
Perempuan muda dengan perut besar itu berjalan kepayahan membawa satu gelas berisi cairan hitam yang masih mengepulkan asap, menuju balai bambu yang ada di teras rumah.
"Kopinya, Mas." Perempuan itu meletakkan gelas kopi di depan lelaki berjambang tipis yang sedang berkutat dengan ponsel di tangannya.
"Makasih, Dek." Matanya mengikuti gerakan sang istri hingga duduk di hadapannya. "Sudah terasa, ya?" tanyanya cemas saat melihat sang istri yang sesekali meringis sambil mengelus perut besarnya.
"Kadang-kadang, Mas."
"Opo ke rumah sakit saiki wae, Dek (Apa ke rumah sakit saja, Dek)?" tanya sang suami. Wajahnya tampak lelah dengan mata dinaungi kantung hitam.
"Ke puskesmas saja lah, Mas. Biar lebih irit biayanya."
Telapak tangan lelaki itu mengepal erat. Hatinya perih. Ia tidak lagi mampu memberikan penghidupan yang layak pada istri dan calon anaknya. Rumah, tabungan dan beberapa usahanya musnah saat ia mendapat sanksi mengganti kerugian sebuah perusahaan tempatnya ia dulu bekerja, karena ia telah melakukan tindak korupsi. Harta bendanya ludes dan aksesnya mendapat pekerjaan baru pun ditutup.
Ia terpaksa pindah ke rumah sempit ini, dengan istrinya yang sedang hamil besar dan membutuhkan banyak biaya. Hal itu membuatnya memupuk dendam dan gelap mata. Ia melakukan penusukan pada bos perusahaan yang telah memecatnya dengan tidak hormat.
"Mas, ada polisi." Sang istri keheranan saat ada dua orang polisi memasuki halaman rumah.
Dada si lelaki berdebar kencang dan wajahnya seketika pucat pasi. Ia merasa kehidupannya akan berakhir saat itu juga begitu dua orang polisi memasuki teras rumah, dan mencari dirinya. Ia tidak pernah menyangka jika dirinya akan tertangkap. Padahal ia melakukan aksinya dengan sangat rapi.
Sang istri berteriak panik saat dua polisi membawa sang suami menjauh darinya. Sambil menahan rasa sakit di perutnya yang kian menjadi, ia berlarian mengejar mobil polisi yang membawa belahan jiwanya itu.
Tidak kuat, ia pun terjatuh di jalanan aspal yang keras, ditolong oleh para tetangga yang menyaksikan peristiwa itu. Sementara di kursi belakang mobil polisi, hati si lelaki hancur lebur menyaksikan pemandangan memilukan istrinya yang sedang dipapah oleh para tetangga.
Baru sekarang, ia menyesali semua perbuatannya. Bahwa dendamnya telah menghancurkan hidupnya.
***
"Nggak usah masak lah, Nin. DO aja." Shaka di atas kursi rodanya memasuki dapur rumahnya, di mana Ninda sedang mencari-cari bahan makanan yang ada di dalam kulkas. Gadis itu memang sengaja mampir ke rumah Shaka pagi-pagi untuk membantu membuatkan sarapan bosnya yang masih dalam masa pemyembuhan.
"Ini loh, di kulkas masih banyak bahan. Sayang, Bang." Ninda mengeluarkan beberapa bahan makanan beku dari freezer. Bosnya yang masih melajang itu memang terbiasa melakukan segalanya sendiri. Sehingga isi lemari pendinginnya pun lengkap. Namun, saat ini tidak memungkinkan baginya untuk melakukan semuanya sendiri.
"Ya udah kalau gitu, masak buat kamu sekalian aja, belum sarapan, kan?" tanya Shaka seraya menggerakkan kursi rodanya mendekati Ninda yang mulai berkutat dengan bahan-bahan makanan.
"Aku mau buat kwetiau goreng campur-campur ya, Bang."
"Campur apaan?" kekeh Shaka.
"Apa aja yang ada."
