Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 57. Restui Aku, Ibu.



Gendhis menyodorkan beberapa butir obat yang ada di tangannya pada Bisma. Lalu meraih segelas air bening yang ada di atas meja.


"Mas, pulang aja, ya?" ujar Gendhis setelah Bisma selesai meminum semua obatnya.


"Kenapa memangnya, Dhis?"


"Ya biar aku bisa ngerawat Mas Bisma tanpa harus bolak-balik kaya gini. Aku nggak enak juga sama Ibu."


Bisma menatap Gendhis dengan seulas senyum tipis di bibirnya. Ia tahu, ada alasan lain yang membuat Gendhis memintanya untuk pulang. "Ya, nanti aku ngomong sama Ibu."


Gendhis meloloskan senyumnya. Ia berharap semoga saja mertuanya tidak akan membuat masalah. Karena sepertinya ini jalan satu-satunya agar hatinya tidak goyah akan kehadiran Shaka. Bagaimanapun, ia adalah perempuan yang masih berstatus sebagai istri. Tetangganya yang bernama Yani, secara tidak langsung mengingatkannya akan hal itu meskipun harus mendengar mulut julidnya.


Setelah hampir dua jam menghabiskan waktu dengan Bisma, Gendhis pun berpamitan pada suaminya itu, dan juga pada Bu Ratmi, dang mertua, yang sepertinya sudah menunggunya di ruang tamu. Melihat wajahnya yang suram, sepertinya ada sesuatu yang hendak ia bicarakan dengannya.


"Suamimu itu sedang berjuang melawan penyakitnya, Ndhis. Kok yo tega kamu bersenang-senang di atas penderitaannya?"


"Maksud Ibu?" Gendhis berusaha merunut apa saja yang sudah ia lakukan sehingga Bu Ratmi mengatakan hal semacam itu padanya. Apakah karena ia pulang diantar oleh Shaka? Apakah tetangganya itu, si Yani, yang mengadu pada mertuanya ini. Iya. Pasti itulah yang terjadi.


"Kamu kira-kira saja kenapa Ibu ngomong begini, Ndhis."


"Kalau masalahnya tentang saya yang diantar pulang oleh Mas Shaka ...."


"Oh, jadi yang ngantar kamu itu dia?" potong Bu Ratmi. "Wah, cocok ini. Apik tenan, Dhis. Mbok lanjut wae. Biar Bisma di sini saja sama Ibu. Kamu ndak usah repot-repot ke sini ikut merawat. Ibu juga tahu kamu cuma sekedar menggugurkan kewajiban saja."


"Ngapunten, Bu ... sebelumnya saya ingin menjelaskan tentang saya diantar pulang oleh Mas Shaka." Gendhis lalu menceritakan kronokogisnya dengan jelas pada sang ibu mertua. "Saya ndak ada niat apa-apa, Bu. Saya tahu posisi saya sebagai seorang istri." Meskipun ia tidak pernah mencintai Bisma. Meskipun perasaannya pada Bisma hanya sekedar rasa kasihan.


Apakah ia harus selalu menderita agar orang lain bahagia? Apakah se-malaikat itu dirinya? Ia sudah berusaha untuk selalu memikirkan kepentingan orang lain selama ini, meskipun harus melalui proses yang berdarah-darah. Apa itu belum cukup? Paling tidak, mereka bisa menghargai posisinya, dan tidak menyerangnya seperti ini.


Lagi dan lagi, Gendhis keluar dari rumah mertuanya dengan hati yang kalut. Ingin marah namun pada siapa? Ingin berkeluh kesah, ia tidak punya siapa-siapa yang bisa ia percaya.


Mas Shaka, kayaknya aku nggak ada waktu buat nambah jam les. Jadi aku nggak bisa ngajar tari di kantormu. Maaf ya, Mas.


Sebuah pesan ia kirimkan untuk Shaka dengan perasaan kacau. Namun, ia memang harus melakukan ini. Menghindar dari lelaki yang mampu membuat akal sehatnya runtuh. Meskipun hal itu membuat air matanya pun tumpah membasahi pipi.


***


Mas Shaka, kayaknya aku nggak ada waktu buat nambah jam les. Jadi aku nggak bisa ngajar tari di kantormu. Maaf ya, Mas.


