Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 10. Tahap Paling Kedua.



"Kalau mau makan gudeg yang enak tuh bukan di restauran kaya gini, Mas," ucap Gendhis, setelah akhirnya mereka duduk manis saling berhadapan di sebuah restauran yang cukup jauh dari kota. Pemandangannya memang indah dan menyegarkan mata karena terletak di dekat persawahan. Dan untuk Shaka, bukan makanannya yang penting, namun, kesempatan untuk mengobrol dengan gadis ayu di hadapannya itu dengan santai.


Ia memperhatikan gerak-gerik Gendhis dari menyendok makanan, menaruhnya di mulut, lalu mengunyahnya. Elegan sekali, seperti putri raja. "Di mana, dong?" tanya Shaka. Ia hanya berpura-pura tidak tahu. Tentu saja sudah banyak informasi tentang warung-warung gudeg yang melegenda di Jogja.


"Banyak, sih."


"Nggak tahu tempatnya aku," kekeh Shaka.


"Ada di Panembahan, itu loh deket Keraton. Terus di Jethis juga ada."


Shaka tergelak. "Waduh, bingung ntar aku. Kayaknya butuh bantuan kamu buat jadi culinary tour guide-nya, deh."


"Ya, nggak papa, Mas."


"Bener nih, ya?" Mata Shaka berbinar. Ia mengambil gelas air putihnya lalu meneguk hingga habis setengahnya.


Gendhis mengangguk. Gadis itu meletakkan sendok dan garpu di atas piringnya yang telah kosong. Posisi sendok dan garpu menyilang, dan mata keduanya menghadap ke atas. Table manner dasar yang menunjukkan bahwa gadis itu terdidik untuk bersikap santun.


"Hari minggu besok masih jadi loh, Dhis."


"Taman Sari, kan?"


"Yep."


"Iya, Mas. Aku nggak ada jadwal nari kok."


"Okay. Berarti banyak waktu kan, ya?" ujar Shaka senang. "Bisa jalan seharian." Ia menaik-naikkan alisnya sembari tersenyum jahil.


Gendhis tersenyum tipis sembari menundukkan kepalanya. Matanya melirik ke arah ponsel Shaka di atas meja yang tiba-tiba berdering. Ia bisa dengan jelas membaca satu nama yang muncul di layar. Reina.


Shaka mengambil ponselnya dan segera mematikan panggilan. Ia mengubah mode deringnya menjadi vibrate, kemudian ia memasukkan benda pipih itu ke dalam saku jaket semi-parkanya.


"Nggak diangkat, Mas?" tanya Gendhis.


"Owh. Nggak penting." Shaka terkekeh seraya menghabiskan sisa air putih di gelasnya. Kemudian melirik jam di pergelangan tangan. "Rumahmu deket Handi, kan?"


"Sekitar enam menit dari rumah Mas Handi."


"Oh iya, kamu pernah bilang." Shaka beranjak dari duduknya diikuti oleh Gendhis. Keduanya berjalan menuju meja kasir. "Bentar, ya."


Gendhis mengangguk. Sementara Shaka menyelesaikan pembayaran, matanya memperhatikan pemuda itu dari belakang. Rambut Shaka diikat bagian atasnya, dan membiarkan sebagian yang lain jatuh di tengkuknya. Keren, batinnya memuji.


"Ayo, Dhis." Suara Shaka membuat Gendhis terkesiap. Gadis itu mengangguk dan berjalan di samping pemuda itu menuju keluar restauran.


"Aku anter pulang, ya?" tawar Shaka saat keduanya telah berada di dalam mobil. Ia melepas jaketnya, dan melemparnya ke kursi belakang. Tubuh bagian atasnya kini hanya dibalut kaus lengan pendek putih.


"Memangnya Mas Shaka nggak balik ke bengkel lagi?" tanya Gendhis. Di layar audio yang ada pada dashboard tertera angka 15.45. Dan Shaka, sudah tidak memakai seragam kerjanya lagi. Gadis itu melirik lengan kanan Shaka yang bergambar naga. Warna hitam dan merah yang mendominasi tato-nya itu begitu kontras dengan kulit putihnya. Sementara di sebelah kiri, ada gambar gagang belati, sepertinya, yang menyembul dari ujung lengan kaus pendeknya.


"Santai. Udah ada anak-anak yang ngurusin."


"Owh," ucap Gendhis seraya mengangguk-angguk. Kemudian ia melempar pandang ke luar jendela. Matanya menelusuri apapun yang ada di sepanjang pinggir jalan. Namun, sejujurnya ia sedang canggung luar biasa. Selalu saja tiba-tiba otaknya blank saat tidak ada yang memulai obrolan seperti ini. Di dalam mobil begitu hening. Bahkan untuk menelan saliva saja Gendhis harus pelan-pelan agar tidak terdengar oleh Shaka.


"Kamu berapa bersaudara, Dhis?" tanya Shaka memecah keheningan di antara mereka.


Gendhis berdehem sekali. "Aku dua bersaudara. Adikku cowok, SMA kelas dua."


"Mama papa kerja di mana?"


