Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 50. Saling Membayangkan.



Sepulang mengajar tari di rumah Marsha, perasaan Gendhis menjadi tidak menentu. Ia seperti melihat Shaka di dalam mobil mewah yang berpapasan dengannya di gerbang rumah Marsha. Pikiran Gendhis saling bertentangan. Tidak mungkin sosok itu adalah Shaka. Bukankah selama ini tidak ada kabar apapun darinya?


"Bu, Dena tadi sudah dijemput Bapak-Ibunya." Mbok Sugiyem yang baru saja muncul dari balik pintu dapur mengabarkan pada Gendhis.


"Oh ya, makasih, Mbok," sahut Gendhis. "Bapak mana?" tanyanya.


"Tadi Pak Bisma dijemput sama Pak Noto dan Bu Ratmi. Tapi, saya ndak tahu mereka mau ke mana."


Gendhis mengerutkan keningnya. Bisma tidak mengatakan apapun tadi sebelum ia berangkat mengajar. "Pak Bisma nggak titip pesan apa-apa sama Mbok Sugi?" tanyanya.


"Wah, ndak nitip apa-apa, Bu."


Gendhis mengangguk. "Ya sudah, Mbok. Aku ke kamar dulu."


"Njih, Bu." Perempuan paruh baya itu berlalu. Sementara Gendhis melangkah masuk ke dalam kamar. Ia meraih ponsel di dalam tas selempang yang masih menggantung di bahunya.


Ia mencoba menghubungi Bisma, namun ponsel suaminya itu tidak aktif. Tidak biasanya Bisma begini. Pergi tanpa memberinya kabar. Gendhis sampai harus memeriksa ponsel barangkali ada panggilan tidak terjawab atau pesan dari Bisma yang terlewat. Namun, ia tidak menemukan tanda apapun dari Bisma.


Lalu, saat ia hendak mengambil baju gantinya di lemari, ia tertegun saat melihat semua pakaian Bisma telah raib. Apakah suaminya memutuskan untuk tinggal sementara di rumah orang tuanya?


Gendhis memutuskan untuk mandi dan setelah itu ia akan mencari Bisma ke rumah mertuanya. Setelah selesai bersiap-siap, ia mengendarai motor skuternya menuju rumah orang tua Bisma yang berjarak cukup jauh dari rumahnya.


Sampai di sana, yang menemuinya adalah Bu Ratmi. Seperti biasa, perempuan berjilbab itu tidak terlalu ramah padanya. Sejak keluarga mengetahui penyakit Bisma kambuh lagi, dan mendengar desas-desus tentang rumah tangganya dengan Bisma yang hambar, Bu Ratmi seakan secara tidak langsung menganggap Gendhis sebagai penyebab kambuhnya penyakit jantung bawaan yang diderita oleh Bisma.


"Iya, untuk sementara Bisma ingin tinggal di sini, Ndhis. Mau dekat sama ibunya biar ada yang mengurus." Bu Ratmi berucap. Gendhis bisa menangkap nada sindiran tersirat di sana.


"Mas Bisma tidak mengatakan apa-apa sebelumnya, Bu. Apa saya kurang dalam mengurus Mas Bisma?"


"Bukan begitu, Ndhis. Kamu kan sibuk mengajar di sana-sini. Banyak keluar rumah. Sedang Ibu di sini ndak ada kegiatan apa-apa. Jadi bisa ngurus Bisma."


"Tapi, kenapa tidak dibicarakan dengan saya terlebih dahulu, Bu? Saya kan istrinya. Ini kan keputusan penting."


Bu Ratmi mengulas senyum, namun lebih terlihat seperti cibiran. "Loh, dengan Bisma tinggal di sini kan kamu bisa leluasa beraktifitas tanpa terbebani dengan suami yang sakit-sakitan."


Dada Gendhis bergemuruh mendengar ucapan sang ibu mertua. Ucapan yang bertujuan untuk menyindirnya. "Boleh saya ketemu Mas Bisma?"


"Bisma sedang beristirahat. Tadi nyeri di tangannya baru hilang. Mending kamu pulang dulu. Ke sini saja besok, kalau sempat."


Gendhis menghela napasnya dalam-dalam. Ia pun mengalah dan pergi meninggalkan rumah mertuanya dengan perasaan kacau. Ia memutuskan untuk mampir ke rumah ibunya dan membicarakan hal ini dengan perempuan itu.


Bu Ningsih tinggal bersama Lingga dan Najwa serta anak mereka, Dena. Namun, keluarga kecil adiknya itu sedang berkunjung ke rumah eyangnya Dena dari pihak Najwa. Jadi, Bu Ningsih sendirian di rumah.


"Loh, piye to Mbak Ratmi. Kok memutuskan sesuatu ndak didiskusikan dulu sama kamu, Ndhis?" Bu Ningsih, yang hubungannya dengan Gendhis sudah membaik, berucap.


