
Bisma menghela napas dalam-dalam sambil memandangi Gendhis yang meringkuk di atas ranjang, di bawah selimut tebal yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Dari pagi hingga siang ini, Gendhis murung dan lemas. Ia bahkan tidak sanggup menghadiri akad nikah Lingga dan Najwa yang dilaksanakan di rumah Najwa. Bisma pun tidak bisa berlama-lama meninggalkan Gendhis dalam keadaan memprihatinkan seperti itu. Begitu acara akad selesai, ia segera pulang untuk menemani istrinya.
"Dhis, obatnya tadi udah diminum?" tanya Bisma.
"Udah." Gendhis menjawab pendek.
"Udah enakan sekarang?" Bisma duduk di tepi ranjang lalu menyentuh lengan Gendhis.
Gendhis mengangguk. "Gimana tadi, Mas? Lancar?" tanyanya lirih.
"Iya lancar."
"Ibu gimana?"
"Yang aku lihat sih, Ibu baik-baik aja. Terlihat kecewa udah pasti. Gimana pun kan Lingga terpaksa harus putus sekolah. Tapi, yah, mau gimana lagi?" Bisma menghela napasnya.
Gendhis mengangguk. "Syukurlah kalau semuanya lancar."
Bisma mengulas senyumnya. "Yang sehat dong, Dhis. Katanya mau kerja lagi," ucapnya prihatin. "Udah menghubungi Bu Yayuk pemilik sanggar?"
"Udah, Mas."
"Terus?"
"Nanti kalau ada yang minta guru private tari, Bu Yayuk ngabari aku."
Bisma mengangguk-angguk. Ia menoleh ke atas nakas. Piring berisi menu sarapan ia siapkan untuk Gendhis tadi pagi masih terlihat utuh. "Loh, kok nggak dimakan sarapannya, Dhis?"
"Udah kok."
"Masih utuh gitu. Inget kan kata dokter kamu harus cukup makan, Dhis."
"Perutnya lagi nggak enak keisi makanan, Mas."
Bisma memijit keningnya. Kalau begini terus, bagaimana Gendhis bisa sembuh. "Aku pesenin makan ya, Dhis. Kamu pingin makan apa? Maksudnya, kira-kira yang bisa diterima sama perutmu sekarang yang gimana? Kering, berkuah atau ...."
"Belum pingin apa-apa, Mas."
Bisma menggeleng. "Harus keisi makanan, Dhis."
"Tadi udah keisi dikit sebelum makan obat kok, Mas."
"Nggak cukup, Dhis. Harus makan banyak biar punya tenaga. Ntar kalau tiba-tiba ada panggilan ngajar, trus kamu lemes kaya gini, gimana?" bujuk Bisma. "Atau mau aku masakin lagi?"
"Nggak usah, Mas. Ntar aja, ya? Aku pingin istirahat."
"Hmmm." Bisma menghela napasnya kembali. "Ya udah deh," ucapnya pasrah. "Aku mau ke belakang dulu ya, Dhis. Mau ngecek sanyo, kayaknya tadi dikit ngadat." Ia beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah pintu kamar.
"Mas!" panggil Gendhis membuat Bisma menghentikan langkahnya.
"Ya, Dhis?"
"Tadi kok aku nemu obat aneh di laci bufet yang di ruang tengah. Itu punya Mas Bisma?"
Bisma terkesiap mendengar pertanyaan Gendhis. "Oh, iya punyaku. Vitamin."
"Istirahat, ya?" ucapnya seraya melangkahkan kakinya kembali keluar dari kamar.
Sementara Gendhis kembali bergelung di dalam selimut. Ditariknya napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Berharap segala rasa sakit di dalam dadanya ikut terbawa.
Lima bulan sudah semenjak ia berpisah dengan Shaka, namun luka hatinya masih belum juga hilang. Masih sesakit saat ia meninggalkan Shaka yang sedang tertidur pulas setelah malam indah yang telah mereka lalui.
Apakah Shaka juga masih merasakan hal yang sama? Atau, ia berhasil melanjutkan hidup, melupakan dirinya, dan mengganti posisinya dengan perempuan lain?
***
Gadis yang menjadi istri Lingga, Najwa, bukanlah gadis yang berparas cantik. Wajahnya biasa saja. Bu Ningsih mengajak sepasang pengantin baru itu menjenguk Gendhis yang tidak bisa datang di acara akad nikah mereka.
"Ini Najwa, Ndhis. Istrinya Lingga." Bu Ningsih memperkenalkan menantu barunya. Gendhis yang sedang duduk menyandarkan punggungnya di kepala ranjang melempar senyum pada gadis berambut pendek dengan kawat gigi yang membuat bibirnya sedikit kesulitan untuk mengatup setelah membalas senyuman darinya.
