Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 33. A Shoulder To Cry On.



Gendhis mendorong pelan pintu kamar tempat Lingga dirawat, khawatir mengganggu adik lelakinya yang sedang tertidur. Perih hatinya melihat kaki dan leher sang adik dipasangi gips. Semalaman ia menunggui Lingga bersama sang ibu dan mendengarkan erangan kesakitan dari remaja tujuh belas tahun itu sehingga tidurnya pun tidak lelap. Mata indahnya kini tampak cekung karena kelelahan. Sementara Bu Ningsih tampak menelungkupkan kepala di tepi ranjang. Sama halnya dengan Gendhis, perempuan paruh baya itu juga tidak tidur semalaman.


"Bu ...," panggil Gendhis pelan, menyentuh pundak sang ibu yang sedang tertidur.


"Hmm?" Dengan mata memerah Bu Ningsih memandang ke arah Gendhis.


"Ibu dahar rumiyen, nggih (Ibu makan dulu, ya)?" Gendhis menyodorkan kotak makan sterofoam berisi nasi kuning yang dibelinya beberapa saat lalu di kantin rumah sakit.


"Ndak lapar," jawab Bu Ningsih dingin. Perempuan itu melipat kedua tangan di depan dada dan membuang mukanya.


"Ibu semalaman kan nggak tidur, jadi perutnya harus diisi. Biar nggak nge-drop badannya, Bu."


Samar, bibir Bu Ningsih tersenyum miring. "Ndak usah pura-pura peduli sama Ibu. Wong nyatanya membangkang, kok."


Tenggorokan Gendhis tercekat mendengar ucapan sang ibu yang telak menohok hatinya. Ia lalu meletakkan bungkus makanan di samping Bu Ningsih dan memutar badan menuju ke dipan besi yang disediakan untuk menunggu pasien. Gadis itu duduk di sana, terdiam untuk beberapa saat. Hingga ia dikejutkan dengan suara benda yang dilempar ke lantai.


Kotak nasi kuning itu sudah berada di dekat kaki Gendhis. Gadis itu ternganga tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan sang ibu. Dan Bu Ningsih hanya menatap sinis padanya sekilas.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Gendhis memungut kotak itu dan meletakkannya ke atas meja, berjejer dengan botol air mineral dan satu plastik jeruk. Perih, tentu. Ini adalah bentuk kemarahan sang ibu terhadapnya. Untuk sesaat rasanya ia ingin menangis sejadi-jadinya atas sakit hati yang ia rasakan dengan sikap perempuan itu. Namun, Gendhis cepat menguasai dirinya dan air matanya pun urung tumpah di pipinya.


"Bu, Gendhis pamit rumiyen, mengkin sonten bibar ngajar kulo dugi mriki malih (pamit dulu, nanti sore selesai ngajar aku datang ke sini lagi)."


"Ndak usah. Ibu ndak butuh bantuanmu." Suara Bu Ningsih begitu ketus, membuat dada Gendhis terasa sesak. Terlebih, saat dirinya mencoba meraih tangan sang ibu untuk berpamitan, perempuan itu menolak mentah-mentah. Gendhis pun meninggalkan rumah sakit dengan hati gundah.


Gendhis pulang ke rumahnya hanya untuk mandi dan berganti pakaian kerja. Sempat mengobrol dengan sang ayah yang akan berangkat menggantikan menemani ibunya di rumah sakit menunggui Lingga.


"Jangan diambil hati kata-kata ibumu, Ndhuk. Ibumu waktu itu sedang kalut." Begitu ucapan Pak Sasongko.


"Iya, Pak," timpal Gendhis, meskipun hatinya sudah terlanjur dirundung lara. Seperti kata sang ayah, dirinya harus memaklumi.


Belum tidur semalaman membuat tubuhnya hari itu seakan tidak bertenaga. Namun, Gendhis berusaha untuk bekerja maksimal menjalani pekerjaannya hari itu, menghadapi anak-anak dengan berbagai macam karakter. Kerewelan mereka, bandelnya mereka yang tentu saja membuat kepalanya semakin terasa penuh dan lelahnya semakin menjadi.


"Kamu keliatan capek banget, Dhis," ucap Shaka saat menjemput Gendhis sore itu.


"Aku belum tidur dari semalem, Mas." Gendhis menyandarkan punggung ke sandaran kursi di dalam mobil Shaka.


"Ya ampun. Ke rumah aja dulu, ya? Bobok dulu barang sebentar. Abis itu baru aku anter ke rumah sakit."


