
"Yang ini bagus nggak, Mbak?" tanya Najwa, sambil menunjukkan kebaya sederhana berwarna putih yang terkesan polos karena tidak banyak dihiasi oleh payet-payet. Hari itu Gendhis memang meminta tolong pada adik iparnya itu untuk menemaninya berburu kebaya pengantin ke sebuah butik.
Pagi-pagi sekali Lingga mengantar istri dan anaknya ke rumah Bu Ningsih sebelum berangkat kerja. Sementara Bu Ningsih menjaga sang cucu, Dena, Najwa dan Gendhis pergi ke butik.
"Mbak cobain dulu, ya?" Gendhis mengambil kebaya dari tangan Najwa dan masuk ke ruang ganti.
Beberapa saat kemudian ia keluar dengan balutan kebaya putih yang begitu pas di tubuh rampingnya. "Gimana, Dek?"
"Wuaah, bagus banget, Mbak. Cocok banget sama Mbak Gendhis sih kalau menurutku." Najwa bersorak kegirangan.
"Ini aja kali ya, Naj?" tanya Gendhis sambil mematut diri di depan cermin. Ia setuju dengan pilihan Najwa. Lagi pula ia sudah berjam-jam memilah milih kebaya tapi belum juga ada yang pas di hati. Sepertinya pilihan Najwa ini yang paling cocok. Memang harganya tergolong mahal. Namun, tidak menjadi masalah karena Shaka yang menanggung semua biaya persiapan pernikahan mereka.
"Cocok, Mbak." Najwa mengacungkan jempol tangan.
"Ya udah, deh." Gendhis pun memantapkan hati dengan pilihan sang adik ipar.
Gendhis dan Najwa pulang setelah mampir makan siang di sebuah kedai yang ada di dekat rumah Bu Ningsih. Di teras rumah tampak perempuan paruh baya itu sedang menggendong Dena yang tertidur pulas.
"Rewel nggak tadi Dena, Bu?" tanya Najwa sembari mengelus pipi putranya yang gembil. "Tidurin Dena di kamar aja, Bu. Ibu pasti capek jagain Dena dari pagi."
"Oh, ndak. Cucu ibu ini paling manis pokoknya." Bu Ningsih tampak enggan menuruti saran sang menantu. Biar capek tapi bahagia ngemong cucu sendiri. "Piye, Nduk? Sudah dapat kebayanya?" tanyanya pada Gendhis.
Gendhis menunjukkan satu tas bertuliskan logo sebuah butik pada sang ibu. "Najwa yang milihin tadi, Bu. Tapi, aku suka banget."
"Oh, ya syukurlah." Kali ini Bu Ningsih memang menyerahkan semua persiapan pernikahan pada kedua calon pengantin. Tidak seperti dulu saat Gendhis menikah dengan Bisma, yang semuanya diatur oleh dirinya. Sekarang Bu Ningsih hanya menentukan tanggal baik saja.
Dua minggu lagi. Ya, tanggal sudah ditentukan dan persiapan juga sudah mulai matang. Meskipun hanya akan menjadi pernikahan sederhana, seperti permintaan Gendhis, namun dipastikan akan menjadi moment yang paling sakral dalam kehidupan kedua calon mempelai.
***
Meja kerja Ninda sudah bersih. Tidak ada lagi barang-barang miliknya yang ada di sana. Hari itu, Ninda resmi mengundurkan diri. Gadis itu masih berharap Shaka akan menahannya saat ia berpamitan sebentar lagi. Sebuah harapan yang mungkin mustahil. Namun, tidak ada salahnya jika ia menantikan keajaiban.
"Aku minta maaf ya, Bang. Mungkin selama aku kerja, ada kesalahan yang aku buat, baik sengaja atau nggak," ucap Ninda saat berhadapan dengan Shaka di ruangannya.
"Iya, Nin ... makasih ya selama ini udah banyak bantu aku. Semoga kamu dapat kehidupan yang lebih baik ke depannya."
Hanya itu. Ya. Hanya itu yang diucapkan oleh Shaka padanya sebagai kata-kata perpisahan. Tidak ada pelukan, tidak ada bujukan menahan kepergiannya, tidak ada kesedihan di mata lelaki yang selama dua tahun lebih itu selalu membuatnya merasa nyaman.
