Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 65. Entahlah.



Ninda berlarian di dalam koridor rumah sakit mencari kamar tempat Shaka dirawat. Shaka sendiri yang mengabarinya lewat pesan; katanya ia ditusuk orang di depan rumahnya semalam waktu pulang minum, sudah dibantu tetangganya yang kebetulan baru pulang kerja, sudah ditangani di IGD, dan sekarang sudah ada di ruang rawat inap.


Gadis itu baru membaca pesan Shaka pagi ini. Bangun tidur, membaca kabar tidak mengenakkan dari bosnya, Ninda segera bertolak ke rumah sakit yang disebutkan Shaka.


Dan di ruang yang cukup luas itu, Shaka duduk setengah berbaring di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Senyumnya terbit saat melihat Ninda muncul dari balik pintu.


"Duuh, ada-ada aja deh, Bang." Begitu yang pertama kali terucap dari bibir Ninda. Gadis itu meletakkan seplastik buah apel di atas nakas.


"Tanya dulu dong aku baik-baik aja atau gimana kek," keluh Shaka seraya memutar bola matanya.


"Laah, Abang keliatan baik-baik aja. Trus aku harus drama gitu? Oh ya ampuunn, Pak Bos, Bapak kenapa? Apa yang terjadi? Apa Bapak akan bertahan hidup?" sindir Ninda seraya mencebikkan bibir.


Shaka tergelak seraya mengacak puncak kepala Ninda. Gadis itu langsung protes karena rambutnya yang sudah ditata sedemikian rupa, menjadi berantakan.


"Kok bisa ditusuk orang sih, Bang? Kira-kira apa ya motifnya?"


Shaka mengedikkan bahu. "Dendam kali."


"Siapa kira-kira, ya? Anak buah Pak Bakti yang dipecat itu kah?" Ninda mengelus dagunya sambil matanya menerawang.


"Bisa jadi." Tangan Shaka meraih satu buah apel dari dalam bungkus plastik di sampingnya.


"Sini aku cuciin dulu." Ninda merebut apel dari tangan Shaka dan membawanya ke wastafel yang ada di dekat pintu lalu mencucinya.


Beberapa saat kemudian gadis itu kembali dan memberikan apel merah yang sudah bersih pada Shaka.


"Makasih ya, Cantik," ucap Shaka seraya menaik-naikkan alisnya.


"Lebay!" gerutu Ninda. "Eh, Bang, kira-kira mau dilaporin nggak ke polisi?"


Shaka menggeleng. "Males. Ribet."


"Ish!" desis Ninda. "Ini siapa tahu nyawamu terancam loh, Bang."


"Alaaah, kalau udah waktunya mati ya mati. Kalau belum ya belum. Nggak takut lah."


Ninda menghela napas dalam-dalam. "Tanggapan Pak Bakti gimana?" tanyanya seraya menopang dagu di atas kasur.


"Tadi udah jenguk dia. Katanya sih mau dia usut. Kubilang atur aja lah. Aku lagi males ribet."


Ninda menyipitkan mata memandang Shaka penuh selidik. "Bang, ini masalah serius loh. Kayaknya ada hubungannya sama orang yang kempesin ban mobil Abang nggak, sih?"


"Mungkin." Shaka mengedikkan bahu, lalu menggigit apel di tangannya.


"Yang luka mana sih, Bang?" tanya Ninda.


"Di perut samping nih, agak atas dikit. Dua tusukan. Yang satu lumayan dalem tapi nggak sampai ngerusak organ dalam."


Ninda menghela napas berat. Bosnya ini hampir kehilangan nyawa, tapi malah acuh tidak acuh. Orang lain pasti trauma jika mengalami peristiwa percobaan pembunuhan seperti yang dialami Shaka.


Tapi, Shaka malah terkesan tidak peduli. Apa memang bosnya ini sudah bosan hidup? Separah itukah masalahnya dengan Gendhis.


"Bang ...."


"Hmm?" Shaka yang sedang fokus dengan layar ponselnya, menoleh sekilas ke arah Ninda.


"Tunanganmu udah balik lagi ke Jakarta?" Alih-alih menjawab pertanyaan Ninda, Shaka justru mengalihkan pembicaraan dengan pertanyaan lain.


