
"Pak, iki wes ra iso dinengké wae (ini sudah tidak bisa didiamkan saja)." Bu Ningsih duduk di samping Pak Sasongko yang sedang duduk menikmati secangkir kopi di amben kayu sambil menghisap rokok kreteknya.
"Piye neh, Bu ... Gendhis itu sudah dewasa. Ndak bisa dilarang-larang lagi. Ndak bisa, Bu." Lelaki paruh baya itu terlihat pasrah. Meskipun dirinya lebih menyukai Bisma yang nantinya bakal menikahi putrinya, namun jika kenyataannya Gendhis lebih memilih pria lain, ia bisa apa.
"Loh, kok Bapak pasrah begitu? Ndak bisa begitu, Pak. Bapak kok malah sepertinya setuju kalau Gendhis pacaran karo bocah berandalan kae?!" sentak Bu Ningsih. Perempuan itu meninggikan intonasi suaranya. Sepertinya ia lupa kalau sedang berbicara pada suami yang seharusnya ia hormati.
Pak Sasongko menghela napasnya berat. Ia hapal betul tabiat sang istri yang dominan dalam urusan rumah tangga. Dirinya adalah tipe lelaki pendiam yang malas ribut. Jika berdebat dengan Bu Ningsih, ia memilih untuk mengalah. Meskipun sekesal apapun ia terhadap perempuan cerewet itu.
"Ibu ndak mau pokoknya, ndak sudi Gendhis sama anak Jakarta itu!" Bu Ningsih mengucapkan keputusan absolut-nya yang tidak bisa diganggu gugat.
Pak Sasongko mengelus dadanya pelan. Terasa sesak setiap kali harus menahan diri untuk tidak mengungkapkan pendapatnya di rumah ini. "Sakarepe Ibu wae-lah (terserah ibu saja-lah)," ucapnya pasrah.
Bu Ningsih mendecak. "Bapak itu kurang tegas sama Gendhis, Pak." Perhatiannya kini tertuju pada Lingga yang baru saja masuk ke ruang tengah dengan matanya yang sedikit memerah. "Soko ndi kowe, Le? Kok baru pulang dari tadi siang to? Ngelayap ke mana kamu?" tanyanya pada sang putra penuh selidik.
"Dolan ro konco-konco lah (main sama teman-teman lah)," jawab Lingga tidak acuh. Pemuda berambut plontos itu melenggang masuk ke kamarnya.
"Ndang adus trus maem (Cepat mandi terus makan), Le!" seru Bu Ningsih. Tidak mendapat sahutan dari sang putra, ia kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Pak Sasongko.
"Piye iki solusine, Pak? Ojo meneng wae to yoo (Gimana ini solusinya, Pak? Jangan diam saja, dong)!"
Kembali Pak Sasongko menghela napas berat. "Manut Gendhis wae lah."
"Sudah Ibu bilang ndak bisa begitu."
Pak Sasongko beranjak dari amben setelah menggerus sisa rokok kreteknya ke dalam asbak. "Nanti Bapak ngomong sama Gendhis," ucapnya seraya melangkah menuju ke dapur. Meninggalkan sang istri yang sibuk menggerutu.
Wajah Bu Ningsih semakin muram. Ia merasa sepertinya suaminya itu masa bodoh dengan masalah yang sedang terjadi. Masalah yang menurutnya sangat besar. Ini tentang masa depan putri kesayangan mereka. Dan nama baik keluarga mereka di mata kerabat dan juga kawan-kawan mereka. Terlebih di depan Bu Ratmi dan Pak Noto, orang tua Bisma yang juga sangat berharap Gendhis menjadi menantu mereka.
Sungguh perempuan paruh baya itu membenci si pemuda yang tidak jelas asal usulnya, karena telah menjadi duri dalam rencana baik kedua keluarga.
***
"Udah jam sepuluh lebih, Mas. Anterin pulang, ya?" Gendhis menatap Shaka yang berbaring di sampingnya. Keduanya saling berhadapan dan saling menggenggam tangan.
"Bentar lagi, masih kangen." Shaka mencium tangan Gendhis lembut.
"Besok kan ketemu lagi."
"Maunya bareng terus."
Gendhis mendecak sebal. "Rewel, ih!"
"Biarin sih."
Kamar Shaka yang hanya diterangi dengan lampu temaram dari nakas, membuat suasana begitu syahdu. Shaka dan Gendhis sudah menghabiskan waktu cukup lama di sana, meskipun hanya berbaring saling mengobrol dan menatap.