"Selamat ya, buat kalian berdua," ucap Gendhis seraya melempar pandang pada Lingga dan Najwa. Sang adik mengangguk, kemudian menunduk. Sepertinya ia Lingga tidak berani membalas tatapan Gendhis. Bagaimanapun, saat terakhir ia masih tinggal satu atap dengan kakak perempuannya itu, sikapnya kurang baik. Lingga bahkan senang ibunya lebih fokus dengan masalah sang kakak, sehingga penyebab kecelakaan yang menimpanya, luput dari penyelidikan sang ibu.
"Ibu mau ngomong sama kakakmu dulu." Bu Ningsih meminta Lingga dan Najwa untuk meninggalkannya bersama Gendhis. Ia ingin bicara empat mata dengan putrinya itu.
Sepeninggal anak lelaki dan menantunya, Bu Ningsih mengikis jarak antara dirinya dan Gendhis. Perempuan paruh baya itu menatap sang putri dengan rasa perih di dadanya.
"Ndhis, Ibu nggowo rendang kae ning dapur. Dimaem yo," ucap Bu Ningsih.
"Nggih, Bu. Maturnuwun." Gendhis menjawab sekenanya. Ia tidak merasa terharu sama sekali dengan perhatian yang diberikan oleh sang ibu terhadap dirinya.
"Piye, Ndhis? Opo sing mbok rasak e saiki (Gimana, Ndhis? Apa yang kamu rasakan sekarang), Ndhuk ."
Rasanya Gendhis ingin mencibir saja pertanyaan perempuan itu. Kenapa baru sekarang ia menanyakan hal itu? Seharusnya, dari awal ia tahu Gendhis berhubungan dengan Shaka dulu, ia memberikan perhatiannya? Kenapa baru sekarang ia bersikap seolah-olah ia adalah seorang ibu yang baik, setelah melihatnya terkapar tidak berdaya seperti ini?
Gendhis merasa perempuan itu hanya basa-basi saja. Sang ibu pasti sudah tahu apa yang sedang ia rasakan. Kenapa ia tidak langsung saja meminta maaf karena telah memisahkannya dari Shaka?
Hal itu membuat Gendhis malas menjawab pertanyaan ibunya. Toh, perempuan itu tidak bodoh untuk tidak menyadari apa yang sedang dirasakannya.
"Ndhuk ...." Bu Ningsih menyentuh tangan Gendhis. Namun, pelan putrinya itu memindahkan tangannya. Dan ia menyadari apa yang dilakukan Gendhis itu adalah pertanda bahwa putrinya itu telah membangun sebuah benteng tinggi di antara mereka.
"Ibu minta maaf ...." Suara Bu Ningsih bergetar, penuh dengan penyesalan. "Ibu sudah membuatmu seperti ini."
Gendhis menatap sang ibu lekat. Ibunya meminta maaf padanya. Tapi, untuk apa? Semua sudah terjadi dan kenyataan tidak bisa dirubah lagi. Shaka sudah pergi dan Gendhis tetap harus menjalani hidup bersama Bisma. Pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipermainkan seenaknya. Janji di depan Yang Maha Kuasa tetap harus ditepati, karena Gendhis sendiri yang menyerah dan menerima Bisma sebagai suaminya, meskipun dirinya masih berjuang untuk menghapus luka hatinya.
"Nak Bisma baik sama kamu kan, Ndhis?"
"Mas Bisma baik." Tapi aku yang masih terseok-seok untuk melupakan Shaka.
"Syukurlah ...." Bu Ningsih mengulas senyumnya. "Ibu senang mendengarnya. Ibu selalu berdoa kamu bahagia bersama suamimu, Ndhuk."
"Bu ...." Gendhis masih menatap sang ibu lekat. "Yang bisa menentukan kebahagiaan saya, itu saya sendiri. Bukan Ibu." Ia tidak perlu menjelaskan panjang lebar apa yang mampu membuatnya bahagia. Perempuan itu pun pasti sudah mengerti.
"Ibu tidak perlu lagi memikirkan keadaan saya, seperti apa pun. Biarkan saya dengan proses yang sedang saya jalani sekarang. Mungkin waktu bisa menyembuhkan luka hati saya, namun juga bisa membunuh saya, Bu. Biarkan saja waktu yang menjawab."
Buliran bening jatuh di pipi Bu Ningsih yang mulai dipenuhi kerutan halus. Ia tahu, Ia sadar, dirinyalah yang telah menyebabkan sorot penuh duka di mata putrinya itu.
***
Dua tahun kemudian ....