
Shaka baru saja keluar dari kamar mandi seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk, saat terdengar suara ketukan cukup keras dari pintu depan. Ia mendecak sebal. Pasalnya ia sudah bisa menebak kalau Reina-lah yang datang. Gadis itu selalu saja mengganggunya dengan berbagai alasan.
Segera dikenakannya celana pendek dan kaus yang nyaman dipakai di dalam rumah, lalu menyisir rambut yang mulai menutup telinganya itu sekenanya. Shaka segera meninggalkan kamar dan melangkah ke ruang tamu untuk membuka pintu.
"Nit?" Shaka terkejut melihat perempuan berambut sebahu dengan mata sembab berdiri di hadapannya. Ia memang tidak menjawab pesan dari Nita yang menanyakan tentang Dimas, namun dirinya tidak menyangka kalau perempuan itu akan mendatangi rumahnya, sendirian, tanpa membawa anaknya.
"Kamu kenapa nggak jawab pesan dari aku, Ka?" Sepasang mata Nita yang basah menatap Shaka dengan tatapan menuntut sebuah jawaban.
Shaka menggaruk kepalanya bingung. Ia lalu melangkah keluar dan mempersilahkan Nita untuk duduk di teras. Perempuan itu menurut, lalu mengambil tempat duduk berhadapan dengan Shaka.
"Sorry, Nit, aku bener-bener bingung musti jawab gimana ...."
"Dimas nyuruh kamu ngomong kalau semalem dia sama kamu, kan?"
Shaka berada di situasi yang sulit. "Aduh, Nit ... tolong jangan libatin aku dalam masalah rumah tangga kalian, dong. Aku nggak tahu harus gimana." Ia mengacak rambutnya.
Nita menunduk, dan air matanya pun berjatuhan. Sementara Shaka memaki dalam hati. Ia tidak suka melihat perempuan menangis. Atau lebih tepatnya tidak tega. Tapi, apa yang bisa ia lakukan?
"Dimas selingkuh, Ka." Suara Nita bergetar. Isak tangisnya terdengar pilu, membuat Shaka serba salah. Mau memberi penguatan, takut jika Nita salah mengerti. Mau membiarkan saja, rasanya ia merasa tidak punya empati sama sekali.
"Nit, sebaiknya kamu ngomong baik-baik sama Dimas, deh," ucap Shaka pada akhirnya. Entah itu hanya basa-basi atau memang ia sungguh-sungguh mengatakannya.
"Kamu sama sekali udah nggak peduli sama aku? Kamu sakit hati banget ya sama aku?"
Shaka terkejut mendengar ucapan Nita. Kenapa perempuan ini malah membelokkan masalah dan menyerang dirinya? Di sini posisinya sebagai orang yang sedang mendengarkan curahan hati Nita. Bukan malah dirinya yang menjadi objek. "Kok malah ngomong gitu, Nit?"
Nita mengusap air mata dengan punggung tangannya. Ia memang sedang sangat bersedih dengan kenyataan Dimas bermain serong dengan perempuan lain. Tapi, niatnya datang ke rumah Shaka untuk sedikit meminta perhatian dari pemuda itu. Meminta satu pelukan untuk menenangkannya mungkin akan sangat berlebihan. Namun, setidaknya Shaka bisa sedikit menenangkannya dengan kata-kata manis.
"Aku nggak tahu harus cerita sama siapa, Ka. Aku nggak ada teman dekat di Jogja. Orang tua jauh. Saat kalut begini yang ada di pikiranku cuma cerita ke kamu."
"Gini, Nit ...." Shaka berdehem sekali, lalu melanjutkan ucapannya, "Kalian musti serius ngomongin ini berdua. Cerita ke orang lain kadang-kadang juga nggak selalu jadi ide yang baik. Meski kamu merasa lega, tapi masalah nggak akan selesai."
Jahatnya pikiran Nita, bukan kata-kata seperti itu yang ia harapkan keluar dari mulut Shaka. Kenapa mantan kekasihnya itu tidak peka sekali kalau ia satu-satunya orang yang bisa membuatnya tenang saat ini.
Sementara Shaka diam-diam mengirim pesan pada Dimas, memberitahu kalau istrinya ada di rumahnya saat ini. Namun, jawaban Dimas membuat matanya membola.
