Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 70. Perasaan Yang sudah Lama Terpupuk.



"Kenapa Reza baru bilang sekarang?" Shaka tidak habis pikir dengan tunangan Ninda yang tiba-tiba saja tidak berkenan dengan hubungan dekatnya dengan Ninda; yang menurut Shaka masih dalam batas wajar.


"Kenapa nggak dari dulu dia nyuruh kamu resign? Kita kan udah deket dari dulu." Shaka masih mencoba mencari jawaban.


Sementara Ninda masih sesenggukkan menangis. "Nggak tau, Bang."


Shaka menatap sekretarisnya itu sembari berpikir apa yang harus ia lakukan. "Trus, gimana? Kamu mau resign? Aku nggak papa sih, kalau emang itu pilihan kamu."


Ninda mendongak dan menatap Shaka. Kedua pasang mata mereka saling bertemu untuk beberapa saat.


"Nin?" Shaka berusaha memutus adu pandang mereka dengan memiringkan wajah, menatap gadis itu dari arah samping.


"Bang ... aku ...." Ninda menggantung kata-katanya. Ia bahkan tidak berani menatap mata Shaka. Kata-kata yang tadinya sudah berada di ujung lidah, terpaksa ia telan kembali.


"Kamu kenapa, Nin?" Shaka menunggu Ninda meneruskan kata-katanya. Gadis itu terlihat gelisah. Dari yang tadinya berduka, kini tampak menahan gugup. Ia sepertinya begitu ragu untuk mengungkapkan sesuatu.


"Ngomong, Nin. Aku bisa bantu apa?" desak Shaka.


"B-bantu ... peluk, bisa?" tanya Ninda hati-hati. Wajah sembabnya merah merona.


"Astaga! Kaya mau ngomong apa aja. Sini ...." Shaka membuka kedua lengan lebar-lebar, mempersilahkan Ninda untuk masuk ke dalam pelukannya. Bagi Shaka, ini hanya sekedar pelukan persahabatan. Seorang sahabat yang sedang membutuhkan dukungan dalam situasi sulit. Seperti dulu Ninda yang selalu ada di saat Shaka melalui masa-masa sulit kehilangan Gendhis.


Tapi, bagi Ninda, ia merasa begitu nyaman berada di pelukan lelaki yang selama ini mengisi hari-harinya. Bahkan intensitasnya bertemu dengan tunangannya sendiri, tidak sesering kebersamaannya dengan Shaka. Ia sudah terlanjur nyaman berada di dekat bosnya ini. Entah perasaan apa yang ia pupuk selama ini terhadap lelaki yang sedang ia peluk ini, yang jelas, ia rela meninggalkan tunangannya asal tidak berpisah dengan Shaka.


"Boleh aku tetap kerja di sini, Bang?" tanya Ninda. Ia mengelus samar punggung Shaka, dan hampir saja lelaki itu tidak menyadarinya.


"Lucu kamu. Harusnya kamu sendiri yang mutusin, mau tetep kerja di sini, atau kamu ikutin keinginan tunanganmu."


"Aku mau di sini aja, Bang."


"Emangnya nggak bisa dibicarain lagi baik-baik gitu sama Reza? Kita kan nggak ada apa-apa. Kamu tuh udah aku anggap sahabat bahkan adekku sendiri, Nin."


Ninda melepaskan pelukannya. Jaraknya dengan Shaka begitu dekat. Matanya menatap sayu lelaki tampan itu. "Aku yang salah, Bang," ucapnya lirih.


"Why?"


"Karena ...." Ninda menelan salivanya. "Aku yang nggak bisa jaga hati."


Shaka mengerutkan kening, mencoba mencerna ucapan Ninda yang terdengar ganjil. "Maksudmu?"


Ninda membisu untuk beberapa saat. Lidahnya terasa kelu. Kini, hanya gerakan kepalanya saja yang mendekat ke wajah Shaka, kemudian, sesuatu yang tidak pernah lelaki itu duga, terjadi. Bibir Ninda merapat ke bibirnya, lalu melu matnya lembut.


Untuk beberapa detik tubuh Shaka membeku. Ia bingung dengan apa yang sekretarisnya itu lakukan. "Nin, bentar, bentar, kok kaya gini?" Ia meraih bahu gadis itu dan mendorongnya menjauh.


"Maaf, Bang." Ninda malu bukan main. Ini sudah jelas Shaka menolak apa yang baru saja ia lakukan.


