Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 28. Hari-Hari Indah Namun Penuh Perjuangan.



Ibarat pepatah, kucing mengeong, Lady berlalu, begitulah prinsip yang dijalani Gendhis dan Shaka dalam menjalani hubungan mereka yang terang-terangan ditolak mentah-mentah oleh orang tua Gendhis.


Pendekatan yang dilakukan oleh Shaka pada keluarga Gendhis pun pantang menyerah. Meskipun diperlakukan dengan dingin, bahkan tidak jarang disindir secara halus, tidak sama sekali mematahkan semangat Shaka untuk bisa melangkah ke jenjang berikutnya bersama sang pujaan hati.


Gendhis pun mengalami hal yang sama. Di rumah, tiada hari yang ia lewati tanpa sikap Bu Ningsih yang selalu memancing konflik dengannya. Untung saja, Pak Sasongko, sang ayah, lebih tidak banyak berkomentar tentang hubungannya dengan Shaka, meskipun Gendhis tahu, sang ayah juga tidak menyetujuinya.


Bisma pun bersikap seolah-oleh dirinyalah yang akan tetap menjadi pendamping hidup Gendhis pada akhirnya. Ia masih tetap datang berkunjung, dan disambut baik oleh Bu Ningsih dan Pak Sasongko. Ia seperti tidak menganggap serius hubungan Gendhis dan Shaka. Artinya, dirinya menganggap kalau Gendhis belum dimiliki oleh siapapun.


"Bu, sebenernya, pacarnya Gendhis ki sing endi to? Mas Bisma opo cah bagus sing tatoan kae?" Pertanyaan seperti itu sering disampaikan oleh tetangga atau teman-teman Bu Ningsih yang kebetulan sedang berkunjung, dan melihat Gendhis diantar pulang oleh Shaka. Lalu, Bu Ningsih dengan senang hati menjawab kalau calon mantu idealnya sudah jelas adalah Bisma. Mau sekaya apapun pemuda asal Jalarta itu, sang ibu tidak peduli. Bisma sudah jelas bibit bobot bebetnya. Sudah pas di hati.


Namun, keluarga Gendhis dan juga Bisma tidak tahu, jika perasaan yang dibangun antara Gendhis dan Shaka semakin tumbuh dengan kuat seiring berjalannya waktu. Keduanya seperti yin dan yang, saling melengkapi.


"Aku lamar aja kamunya ya, Dhis." Siang menjelang sore, seperti biasa, setelah menjemput Gendhis di sekolah, Shaka membawa gadisnya itu ke rumahnya.


"Apa sih, Mas?" Gendhis belum menganggap serius ucapan Shaka. Pasalnya, jika buru-buru, sudah pasti hasilnya adalah penolakan keluarganya. "Sabar dulu."


"Takut Bapak Ibu nolak aku, ya?"


Gendhis mengangguk menyahut ucapan Shaka. "Masih terlalu buru-buru, Mas."


"Ya udahlah, tak bawa lari aja kamu," kekeh Shaka. Lama-lama ia gemas juga. Dirinya sudah sangat serius dengan Gendhis. Hubungan mereka sudah berjalan beberapa bulan. Sudah tahu seperti apa karakter masing-masing, dan hatinya sudah mantap. Dan satu yang tidak kalah pentingnya untuk bekal menikah adalah, ia sudah cukup umur dan mapan.


"Mas Shaka, ish!" Gendhis menggerutu.


"Ya abisnya, masa kita mau pacaran mulu kaya gini? Kaya anak baru gede aja. Mana nggak bisa itu lagi ...." Shaka menggaruk-nggaruk kepalanya.


"Itu apa?"


"Ya, itu ...." Shaka menaik-naikkan kedua alis tebalnya, menggoda Gendhis.


"Tuh, kan ... kumat mesumnya, ih!"


Shaka tergelak. "Nggak, nggak, Sayang ... becanda, Dhis, ya ampun. Tapi, serius ini perihal nikah, aku tuh udah siap banget loh. Aku udah kasih tahu Papa-Mama di Jakarta, mereka udah oke. Kalau orang tuaku sih udah yang terserah aja. Mungkin udah pasrah anak gantengnya ini maunya gimana, udah capek ngatur-ngatur."


Gendhis mencebikkan bibirnya. "Kenapa harus pake bilang ganteng sih?"


"Loh, reality, bukan?"


"Iya, deh," ucap Gendhis pasrah. Iya dan iya, dirinya mengakui kalau kekasihnya ini memang tampan. "Eh?" Ia terkesiap saat mendapati wajah Shaka sudah berada beberapa centi saja dari wajahnya.


"Sayang kamu banget, Dhis." Punggung tangannya pelan mengelus pipi Gendhis.


"Iyaa, udah tahu."


"Kok gitu jawabnya?" Shaka memicingkan matanya.


"Emang maunya dijawab apa?"


Shaka meringis. "Udah ah. Sini peluk." Ia meraih bahu Gendhis dan membawa gadis itu ke dalam dekapan. Keduanya lalu terdiam untuk beberapa saat lamanya, bertukar hangat tubuh sehingga menghasilkan rasa nyaman yang teramat sangat.


Menikah dengan Shaka tentu saja adalah tujuan utama Gendhis menjalani hubungan dengan pemuda itu. Namun, semuanya membutuhkan usaha yang luar biasa. Dan hubungan mereka masih seumur jagung. Perjuangan menuju ke sana masih panjang.