"Kata Bu Ratmi, Mas Bisma yang memutuskan untuk tinggal sementara di sana. Tapi, nggak tahu juga, Bu. Soalnya aku belum ngobrol sama Mas Bisma."


Gendhis menghela napasnya dalam-dalam. "Ya sudahlah, Bu. Besok tak ke sana lagi nemuin Mas Bisma."


"Yo maklum wae, Dhis. Bisma kan anak tunggal. Pasti ibunya ya mau selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya. Apalagi sedang sakit-sakitan seperti ini."


Gendhis mengulas senyum tipisnya. Ia lalu meraih secangkir teh hangat yang dibuatkan oleh sang ibu.


"Ibu njaluk pangapuramu sing gedhe yo, Ndhuk. Semua yang kamu alami sepanjang pernikahanmu dengan Bisma itu Ibu yang menyebabkan."


Gendhis menyentuh punggung tangan sang ibu lembut. Perempuan itu selalu menyisipkan kata maaf setiap kali mereka terlibat obrolan. Ia mengatakan rasa sesalnya telah memisahkan Gendhis dari pria yang menjadi sumber kebahagiaannya, begitu besar. Tapi, toh semua sudah terjadi. Sekarang Gendhis hanya ingin menjalani rumah tangganya dengan Bisma sebaik mungkin. Meskipun masa lalu masih kerap menghantuinya dan menyisakan kerinduan yang begitu dalam pada Shaka, namun dirinya harus bersikap realistis. Shaka sudah pergi dan kewajibannya kini adalah menjadi istri yang baik untuk Bisma.


***


"Semoga Mas Shaka betah ya di Jogja." Lelaki berambut licin itu, kolega Shaka, berucap. Setelah panjang lebar keduanya membicarakan proyek perusahaan di mana Shaka kini memimpin. Termasuk membicarakan dipecatnya pemimpin sebelumnya karena kasus penggelapan uang proyek, yang menjadi alasan Shaka diutus oleh Papa-nya untuk mengambil alih perusahaan.


"Betah lah Mas Bakti. Dulu kan udah pernah tinggal di sini." Shaka mengulas senyuman pada lelaki yang dipanggil Bakti itu.


"Oh ya? Kok aku nggak tahu, ya? Aku udah lama loh kerjasama dengan perusahaan Papamu, Mas."


Shaka terkekeh. "Dulu aku ngerjain hal lain." Ia menggerakkan dua jari telunjuknya membentuk tanda kutip. "Biasalah ... masa-masa rebel," lanjutnya.


Bakti terbahak. Meskipun kolega, keduanya tampak sudah seperti teman meskipun belum lama saling kenal. Mungkin, karena keduanya kurang lebih masih seumuran, dan sama-sama pengusaha muda yang sukses.


"Eh, apa ini, Marsha cantik?" tanya Shaka dengan mata berbinar saat sosok anak perempuan membawa sepiring kue yang disodorkan padanya.


"Marsha habis bikin kue sama Mama, Om. Kata Mama, Om Shaka temennya Papa suruh nyobain." Marsha duduk di samping sang ayah yang sedang tersenyum bangga. Lelaki itu pun mengusap ujung kepala sang putri.


"Waahh ... enak ini pasti. Nama kuenya apa nih?" tanya Shaka sambil mengambil satu bulatan coklat yang dilapisi meses warna-warni. Ia kemudian tanpa ragu-ragu memasukkannya ke dalam mulut. Saat mengunyah, matanya membulat sambil mengangguk-angguk. Menandakan kue buatan Marsha lezat.


"Biskuit bola coklat, Om. Enak?" tanya Marsha yang disambut acungan jempol Shaka. "Marsha lapor Mama dulu ah, kalau Om Shaka suka. Papa juga cobain, ya?" pintanya pada sang ayah.


"Iya, Papa kan penikmat pertama biasanya, Sayang.


Marsha dengan riang beranjak dari duduknya dan berlarian meninggalkan ruang tamu. Terdengar celotehannya dari kejauhan sedang berbicara dengan sang ibu.


"Anak gadisnya pinter dan baik. Beruntung banget Mas Bakti," puji Shaka.


Bakti terkekeh. "Tadinya Marsha anaknya pemalu, Mas. Tapi, aku sama istriku coba daftarin ke banyak les. Biar Marsha bisa milih apa yang paling dia minati. Eh, ternyata suka nari anaknya. Makanya aku ngundang guru tari ke rumah. Udah beberapa bulan dan Marsha kadang diikutkan ke pentas-pentas tari di sekolahnya atau di Keraton. Udah lumayan percaya diri anaknya."


Shaka mengangguk-angguk.


Mendengar cerita Bakti, dada Shaka pun berdesir. Ingatannya melayang pada Gendhis yang juga seorang penari dan guru tari. Membuatnya membayangkan seandainya saja guru les tari Marsha adalah Gendhis. Tapi, mungkin kebetulan seperti ini hanya ada di dalam khayalannya saja.


***