
Gendhis tidak tahu, apakah membuat janji bertemu dengan Shaka untuk memberi jawaban atas pernyataan suka pemuda itu padanya, benar atau salah, yang jelas, setelah memastikan pekerjaannya selesai di sekolah, ia kini menunggu Shaka menjemputnya di depan pintu gerbang dengan dada berdebar. Apalagi saat melihat mobil Honda Civic milik Shaka menepi di depannya.
Shaka keluar, tersenyum manis pada Gendhis, dan membukakan pintu mobil untuk gadis itu. "Maaf telat ya, Dhis. Tadi ada kerjaan mendadak," ucap Shaka seraya melajukan mobilnya pelan meninggalkan area sekolah tempat Gendhis mengajar.
"Nggak papa, Mas. Aku juga baru selesai beres-beres tadi," sahut Gendhis.
"Okay, deh," kekeh Shaka. "Ini mau ngomong di mana?"
"Terserah Mas Shaka aja."
"Kasih clue, dong. Kira-kira yang mau kamu sampein ini kabar gembira atau buruk?" seloroh Shaka.
Gendhis meloloskan senyumnya seraya menunduk malu. Gadis itu tidak menyahut ucapan Shaka. Ia malah sibuk mere mas jemarinya, pertanda jika Gendhis sedang dalam keadaan canggung luar biasa.
"Kayaknya kabar gembira, nih," ujar Shaka seraya melirik gadis manis di sampingnya itu.
"Pede banget," gumam Gendhis lirih. Namun masih bisa didengar oleh Shaka.
"Itu namanya optimis, Dhis."
Gendhis terkekeh. Ia menoleh ke arah Shaka sekilas. Setiap kali berdekatan dengan pemuda itu, ia merasakan banyak rasa dalam hatinya yang teraduk menjadi satu. Nyaman, bahagia, gugup, dan canggung. Shaka juga sepertinya paham betul bagaimana menghadapi Gendhis yang tidak bisa seluwes saat gadis itu menari.
"Ke rumahku aja, ya?" tawar Shaka.
"Terserah Mas Shaka aja."
"Iya, terserah aku," gelak Shaka. Tepat sekali. Di rumahnya, bisa lebih leluasa. Jika Gendhis nanti menerimanya, pikir Shaka, ia bisa langsung memeluk gadis itu.
Beberapa menit kemudian, mobil Shaka sudah memasuki halaman rumahnya yang cukup luas. Setelah memarkir mobilnya, Shaka mengajak Gendhis turun dan masuk ke dalam rumah.
"Duduk, Dhis. Mau minum apa?" tanya Shaka.
"Apa ajalah, Mas." Gendhis tersenyum seraya menaruh pan tatnya ke atas sofa ruang tamu Shaka.
"Selain bir dan minuman yang galak-galak pastinya, kan?" ledek Shaka.
Gendhis memanyunkan bibirnya. Sembari menunggu Shaka menyiapkan minum untuknya, gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Topeng yang Shaka beli di Mirota beberapa waktu lalu, kini sudah terpajang di dinding. Lalu ada beberapa lukisan abstrak, dan lemari buffet yang digunakan untuk menyimpan banyak vcd dan buku. Untuk ukuran lelaki yang tinggal sendirian, ruang tamu Shaka termasuk rapi dan bersih.
"Teh aja, ya?" Suara Shaka membuat Gendhis terkesiap. Pemuda itu lalu meletakkan secangkir teh panas ke atas meja, kemudian mengambil tempat duduk di samping Gendhis, dengan memberi jarak tentunya.
"Makasih, Mas," ucap Gendhis.
Shaka hanya mengacungkan ibu jarinya. "Udah bisa tahu jawabanmu sekarang, Dhis?" tanya Shaka tidak sabar.
Gendhis berdehem sekali untuk melicinkan tenggorokannya yang terasa kering. Dadanya berdebar kencang saat Shaka tidak melepaskan pandangan sedetik pun darinya.
"Emmm ... Mas Shaka, beneran suka sama ... aku?" Percayalah, saat ini dada Gendhis rasanya seperti terhimpit batu besar. Sesak. Hawa panas menjalar ke pipinya. Mungkin saat ini wajahnya sudah memerah seperti udang rebus. Namun, Gendhis harus menanyakan keseriusan Shaka sekali lagi.
"Iya, Dhis. Aku beneran suka sama kamu. Kalau bisa dibilang sih, bukan hanya perasaan suka, tapi cinta. Cuma, kalau ngomong cinta kayaknya kecepetan. Tapi, rasa suka itu sedang menuju ke sana, Dhis," jawab Shaka dengan jujur.
"Mas Shaka kenapa suka sama aku?"
"Alasanku suka sama kamu, maksudnya?"
Gendhis mengangguk. Sementara Shaka mengulas senyumnya. Lalu, ia membuat Gendhis terperanjat dengan meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya.
"Alasannya karena hatiku yang udah milih kamu. Perasaan di hati. Muncul saat pertama kali ketemu sama kamu, Dhis. Semua yang ada di diri kamu, aku suka."