Shaka membaca pesan dari Gendhis dengan hati berdebar. Ia kecewa, tentu saja. Apa lagi saat ia menelepon Gendhis, nomernya tidak aktif. Tidak ada nada dering dan langsung dialihkan ke voicemail. Apakah nomernya telah diblokir oleh Gendhis?


Semua pertanyaan yang memenuhi benaknya semalam itu menuntunnya keesokan hari mengemudikan mobil menuju rumah Gendhis untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Bu Gendhis nginep di Kota Gedhe, Mas. Di rumah ibunya." Begitu penuturan dari perempuan paruh baya yang mengaku sebagai asisten rumah tangga Gendhis.


Shaka sempat meragu untuk menyusul ke sana, mengingat hubungannya dengan ibunya Gendhis begitu buruk. Namun, pikirnya lagi, ini adalah perjuangannya mendapatkan Gendhis kembali. Perjuangannya yang tertunda selama dua setengah tahun. Apapun resikonya, akan ia hadapi. Ia tidak akan menyerah dengan keadaan seperti dulu. Karena satu hal yang membuatnya begitu yakin untuk melangkah adalah, bahwa Gendhis masih mencintainya.


Ia pun meluncur ke Kota Gedhe dengan tekad yang begitu kuat. Seburuk apapun caci maki atau sumpah serapah yang akan ia terima sebagai bentuk penolakan dari ibunya Gendhis, akan ia terima. Dan ia tidak peduli. Karena ia ingin mengambil haknya yang pernah terampas.


Shaka menepikan mobilnya di depan pagar bambu rumah orang tua Gendhis. Ia turun dan melangkah masuk membelah halaman rumah yang asri. Lengang. Belum ada tanda-tanda kehidupan di sana pagi itu.


Pelan ia mengetuk pintu kayu yang mulai usang itu. Dan keluarlah seorang perempuan paruh baya yang sebagian rambutnya telah memutih. Shaka tersadar bahwa perempuan itu terlihat jauh lebih kurus dibandingkan saat terakhir ia melihatnya.


Perempuan paruh baya itu, Bu Ningsih, terperanjat melihat siapa tamunya di pagi yang cerah itu. Seseorang yang melemparnya ke masa lalu dan memutar scene demi scene dirinya sebagai pemeran antagonis yang mengerikan.


"Nak ... Sha-ka," ucap Bu Ningsih dengan bibir bergetar. Tidak terlintas sama sekali di benaknya jika ia akan kedatangan tamu yang membuatnya semakin tenggelam dalam penyesalan.


"Apa kabar, Ibu?" Shaka menyapa dengan ramah, setelah menyadari bahwa perempuan paruh baya di hadapannya ini bukanlah sosok yang sama, yang menorehkan luka di hati oleh caci maki dan sumpah serapah, terlebih lagi, mematahkan hatinya dan hati perempuan yang ia cintai.


"Baik. Baik. Silahkan, Nak ... silahkan duduk."


Shaka masih tidak percaya ini. Ia masih mencerna apa yang sedang terjadi. Ia memastikan sikap ramah Bu Ningsih ini nyata.


"Sudah lama banget, ya ... ndak jumpa." Bu Ningsih terjebak dalam situasi yang begitu aneh. Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri atas basa basi yang sedang ia lakukan pada pemuda di hadapannya ini.


Seharusnya ia tidak perlu berbasa-basi lagi. Seharusnya ia meminta ampun atas semua yang telah ia lakukan terhadap Shaka, juga terhadap putrinya.


"Bu, Bu ... jangan begini, Bu ... Ibu duduk aja, ya? Kita obrolin semuanya." Shaka mencegah Bu Ningsih yang hendak bersimpuh di kakinya. Tentu saja Shaka tidak akan membiarkan itu.


"Ibu mohon maaf yang sebesar-besarnya sama Nak Shaka, atas semua yang sudah Ibu lakukan. Ibu ndak tahu bagaimana menebus semua kesalahan Ibu dulu." Suara Bu Ningsih bergetar karena tangis yang mencoba ia tahan sekuat tenaga.


"Saya udah maafin Ibu," ucap Shaka seraya menyentuh lengan Bu Ningsih lembut.


"Saya hanya ingin meminta restu dari Ibu untuk mengambil Gendhis kembali."


***