Ninda memejamkan matanya. Ia biarkan Shaka keluar dari ruangannya. Ia juga merutuki dirinya sendiri yang begitu nekat mencium Shaka. Dan sejujurnya dirinya tidak tahu kenapa ia melakukan hal itu. Kenapa ia ingin sekali merasakan bibir bosnya itu menyentuh bibirnya?


***


Gendhis memasukkan pakaian terakhir ke dalam koper besar miliknya. Semua beres. Barang-barangnya sudah tertata rapi di dalam dua koper miliknya. Tidak ada lagi miliknya yang tertinggal di kamar itu.


Ia membiarkan dua kopernya teronggok di lantai kamar, dan melangkah meninggalkan ruangan itu. Tujuannya adalah menemui Bu Ratmi dan Pak Noto. Gendhis sudah memutuskan, hari itu juga ia akan meninggalkan rumah ini, untuk melanjutkan hidupnya. Lebih tepatnya, untuk menyongsong kebahagiaannya yang sudah ada di depan mata.


Petang itu Bu Ratmi dan Pak Noto sedang berada di ruang tengah, menonton televisi seperti biasa. Pelan Gendhis melangkahkan kaki mendekati kedua mantan mertuanya itu.


"Eh, Ndhis, kene, kene, lungguh kene (sini, sini, duduk sini)." Yang bersikap ramah padanya itu tentu saja Pak Noto. Sementara Bu Ratmi sama sekali tidak memberinya senyum secuil pun.


"Pak, Bu, saya mau bicara." Gendhis berucap lirih. Sejujurnya, dadanya sekarang ini berdebar kencang. Ia mempersiapkan diri untuk dimaki-maki oleh perempuan paruh baya yang duduk di samping Pak Noto itu.


"Bicara apa, Nduk?"


"Begini, Pak ... saya berpikir kalau sudah waktunya saya pamit dari sini. Saya mau pulang ke rumah ibu si Kota Gede."


"Owh, begitu. Bapak sih terserah kamu saja, Ndhis. Di manapun kamu tinggal yang penting bahagia," ucap Pak Noto bijak.


"La kok enak?!" Bu Ratmi menyela. Tentu saja dengan nada suara meninggi. "Bisma seumur hidupnya, setia sama kamu. Meskipun kamu memperlakukan dia dengan buruk, sampai-sampai penyakitnya kumat gara-gara kamu. Sekarang kamu malah mau cuci tangan, mau mengejar laki-laki lain."


"Bu, Wes to." Pak Noto menyentuh lengan istrinya. "Gendhis juga berhak untuk melanjutkan hidupnya. Dia masih muda. Masa depannya masih panjang."


"Terus kita bagaimana? Bisma Wes ra ono. Kita sudah ndak punya anak lagi, Pak. Ini kewajibannya Gendhis menggantikan peran Bisma di rumah ini."


"Yo ndak gitu to, Bu. Gendhis pasti sudah memikirkan tentang kita juga, walaupun ndak tinggal di sini. Iya to, Ndhis?"


"Leres (betul), Pak." Gendhis sepakat dengan Pak Noto. Tentu saja ia tidak akan sepenuhnya lepas tangan dengan mantan mertuanya itu. Ia akan berbakti selayaknya anak pada orang tua. Namun, ia juga punya kehidupan sendiri yang harus ia perjuangkan.


Bu Ratmi mendecih. "Bilang saja kamu mau kawin lagi sama mantanmu yang orang Jakarta itu. Memang dasarnya gatel. Ditinggal suami baru beberapa bulan sudah ndak kuat kalau ndak nyari penthol!"


Kasar. Kasar sekali ucapan Bu Ratmi. Pak Noto sampai-sampai membulatkan mata mendengar ucapan tidak pantas istrinya itu. Gendhis hanya bisa memejamkan mata. Perih sekali rasa di dadanya dimaki-maki dengan kata-kata tidak senonoh oleh But Ratmi.


"Pak, Bu ... saya minta maaf kalau selama saya menjadi istri Mas Bisma, saya banyak salah. Malam ini saya pamit, nggih. Semoga saya diberi kesehatan agar bisa tetap merawat Bapak dan Ibu."Gendhis meraih telapak tangan Pak Noto. Lelaki paruh baya itu dengan senang hati menerima kecupan Gendhis di punggung tangannya.


Namun tidak dengan Bu Ratmi. Perempuan itu menyembunyikan tangannya di belakang punggung. Enggan untuk disentuh oleh Gendhis. Sambil mulutnya terus memaki Gendhis dengan kata-kata kasar.


Bu Ratmi baru berhenti mengomel saat terdengar suara ketukan di pintu depan.


***