
"Apa?" Shaka berseru pada seseorang melalui ponselnya. "Kok bisa?" Ia menyugar rambutnya kasar. "Urus semuanya dulu, Pak Roni, nanti saya menyusul ke sana."
Shaka menutup telponnya. Namun ada panggilan dengan nama Bakti yang masuk ke layarnya. "Ya, Mas. Aku baru mau telpon." Ia mendengarkan perkataan Bakti di seberang dengan kening mengerut. Lalu menghembuskan napas kasar. Sepertinya sesuatu yang sedang mereka bahas adalah hal yang serius.
"Okay, Mas ... nanti sore aku ke rumah." Shaka menutup teleponnya, lalu meletakkan benda itu ke atas meja dengan sedikit kasar. Ia meremas wajahnya hingga tampak memerah. Kemudian menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.
Pintu ruangannya diketuk seseorang. Ninda melongok dari balik pintu. "Mau makan siang nggak, Bang?" tanyanya.
"Ntar aja, Nin. Masuk sini," pinta Shaka.
"Kenapa mukanya kusut gitu? Ada masalah?" tanya Ninda seraya menarik kursi di seberang meja Shaka.
Shaka kembali menghembuskan napasnya kasar. "Iya ada masalah di proyek. Aku baru dapat kabar dari pengawas proyek, Pak Roni. Ada bangunan rumah baru, balkonnya roboh."
"Hah? Serius? Ada pekerja yang luka, Bang?" tanya Ninda terkejut.
"Untungnya sih enggak. Tapi, ini musti diusut tuntas kenapa bisa sampai kejadian kaya gini. Ada yang nggak beres kayaknya," ucapnya curiga.
"Udah telpon Pak Bakti?" tanya Ninda.
"Udah. Ntar sore aku ketemu dia. Mas Bakti lagi ngecek ke orang-orangnya."
Ninda mengangguk-angguk. "Mau ditemenin kah nanti sore ketemu Pak Bakti?"
"Oh, nggak usah. Kamu istirahat aja. Seminggu ini kan kamu kerjaannya padet. Palingan aku minta kamu hari ini ngecek data-data keuangan yang dialokasikan ke proyek ini. Aku mau sesuaiin dengan pihak kontraktor nanti."
"Siap, Bang," ucap Ninda. "Tapi Abang aku pesenin makan dulu, ya? Jangan sampai telat makan, Bang. Ntar maag-nya kambuh loh."
Shaka tersenyum. "Boleh deh."
"Pingin makan apa, Bang?"
"Terserah kamu lah." Shaka mengecek ponselnya. Ia mengharapkan ada pesan dari seseorang, namun nihil.
"Bakmi mau, ya?" Ninda menggulir layar ponsel mencari menu makan siang dalam aplikasi layanan pesan-antar makanan.
"Okay." Shaka menjawab sambil menatap layar laptopnya. Sesekali jari telunjuknya menggulir touchpad.
Ninda memperhatikan pemuda itu sambil mengulas senyum tipis. Meskipun wajahnya tampak tegang, namun tidak mengurangi ketampanannya. Lengan kemejanya yang digulung hingga ke siku, membuat tattoo naga di lengannya terlihat. Rambutnya yang diikat di bagian atasnya saja, menyisakan anak-anak rambut di keningnya. Tampan, menyegarkan matanya. Hanya itu yang ada di dalam benak Ninda saat ini.
"Rencana kursus tari buat karyawan cewek di sini nggak jadi kah, Bang?" tanya Ninda.
"Hmm? Oh, iya nggak jadi. Sorry, aku lupa kasih tahu."
"Kenapa, Bang? Padahal kita udah excited, loh."
Shaka mengalihkan pandang dari layar laptop ke arah Ninda. "Gurunya nggak bisa ternyata."
Ninda mencebik. "Nggak bisa apa nggak mau?" godanya. Sebelumnya Shaka sudah menceritakan padanya tentang strategi mendekati mantan sang mantan pacar dengan cara menjadikannya guru les tari karyawan perempuan kantor ini.
Shaka terkekeh. "Nggak mau kayaknya."
"Yaah, sayang banget. Padahal bisa jadi jalan buat deket lagi sama dia tuh," ujar Ninda.
Shaka mengangkat kedua tangan. "Masih banyak cara lain," ucapnya.
"Jadi, dia masih sama suaminya, nggak?"
"Masih."
"Terus?"
Shaka menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi seraya mengelus janggutnya. "Aku ketemu ibunya beberapa hari lalu."
"Ibunya yang dulu punya peran bikin kalian berpisah itu?" tanya Ninda seraya mengerutkan kening.
"Yap."
"Terus, terus?"
"Aku udah baik kok sama ibunya. Dia ceritain semua tentang Gendhis dan suaminya. Aku punya banyak peluang kayaknya. Gendhis nggak bahagia dengan suaminya, banyak konflik dengan mertuanya, bahkan mereka udah pisah rumah. Meskipun, ya, tega nggak tega sih, karena suaminya lagi sakit parah."
Ninda terperangah. "Begitukah? Suaminya lagi sakit parah? Sakit apa?"
"Jantung."
Shaka menatap Ninda sejenak. Ia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan gadis itu. Secara kemanusiaan, tentu ia tidak tega. Namun, bagaimana jika hati kecilnya mengatakan kalau ia hanya mengambil kembali apa yang menjadi haknya?
***
Shaka tidak terlalu bisa berkonsentrasi saat berdiskusi dengan Bakti sore itu di rumah rekan kontraktornya itu. Pasalnya, alunan gending yang samar terdengar dari balik dinding ruang tamu, membuat dadanya berdebar. Gendhis ada di rumah itu sedang mengajar les tari Marsha.
