
"Ndak enak sama Nak Bisma. Dateng ke sini buat nemuin kamu, malah kamu pergi sama orang lain."
Pernyataan dari Bu Ningsih sudah didengar Gendhis beberapa kali sejak lima menit lalu. Sampai-sampai gadis itu tidak selesai-selesai mengaduk dua cangkir teh di hadapannya.
"Nuwun sewu, Bu ... saya memang sudah ada janji dengan Mas Shaka untuk nganter berwisata keliling Jogja."
"Owalah, Nduk, Nduk ... sama Nak Bisma yang sudah lama kenal saja ndak pernah mau diajak ke mana-mana, kok ya ini sama orang baru kenal sudah mau dibawa ke mana-mana?"
Gendhis meletakkan sendok yang ia pakai untuk mengaduk teh ke atas meja dengan sedikit kasar. "Dibawa?" Ia menatap sang ibu tidak percaya. Kenapa pilihan kata perempuan paruh baya itu memberi kesan bahwa dirinya murahan? Namun ia tidak ingin menghardik sang ibu. "Bu, saya nganter tehnya ke depan dulu."
Ia membawa nampan berisi dua cangkir teh ke teras rumah dengan perasaan tercampur-aduk. Dan Bu Ningsih pun mengekorinya. Ikut duduk di antara anak gadisnya dan dua pemuda yang sedang berbasa-basi satu sama lain.
"Hallo, Bu ... apa kabar?" Sakha menyapa Bu Ningsih yang duduk di dekat Gendhis.
Perempuan paruh baya itu hanya mengangguk kecil dan tersenyum sekilas. "Dhis, ini loh Nak Bisma nungguin kamu dari tadi, ibu sampai ndak enak, wong kamu ditelepon malah katanya masih mampir-mampir ke Malioboro," ucapnya, entah menyindir atau apa. Yang jelas, hal itu membuat Shaka dan Gendhis merasa canggung bukan main.
"Mboten menopo-menopo (Nggak apa-apa), Bu, yang penting Gendhis sudah di sini." Bisma menyahut sembari melempar senyumnya pada Gendhis.
"Ya sudah kalau gitu," ujar Bu Ningsih sambil beranjak dari duduknya. "Barangkali mau ngobrol sama Gendhis, ibu ndak mau ngganggu," ucapnya kemudian seraya memandang ke arah Shaka, seakan-akan ingin memberitahukan pada pemuda itu kalau kehadirannya mengganggu kebersamaan putri dan calon menantu idamannya.
Setelah mengintimidasi Shaka secara tersirat, perempuan itu masuk ke dalam rumah. Tinggallah Gendhis dan dua pemuda yang masing-masing memiliki misi untuk mendapatkan hatinya itu.
"Mas-nya kerja di mana?" Alih-alih mengajak ngobrol Gendhis, Shaka justru melanjutkan obrolan basa-basinya dengan Bisma yang sempat terjeda karena kehadiran Gendhis dan ibunya.
"Di Disdik (Dinas Pendidikan). Bagian pembinaan pendidikan dasar," terang Bisma, bangga.
"Ngerancang kurikulum berarti, ya?"
"Yah, begitulah. Kalau mas-nya?" Bisma balik bertanya.
"Ada ngikut temen di bengkel aksesoris mobil."
"Owh ...." Bisma mengangguk-angguk sambil mencebikkan bibir. Bukannya meremehkan, namun tentu saja, pekerjaannya jauh lebih baik. Apalagi di mata kedua orang tua Gendhis. Mau dilihat dari segi apapun, tetap dirinyalah yang lebih unggul. Ia pegawai negeri, tidak berpenampilan aneh-aneh apalagi bertato, orang tuanya dan orang tua Gendhis sudah saling mengenal dan juga sangat mengharapkan dirinya dan gadis itu menikah. Sedang si Shaka ini, orang baru dengan penampilan yang tidak mungkin masuk dalam kriteria calon menantu idaman keluarga Gendhis.
Lalu, bagaimana dengan Gendhis yang terjebak dalam awkward moment di antara dua pemuda itu? Jangan ditanya, sudah pasti gadis itu hanya diam saja.
"Dhis, ngelamun aja nih, kebiasaan." Celetukan Shaka membuat Gendhis terkesiap.
"Eh, iya, Mas. Lagi dengerin kalian ngobrol, kok," kekeh gadis itu seraya memperbaiki posisi duduknya.
"Tadi aku bawain lumpia kesukaan kamu, Dhis," ucap Bisma tidak mau kalah.
Gendhis mengangguk. "Iya, makasih, Mas."
