Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 15. Pasir Putih



Jalan-jalan hari ini yang tadinya hanya satu tempat tujuan saja yaitu Taman Sari, kini berlanjut ke ujung selatan Jogja. Awalnya Shaka hanya menanyakan rekomendasi pantai berpasir putih yang ada di Gunung Kidul. Saat Gendhis menyebut satu nama pantai yang ada di sana, Shaka justru penasaran dan saat itu juga meminta Gendhis menjadi penunjuk arah. Dan entahlah, Gendhis sendiri seakan tidak kuasa untuk menolak. Gadis itu pun hanya mengiyakan saja.


Dan keduanya kini berjalan bersebelahan menelusuri pantai Wedi Ombo berpasir putih yang dikelilingi perbukitan indah. Beruntung hari itu sedikit mendung sehingga terik matahari tidak membakar kulit mereka.


"Keren, ya? Indah banget sih ini pemandangannya." Shaka mengedarkan pandang ke sekelilingnya. Matanya dimanjakan oleh birunya air laut yang tenang, dan perbukitan hijau. Terlihat juga beberapa turis lokal yang sedang menikmati suasana pantai yang tenang. "Untung lagi nggak panas, ya. Aku selamat dari omelan kamu," kekehnya seraya menoleh ke arah Gendhis di sampingnya.


"Kenapa aku ngomel, Mas?" tanya Gendhis seraya mengerutkan keningnya.


"Ya, aku kasih ide ke pantainya dadakan. Mana lupa beli sunblock lagi. Kalau pas lagi panas, kulitmu kebakar, item, aku yang tanggung jawab."


"Aku nggak takut item, loh," seloroh Gendhis.


"Ya udah, aku yang nggak rela kulitmu jadi item, deh."


Gendhis mengulas senyum tipisnya. "Kenapa, sih?"


"Nggak papa, Dhis. Udah perfect kaya gini, udah sedap di pandang mata." Untuk Shaka, di alam terbuka seperti ini, dengan baju terusan sederhana yang Gendhis kenakan, kecantikan gadis itu bertambah berkali-kali lipat. Anggun, elegan, manis. Kecantikannya menyatu dengan alam.


Gendhis kembali mengulas senyumnya. Ucapan Shaka selalu saja membuatnya merasa aneh. Gelenyar aneh dalam dada, lebih tepatnya.


Sementara Shaka menyiapkan kameranya untuk mengabadikan sekelilingnya, termasuk bidadari yang sedang berdiri di sampingnya itu. "Hadap sini, Dhis," pintanya. "Senyum, dong."


Gendhis mundur beberapa langkah untuk memudahkan Shaka mengambil fotonya. Senyumnya yang manis membuat mata Shaka berbinar saat melihatnya dari layar kamera.


"Cantik," puji Shaka saat selesai mengabadikan si bidadari yang kini sedang tersipu karena pujiannya, ke dalam kamera.


Keduanya kembali berjalan berdampingan menapakkan kaki di atas pasir putih yang lembut. Angin sepoi-sepoi membuat suasana siang menjelang sore itu begitu sejuk.


"Kayaknya di Jogja banyak pantai-pantai asyik, ya?"


"Banyak, Mas ... masih banyak yang belum diketahui wisatawan."


"Boleh juga tuh, tiap minggu eksplore satu-satu pantai yang ada di sini."


"Banyak yang belum aku datengin, sih."


Shaka mengangguk-angguk. "Gimana kalau kita eksplore bareng-bareng, Dhis?" Sekalian mengeksplor perasaan masing-masing. Shaka mengulas senyum jahilnya. Ada saja bahan yang bisa ia jadikan modus untuk mendekati gadis manis itu. "Yaa, kalau kamu nggak keberatan, sih."


"Bisa aja, Mas. Aku suka pantai, apalagi yang nggak ramai. Jadi berasa punya sendiri."


"Kalau dateng berdua, jadi berasa pantai milik berdua, dong?" seloroh Shaka menimpali ucapan Gendhis.


Gendhis terkekeh. Shaka selalu saja bisa membelokkan ucapannya ke arah lain, dengan arti lain yang ambigu. Apapun maksud ucapannya, yang jelas, ia merasa bahagia.


"Dhis ...," panggil Shaka pelan.


"Iya, Mas?" Gendhis yang sedang memperhatikan dua orang anak yang sedang berenang tidak jauh dari mereka, memalingkan wajahnya ke arah Shaka.


"Masa sih kamu belum punya cowok? Atau ada yang lagi deket, gitu?" tanya Shaka. Ia penasaran, kenapa gadis se-ayu Gendhis masih sendiri. Setidaknya pasti ada banyak lelaki yang memintanya untuk menjadi kekasih.


"Kalau yang lagi deket ada, sih."


"Owh." Sekilas terlihat kekecewaan di wajah tampan Shaka.


"Ya Mas Shaka ini," kekeh Gendhis, yang mau tidak mau membuat Shaka terbahak.


Sialan, Gendhis. "Kirain bener ada," ucap Shaka lega.


"Sebenarnya memang ada sih, Mas. Aku udah kenal dari SMA sama dia."


Dada Shaka kini berdebar. "Dia suka kamu dari SMA, gitu?"


"Kayaknya."


"Kayaknya."


"Owh, sering dateng ke rumah, ya?" Kini Shaka berubah menjadi seorang investigator.


