Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 14. Kriteria.



Gendhis mematut dirinya lama di depan kaca. Memeriksa lagi dan lagi penampilannya yang sebenarnya tidak ada yang salah. Rambut panjang yang tergerai rapi meskipun tanpa diluruskan dengan mesin catok, baju terusan warna gading motif bunga-bunga yang jatuh melewati lututnya, dan sepatu vintage coklat. Tidak lupa pula wajahnya yang ia rias tipis nan manis.


Setelah merasa mantap dengan penampilannya itu, Gendhis meraih tas selempang yang sudah disiapkannya di atas ranjang, lalu melangkah keluar kamarnya.


"Wih, mau ke mana, Mbak?" Lingga, sang adik yang berpapasan dengannya di ruang tengah berhenti untuk memeriksa penampilan Gendhis yang lain dari biasanya.


"Jalan-jalan, dong." Gadis itu mencebik.


"Yah, motornya mau aku pake, Mbak."


"Mbak nggak pake motor. Ada yang njemput." Gendhis menyunggingkan senyum tipisnya sambil berlalu dari hadapan sang adik yang bersorak kegirangan.


Gendhis duduk di teras menunggu Shaka datang. Beberapa saat lalu pemuda itu menelepon akan menjemputnya. Ia mengiyakan saja karena kebetulan bapak dan ibunya sedang tidak di rumah. Bapak ada acara di Ndalem Keraton, sementara sang ibu berkunjung ke rumah bulik-nya di Bantul.


Setelah sekitar sepuluh menit menunggu, mobil Honda Civic warna hitam milik Shaka menepi di depan pagar bambu halaman rumahnya. Tidak ingin membuat pemuda itu menunggu lama, Gendhis segera beranjak dari duduknya dan turun dari teras kemudian berjalan membelah halaman rumahnya menghampiri Shaka yang kini telah berdiri di samping pintu mobil, dan membukakannya untuk Gendhis.


"Aduh, kayaknya aku bisa diabetes nih lama-lama," ucap Shaka membuat kening Gendhis mengerut keheranan.


"Kok diabetes?" tanya Gendhis seraya masuk ke dalam mobil.


"Iya, ngeliatin yang manisnya kebangetan." Shaka meringis. Gendhis yang menangkap arah ucapan pemuda itu pun mencebikkan bibir. Namun, hatinya sudah berdesir hebat, bahkan sejak tadi melihat penampilan casual Shaka yang begitu sedap dipandang mata. Badan ideal pemuda itu dibalut dengan kaus putih polos lengan pendek, celana kain coklat muda dan sepatu casual tanpa kaus kaki. Rambutnya, seperti biasa, ia ikat bagian atas, menyisakan helaian tebal lainnya jatuh di tengkuk. Itu bagian paling favorit Gendhis. Ia suka sekali dengan gaya rambut Shaka.


"Langsung ke Taman Sari atau mau ke mana dulu nih enaknya?" tanya Shaka sambil melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


"Terserah Mas Shaka aja, aku ngikut."


"Ya kalau aku sih maunya ke jenjang selanjutnya," gelak Shaka seraya melirik Gendhis sekilas. Gadis itu pun terbahak meskipun terlihat keki. "Udah sarapan, belum, Dhis?" tanyanya kemudian.


"Udah, Mas."


"Oh, ya udah. Kita langsung ke Taman Sari aja kali, ya ... mumpung belum panas."


"Manut, Mas."


"Apa tuh manut?"


Gendhis terkikik. "Ngikut maksudnya."


"Kursus bahasa Jawa sama kamu bisa, nggak?"


"Ngapain kursus, Mas. Sering ngobrol atau dengerin orang ngomong bahasa Jawa juga lama-lama bisa."


"Kalau gitu kita harus ketemu tiap hari dong, biar cepet lancar ngomongnya."


"Kan nggak harus sama aku, Mas."


"Aku maunya sama kamu, gimana dong?" Shaka melirik Gendhis untuk melihat bagaimana reaksi gadis itu atas ucapannya. Canggung, seperti biasa, dengan senyum malu-malunya. Menggemaskan. Shaka baru menyadari, saat tersenyum, ada lesung pipit samar di pipi kanannya. Pikiran jahilnya mengatakan, bagaimana rasanya mengecup pipi halus yang dilapisi bedak tipis senada dengan warna kulitnya yang putih langsat.


"Dhis, kemarin tanggapan bapak sama ibu tentang aku, gimana?"


"Emmm ... baik, kok." Gendhis menelan salivanya. Dadanya berdebar saat mengucapkan kata-kata yang tidak sesuai dengan kenyataan.


"Syukurlah, aku sempat worried juga mereka nggak suka sama aku."


"Ya mereka nggak melarang aku berteman dengan siapapun, Mas."


"Owh, kalau lebih dari teman, gimana? Lebih selektif, ya?"


