Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 35. Runyam.



Memantapkan hati untuk melakukan sesuatu yang sangat beresiko memang tidak cukup hanya dengan hitungan jam. Gendhis perlu memikirkannya matang-matang. Namun, setidaknya ia harus membicarakannya dengan Shaka. Kekasihnya itulah satu-satunya orang terdekatnya yang masih bisa berpikir jernih dalam menilai suatu masalah.


Shaka tampak terkejut mendengar rencana Gendhis. Ia tidak menyangka, candaan yang pernah ia lontarkan beberapa waktu lalu, ditanggapi serius oleh Gendhis.


"Aku tuh becanda, Dhis. Nggak mungkin lah aku bawa lari kamu kaya cowok nggak bertanggung jawab gitu."


Gendhis menggeleng. "Aku udah nggak tahan, Mas. Di rumah tuh rasanya kaya di neraka. Bapak doang yang masih santai. Tapi, Bapak juga nggak bantu banyak."


"Dhis, denger ya. Aku tuh masih mampu berjuang ngambil hati Ibu kamu."


Kembali Gendhis menggeleng. "Mas Shaka nggak sakit hati apa dengan semua perlakuan Ibu?"


Shaka terkekeh. "Kalau mau dipikirin ya sakit hati dong, Dhis. Tapi buat apa dipikirin? Aku nggak mau fokus sama masalahnya. Aku mau fokus sama solusinya aja." Ia melirik jam dinding di ruang tamunya. Pukul sembilan malam.


"Dhis, aku antar pulang dulu, ya?"


"Nggak mau, Mas. Aku mau nginep sini." Entah sejak kapan Gendhis berubah menjadi gadis manja jika sedang bersama dengan Shaka.


Shaka menghela napasnya. "Aku sih seneng-seneng aja kamu nginep di sini. Tapi, bakalan tambah runyam ntar situasinya."


Gendhis memasang wajah paling sedih di depan Shaka. Sambil menunduk, ia membuat gerakan seperti menghapus air mata di pipinya.


"Aduh, Dhis. Malah nangis. Jangan, dong." Shaka meraih dagu gadis itu. Dan memang matanya sudah berkaca-kaca. "Yah, kalau udah gini mana tega aku bilang enggak."


Gendhis urung menumpahkan air mata tatkala mendengar celotehan Shaka. "Jadi boleh?"


Shaka mengangkat dagu Gendhis, lalu mendekatkan bibirnya pada bibir gadis itu. "Boleh," bisiknya. Saat Gendhis menyambut ciumannya, Shaka memperdalam pagutan bibirnya. Namun, ia berusaha untuk tetap berada dalam level ciuman romantis, untuk menjaga sesuatu di bawah sana yang bisa saja menjadi rewel sewaktu-waktu.


Sejujurnya Gendhis merasa was-was, orang tuanya akan mencarinya ke rumah Shaka dan membuat keributan. Namun, ia ingat, keluarganya tidak ada yang tahu alamat Shaka. Dan anehnya, baik ibu maupun bapaknya tidak ada yang meneleponnya sama sekali. Ponselnya senyap.


"Aku tidur di ruang tamu ya, Dhis." Shaka melongok dari balik pintu. Dilihatnya Gendhis yang sedang berbaring di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.


"Mau ambil bantal sama selimut?" tanya Gendhis.


"Boleh." Shaka mengulas senyumnya. Ia masuk ke dalam kamar dan mengambil satu bantal dan satu selimut yang ada di lemari pakaiannya.


"Mas," panggil Gendhis lirih saat Shaka hendak melangkah melewati pintu kamar.


"Ya, Dhis?"


"Makasih."


Shaka tersenyum sambil mengangguk. "Selamat istirahat, ya?" ucapnya. Lalu ia menghilang di balik pintu.


Gendhis masih memperhatikan pintu yang sudah ditutup rapat oleh Shaka. Ia tahu, Shaka sengaja tidak berdekatan dengannya karena tidak ingin terjadi sesuatu yang mereka sama-sama inginkan. Sikap Shaka itu benar-benar membuat Gendhis semakin yakin bahwa pemuda itu adalah calon suami yang tepat. Shaka pantas untuk diperjuangkan.


Sementara Shaka yang kini sudah berbaring di atas sofa ruang tamu, mencoba untuk memejamkan mata. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Baru beberapa menit ia berhasil menuju ke alam mimpi, dirinya dikagetkan oleh suara gedoran pintu rumahnya yang cukup keras.