"Lumayan sering. Udah kenal akrab sama bapak ibu. Orang tua kami juga udah temenan lama."


Wah, berat ini. Shaka mengelus rambutnya yang berantakan tertiup angin. "Kamunya sendiri gimana, Dhis?"


Gendhis terkesiap mendengar pertanyaan Shaka yang tanpa basa-basi. "Mmm ... gimana, ya ... aku ...."


"Nggak usah dijawab, deh," kekeh Shaka memotong ucapan Gendhis. Lebih baik ia tidak tahu jawabannya. Hal itu akan membuatnya leluasa untuk melakukan pendekatan yang lebih dan lebih lagi terhadap gadis itu.


***


Menghabiskan waktu berjalan-jalan di pantai, lalu pulang ke kota saat hari sudah mulai gelap dan mampir ke tempat makan lesehan yang ada di jalan Malioboro, rasanya waktu berlalu begitu cepat. Namun, seharian bersama membuat keduanya mulai akrab. Terutama Gendhis, sedikit banyak ia sudah mulai tidak canggung lagi terhadap Shaka. Gadis itu mulai bisa mengimbangi Shaka yang hangat, sehingga kebersamaan mereka terasa lebih menyenangkan.


"Aku mau ke Mirota bentar, Dhis. Masih bisa temenin, kan? Atau udah terlalu malam, nih?" Shaka melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul delapan kurang lima belas menit. Keduanya baru selesai makan dan kini berjalan menelusuri jalan Malioboro yang ramai.


"Nggak papa, Mas. Aku udah kabarin orang rumah, kok."


"Ah, mantap kalau gitu." Shaka tersenyum senang. Diraihnya tangan Gendhis dan menggandeng gadis itu masuk ke dalam trotoar yang padat oleh penjual pakaian dan juga pengunjung. "Aku gandeng biar nggak ilang," ucap Shaka seraya melempar senyum jahilnya pada Gendhis. Ia tahu, gadis itu terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu darinya.


"Aku pingin nyari topeng monster raksasa jawa gitulah, buat hiasan dinding," kata Shaka saat keduanya berada dalam toko batik dan souvenir kenamaan itu. "Apa namanya, Dhis?"


"Monster raksasa Jawa? Buta, maksudnya?"


"Ah, yaa ... itu dia, Buta," sahut Shaka seraya menjentikkan jari. Ia lalu mulai mencari-cari rak bagian souvenir.


Gendhis memutar badan berlawanan arah dan ikut mencari barang yang diinginkan oleh Shaka. "Mas Shaka! Sini!" panggilnya beberapa saat kemudian saat ia menemukan beberapa topeng yang sepertinya cocok dengan yang sedang dicari oleh Shaka.


"Wih, nemu juga." Suara Shaka terdengar begitu dekat di telinga Gendhis. Saat ia menoleh, wajah pemuda itu begitu dekat dengan wajahnya. Shaka sedang mencondongkan badan memeriksa topeng-topeng yang berjejer di rak yang posisinya lebih rendah dari tinggi badan pemuda itu.


Gendhis buru-buru mengambil jarak. Wajah cantiknya terlihat gugup. "Y-yang kaya gini maksudnya?"


"Yep. Aku suka topeng yang gigi-giginya epic banget kaya gini, nih," kekeh Shaka seraya mengambil satu topeng dengan dominasi warna coklat, lalu ada bulu-bulu seperti singa di sekeliling wajah, dan gigi-gigi panjang serta mata besar yang menambah kesan seram topeng tersebut. "Buto Gedruk." Shaka membaca nama di price tag yang tergantung di sela-sela rambut berwarna abu-abu. "Tahu, nggak, Dhis? Sejarahnya?"


"Hah?" Gendhis yang masih memikirkan saat wajahnya dan wajah Shaka begitu dekat beberapa saat lalu, terkesiap. "A-apa, Mas?" tanyanya gugup.


"Malah ngelamun," ucap Shaka seraya mengacak pelan puncak kepala Gendhis. "Topeng Buta Gedruk ini, loh, Dhis. Tau, nggak sejarahnya?"


"Owh, itu ...." Gendhis meringis seraya merapikan rambutnya. "Kalau nggak salah, dipakai untuk tarian, Mas. Kalau sejarahnya aku kurang tahu persis. Kayaknya sih semacam cerita rakyat di daerah Magelang, tentang raksasa yang lagi marah, gitu."


"Hmmm ... boleh juga. Bagus kayaknya, nih, dipasang di ruang tamu. Buat menangkal tamu-tamu yang nggak diinginkan," kekeh Shaka.


"Memangnya Mas Shaka sering kedatangan tamu yang nggak diinginkan?"


"Iya. Suka ada tamu reseh. Ngganggu banget," jawabnya seraya mengerling ke arah Gendhis. Gadis itu hanya tersenyum kecil tanpa berniat menanyakan lebih lanjut.


"Kak Shaka!"


Seruan itu membuat Shaka dan Gendhis seketika memutar badan ke arah asal suara. Seorang gadis cantik, memakai jeans ketat biru muda, kemeja putih berkerah rumbai, lalu heels dari brand ternama, dan tas jinjing menggantung di lengan yang membuatnya terlihat anggun, berjalan ke arah keduanya.


"Ish! Kakak nggak bilang-bilang mau ke sini juga. Nyebelin!"


***