Perih. Tentu saja hatinya bagai tersayat sembilu. Ia adalah seorang pecundang. Kembali ke Jakarta dengan hati yang hancur. Namun, ia berlapang dada menerima semuanya. Dari pada tetap tinggal di Jogja dan menyaksikan lelaki yang ia harapkan, mempersunting perempuan lain.
Sementara Shaka, ia hanya kehilangan seorang sahabat, itu saja. Toh, sebentar lagi dirinya akan hidup bersama dengan perempuan yang selalu bertahta dalam hatinya, yang akan menjadi teman hidup, sahabat, istri dan ibu dari anak-anaknya.
"Aku telpon Ninda ya, Mas. Mau ngasih semangat aja. Kasihan aku sama dia," ucap Gendhis saat dijemput Shaka dari tempatnya mengajar les tari.
"Nggak usah. Ngapain telpon segala. Udah lah, Dhis. Nggak usah mikirin orang lain mulu," protes Shaka. Ia tahu, calon istrinya ini berhati malaikat. Selalu tidak tega melihat orang lain menderita. Tapi, tidak ada salahnya jika sekali-kali malaikat satu ini ia kritik. Semua demi kelangsubgan hubungan mereka berdua.
"Tega, ih."
Gendhis menghela napasnya dalam-dalam. Sebagai sesama perempuan, tentunya ia sangat mengerti apa yang sedang dirasa oleh Ninda. Ia hanya ingin menghibur. Ia yakin Ninda ini gadis baik. Toh selama ini ia tidak pernah macam-macam dengan Shaka, kecuali di saat-saat terakhir ini ia berani mengungkapkan perasaannya pada Shaka.
"Gimana nyari kebayanya kemarin, Dhis? Udah nemu?" tanya Shaka, mengalihkan pembicaraan. Matanya fokus ke jalanan yang padat. Sesekali membunyikan klakson karena ada motor yang tiba-tiba mencuri jalan di depannya.
"Udah, Mas. Udah nemu. Aku sama Najwa kemarin berdua berburu kebaya," kekeh Gendhis.
"Maaf ya, Dhis. Aku nggak bisa terlalu banyak bantuin persiapan nikahan kita. Kerjaan di proyek lagi banyak banget."
"Nggak papa, Mas. Mas Shaka kan udah mendanai semuanya."
Shaka tersenyum. "Itu sih udah wajib. Masa iya aku biarin calon istriku ngeluarin duit. Nggak mungkin."
Gendhis meringis. Salah satu ciri-ciri lelaki yang bertanggung-jawab adalah menyamankan pasangannya, baik dari segi finasial maupun batin. Dan Shaka sudah masuk ketegori itu.
"Dua minggu lagi, ya. Lama banget," ucap Shaka seraya memutar kemudi masuk ke gang kecil di mana rumah Gendhis berada.
"Ish! Dari pada dua tahun?" seloroh Gendhis.
"Dari pada nggak ada kepastian?" timpal Shaka.
"Nah!"
Keduanya tertawa. Membayangkan betapa perjuangan yang telah mereka lalui begitu berat, hingga akhirnya alam semesta mempertemukan dan menyatukan mereka kembali.
"Ada acara pingit-pingitan nggak, Dhis, sebelum hari H?" tanya Shaka seraya menepikan mobil di depan pagar bambu rumah Gendhis.
"Ada." Gendhis membuka pintu mobil dan melangkah turun.
Shaka segera menyusul calon istrinya itu. "Kapan?" tanyanya sambil mengimbangi langkah Gendhis masuk ke halaman rumah.
"Ini hari terakhir Mas Shaka nemuin aku, ya, besok aku udah mulai dipingit," ujar Gendhis sambil terkekeh.
"Hah? Serius? Dua minggu gitu?"
Gendhis mencebik sambil mengedikkan bahu. Sejujurnya ia ingin tertawa melihat reaksi Shaka yang terlihat panik.
"Dhis! Jangan becanda, dong!"
***
Jangan lupa mampir ke novel baru di sini
Sudah tayang, dan silahkan difavoritkan untuk gantinya Shaka-Gendhis, ya ....