"Bapak abdi dalem. Kalau ibu, ibu rumah tangga."


"Owh, abdi dalem tuh yang kerja di dalam Keraton, kan?" Shaka memutar kemudi masuk ke jalan yang lebih kecil, keluar dari jalan raya dan menelusuri jalanan yang tidak terlalu ramai. Terus mengemudikan mobilnya hingga melewati sebuah jembatan yang di sekelilingnya dipenuhi pepohonan dan juga rumah-rumah penduduk.


"Iya, Mas."


"Berarti keluarga kamu tuh Jawa banget ya, Dhis?"


"Iyaa, maksudku ... masih memegang teguh adat Jawa gitu, loh. Kaya kamu, penari Jawa, terus bapak kamu, abdi dalem."


"Iya, Mas. Keluargaku masih nerapin aturan-aturan leluhur. Seperti, penanggalan, pantangan, dan mitos mungkin, ya ...."


"Wah, ribet, nggak?" tanya Shaka seraya melirik Gendhis sekilas.


"Sebenarnya ribet nggak ribet sih, Mas. Yang penting enjoy aja njalaninnya. Kalau buat aku, sih ... selama itu baik, aku jalani."


Shaka mengangguk-angguk. "Tapi, keluarga kamu strict, nggak, ke kamu dan adik kamu?"


"Lumayan, sih," kekeh Gendhis. "Tapi, aku sama adikku juga nggak pernah aneh-aneh, jadi ya, nggak terlalu terbebani." Gendhis tidak sepenuhnya jujur. Buktinya ia merasa terbebani dengan tuntutan menikah dari orang tuanya.


"Galak nggak, nih?"


"Hmm?"


"Bapak sama ibu kamu, galak, nggak?" Shaka terbahak. "Ini kan aku lagi mau nganter ke rumah. Kalau ketemu mereka kira-kira gimana?"


"Owh." Gendhis mengulas senyumnya. "Masa sama orang yang baru ketemu galak, sih?"


"Ya kan sapa tahu, Dhis."


Gendhis terkekeh. Ia kembali melempar pandang keluar jendela. Rumah Handi yang berada di sebelah sanggar tari tempatnya mengajar, baru saja mereka lewati. "Mas, dari sini lurus aja sampai mentok, terus belok kiri, kira-kira lima ratus meter udah sampai."


"Okay ..." sahut Shaka. Ia melajukan mobilnya pelan. Ya, sedikit mengulur waktu meskipun ujung jalan masih jauh di depan sana.


"Ini beneran Mas Shaka nggak papa?"


"Nggak papa apanya?"


"Telat balik ke bengkel."


Shaka terbahak. "Nggak papa, Dhis. Kalau kamu mau ngajakin aku mampir bentar di rumah kamu juga boleh."


Gendhis gelagapan. Seketika ia kebingungan harus menjawab apa. Atau mungkin Shaka hanya bercanda?


"B-boleh aja." Gendhis menimpali dengan gugup. Dan Shaka pun tersenyum senang. Sampai di ujung jalan ia memutar kemudi ke arah kiri sesuai petunjuk dari Gendhis.


"Depan situ, Mas," tunjuk Gendhis.


"Sini, ya?" Shaka menepikan mobilnya di depan pagar bambu yang memisahkan antara halaman rumah kayu dengan jalan.


"Iya, sini, Mas." Gendhis mengawasi rumahnya yang tampak lengang. Ia berharap hanya adiknya saja yang ada di rumah. Namun, saat ia dan Shaka turun, dan masuk ke halaman melalui pintu pagar bambu, sang ibu muncul dari balik pintu dan menanti kedatangannya di teras. Sepertinya, tadi dari dalam rumah, ia melihat ada mobil berhenti di depan.


"Bu ...." Gendhis mencium punggung tangan Bu Ningsih. Namun pandangan perempuan dengan rambut digulung di belakang itu tertuju pada Shaka.


"Sore, Bu," sapa Shaka seraya menempelkan kedua telapak tangan di depan dada.


"Sopo iki, Nduk?" Bu Ningsih bertanya pada Gendhis, namun matanya tidak lepas dari Shaka.


"Shaka, Bu ... temennya Gendhis." Shaka menganggukkan kepalanya memberi hormat pada Bu Ningsih.


"Owh." Pandangan Bu Ningsih turun ke tato di lengan Shaka yang begitu mencolok. Lalu memperhatikan keseluruhan penampilan pemuda itu. "Monggo, pinarak (Silahkan duduk)," ucapnya kemudian.


"Duduk, Mas." Gendhis mengulang ucapan ibunya dalam bahasa. Ia mempersilahkan Shaka untuk duduk di kursi yang ada di teras.


"Oh ya," sahut Shaka sembari menaiki anak tangga menuju ke kursi dan duduk di sana.


"Sebentar ya, Mas," pamit Gendhis pada Shaka. Gadis itu masuk ke dalam rumah diikuti oleh Bu Ningsih. Namun sebelumnya, perempuan yang sebagian rambutnya telah memutih itu mengangguk pada Shaka dengan senyum yang sedikit dipaksakan.


***