Titip Nita bentar, Ka, gue masih ada urusan. Ntar malem gue jemput ke situ. Terserah lo mau kasih penghiburan kaya gimana ke dia.
Sialan memang, umpat Shaka dalam hati. Bukannya menjadikan masalah ini sebagai prioritas utama yang harus segera diselesaikan, Dimas justru melibatkannya seperti ini. Lelaki itu bahkan tidak menjawab lagi saat Shaka membalas pesannya, bahwa ia protes diserahi tugas membingungkan seperti ini.
"Alikha sama siapa, Nit?" tanya Shaka.
"Kamu tadi ke sini ngojek?"
"Ka, aku mau pisah aja sama Dimas. Dia udah berkali-kali main serong sama perempuan lain." Nita membelokkan kembali topik pembicaraan.
Shaka menghela napas berat. "Jangan mutusin apa-apa kalau lagi emosi, Nit."
"Aku udah muak banget," sahut Nita seraya mengepalkan telapak tangan.
"Inget ada anak, Nit."
"Tapi, aku nggak bisa hidup kaya gini terus."
"Makanya dibicarain dulu baik-baik sama Dimas."
Nita mendecak. "Dimas nggak bisa berubah, Ka. Lagian, pernikahanku sama dia aja awalnya udah salah."
Oh, tidak. Shaka tidak bisa membiarkan Nita mulai mengungkit hal itu lagi. Bukan apa-apa, rasanya tragedi itu sudah terlalu usang untuk dibahas kembali. Shaka sudah menguburnya dalam-dalam. Bahkan telah melebur dengan tanah, mungkin.
"Mending kamu pulang dulu, Nit. Tenangin pikiran dulu," ucap Shaka seraya menggulir layar ponsel di tangannya. "Aku pesenin gocar, ya?" tawarnya. Namun, ia tidak mau menunggu persetujuan Nita. Ia segera memesan taksi online untuk perempuan itu.
***
Pukul sepuluh malam, Gendhis belum bisa memejamkan mata. Ia masih memikirkan pembicaraannya tadi sore dengan sang ayah. Yang ayahnya katakan itu benar. Bisma baik, sopan, kalem, mapan, dan tidak neko-neko. Tapi, satu-satunya pertanyaan yang tidak bisa ia jawab hingga kini adalah, kenapa dirinya tidak merasakan getaran apapun pada pemuda itu. Hati memang tidak bisa berbohong, bukan?
Lalu, perjodohan terselubung yang direncanakan kedua orang tuanya membuat Gendhis merasa takut. Takut jika ia tidak bisa menolak keinginan kedua orang tuanya karena sesuatu dan lain hal. Sesuatu yang memaksanya menuruti kemauan mereka tanpa bisa dihindari.
Dan Gendhis takut, takut kehilangan senyuman manis dan sikap hangat sosok Shaka yang baru sebentar saja dikenalnya. Sosok yang mampu menimbulkan getaran aneh dalam hati, yang ia sendiri tidak tahu bagaimana menjabarkan perasaan itu.
Yang ia rasakan saat bersama Shaka, adalah gugup, canggung, hangat, dan berbunga-bunga. Mungkin terlalu dini jika ia menyebut perasaan ini adalah sebuah ketertarikan. Ya, masih terlalu jauh menuju ke sana.
Gendhis menyembunyikan wajahnya di balik selimut. Menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia menggeleng keras saat bayangan wajah tampan Shaka melintas begitu saja di benaknya. Kenapa beberapa hari ini pemuda itu sering sekali malang melintang dalam pikirannya?
Gadis itu dikejutkan dengan suara notifikasi dari ponselnya yang berada di atas nakas. Ia menyingkirkan selimut yang menutupi wajah, dan segera meraih gawainya.
Dhis, udah tidur? Cuma mau ngingetin hari minggu jangan lupa ada tugas jadi tour guide, ya.
Bibir Gendhis seakan memiliki otak sendiri untuk segera mengulas senyum begitu membaca sederet kalimat yang dikirim Shaka untuknya. Lihatlah! Shaka selalu mampu menciptakan gemuruh kecil di dalam dadanya.
***