"Udah. Cuma bisa stay satu hari doang ternyata dia," jawab Ninda dengan raut wajah yang memperlihatkan kekecewaan.


"Kesian banget yang masih kangen ...," goda Shaka.


"Apa sih, Bang," desis Ninda malu-malu. "Ih, si Abang malah mengalihkan pembicaraan," gerutunya kemudian.


"Apa? Apa yang pingin kamu tau, Nin?"


"Ya hubunganmu dengan Gendhis gimana? Kan udah sendiri tuh sekarang dia. Nggak ada penghalang lagi, kan? Secara ibunya udah kasih lampu ijo."


Shaka meletakkan ponsel di sampingnya, lalu ia menyandarkan punggung ke ranjang. Kedua lengannya ia letakkan di bawah kepalanya. "Lagi nggak mau mikir itu juga." Ia meloloskan senyum tipis.


"Serius? Kenapa sih, Bang? Ada yang aku nggak tau?" tanya Ninda penasaran.


Shaka hanya terkekeh. Namun begitu hambar. Sehambar hatinya saat ini.


***


"Marsha udah siap, ya ... buat tampil lagi minggu ini di pendopo?" tanya Gendhis pada gadis kecil yang sedang merapikan selendangnya, begitu mengakhiri les-nya sore itu.


"Siap, Bu." Marsha menjawab antusias, membuat Gendhis mengulas senyum gembira. Salah satu yang membuatnya bahagia adalah saat ada muridnya yang begitu bersemangat seperti Marsha. Dari awal, gadis kecil ini memang sudah menjadi murid favoritnya.


"Ibu pamit dulu ya, Marsha. Ketemu lagi hari minggu di pendopo." Gendhis yang sudah membereskan barang-barangnya, beranjak dari duduk lesehannya, lalu mengulurkan tangan untuk dicium oleh Marsha.


Gendhis menghentikan langkahnya masuk ke ruang tamu saat mendengar suara Pak Bakti sedang berbicara di telepon.


"Iya, Wan. kasus percobaan pembunuhan kalau menurutku. Iya, bos-ku Pak Shaka. Kemarin malam ditusuk orang tidak dikenal. Ada di JIH sekarang. Ya ... tolong dibantu, Wan ...."


Gendhis mendengarkan dengan seksama obrolan Pak Bakti dengan seseorang di telepon. Tentang Shaka, dan penusukan.


Shaka ditusuk orang tidak dikenal?


Meskipun penasaran, namun anehnya, ia tidak merasa panik atau begitu ingin mengetahui keadaan Shaka. Dari obrolan Pak Bakti, sepertinya Shaka baik-baik saja.


Gendhis pun masuk ke ruang tamu, lalu berpamitan sekadarnya pada ayah dari muridnya itu.


Sambil mengendarai motornya, ia berpikir apa sebaiknya menjenguk Shaka di rumah sakit yang disebutkan oleh Pak Bakti tadi, atau membiarkannya saja seakan ia tidak tahu mengenai kabar itu.


Sejujurnya, ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan ke depannya, tentang hubungannya dengan Shaka. Hanya ada sedikit rasa bersalah sejak obrolannya dengan Shaka di Kota Gede. Selain itu, ia kebingungan mengartikan perasaannya sendiri pada lelaki yang dulu pernah begitu ia cintai itu.


Sepertinya ia perlu waktu untuk benar-benar memikirkan semua ini. Menata perasaannya kembali yang sudah kacau balau dibombardir segala peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu dua setengah tahun ini.


Mencoba mengenang kembali masa-masa indah bersama Shaka, mencoba membangkitkan kembali rasa cinta dan percaya akan kebahagiaan bersama lelaki itu, yang sudah layu akibat kekeringan yang berkepanjangan.


Mengukit kembali asa dalam hatinya itu tidak mudah. Karena dirinya sudah menerima dengan ikhlas rasa sakit yang waktu itu tidak memberinya pilihan apapun selain legowo.


Dan se-legowo itu dirinya saat ini.


Entahlah dan entahlah. Biar alam semesta saja yang bekerja. Toh, Dia-lah yang membolak-balikkan hati manusia.


***