Bugghh


Satu pukulan mendarat di wajah tampannya. Shaka berusaha mencerna apa yang terjadi sambil meringis menahan sakit.


"Baji ngan kamu!" Makian itu datang dari seorang lelaki yang langsung menerobos masuk. Bisma. "Mana Gendhis?!"


Shaka mengerti apa yang sedang terjadi. Bisma bersama tiga orang lelaki, seorang di antaranya berpenampilan seperti preman, dan dua lainnya sudah paruh baya, berdiri mengelilingi Shaka.


"Kamu nggak mikir apa? Bawa lari anak gadis orang?!" bentak Bisma. Wajahnya sudah merah padam menahan amarah.


"Siapa yang bawa lari Gendhis. Dia ada di sini, aman," elak Shaka sambil mengulas senyum sinisnya.


Saat itu, Gendhis yang mendengar suara ribut-ribut dari ruang tamu, segera menghambur keluar dari kamar. Ia begitu terkejut saat melihat Shaka sedang berhadapan dengan Bisma, dua orang lelaki paruh baya yang salah satunya ia kenal sebagai Pak RT di desanya, lalu seorang lagi yang tidak ia kenal.


"Dhis! Kamu nggak papa? Kamu diapain sama dia?" Bisma mendekat ke arah Gendhis dan memaksa gadis itu ikut dengannya.


"Bro, lepasin!" Shaka yang tidak terima gadisnya diperlakukan semena-mena, mendorong dada Bisma dan merebut tangan Gendhis dari cengkeraman pemuda itu.


Bisma yang hendak membalas dengan mengayunkan kepalan tangan ke arah Shaka, dicegah oleh Pak RT dan seorang temannya. Sementara lelaki yang berpenampilan seperti preman sudah bersiap membantu Bisma.


"Begini, Mbak Gendhis. Sebaiknya Mbak Gendhis pulang. Ibunya panjenengan khawatir sekali, Mbak. Nangis-nangis datang ke rumah saya minta dibantu njemput Mbak Gendhis ke sini. Untuk menghindari adanya keributan. Mas-nya juga saya harap bisa mengerti, njih?" Pak RT mengalihkan pandangannya pada Shaka.


Gendhis memejamkan matanya sesaat. Pasti Bisma yang berhasil mencari alamat Shaka. Ia semakin membenci pemuda itu. Kalau saja ia mampu, mungkin sudah ia pukuli wajah Bisma yang terlihat begitu licik.


"Dhis, kamu pulang aja dulu, ya?" Shaka meraih tangan Gendhis dan menggenggamnya erat. Sejujurnya dalam hati ia ingin Gendhis tetap di sini bersamanya. Namun, ia tidak ingin membuat suasana semakin runyam. Sebaiknya mereka memang mengalah terlebih dahulu untuk menyiapkan strategi baru.


"Pipi Mas Shaka memar." Gendhis mengelus wajah pemuda itu.


"Nggak papa." Shaka mengulas senyumnya. "Nanti berkabar lewat pesan, ya," ujarnya kemudian.


Bisma menatap sinis pada Shaka sembari meraih lengan Gendhis. Namun gadis itu sepertinya tidak sudi disentuh olehnya. "Aku mau ngambil baju dulu di kamar." Ia pun segera meninggalkan ruang tamu.


Beberapa menit menunggu Gendhis selesai dengan baju-bajunya, situasi di ruang tamu begitu canggung. Lebih tepatnya, tegang.


"Jangan egois, Bro. Pikirin juga perasaan keluarga Gendhis gimana." Bisma memecah ketegangan di dalam ruang tamu.


Shaka tersenyum miring mendengar ucapan Bisma. "Trus ada yang mikirin perasaan Gendhis, nggak?"


"Cinta buta," sinis Bisma. "Ta i kucing!"


"Terserah lo aja lah," timpal Shaka malas. Berdebat dengan Bisma akan membuat emosinya meluap-luap. Dan itu adalah hal yang sangat tidak penting. Yang terpenting adalah, memastikan Gendhis tidak terpengaruh dengan kejadian ini.


Gendhis memeluk Shaka di hadapan Bisma dan tiga orang lelaki itu tanpa malu-malu. Ia ingin menunjukkan pada mereka bahwa dirinya sudah memilih pemuda itu. Rencana menginapnya yang gagal malam ini di rumah Shaka, adalah atas keinginannya sendiri.


***