum geli membaca sederet pesan dari Shaka di layar ponselnya. Ia membayangkan saat Shaka mengucapkan kata-kata itu di hadapannya, dengan ekspresi wajah tengilnya itu. Pastilah sangat menggemaskan.


Begini rasanya jatuh cinta? Kelebihan zat norepinephrine dan phenylethylamine membuat perasaan bahagia meluap-luap, sehingga bibirnya tidak henti-hentinya menyunggingkan senyuman.


Namun, senyuman itu pudar saat Bu Ningsih masuk ke dalam kamarnya, dengan wajah yang sama sekali tidak ramah. Gendhis tahu, ia pasti akan diinterogasi atas penolakannya terhadap lamaran Bisma. Sebenarnya ia tidak secara langsung menolaknya. Bismalah yang mengatakan pada kedua orang tuanya kalau Gendhis belum bisa menjawab dan membutuhkan waktu untuk berpikir.


"Ndhis, kowe pingin ibumu ki seneng to (kamu mau ibumu ini bahagia, kan)?"


Gendhis duduk di tepian ranjang, dengan kepala menunduk. Namun Bu Ningsih mengangkat dagunya dan memaksa Gendhis menatap mata perempuan itu.


"Bu, ngapunten. Tapi, aku sudah menerima Mas Shaka sebagai kekasih." Gendhis mengucapkannya lirih. Namun, cukup membuat sang ibu terkejut luar biasa. Ucapan sang putri bagai suara petit yang menggelegar membuat jantungnya seakan ingin melompat dari ceruknya.


Bu Ningsih memegangi dadanya yang terasa nyeri. Napasnya sedikit tersengal dan wajahnya mulai pucat.


"Bu, kenging menopo (kenapa)? Bu? Ibuu?!"


***