Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 71. Chaos.



Ketukan pintu depan membuat ketiga orang yang sedang berada di ruang tengah itu mengalihkan pandang ke arah yang sama. Pak Noto yang berinisiatif menuju ke ruang tamu untuk membuka pintu.


Beberapa saat kemudian, lelaki paruh baya itu kembali dengan seorang pemuda berambut sedikit panjang yang diikat sebagian. Mata Gendhis membulat melihat sosok Shaka yang berdiri di samping Pak Noto.


"Ada yang mau njemput ini, Ndhuk." Pak Noto tampak mengulas senyumnya. Senyum yang sarat akan keikhlasan.


Belum sempat Gendhis menimpali, Bu Ratmi dengan kasar beranjak dari duduknya, lalu melangkah ke arah ketiga orang yang sedang berdiri berhadap-hadapan.


"Wes cocok yo, wedok e rondo gatel, lanange perusak rumah tanggane wong liyo." Bu Ratmi seakan tidak mampu membendung kata-kata kasar yang ada di benaknya. Untuk memaki dua orang yang saat ini menjadi fokus kebencian dalam dirinya.


"Bu, dijogo omonganmu. Ora becik ( dijaga bicaramu, tidak baik)." Pak Noto memperingatkan.


"Ngopo ndadak dijogo yen ngomong karo wong-wong ora becik (Kenapa harus dijaga kalau ngomong sama orang-orang tidak baik)."


Shaka yang sekilas lalu mengerti apa yang diucapkan oleh perempuan itu, melangkah ke samping Gendhis, dan memasang badan di depannya. Melindungi sang kekasih dari bombardir perempuan bermulut pedas itu.


"Perkenalkan, Bu ... nama saya Shaka, saya datang ke sini untuk menjemput Gendhis." Shaka mengulurkan tangan pada Bu Ratmi yang langsung disambut dengan tepisan.


"Saya sudah tahu kamu siapa. Kamu sama si Gendhis ini yang sudah membuat anak saya Bisma ndak kuat hidup di dunia ini!"


"Astagfirulloh, Bu. Eling, Bu, eling!" Pak Noto terpaksa membentak Bu Ratmi yang sudah keterlaluan.


"Ben wae to, Pak. Memang begitu kenyataannya!"


Shaka yang tidak ingin lama-lama menanggapi perempuan yang sedang dikuasai oleh awan hitam di kepalanya itu, memutar badan ke arah Gendhis dan berucap, "Barang-barangmu mana?" tanyanya.


"Masih di kamar, Mas."


"Ambil gih," pinta Shaka. Gendhis mengangguk dan menuruti apa yang diucapkan oleh Shaka.


"Ndak tau malu sekali memang ya kalian berdua. Cocok wes cocok!" Bu Ratmi kembali berseru.


Pak Noto menyambar lengan istrinya itu dan sedikit menekannya, ia berkata, "Bu, sudah, diam!" Ia lalu mengalihkan pandangnya ke arah Shaka. "Maaf ya, Nak Shaka. Jangan diambil hati. Nah, itu Gendhis sudah siap." Ia menunjuk Gendhis yang baru saja keluar dari kamarnya, membawa satu koper besar.


"Nggak papa, Pak," sahut Shaka sambil mengulas senyum. Ia lalu menghampiri Gendhis dan mengambil alih koper ke tangannya.


"Pak, Bu, saya pamit dulu." Gendhis meraih tangan Pak Noto dan mencium punggung tangannya.


"Ora sudi!" seru Bu Ratmi seraya menyembunyikan tangannya yang hendak diraih oleh Gendhis. "Kamu ndak bakalan mendapat restu dari saya, selaku ibu dari suami kamu yang sudah kamu buat meninggal, untuk bisa hidup bahagia dengan lelaki lain!" tegasnya.


"Wes, Ndhuk, muliho saiki. Nak Shaka, Bapak titip Gendhis, ya." Pak Noto merangkul bahu Shaka dan Gendhis lalu dengan posisi dirinya berada di tengah-tengah sejoli itu, ia mengantar keduanya keluar rumah. Semua itu untuk menghindari konflik dengan istrinya yang sudah dikuasai amarah yang membara.


Saat sampai di halaman rumah, ketiganya dikejutkan oleh Bu Ratmi yang berjalan keluar dari pintu; membawa satu batang besi yang entah ia dapat dari mana, dengan wajah merah padam sarat akan amarah, kini bergerak cepat menuju ke arah Gendhis, dan tanpa ada seorangpun yang menduganya, ia memukulkan besi di tangannya ke punggung perempuan itu, lalu kepala sebelah kiri kemudian lengan.


