Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 25. Namanya Mbak Gendhis.



"Ibu ndak papa." Bu Ningsih menepis tangan Gendhis saat gadis itu hendak memegangi bahunya agar tidak terjatuh. Perempuan paruh baya itu kini sudah bisa berdiri kembali dengan tegak. Lalu, masih dengan memegangi dadanya, Bu Ningsih keluar dari kamar Gendhis.


"Bu!" panggil Gendhis. Namun, perempuan itu mengabaikan panggilannya dan menutup pintu dengan keras. Gendhis terhenyak di tepi ranjang. Dadanya masih berdebar kencang. Ia merasa bersalah telah membuat sang ibu shock seperti beberapa saat lalu. Namun, ia memang harus jujur. Ia tidak ingin menutupi hubungannya dengan Shaka meskipun baru saja dimulai.


Gadis itu terkesiap saat ponsel yang ia letakkan di atas ranjang, bergetar. Nama Shaka tertera di layar. Ia meraih benda pipih itu, lalu menggulir tombol warna hijau ke arah kanan.


"Iya, Mas?" sapa Gendhis pada Shaka di seberang. Mendengar suara Shaka meskipun hanya lewat telepon, membuat hatinya sedikit tenang. Tawa renyahnya, senyum manisnya, muka tengilnya yang saat sedang menggodainya begitu menggemaskan. Semua tentang Shaka sepertinya telah memenuhi pikiran Gendhis dan juga hati gadis itu.


"Nggak lemes. Ngantuk," sahut Gendhis berbohong saat Shaka menanyakan kenapa dirinya terdengar tidak bersemangat. "Ya udah, aku bobok dulu, Mas," pamitnya kemudian.


Gendhis menutup telepon lalu menaruh ponsel di atas nakas. Gadis itu membaringkan badannya meskipun mata belum bisa terpejam. Saat membayangkan semua tentang Shaka, hatinya menghangat. Namun, saat wajah pucat sang ibu melintas di benaknya, hatinya terasa perih. Bagaimana ini? Kenapa di saat hatinya telah memilih, keluarganya sendiri yang menjadi batu sandungan?


***


"Werno opo iki yo Mas, yo. Norak ngene iki," kekeh Danang, seraya menepuk-nepuk jok terakhir yang sedang ia dan Shaka pasangi cover. Warnanya yang terlalu ngejreng karena adanya perpaduan warna oranye dan abu-abu.


"Sesuai pesananlah," timpal Shaka sembari menarik bagian tali cover. "Tarik yang sebelah situ, Nang," perintahnya pada pemuda bertubuh ceking itu.


Danang segera melaksanakan perintah seniornya itu dengan cekatan. "Mas, piye Mbak Gendhis? Ada perkembangan ndak?"


"Aman," jawab Shaka sembari mengulas senyumnya.


"Aman piye to, Mas?" tanya Danang penasaran. Ia ingin tahu apakah saran yang ia berikan pada Shaka sudah dipraktekkan dan membuahkan hasil.


"Ya aman. Milik gue dia sekarang."


"Wuih! Lebih cepat dari yang aku kira. Luar biasa emang panjenengan, Mas." Danang menggeleng kagum. "Coba mukaku nggantheng kaya Mas Shaka, yo. Pasti cepet dapat cewek. Sayang muka pas-pasan begini," keluhnya seraya menghela napas berat.


"Derita lo!" sembur Shaka seraya terbahak.


"Iya, sih." Danang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Wih, cewek, Mas, cewek!" serunya tiba-tiba sembari memandang ke balik punggung Shaka yang ada di seberangnya. "Ya Gusti, moga-moga nyari aku."


Shaka pun menoleh. Bukan karena penasaran Danang menyebut ada perempuan datang, namun lebih kepada, kehebohan yang dibuat oleh anak buahnya yang kocak itu.


Senyum di bibir Shaka musnah saat melihat siapa yang datang. Ia seketika memasang ekspresi wajah sebalnya.


"Nyari apa, Mbak? Nyari saya?" tanya Danang sembari menyugar rambutnya, bermaksud untuk tebar pesona.


"Mas Shaka," jawab si perempuan seraya menunjuk ke arah Shaka yang menyambutnya dengan senyum tipis yang dipaksakan.


"Ealah, tak kira loh nyari saya."


Si perempuan tersenyum. "Ka, belum makan siang, kan? Aku bawain makan, nih." Ia mengangkat totebag dan menunjukkannya pada Shaka.


"Aduh, ngapain repot-repot, Nit. Di depan juga ada warung," timpal Shaka.


"Aku masak sendiri. Kesukaan kamu. Ayam goreng sambel bawang." Nita berusaha mengambil hati Shaka, dengan menunjukkan bahwa ia masih mengingat makanan kesukaan pemuda itu. "Aku juga belum makan, sih. Mau makan siang bareng sama kamu."


Danang yang sejak tadi memperhatikan obrolan Shaka dan perempuan itu, kembali menggaruk kepalanya. Ia bingung kenapa yang datang mencari Shaka bukan Gendhis.


"Aku belum laper, Nit. Buat Danang aja tuh. Butuh makan banyak dia," ucap Shaka. "Aku mau selesaiin kerjaan dulu. Masih banyak soalnya." Ia membungkukkan badan untuk masuk ke dalam mobil dan berkutat kembali dengan cover jok yang belum selesai ia pasang.


"Sini buat saya aja, Mbak," kekeh Danang malu-malu.


