
Dhis, kamu baik-baik aja, kan?
Adalah pesan terakhir yang Shaka kirim untuk Gendhis empat hari lalu, yang hingga kini belum juga dibalas oleh gadis itu. Bahkan terbaca pun tidak. Beberapa kali ia menelepon, juga tidak ada jawaban. Menyambangi ke sekolah tempat ia bekerja pun kata seorang guru di sana, Gendhis mengambil cuti.
Sementara Shaka belum sampai hati jika harus bertandang ke rumah Gendhis, dan terjadi keributan dengan ibunya lagi. Beberapa kali ia mengemudikan mobilnya melewati rumah kekasihnya itu, berharap melihat sosok Gendhis yang sangat ia rindukan, namun nihil. Ia hanya melihat beberapa perempuan paruh baya yang hilir mudik di sana. Mungkin mereka memang masih dalam suasana berkabung.
Tapi, tidak bisakah Gendhis sekedar memberinya kabar bahwa ia baik-baik saja? Agar hati Sakha yang gelisah itu bisa sedikit tenang?
"Mas, ada yang nyari. Cewek yang dulu pernah bawa makanan itu loh." Danang melongok dari balik pintu ruang kerja Shaka.
Shaka yang sedang sibuk memasang peredam pada knalpot racing di atas meja, mendecak sebal. Ia sedang tidak ingin bicara dengan siapapun. Sejak masuk kerja tadi pagi pun Shaka tidak banyak berkomunikasi dengan rekan-rekannya. Ia lebih banyak diam dan berkutat dengan pekerjaannya.
Belum sempat Shaka menyuruh Danang untuk memberitahu Nita bahwa ia sibuk dan tidak bisa menemui perempuan itu, si rambut pendek dengan penampilan yang cukup elegan, menerobos masuk ke dalam ruangan.
"Shaka, aku bawain makan siang nih." Nita mengulas senyum termanis yang bisa ia tunjukan untuk pemuda pujaannya itu.
"Aduh, nggak perlu repot-repot kali, Nit." Shaka menimpali dengan malas.
"Nggak repot. Ini bisa dikasih di atas sini, nggak?" tanya Nita sambil menaruh totebag berisi kotak makan ke atas meja di dekat knalpot.
"Taruh di pojokan aja, Nit." Shaka menunjuk satu meja kecil dan tiga kursi stainless yang ada di sudut ruangan.
"Oke. Ini hampir waktu makan siang, kan? Aku tungguin, ya?"
Ingin menolak, tapi Shaka sedang malas sekali berdebat. Ia pun hanya mengedikkan bahu, membiarkan saja Nita bertindak semaunya.
"Nang, sini makan bareng!" Shaka melongok keluar dari pintu, memanggil Danang. Pemuda ceking itu dengan girangnya menerima tawaran Shaka. Dan tentu saja, lagi-lagi membuat Nita kesal. Rencananya ingin makan berduaan dengan Shaka, gagal lagi. Iya, dirinya sadar Shaka sudah memiliki kekasih. Tapi, selama janur kuning belum melengkung, kesempatan untuk memiliki Shaka masih terbuka lebar. Entah kenapa ia begitu menggebu-gebu ingin kembali merasakan kasih sayang pemuda itu, hingga membuatnya menjadi tidak tahu malu seperti ini.
"Enak?" tanya Nita, meminta pendapat Shaka tentang masakannya. Sapi bumbu rendang, lalapan daun singkong dan sambel cabai hijau.
"Wah, wuenak banget, Mbak. Top markotop." Yang menyahut Danang, dengan mulut penuh lalapan daun singkong.
"Aku nggak nanya sama kamu!" sungut Nita. "Enak kan, Ka?" Ia beralih memandang ke arah Shaka.
"Tuh Danang udah bilang." Shaka menyahut dengan tidak acuhnya. Ia mau memakan makanan yang dibawa oleh Nita bukan karena ia merasa tidak enak dengan perempuan itu, namun lebih kepada, dirinya tidak mau membuang-buang makanan. Mengingat banyak orang di luar sana, yang untuk makan saja sulit.
"Aku kan nanya pendapat kamu, Ka." Nita mulai sedikit emosi melihat sikap acuh tak acuh Shaka.
"Enak, enak." Shaka menjawab sekenanya.
Nita mengulas senyum gembira. "Mau nggak kalau aku bawain makan siang tiap hari?"