Shaka merebut besi di tangan Bu Ratmi yang hendak menyerang Gendhis kembali. Pak Noto pun berhasil menahan tubuh Bu Ratmi agar seketika memberontak.


"Nyawa harus dibayar dengan nyawa, Pak. Lonthe kae wes mateni anakkuuu (Pelacur itu sudah membunuh anakku)!" Bu Ratmi berteriak-teriak histeris sehingga membuat para tetangga mereka keluar dari rumah masing-masing dan mendekat pada mereka untuk mencari tahu keributan apa yang sedang terjadi.


"Kalian tahu si Gendhis mantan menantu saya ini, bersekongkol dengan selingkuhannya itu untuk membunuh anak saya, Bisma!" teriak Bu Ratmi ke arah semua orang yang berkerumun di sana. Beberapa diantara mereka saling berbisik. Ada yang memandang Gendhis dengan tatapan risih, ada pula yang terheran-heran dengan sikap agresif Bu Ratmi yang tidak biasa. Perempuan itu dikenal sebagai orang yang lemah lembut. Tapi, kini ia seperti memperlihatkan wajah aslinya.


"Bu!" Shaka yang sudah tidak mampu menahan amarahnya menunjuk tepat ke arah wajah Bu Ratmi. "Tunggu bentar, Dhis." Ia meminta Gendhis untuk menepi ke dekat pagar rumah. Sementara dirinya berjalan menuju ke arah Bu Ratmi yang masih ditahan oleh Pak Noto.


"Gendhis itu milik saya dari awal. Anak Ibu yang merebutnya dari saya. Kalian yang memaksa Gendhis menikahi Bisma sedangkan kalian tahu, waktu itu Gendhis sedang menjalin hubungan dengan saya!" terang Shaka panjang lebar. "Saya turut berduka cita atas meninggalnya Bisma. Tapi, sekarang saya mengambil kembali apa yang menjadi hak saya, yang sudah kalian rampas. Paham?!" tegas Shaka. Ia lalu mengedarkan pandang ke arah kerumunan tetangga yang masih setia menonton adegan drama keluarga itu. "Kalian semua boleh percaya dengan omongan busuk perempuan ini. Tapi, saya tegaskan, kalau Gendhis sangat setia pada suaminya, bahkan sampai saat ini, saya masih berjuang untuk mendapatkan hatinya!" serunya dengan gigi gemeretak pertanda ia begitu marah.


"Ayo, Dhis!" Shaka menyambar lengan Gendhis dan membawa kekasihnya itu masuk ke dalam mobil. Ia tidak memedulikan belasan pasang mata yang memperhatikannya dengan penuh tanda tanya.


***


"Ya Allah, Gustii ... kok iso ngene iki. Bu Ratmi kok bisa berbuat seperti ini sama kamu, Ndhuk?"


Gendhis meringis menahan sakit saat Bu Ningsih membersihkan luka di pelipisnya. Memang tidak parah, namun cukup terasa perih. "Aku juga nggak tahu, Bu," desisnya.


"Ibu-ibu gila emang," timpal Shaka yang duduk di samping Gendhis. Tangannya tidak sedetikpun ia lepaskan dari genggaman tangan makhluk ayu itu.


"Ibu bener-bener ndak nyangka loh, Nak Shaka, Bu Ratmi kaya gitu. Yang Ibu kenal dari dulu dia itu orangnya lemah lembut, baik. Apa dia stres ya, ditinggal mati anak satu-satunya?"


Shaka menggeleng. "Mau stres atau nggak, dia udah keterlaluan banget, Bu."


Gendhis mengulas senyumnya saat melirik Shaka yang tampak masih menahan geram. "Udah, Mas. Yang penting kan aku udah nggak di sana lagi."


"Sinting emang dia!"


"Hush! Mas Shaka ish, mulutnya." Gendhis mendelik ke arah pemuda itu.


"Ya maaf, Dhis. Aku nggak terima aja kamu diperlakukan orang kaya gini. Kalau bukan perempuan udah aku hajar tuh," sungut Shaka. Gendhis dan Bu Ningsih saling melempar senyuman mereka.


"Bu," panggil Shaka, setelah wajah tampannya mulai terlihat tenang.


"Apa, Nak Shaka?" tanya Bu Ningsih seraya menempelkan plester luka di pelipis Gendhis.


"Aku lamar Gendhis sekarang ya, Bu?"


***