"Owh, enak tuh lumpia, boleh kapan-kapan temenin icip-icip ya, Dhis?" Yang berucap Shaka, sengaja memanasi Bisma.
"Mas Shaka mau? Biar aku ambilin di dalem," tawar Gendhis.
Bisma berdehem sekali. "Aku cuma beli buat kamu, Dhis." Padahal pada kenyataannya, ia membeli untuk seluruh keluarga Gendhis.
"Nggak papa, Mas. Aku udah kenyang sebenarnya tadi udah makan sama Mas Shaka."
Shaka menarik sudut bibirnya. Sepertinya si gadis manis ini lebih memihak dirinya. Ya tentu saja, dirinya lebih asyik. Melihat dari gerak-gerik Bisma yang kaku dan pemdiam, Shaka yakin dirinya lebih bisa membuat Gendhis yang juga pemdiam merasa nyaman.
"Kata ibu sekarang kamu berangkat kerja seringnya ngojek, Dhis?" tanya Bisma.
"Iya, lagi dipake sama Lingga terus motornya. Soalnya lagi PKL dia. Tempatnya agak jauh."
"Kalau gitu tak anter jemput aja, ya, tiap hari."
"Oh, nggak usah, Mas. Aku ngojek aja nggak papa."
"Udah, pokoknya tak anterin, terus pulangnya tak jemput," tegas Bisma. Ia memberi penekanan pada kata-katanya, yang sebenarnya ditujukan pada Shaka. Dalam arti lain, ia ingin memberitahu bahwa Gendhis adalah ranahnya.
Gendhis sedikit terkejut dengan penegasan Bisma. Ia tidak biasanya memaksa seperti ini. Orangnya lempeng dan tidak banyak bicara. Kenapa di depan Shaka, ia berubah bossy?
"Beneran nggak usah, Mas. Arahnya kan beda. Nanti Mas Bisma repot bolak-balik."
Bisma menggeleng. "Apa sih yang nggak bisa aku lakuin demi kamu."
Gendhis menelan salivanya dengan susah payah. Ia melirik ke arah Shaka. Sekilas, ia menangkap ekspresi masam di wajah tampan pemuda itu. "Mas, nggak usah, beneran." Ia mempertegas penolakannya. Entah kenapa, ia tidak ingin Shaka berpikir yang tidak-tidak.
Terdengar decakan sebal Bisma diikuti dengan raut wajahnya yang memendam kekecewaan. Sementara Shaka mengulas senyum tipis mendengar perdebatan kecil antara Bisma dan Gendhis. Dalam hatinya, ia bersorak.
Sepertinya Shaka sudah cukup menunjukkan pada Bisma bahwa eksistensinya dalam hidup Gendhis ada, dan Bisma bukan satu-satunya orang yang ingin mendapatkan hati gadis itu.
"Dhis, aku pamit dulu, ya ...." Shaka menghabiskan sisa teh di dalam cangkir lalu beranjak dari duduknya. "Mari, Mas," ucapnya pada Bisma yang disambut oleh anggukan kecil pemuda itu.
Gendhis mengantar Shaka menuju mobilnya di balik pagar bambu. Pikirannya sedikit kalut. Ia khawatir Shaka marah atau menjauhinya. Kenapa hatinya tidak rela? Kenapa seperti ini?
"Yah, ngelamun terus," ujar Shaka seraya mengacak ujung kepala Gendhis, sebelum ia masuk ke dalam mobilnya.
"Eh, nggak, Mas," kekeh Gendhis.
"Mikirin apa, sih?" Shaka memiringkan wajah untuk meneliti wajah Gendhis yang sedikit menunduk.
"Oh, nggak, nggak papa."
Shaka mengulas senyumnya. "Aku pamit dulu, ya ...."
"Iya, Mas ... hati-hati."
Shaka mengangguk. "Emm ... Dhis ...."
"Ya?"
"Makasih untuk hari ini, ya?" Shaka meraih telapak tangan Gendhis dan meremasnya lembut. Dan sudut bibir pemuda itu terangkat saat dirasakannya Gendhis merespon dengan remasan samar, namun cukup bisa dideteksi olehnya.
Shaka melepaskan pegangan tangan mereka, memutar badan melangkah ke samping kanan mobil, lalu masuk dan duduk di kursi kemudi. Ia membuka kaca jendela di hadapan Gendhis, lalu melambai kecil sebelum melajukan mobilnya.
Sementara di teras rumah, Bisma menyaksikan interaksi antara Gendhis dan Shaka dengan dada bergemuruh.
***