"Pulang ya, Mas? Nanti khilaf loh," kekeh Gendhis.
"Kamu mau aku khilaf kah?"
Gendhis meninju dada Shaka pelan. "Maunya," sungut gadis itu.
Shaka terkekeh. Tangannya pelan mengelus wajah halus Gendhis, lalu turun ke leher jenjang gadis itu, dan sedikit menelusup ke balik pakaian yang menutupi bahunya. Gendhis memejamkan matanya. Menikmati sengatan halus dari kulit telapak tangan Shaka, yang memberinya gelenyar hangat di seluruh tubuhnya.
"Enggak, Sayang. Aku nggak mau ngapa-ngapain, sumpah. Kan udah sepakat mau tunggu sampai syah. Cuman ya itu, jangan kelamaan, Dhis." Shaka terkekeh di balik mata sendunya.
Gendhis mengulas senyum tipis. "Sabar, Mas."
"Udah dibilang aku tuh sabar. Tapi dia ini ...." Shaka menggerakkan mata ke bawah. Menunjuk samar sesuatu yang sedang rewel. "Kalau imanku nggak kuat dan aku nggak ngejagain kamu, wah, udah nggak tahu lagi, deh. Cuman, efeknya ke kepala nih, Dhis. Pusing," gelaknya.
"Ish!" sungut Gendhis.
"Ya bohong lah pasti kalau cinta nggak ada nafsu. Tapi, semua kan tergantung orangnya. Dan aku masih bisa berfikir jernih. Apalagi kalau ceweknya punya prinsip kaya kamu. Cuman, aku kan juga manusia biasa," terang Shaka. "Solusinya udah ada, kok. Nikah, iya kan?"
"Emang Mas Shaka belum pernah ngelakuin itu sama pacar-pacar dulu?"
Shaka meringis. "Nggak mau jawab, ah. Ntar ngambek lagi."
"Jadi udah pernah?" desak Gendhis. "Sama mamanya Alikha? Udah pernah juga?"
"Kalau sama dia belum pernah."
"Beneran?"
"Sumpah belum pernah. Makanya dia selingkuh sama Dimas."
Bibir Gendhis mencebik. "Kalau sama yang lain?"
"Aduh, kenapa jadi diinterogasi sih akunya?" protes Shaka.
"Ya udah kalau nggak mau jawab." Gendhis memasang wajah masamnya. Shaka menjawab atau tidak, sebenarnya akan tetap membuatnya cemburu. Kenapa membayangkan Shaka bersama perempuan lain membuat dadanya perih?
"Yah, ngambek deh," keluh Shaka seraya menghela napas berat.
"Siapa yang ngambek?" Gendhis memutar bola matanya.
"Muka udah ditekuk gitu." Shaka mencolek hidung mungil Gendhis.
"Tahu, ah. Sebel ngebayangin Mas Shaka sama perempuan lain." Gerutuan Gendhis pun lolos dari mulutnya.
Shaka tergelak sambil menepuk keningnya. Perempuan memang aneh. Ia yang mencari perkara dengan mengorek keterangan tentang masa lalunya, ia sendiri juga yang marah. Kalau sudah begini, si korban, yaitu para lelaki yang harus berusaha membujuk bahkan meminta maaf.
"Itu kan udah jadi bagian dari masa lalu, Dhis. Nggak bakal aku inget-inget juga. Udah sih, kita fokus aja sama masalah kita sekarang. Gimana nih caranya kita bisa nikah. Gitu kan, Sayang?"
Gendhis mendengus sembari memalingkan wajahnya. Kalau sudah begini, yang harus dilakukan Shaka adalah meraih kepala gadisnya itu, lalu membawanya ke dalam pelukan. Menenangkan Gendhis dengan mencurahkan kasih sayang yang nyata. Memberinya keyakinan jika dirinyalah yang menjadi fokusnya saat ini.
Si gadis manis mendongakkan kepala, mendekatkan wajahnya pada sang kekasih yang terlihat begitu tampan di bawah sinar lampu temaram. Dan entah siapa yang memulai, bibir mereka kini saling berpagut.
Lembut dan intim. Dua sejoli itu saling menyesapi manisnya sentuhan bibir yang didasari oleh perasaan cinta yang tumbuh semakin kuat.
"Udah, Dhis." Shaka melepas pagutan bibirnya, lalu menyapu bibir basah Gendhis dengan ibu jarinya. Jika diteruskan, bentengnya bisa saja runtuh.
"Ayo, aku antar pulang."
***