"Jadi begitu, Mas Shaka. Struktur bangunan yang tidak proper kemungkinan ada yang diselewengkan. Aku masih menyelidiki apa ada tindak korupsi di sini," ucap Bakti seraya memijit keningnya. "Semua laporan keuangan beres, material yang dibelanjakan juga lengkap."
Shaka berdehem sekali. "Aku tidak menuduh Mas Bakti. Toh Mas Bakti sudah lama jadi partner perusahaan Papaku. Agak mengherankan saja kalau tiba-tiba terjadi hal-hal seperti ini. Masalahnya ini proyek besar dan kwalitas bangunan menjadi hal yang krusial di sini. Bisa bayangin kan, kalau hal kaya gini terjadi saat bangunan rumah sudah ditempati konsumen?"
"Iya, tentu, Mas. Aku nggak mungkin merusak kepercayaan Pak Yovan. Makanya aku harus tahu ada apa ini. Nama baikku dipertaruhkan di depan Pak Yovan."
"Okay, aku tunggu laporannya, Mas Bakti. Kalau terbukti ada kecurangan, misalnya nih ya, pengurangan matrial, artinya semua bangunan di proyek harus diganti."
"Aku siap tanggung jawab, Mas."
Shaka mengangguk. Saat itulah Gendhis keluar dari balik pintu, dan terlihat kaget melihatnya. Perempuan ayu itu buru-buru berpamitan dengan Bakti, lalu mengangguk pada Shaka dan melangkah keluar rumah.
"Kalau gitu aku pamit dulu, Mas Bakti. Kabari segera, ya?"
"Baik, Mas."
Shaka di antar Bakti hingga ke mobilnya. Sementara Shaka melihat Gendhis baru saja menghilang di balik pintu gerbang. Shaka pun segera melajukan mobil menyusulnya.
Ia menghentikan mobil di samping Gendhis yang sedang berjalan di trotoar menuju jalan raya. "Dhis!" panggilnya setelah menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Hallo, Mas," sapa Gendhis seraya melambai kecil.
Shaka menghambur keluar dari dalam mobil dan mendekati perempuan pujaannya itu. "Aku anterin, ya?" tawarnya.
"Nggak usah, Mas. Aku naik taksi aja," tolak Gendhis.
"Jangan lah. Ayo, aku anterin aja. Aku pingin sekalian ngobrol sama kamu, Dhis." Tanpa ragu-ragu ia meraih lengan Gendhis.
"Mas!" Gendhis melepaskan lengannya dari genggaman Shaka. "Nggak usah!" ujarnya tegas.
"Aku pingin ngobrol, Dhis." Shaka yang sedikit terkejut dengan penolakan Gendhis mencoba meraih kembali lengan makhluk manis itu, namun ditepis kembali oleh Gendhis.
"Ngobrol apa, Mas? Kayaknya nggak ada yang perlu kita obrolin, deh."
"Tentang kita, Dhis."
"Maksud Mas Shaka?"
"Tentang aku sama kamu. Tentang kisah kita yang belum selesai, dan akan berlanjut."
Gendhis melangkah mundur memberi jarak dirinya dengan Shaka. "Aku sudah bersuami, Mas."
"Aku tahu. Tapi kamu nggak bahagia sama suami kamu. Dua setengah tahun loh, Dhis, kamu terpaksa hidup sama laki-laki yang nggak kamu cintai."
"Siapa yang bilang?" Suara Gendhis meninggi.
"Nggak ada yang bilang. Aku tahu sendiri. Kamu masih sayang sama aku, kan?"
Gendhis menggeleng. "Udah, ya, Mas ... taksiku mau nyampe." Ia menunjukkan layar ponsel di tangannya pada Shaka.
"Malam itu, Dhis ...." Shaka tidak memedulikan ucapan Gendhis. "Kamu datang ke rumah dan menyerahkan semuanya sama aku. Mulao malam itu juga kamu seutuhnya milikku, Dhis. Sampai sekarang. Kamu tahu, aku tidak pernah berhubungan dengan perempuan mana pun karena aku percaya, semesta akan mempertemukan kita kembali."
Gendhis tersenyum tipis. Ia terlihat setengah mati menahan sesak di dadanya. "Alam semesta memang sudah mempertemukan kita, Mas. Tapi, cukup seperti ini saja." Ia melambai pada sebuah mobil avanza yang nomer polisinya sama seperti yang tertera di aplikasi taksi online-nya.
"Aku masih sayang banget sama kamu, Dhis. Lihat aku!" Shaka menunjuk dirinya sendiri.
Gendhis memejamkan matanya sesaat seraya menghela napas berat. Kemudian ia menatap ke arah Shaka dan mencoba untuk menguatkan hatinya sendiri. "Maaf, Mas Shaka ... aku menyayangi suamiku," ucapnya dengan suara bergetar. "Semoga Mas Shaka menemukan perempuan baik yang bisa membuat Mas Shaka bahagia."
Tangannya membuka pintu tengah mobil avanza yang berhenti di depannya. Kemudian ia segera masuk dan menyuruh sang sopir taksi melajukan mobilnya.
Adegan dua setengah tahun lalu kembali terulang. Saat ia meninggalkan Shaka yang memanggil-manggil namanya, namun mobil terus melaju dan menjauhkannya dari lelaki yang begitu ia cintai itu.
Gendhis menyusut air matanya. Kenyataan telah menamparnya begitu keras. Sedalam apapun ia mencintai Shaka, saat ini, yang menjadi suaminya adalah Bisma. Pernikahan itu sesuatu hal yang sakral. Meskipun rasa cinta tidak hadir di sana.
***