***


"Pamit, Bu," ucap Gendhis sembari meraih tangan sang ibu, namun perempuan itu seketika menyembunyikan tangannya ke belakang punggung. Mengisyaratkan jika ia tidak sudi mengizinkan Gendhis pergi dengan Shaka.


"Pak, pamit rumiyin (pamit dulu)." Giliran sang ayah yang Gendhis raih tangannya.


"Ojo mbengi-mbengi mulihe, Ndhuk, ndak enak sama tetangga." Hanya itu yang meluncur dari mulut Pak Sasongko sebelum Gendhis melangkah keluar menemui Shaka yang menunggu di teras.


Kedua orang tua Gendhis tidak menemui Shaka. Dan itu sudah biasa terjadi setiap kali pemuda itu datang. Jika Shaka sedang beruntung tidak sengaja bertemu di teras rumah, maka yang diterimanya adalah muka masam, tangan yang selalu disembunyikan saat Shaka hendak menyapa, dan sindiran atau kata-kata pedas yang menghujam jantung.


"Dek Gendhis pingin ke mana?" tanya Shaka saat keduanya sudah berada di dalam mobil, membelah jalanan Jogjakarta yang padat di malam minggu.


Sebelum menjawab, Gendhis terlebih dulu terkekeh mendengar panggilan dek yang Shaka sematkan di depan namanya. Terdengar manis. Ia menyukainya. "Kepingin nonton film, Mas."


"Eh, satu pemikiran. Emang kita jodoh, ya Dek ya?" kikik Shaka. Ia memang sudah menyiapkan rencana ke bioskop malam ini, berjaga-jaga saat gadisnya menjawab dengan kata sejuta umat perempuan; terserah.


Gendhis mengulas senyumnya, sambil dalam hati mengamini ucapan Shaka. Berjodoh, semoga, semoga dan semoga. Sungguh mengerikan membayangkan dirinya tidak bersama pemuda yang membuat keseluruhan dirinya merasa nyaman senyaman-nyamannya itu.


Kedua tangan terus saling menggenggam saat keduanya memasuki Ambarukmo Plaza dan masuk ke bioskop yang ada di lantai tiga. Shaka yang mengurus semuanya setelah menanyakan film apa yang ingin Gendhis tonton malam itu. Keduanya duduk di kursi paling belakang, masih saling menggenggam, bahkan sepanjang film berlangsung, sambil menyaksikan adegan demi adegan dari Chris Hemsworth dan Natalie Portman dalam layar lebar di depan sana, Gendhis menyandarkan kepalanya di bahu Shaka. Dan Shaka yang tadinya ingin mengikuti alur film dengan serius, terdistraksi untuk menciumi kening dan puncak kepala Gendhis, hampir lima belas menit sekali.


"Pingin makan di mana, Dhis? Di dalam sini apa di luar?" tanya Shaka saat keduanya keluar dari bioskop.


"Di luar ajalah, Mas."


"Kamu kasih rekomendasi, dong."


"Iyaa." Gendhis bergelayut manja di lengan Shaka. Dan Shaka suka saat gadisnya ini bermanja-manja padanya. Progres hubungan mereka cukup significant. Gendhis tidak lagi malu-malu seperti awal-awal mereka memrokamirkan diri sebagai sepasang kekasih. Artinya, gadis ini memang benar-benar nyaman bersama dirinya. Ah, seakan-akan mal ini hanya milik berdua.


Makan malam yang menyenangkan di salah satu warung lesehan terkenal di daerah Lempuyangan, di bawah langit Jogja yang cerah, dan suasana kota yang hangat. Tentu ini akan menjadi kenangan manis yang tidak terlupakan.


"Ke rumah dulu ya, sebelum aku anter pulang?" tawar Shaka saat keduanya sudah berada di dalam mobil. "Masih jam sembilan inih," kekehnya kemudian.


Gendhis mengangguk. Memang tempat paling nyaman untuk menghabiskan waktu berduaan adalah rumah Shaka. Selayaknya dua anak manusia yang sedang dimabuk cinta, sentuhan fisik tentu tidak bisa dihindari meskipun hanya sebatas pagutan bibir.


Di ruang tamu Shaka yang nyaman, tempat keduanya saling bertukar energi baik yang semakin memperkuat ikatan di antara mereka. Deal. Gendhis adalah calon istri yang Shaka cari.


"Makanya pingin cepet nikah, biar bisa total sama kamu," ucap Shaka disela-sela pagutan lembut bibir mereka.


"Kan udah ngebahas ini berkali-kali, Mas."


"Iya, tahu. Aku sih sabar, Dhis. Dia nih yang rewel," tunjuk Shaka pada bagian tubuhnya di bawah sana. Namun, sejurus kemudian ia terbahak.


Mata Gendhis membola. "Jadi cuma mikirin itu?" gerutunya.


"Aduh, ya enggak lah, Sayang. Aku juga pingin tinggal bareng sama kamu, tidur sambil meluk kamu, bangun pagi lihat wajah cantik kamu, pulang kerja disambut sama senyum manis kamu, berkegiatan bersama, berpetualang bersama, ngadepin rumitnya dunia bareng-bareng. Indah, kan?"


Indah. Indah sekali. Bayangan Gendhis tentang hidup satu atap dengan pemuda ini membuat hatinya berbunga-bunga. Sudah terbayang bagaimana Shaka akan memperlakukannya sebagai seorang istri. Bagaimana sabarnya Shaka saat menghadapi moodnya yang terkadang jelek.


Namun, semua itu masih dalam angan-angan Gendhis saja. Mengimplementasikannya dalam dunia nyata, akan sangat sulit. Setidaknya untuk saat ini.


***