Sementara wajah Nita seketika berubah muram. Sia-sia rasanya. Sudahlah repot-repot memasak makanan kesukaan sang mantan kekasih, ujung-ujungnya ditolak juga.


"Ka!" Nita tidak mampu menyembunyikan kekesalannya. "Aku tuh udah capek-capek masak buat kamu. Hargain dikit napa?" tuntutnya.


Shaka menghentikan aktifitasnya. Lalu keluar dari mobil dan menghadap ke arah Nita. "Aku nggak nyuruh kamu masakin buat aku, Nit." Ia membalas ucapan Nita.


"Ini namanya inisiatif, Ka. Dan niat baik juga. Bisa dong ngehargain itu?" Nita tetap tidak mau kalah. Ia sudah terlanjur kesal dan juga kecewa. Dan Shaka harus tahu bahwa ia sudah meluangkan waktu untuk melakukan semua itu untuk pemuda itu.


"Okay, makasih, Nit." Shaka menyambar totebag dari tangan perempuan itu, lalu meletakkannya di atas meja bersama alat-alat bengkelnya yang lain.


"Lah, aku belum laper, gimana sih?"


"Ya udah aku tungguin sampe kamu laper."


Shaka mendecak sebal. "Kamu nggak kerja apa?"


"Lagi libur."


"Nggak jemput Alikha?"


Nita menghela napas dalam-dalam. "Kamu ngusir aku, ya?"


Shaka mengacak rambutnya kasar. "Terserah kamu lah, sori loh kalau aku cuekin. Sibuk ini." Ia kembali lagi masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan pekerjaannya.


Ia berharap Nita akan bosan dan berpamitan pergi. Nyatanya, perempuan itu malah mencari tempat duduk tidak jauh darinya dan menunggunya di sana hingga hampir dua jam lamanya.


Tepat pukul dua siang Shaka menyelesaikan pekerjaannya. Dan Nita pun belum juga beranjak dari tempatnya duduk. Perempuan itu seakan tidak peduli saat menjadi pusat perhatian para karyawan bengkel yang semuanya laki-laki. Bahkan saat ada beberapa yang menggodanya pun perempuan itu acuh tidak acuh.


"Cieeh, sabar banget ceweknya nungguin, Mas Shaka," celetuk seorang rekan kerja Shaka sambil berlalu di hadapan pemuda itu.


"Bukan cewek gue!" sahut Shaka cepat. Sementara si lelaki yang berseragam serupa dengannya itu hanya tertawa berderai.


Shaka mendengus kesal saat dilihatnya Nita datang menghampiri. "Udah selesai kan, Ka?"


"Udah." Shaka menyahut sembari merapikan alat-alat bengkel yang tadi ia gunakan.


"Mas, aku ke depan dulu, ya? Mau ngopi," ujar Danang menyela di antara Shaka dan Nita.


"Nang, gabung makan bareng aja yuk," ajak Shaka seraya mengambil totebag milik Nita. "Nggak papa kan, Nit? Kamu bawa banyak kan ini?" tanyanya pada perempuan berambut pendek itu setengah menuntut.


Wajah Nita tampak sebal, namun tentu saja ia tidak enak untuk menolak teman Shaka bergabung menikmati makan siang buatannya itu. "Iya, nggak papa," jawabnya.


"Wah, makasih loh, Mbak. Makan gratis, nih," ucap Danang girang.


Shaka menarik sudut bibirnya. Biar saja Nita kesal. Lagi pula dirinya sudah cukup berbaik hati mau meladeni perempuan itu. Kalau saja tidak mengingat Nita adalah seorang perempuan, tentu saja ia tidak akan peduli.


Akhirnya, bertiga mereka makan bersama di ruangan khusus karyawan. Beberapa kali Nita mencoba memancing Shaka untuk memuji masakannya, namun pemuda itu hanya menjawab sekenanya. Justru Dananglah yang tidak henti-hentinya mengekspresikan rasa lezat dalam lidahnya.


"Nambah lagi, Ka," ucap Nita saat melihat piring Shaka telah kosong.


"Udah, udah, udah kenyang. Makasih," tolak Shaka seraya beranjak dari duduknya. "Aku duluan, ya. Mau njemput seseorang."


Belum sempat Nita bertanya siapa yang akan Shaka jemput, pemuda itu sudah berlalu masuk ke dalam ruang ganti. Beberapa saat kemudian Shaka keluar dengan pakaian rapi sembari membawa kunci mobilnya.


"Nang, duluan, ya? Nit, makasih." Shaka bergegas keluar dari ruang khusus karyawan dengan setengah berlari.


Nita termenung beberapa saat. Hanya begitu saja cara Shaka berterimakasih padanya? Keterlaluan sekali, pikirnya.


"Mas, tahu nggak Shaka mau njemput siapa?" tanya Nita pada Danang yang masih menikmati suwiran ayam goreng yang ia cocol dengan sambal bawang.


"Lah yo ceweknya to, Mbak," jawab Danang dengan polosnya.


"Ce-weknya?" tanya Nita dengan dada bergemuruh. "Mas-nya tahu siapa?"


"Namanya Mbak Gendhis. Orangnya uaayuu tenan, Mbak."


Nita tiba-tiba merasa, makanan yang sedang dikunyahnya begitu sulit melewati tenggorokannya. Ia segera menyambar botol air mineral dingin di depannya dan meneguknya dengan cepat. Berharap dinginnya air mampu mendinginkan hatinya yang panas membara.


***