Gendhis masih menunduk, meskipun bibirnya mengulas senyum kecil. "Aku nyaman sama Mas Shaka," ucapnya pelan. "Benar kata Mas Shaka, perasaan di hati. Rasanya hati ini sudah tahu itu, dari awal pertama kali kita ketemu." Ia memberanikan diri untuk menatap mata Shaka, yang berbinar.
"Jadi?" pancing Shaka.
Gendhis mengangguk. Pelan, namun mampu membuat Shaka melonjak gembira, meskipun hanya dalam pikirannya. "Beneran, Dhis?" tanyanya memastikan.
Tidak terbayang bagaimana suka cita-nya hati Shaka saat ini. Ia menatap perempuan cantik di hadapannya itu tidak percaya. Meskipun ia sudah menduga kalau Gendhis akan menerimanya, tetap saja ini terasa seperti mimpi.
"Boleh peluk nggak, Dhis?" tanya Shaka.
Gendhis menelan salivanya dengan susah payah. Dipeluk Shaka? Semoga saja ia tidak akan pingsan. Ia kembali mengangguk pelan, menyetujui permintaan Shaka. Toh, secara formal, Shaka adalah kekasihnya sekarang, bukan?
Beberapa saat kemudian, Gendhis merasakan betapa hangatnya pelukan Shaka. Hanya pelukan biasa, namun mampu membuat tubuh Gendhis merasakan gelenyar aneh. Wangi tubuh Shaka, detak jantungnya, hembusan napasnya, pipinya yang bersentuhan langsung dengan leher pemuda itu adalah sensasi baru yang akan ia nikmati di hari-hari selanjutnya.
Meskipun awalnya ia merasa canggung untuk membalas pelukan pemuda itu, namun, pelan-pelan Gendhis memberanikan diri melingkarkan lengan di leher Shaka. Dan tangan pemuda itu, membalas dengan membelai rambutnya. Sepuluh menit keduanya bertahan dalam posisi saling merapatkan badan dengan nyaman dan tenang.
Shaka melepaskan pelukannya pada Gendhis. Ditatapnya mata gadis itu dari jarak yang cukup dekat. Ia menangkup wajah Gendhis dan mengusapkan ibu jarinya di kulit pipinya yang halus. "Makasih ya, Dhis," ucapnya lirih.
Gendhis meloloskan senyuman tipis di bibirnya. Ia menatap mata Shaka. Sorotnya begitu lembut. Entahlah siapa yang memulai, kini bibir mereka saling berpa gut. Dan ini adalah ciuman pertama Gendhis. Ciuman pertama yang tidak main-main.
Bagaimana Gendhis menggambarkan perasaan yang begitu menguasai hati dan tubuhnya itu? Perasaan yang tak terlukiskan. Rasa saling merindukan dan membutuhkan. Diantara rasa yang membuatnya melambung itu, Shaka memberinya kepercayaan bahwa dengan pemuda itu, ia mampu menghadapi dunia ini.
"Kamu baru pertama kali ciuman ya, Dhis?" tanya Shaka, membuat Gendhis terkesiap. Namun, melihat senyum jahil pemuda itu, kedua mata indah Gendhis membulat. Seketika gadis itu pun menarik wajahnya menjauh.
"Mas Shaka, ihh!" gerutu gadis itu. Malu bukan main, tentu saja.
"Nggak papa, lumayan kok," goda Shaka, semakin membuat Gendhis terperosok dalam rasa malu yang luar biasa.
"Aku mau pulang!" sungut Gendhis.
"Loh, loh, kok pulang? Masih kangen ini."
"Apaan, sih!"
Shaka terbahak. Diraihnya kepala Gendhis dan ia benamkan ke dadanya. Gadis itu menurut saja. Ia justru mengaitkan kedua lengan di punggung pemuda itu.
"I love you, Gendhis," ucap Shaka, setulus-tulusnya.
"Udah bisa bilang cinta sekarang?" sindir Gendhis.
"Iya, Sayang."
"Ish! Udah panggil sayang-sayang aja," gerutu gadis itu, masih dengan wajah yang ia sembunyikan di dada Shaka.
"Iyalah, aku romantis loh orangnya," kekeh Shaka. Tangannya pelan mengelus punggung gadis itu.
"Masa?" cebik Gendhis.
"Loh, iya. Nggak percaya." Shaka melepaskan pelukannya, kemudian meraih kedua telapak tangan Gendhis, dan menciuminya. "Ini bukti awal," ucapnya.
Senyum tipis Gendhis kembali terbit di bibirnya. Astaga. Ini sungguh luar biasa. Gendhis merasa sedang berada di tengah-tengah taman bunga yang sedang bermekaran.
"Ya udah, deh. Aku anter kamu pulang, ya? Aku takut," ujar Shaka seraya beranjak dari duduknya.
"Takut?" Gendhis mengerutkan keningnya.
"Takut khilaf," kekeh Shaka.
"Ish!"
Tawa Shaka berderai. Ia menyambar kunci mobil yang tadi ia taruh di atas buffet, kemudian meraih tangan Gendhis dan menggandeng gadis itu keluar dari rumahnya.
***
"