"Tapi, Mas ...."


"Udah, nggak usah ngebantah." Bukan maksud Shaka untuk keras pada gadisnya itu. Ia hanya tidak ingin Gendhis justru malah jatuh sakit.


Gendhis terdiam. Hingga mereka sampai di rumah Shaka. "Bobok dulu, ya?" ucap Shaka seraya menggandeng tangan Gendhis masuk ke dalam kamar. "Mau ganti baju dulu, pakai kaosku? Ambil aja di lemari, ya?" lanjutnya sebelum menutup pintu kamar.


"Mas ...," panggil Gendhis, membuat Shaka urung menutup pintu.


"Ya, Dhis?" Shaka masuk ke dalam kamar kembali, mendekati Gendhis yang masih berdiri mematung di tengah kamar. Tanpa banyak bicara ia meraih tubuh gadis itu dan memeluknya erat-erat. Ia tahu, Gendhis sedang membutuhkan sandaran. Ia tahu, gadis itu lelah. Lelah fisik, lelah hati.


"Istirahat, Dhis," pinta Shaka seraya melepaskan pelukannya. Ia lalu mengambil kaos longgar miliknya di dalam lemari dan memberikannya pada Gendhis. "Pake, biar nyaman boboknya."


Gendhis mengangguk. Lalu melangkah menuju ke kamar mandi. Dan Shaka, entah kenapa belum berniat untuk meninggalkan kamarnya. Ia menunggu hingga Gendhis selesai mengganti bajunya, dan keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah terbalut kaosnya yang kebesaran hingga menutupi sebagian pahanya.


Shaka terpana melihat Gendhis yang terlihat sangat seksi. Ia bisa melihat kaki ramping Gendhis yang berkulit coklat terang. Tanpa sadar, tangannya terulur meminta Gendhis untuk mendekat padanya.


Ia membawa Gendhis ke atas ranjang dan membaringkan gadis itu. "Kamu mau aku di sini aja atau gimana?" tanyanya lembut.


"Di sini aja, Mas." Gendhis menarik tangan Shaka dan melingkarkannya di pinggang rampingnya. Meminta pemuda itu untuk memeluknya dari belakang.


Gendhis memejamkan mata menikmati hembusan napas hangat Shaka di tengkuknya. Tangannya menggenggam erat tangan Shaka saat ia merasakan bibir Shaka sedikit menyentuh leher bagian belakangnya.


"Aku sayang banget sama kamu, Dhis," bisik Shaka, membuat Gendhis terbuai. Ia tidak perlu menjawab ungkapan hati kekasihnya itu. Hanya dengan genggaman erat tangannya saja, ia sudah mampu membuat Shaka mengerti bahwa dirinya memiliki perasaan yang sama.


"Mas, aku takut ...."


"Takut apa?"


"Takut kamu capek dan nyerah ...."


"Shaka mengeratkan pelukannya. Kini bukan hanya tengkuk Gendhis yang menjadi sasaran bibirnya. Namun juga pundak dan bagian atas punggung gadis itu.


"Mas Shaka yakin kita berjodoh?"


"Jodoh atau bukan, yang penting kita udah saling mengusahakan buat bareng-bareng."


"Apa yang bisa bikin Mas Shaka nyerah?"


"Saat kamu minta aku nyerah, Dhis."


Gendhis memutar badannya. Kini wajah keduanya saling berhadapan. Begitu dekat dan saling menatap intens. "Saat aku minta Mas Shaka nyerah, apa artinya kita memang harus berhenti?"


Shaka menyunggingkan senyum tipisnya. Dicurinya satu kecupan di bibir Gendhis. "Aku nggak akan memperjuangkan kamu lagi saat kamu benar-benar minta aku berhenti."


Gendhis memberanikan diri mengelus pipi Shaka. Ini adalah kesekian kalinya ia berada pada satu ranjang dengan kekasihnya itu. Meskipun hanya membagi kasih sayang tanpa sentuhan fisik yang berlebihan. Gendhis percaya Shaka akan menjaganya, menghormatinya dan tidak akan merusaknya.


"Apa kita mampu melewati semua ini, Mas?"


Shaka merapikan anak-anak rambut yang jatuh di kening Gendhis, lalu mengusap bibir tipis gadis itu dengan ibu jarinya. Ditatapnya lekat sepasang mata bening milik gadisnya itu.


"Mampu, saat kita yakin kita mampu, Dhis."


***