"Yaaa deh, sini aku bisa bantuin apa?"
Ninda menaikkan kedua alisnya. "Abang duduk manis, diem di situ," perintahnya.
"Baik, Nyonya." Shaka mengangkat kedua tangan dan mendekat ke meja makan. Ia memperhatikan Ninda yang cekatan menyiapkan bahan-bahan yang akan ia masak. Senyum tipisnya terbit. Kemudian ia mengambil ponsel di saku celana pendeknya dan berkutat di sana.
Beberapa menit kemudian masakan sudah tersaji di atas meja. Bos dan sekretarisnya itu menikmati sarapan dengan diselingi canda tawa. Terutama Shaka yang memang senang menggodai Ninda. Sehingga gadis itu beberapa kali menggerutu menimpali candaan Shaka.
"Belum. Dia kan belum tahu rumah sini."
"Buruan nikah, Bang. Biar ada yang ngurus."
"Iyaa, pasti. Mana mau aku kalau dia ilang lagi."
Ninda tergelak. "Payah sih kalau sampai ilang lagi."
"Kalau udah sembuh, langsung aku lamar dia." Shaka berucap penuh semangat.
Ninda mencebik. "Kelamaan, Bang. Ntar malem aja."
Shaka tergelak dengan ucapan Ninda yang terdengar asal bicara. "Ntar malem banget gitu?"
"Kenapa enggak? Making cepet makin baik, Bang. Ntar keburu ilang lagi. Udah tau Gendhis-nya labil gitu," cibir Ninda. Dari cerita Shaka tentang Gendhis, Ninda bisa menyimpulkan kalau Gendhis masih ragu-ragu pada bosnya itu. Dan hal itu membuat Ninda tidak habis pikir. Perempuan itu hanya mempersulit dirinya sendiri dan juga Shaka. Hal yang seharusnya begitu mudah, justru dipersulit oleh perempuan itu.
"Ya aku maklum lah, Nin, Gendhis masih trauma."
"Lah, yang seharusnya trauma tuh Abang. Emang dia tau gimana Abang menderita dulu hingga kemarin-kemarin? Yakali, dia merasa dia-lah yang paling menderita gitu? Masih pula bikin drama setelah semua selesai dan kalian bisa bersatu dengan mudah." Ninda mendadak merasa gemas sekali dengan kisah cinta bosnya itu.
Shaka tergelak. Sekretarisnya ini terlihat sewot sendiri. "Kamu lagi kenapa sih? PMS, ya?"
"Tauuu!" gerutu Ninda. Ia menghabiskan sisa kwetiau di piringnya, lalu membereskan meja makan dan juga membersihkan piring-piring kotor di wastafel.
Shaka raut menangkap sedikit raut murung di wajah Ninda, sejak gadis itu datang pagi ini. Tidak seperti biasa, Ninda yang ia kenal adalah gadis yang ceria dan banyak bicara. Meskipun pembawaannya lemah lembut, hampir serupa dengan Gendhis.
"Bang, baju-baju kotornya mana? Aku taruh sekalian di laundry, ya?"
Shaka terkesiap saat mendengar suara Ninda dari luar dapur. Keasyikan melamun, ia sampai tidak sadar Ninda sudah tidak ada di dapur.
"Nggak usah, Nin!" ucap Shaka seraya menggerakkan kursi roda keluar dari dapur.
"Nggak papa. Mana buruan."
"Deket kamar mandi tamu."
Ninda yang sudah hapal letak-letak ruangan di rumah itu, segera menuju tempat yang dikatakan oleh Shaka. Ia memasukkan baju-baju kotor milik Shaka ke dalam tas laundry besar.
"Bang, aku berangkat dulu, ya." Ninda mendekati Shaka dan meraih tangan pemuda itu kemudian mencium punggung tangannya.
"Hati-hati, Nin," kekeh Shaka.
Ninda mencebik seraya membuka pintu depan. "Ntar sore aku mampir lagi," ucapnya, disambut dengan acungan jempol tangan Shaka.
***