Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 38. In Case This Is The Last Time.



Luluran telah usai. Namun, rasa nyaman dalam fisiknya, berbanding terbalik dengan keadaan hati Gendhis yang mengenaskan. Jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Semua orang di rumahnya, termasuk kerabat-kerabatnya yang menginap, sudah terlelap. Dan malam itu hanya terdengar suara hujan yang mulai deras.


Gendhis tidak mampu memejamkan matanya. Tidak mampu pula ia menghilangkan bayangan Shaka dari pikirannya, meskipun bayangan itu diselimuti awan hitam. Meskipun Shaka tampak begitu jauh. Meskipun mungkin bayangan itu akan segera terkubur di lubuk terdalam hatinya.


Ia turun dari atas ranjangnya, lalu melangkahkan kaki ke sana kemari dengan gelisah. Ia masih ragu dengan apa yang sedang dipikirkannya sekarang. Antara iya atau tidak. Namun, Gendhis harus segera memutuskannya. Karena waktu berjalan dengan cepat. Kalau ia tidak segera melakukannya, maka ia akan menyesal selamanya.


Silahkan ragaku kalian miliki. Perlakukan sepuas kalian, tapi tidak dengan jiwaku dan sesuatu yang aku jaga selama ini. Semua itu, akan aku serahkan pada Ryushaka Ardiarta, malam ini.


Diraihnya ponsel di atas ranjang. Lalu Gendhis menghubungi taksi online untuk mengantarnya ke suatu tempat. Tempat di mana keputusan besarnya ini akan ia laksanakan.


Diambilnya sweater tebal, dua lembar uang seratus ribuan dari dompetnya, lalu memasukkannya di dalam saku dasternya. Pelan ia membuka pintu kamar, dan berjalan tanpa melewati ruang tengah yang sepi, kemudian ruang tamu, dan membuka pintu depan tanpa menimbulkan suara.


Gendhis berlarian membelah halaman rumahnya yang hanya diterangi oleh lampu jalan, menuju sebuah mobil yang sudah menunggunya di balik pagar.


Aku tidak akan menyesalinya.


Aku tidak akan menyesalinya.


Gendhis menggumamkan kata-kata itu di sepanjang perjalanan menuju rumah Shaka. Tangannya gemetaran dan mengeluarkan keringat dingin. Bagaimanapun, ini adalah hal paling gila yang pernah akan ia lakukan di sepanjang hidupnya. Hidupnya yang begitu lurus dan tidak tercela.


***


Hujan malam ini sama sekali tidak membantu Shaka meredakan rasa perih di hatinya. Perih karena rindu yang teramat sangat pada sang kekasih yang tidak dijumpainya selama berhari-hari.


Shaka menggerus rokoknya ke dalam asbak yang sudah hampir penuh oleh puntung rokok sisa dirinya menghalau kegalauan dalam dada, dari sore tadi. Beberapa botol bir sudah ia habiskan. Ya. Hanya bir. Karena ia masih ingin berpikir waras. Jika alkohol berkadar tinggi yang ia pilih, mungkin saat ini ia sudah nekat mendatangi rumah Gendhis dan membawa lari gadis itu.


Ia mengacak rambutnya kasar, menghela napasnya dalam-dalam, lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa ruang tengahnya. Belum pernah dalam sejarah kehidupan percintaannya, ia sekacau ini.


Shaka telah jatuh cinta sejatuh-jatuhnya dengan sosok manis dengan wajah teduh itu. Sampai-sampai ia merasa ketakutan sendiri jika perasaan cinta itu dalam sekejap akan menjadi perasaan sakit yang sesakit-sakitnya. Ia merasa sedang bermain judi dengan bandar alam semesta. Jika ia beruntung, maka bahagia tak terkira yang akan ia rasakan di sepanjang sisa hidupnya. Namun, jika ia tidak beruntung, maka ...,


Shaka terkesiap saat mendengar suara pintu depan diketuk oleh seseorang. Seseorang yang ia harapkan kehadirannya, namun ia tidak sampai berpikir jika sosok itu akan berdiri di hadapannya, sekarang.


"Dhis?"


Gadis di hadapannya tampak sedikit basah oleh air hujan. Ia merapatkan sweater yang membalut tubuh rampingnya, dan memaksakan senyumnya. Pipinya basah, entah karena hujan, atau air mata.


"Kamu kok bisa ke sini malem-malem? Kamu sama siapa? Naik apa?" Shaka yang terkejut, melongok keluar pintu. Namun ia tidak melihat siapapun datang bersama Gendhis.


"Boleh aku masuk, Mas?" tanya Gendhis tanpa menjawab pertanyaan Shaka.


"Ya boleh lah, Dhis." Shaka terkekeh sambil meraih tangan Gendhis dan menariknya masuk. "Ini aku mimpi nggak, sih? Ini beneran kamu, kan?" Ia menangkup kepala gadis itu, mengusap lembut wajahnya, memastikan kalau sosok di hadapannya itu bukan halusinasinya saja.