Gendhis merasa jantungnya berdetak lebih cepat mendengar ucapan Shaka. Mungkin tidak ada maksud apapun dalam pertanyaan yang dilontarkan oleh pemuda itu. Mungkin hanya pertanyaan umum saja. "Ya, mungkin."


"Emang kriteria yang bapak sama ibu mau kaya apa, Dhis?"


"Kriteria?" Gendhis berlagak tidak memahami pertanyaan Shaka.


"Iya, bapak ibu suka cowok yang gimana, yang boleh deketin kamu."


"Owh ...." Gendhis meringis. "Yang baik aja."


"Kalau kamu sendiri suka kriteria yang gimana, Dhis?"


Aduh. Pertanyaan Shaka membuat Gendhis gelagapan. "Kenapa nanya gitu, Mas?" Solusi untuk menjawab pertanyaan yang sulit untuk dijawab adalah, dengan melempar balik pertanyaan yang lain.


"Mas, udah mau sampai. Depan belok kanan," ujar Gendhis lega, setelah mereka melewati pagar-pagar pembatas jalan bercat putih setinggi satu meter lebih.


***


"Wah, cakep bener." Shaka membidikkan kameranya pada spot-spot indah di area kolam berair biru yang dikelilingi oleh pot-pot besar. "Ini dulunya buat mandi putri-putri Keraton, gitu?" tanyanya pada Gendhis yang berdiri di sampingnya.


"Yang ini namanya Umbul Pamuncar, khusus buat selir-selir raja dulu."


"Owh, banyak ya, selirnya?"


"Kalau kolam pemandiannya segini, ya bisa dibayangin aja berapa selirnya."


Shaka terbahak. "Kalau aku sih cukup satu aja. Tapi yang manis, lembut kaya putri raja." Ia melirik jahil pada Gendhis.


"Aku nggak nanya," cebik Gendhis dengan gayanya yang malu-malu.


"Kan aku ngasih tahu, Dhis." Shaka mengarahkan kameranya ke arah Gendhis dalam jarak dekat dan mengambil gambar gadis itu.


"Ish! Mas Shaka! Main jepret aja, deh ... aku kan belum pose." Tanpa sadar kepalan tangan Gendhis memukul bagian atas lengan kanan Shaka.


"Nggak usah pose udah cantik, natural. Nih, lihat!" Shaka menyodorkan kamera pada Gendhis.


"Jelek, Mas. Hapus!" Gendhis begitu malu melihat ekspresi wajah tidak siapnya yang tertangkap kamera Shaka.


"Mana ada jelek. Ayu-ayu gini," timpal Shaka sembari menarik kembali kameranya dan memandangi foto Gendhis di layar, dengan tersenyum-senyum kecil tentunya.


"Hapus, Mas," pinta Gendhis dengan wajah memelas.


"Enggaak!" tegas Shaka. "Aku suka, kok."


"Ish! Nyebelin!" Gendhis menggerutu, namun hanya ditimpali kekehan oleh Shaka.


"Lanjut lagi, yok, kelilingnya. Katanya masih ada dua kolam lagi, kan?"


"Hmm ...." Gendhis menyahut malas.


Shaka terbahak. "Yah, ngambek," ujarnya.


"Tau!"


"Ayok!" Shaka meraih telapak tangan Gendhis dan menggandengnya meninggalkan Umbul Pamuncar, menuju ke lokasi lain yaitu satu pemandian yang katanya dikhususkan untuk permaisuri raja.


Gendhis yang terlihat kaget dengan perlakukan Shaka, entah kenapa membiarkan saja tangannya digenggam dan digandeng oleh pemuda itu. Hanya detak jantungnya saja yang sepertinya tidak lagi beraturan. Energi hangat yang disalurkan Shaka melalui genggaman tangannya membuat tubuh Gendhis bagai dialiri listrik tegangan sangat rendah yang membuatnya merasa panas dingin.


"Wih, keren," gumam Shaka saat tiba di sebuah kolam yang berukuran lebih kecil dari kolam sebelumnya. Ia melepaskan tangan Gendhis dan mulai membidik spot-spot menarik di sana. "Ini khusus buat mandi permaisuri, ya?"


"Iya ...."


"Namanya apa, Dhis?"


"Umbul Binangun."


"Umbul artinya apa, sih?"


"Mata air."


"Hmmm ...." Shaka mengangguk-angguk. Ia memperhatikan wajah Gendhis yang masih terlihat cemberut. "Eh, masih ngambek, ya?" godanya.


"Enggak!"


"Ya udah, nih, aku hapus foto yang tadi. Tapi gantinya, aku foto kamu pake kain batik trus mandi di situ, tuh. Indah banget kayaknya, ya? Sedap dipandang mata," gelaknya.


Mata Gendhis membulat. Entah perasaan apa yang sedang berkecamuk dalam hatinya. Kenapa ia begitu bahagia, meskipun ekspresi wajahnya mengatakan sebaliknya.


Entahlah.


***