"Nggak usah, nggak usah! Ntar yang ada bangkrut kamu. Mending duitnya dikumpulin, ditabung buat Alikha. Dari pada kamu habisin buat kasih makan anak orang. Daging mahal loh, cabe apalagi," terang Shaka, bermaksud menyindir Nita.
"Loh, siapa yang bikin humor? Aku serius loh!" sergah Shaka.
Nita seketika menghentikan tawanya saat dilihatnya wajah tampan Shaka yang begitu serius. Senyum saja tidak terlihat sama sekali, apalagi tawa.
"Nang, lo udah selesai, kan? Bisa keluar dulu, nggak?" tanya Shaka.
"Ahsiappp, Mas. Ini tak singkirin dulu yo Langsung mau tak cuci ini. Nanti pas keluar diampiri aja di kasir yo, Mbak? Tak titipke sana." Danang merapikan piring-piring dan kotak makan milik Nita.
"Hmm ...." Nita menyahut pendek. Memang sudah sejak tadi ia ingin pemuda itu pergi.
Sepeninggal Danang, Shaka mengambil posisi duduk berhadapan dengan Nita. Perempuan berambut pendek sebahu itu menanti dengan tidak sabar, apa yang hendak Shaka ucapkan.
"Nit, terus terang ya, aku udah baca niatmu sama aku. Sebelumnya maaf kalau aku salah. Kamu suka sama aku, kan?" tanya Shaka.
Nita mengulas senyum malu-malu sambil menundukkan wajahnya. Ia tidak menyangka Shaka akan se-blak-blak-kan ini.
"Sebaiknya kamu lupain perasaan kamu sama aku, Nit. Kita emang udah pernah saling sayang. Tapi itu dulu, dan udah selesai. Kita masih bisa jadi temen, tapi nggak kaya Gini caranya. Aku nggak nyaman, Nit." Shaka mengangkat satu tangannya saat Nita hendak membuka mulutnya, meminta perempuan itu untuk membiarkannya menyelesaikan kalimatnya.
"Aku udah punya seseorang yang bakal jadi pendamping hidup. Aku nggak mau kasih harapan apa-apa ke kamu, Nit. Ngerti?"
Tenggorokan Nita tercekat, kering. Rasanya perempuan itu membutuhkan bergelas-gelas air untuk membasahinya, agar ia mampu menimpali ucapan Shaka, yang begitu menohok relung hatinya.
"Kalau masih mau jadi temen, oke, kita bisa jadi temen. Tapi, kalau kamu punya niat lain di balik itu, mending kamu nggak usah nemuin aku lagi, Nit."
"Maaf ya, kalau aku terlalu terus terang."
Bulir-bulir bening jatuh di pipi perempuan itu. Namun Shaka tidak peduli. Ia sendiri tengah tersiksa dengan masalahnya sendiri. Biar saja Nita berproses dengan kesakitannya. Toh, semua orang juga begitu.
***
Malam itu hujan turun meskipun tidak terlalu deras, membasahi Jogjakarta yang beberapa hari ini begitu kering dan berdebu. Di kamarnya, Gendhis terbaring menelungkup, membiarkan jemari seorang perempuan paruh baya yang sedang memberi pijatan kecil dengan gerakan memutar, pada punggung mulus Gendhis yang sudah dibalur cream rempah-rempah a la kerathon.
Tubuh Gendhis memang terasa rileks. Namun tidak begitu dengan kepalanya yang dipenuhi oleh bayangan sang kekasih, Shaka. Ia putar kembali kenangan manis bersama pemuda itu di dalam benaknya. Dari awal semesta mempertemukan mereka, hingga ....
Tidak. Gendhis ingin mengingat betapa manisnya senyum Shaka, dan matanya yang berbinar-binar saat berbicara dengannya. Gendhis ingin mengingat betapa hangat pelukan dan ciuman Shaka. Setiap sudut Jogjakarta yang pernah mereka singgahi adalah kenangan terindah.
Dadanya terasa sesak. Sesak akan kerinduan pada kekasihnya yang memuncak. Sesak akan keadaan yang tiada sempurna.
"Saiki bagian ngarep sing dilulur yo, Cah Ayu." Ucapan si perempuan paruh baya membuyarkan lamunan Gendhis. Hingga bayangan wajah Shaka yang tadinya begitu jelas, kini retak dan hancur berkeping-keping.
***