Gendhis menghambur ke pelukan Shaka. Mendusalkan kepalanya di dada pemuda itu, menumpahkan kerinduan yang telah menggunung. Menghirup wangi tubuh Shaka dan merasakan kehangatan pelukannya, untuk ia rekam dalam memorinya, kemudian ia simpan dalam sebuah ruang rahasia di dalam hatinya.


"Coba jelasin kenapa kamu bisa dateng ke sini, Sayang?"


Gendhis melepaskan pelukannya. Tanpa menjawab pertanyaan Shaka, ia menggandeng tangan pemuda itu masuk ke dalam kamar.


"Iya, Dhis. Tapi, gimana kalau orang rumah nyari kamu?"


Gendhis menggeleng. "Nggak ada yang tahu aku ke sini."


"Kamu kabur?" tanya Shaka cemas. Ia mendongakkan wajah, memandang Gendhis yang berdiri di antara kedua kakinya. Kedua tangan mereka saling bertaut.


Gendhis mengulas senyum tipisnya. Kembali, ia tidak menjawab pertanyaan Shaka. Ia hanya menatap sepasang mata coklat pemuda itu lekat-lekat. Shaka tidak tahan untuk tidak memeluk tubuh gadis itu. Kini, ia membenamkan wajahnya di perut Gendhis. "I love you, Gendhis. So much," ucapnya.


Gendhis memejamkan mata, seraya tangannya membelai rambut Shaka lembut. "Aku sayang kamu, Mas Shaka. Banget." Ia melepaskan pelukan Shaka, lalu pelan naik ke pangkuan pemuda itu.


"Dhis ...." Shaka memanggil nama gadis itu lirih. Sedikit terkejut dengan sikapnya yang tidak ia duga sama sekali.


"Mas, miliki aku malam ini." Dengan suara bergetar Gendhis berucap. Shaka kembali terkejut mendengar ucapan kekasihnya itu.


"M-maksud kamu, Dhis?"


Gendhis tidak menjawab. Ia melepaskan sweater yang menutupi tubuhnya, dan menjatuhkannya di lantai. Lalu pelan ia melepaskan tali pengait daster di bahunya, dan menurunkannya hingga ke atas dadanya.


"Dhis, kamu mau ngapain?" Shaka kini dalam kebingungan yang luar biasa. Kebingungan yang ia buat-buat. Karena sesungguhnya ia tahu apa yang akan dilakukan gadis yang sedang berada di pangkuannya itu.


Dalam diam, Gendhis melepaskan semua yang melekat di tubuh bagian atasnya, hingga tidak ada lagi yang menghalangi retina Shaka menangkap cahaya, mengolahnya, hingga objek di hadapannya terlihat dengan jelas.


Sungguh pemandangan yang membuat Shaka terpana. Tubuh indah di balik pakaian elegan yang membalutnya selama ini, kini ia saksikan tanpa penghalang. Namun, Shaka masih bisa berpikir jernih. Ia memejamkan matanya dan sekuat tenaga menahan tangannya agar tidak menyentuh bagian indah tubuh Gendhis yang terekspos di hadapannya.


"Jangan, Dhis," ucap Shaka seraya menaikkan kembali pakaian Gendhis yang terkumpul di pinggang ramping gadis itu. Namun, Gendhis menahan tangannya. Mencegah Shaka menutupi tubuh bagian atasnya.


"Mas ...." Gendhis berbisik. Ia menuntun tangan Shaka untuk melingkar di punggungnya. "Aku pingin menghabiskan malam ini sama kamu." Mata gadis itu berkaca-kaca.


"Kamu lagi kenapa, Dhis?" tanya Shaka frustrasi. Tangannya yang seperti memiliki otak sendiri, merayap mengelus lembut punggung gadis itu.


Gendhis menggeleng. Ia mengangkat kaos Shaka dan meloloskannya melewati leher pemuda itu. Dilingkarkannya kedua lengan di pundak Shaka. Sepasang matanya menatap pemuda itu penuh damba. "Sentuh aku, Mas," pintanya.


"Dhis, kenapa?" Shaka bertanya dengan sisa-sisa pertahanannya yang hampir terkikis habis. Bagian tubuh di bawah sana sudah tidak mampu lagi berkompromi. Hingga Gendhis bisa merasakan pergerakannya.


Kedua bibir pun bertaut, lama dan panas. Tangan saling mencengkeram, dan kulit tubuh bagian atas keduanya saling menyentuh secara langsung untuk pertama kalinya. Saling merengkuh dan saling mendekap.


Shaka membawa Gendhis berbaring di atas ranjang, dengan posisinya yang berada di atas gadis itu. Ditatapnya wajah ayu Gendhis yang pasrah. "Kenapa kamu pingin aku ngelakuin ini sekarang? Bukannya kita udah sepakat kalau ...."


"Aku pingin mengingat malam ini seumur hidupku, Mas." Mata Gendhis sudah basah dan bulir bening pun jatuh di pipinya.


"Kenapa kamu nangis, Dhis? Ada apa ini?"


"Mas ...." Gendhis menyentuh dada Shaka. "Tolong jangan tanya apapun." Ia menahan isak tangisnya. Ia merangkul leher Shaka, dan pagutan bibir pun kembali terjadi. Begitu dalam, bercampur antara hasrat dan kepedihan.


Bersambung.