Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 20. Love Is On The Way



Gendhis menggendong Alikha yang masih terlelap, sementara Shaka membawa peralatan sekolah milik gadis kecil itu, berjalan di sampingnya. Keduanya; terlihat bagaikan keluarga kecil yang bahagia, melangkah menuju rumah bergaya minimalis dengan dominan cat warna putih itu. Rumah Alikha tampak sepi. Mobil sedan warna silver milik Dimas pun tidak tampak terparkir di halaman.


Shaka mengetuk pintu beberapa kali hingga seorang asisten rumah tangga muncul. Melihat Alikha yang tertidur di gendongan Gendhis, perempuan paruh baya itu terkejut.


"Loh, Alikha ndak dijemput papahnya to? Ngapunten, nggih, Mas Shaka, Mbak," ucap sang asisten rumah tangga seraya meraih Alikha dari gendongan Gendhis.


"Nggak papa, Bu. Saya gurunya Alikha. Tadi sampai jam empat sore belum ada yang menjemput," timpal Gendhis.


"Owalah, tadi tak kira Pak Dimas keluar sekitar jam dua siang mau njemput Alikha." Perempuan itu menggeleng seraya menghela napas berat.


"Emangnya Pak Dimas nggak titip pesan apa-apa sama Mbok Giyem, Mbok?" tanya Shaka. Luar biasa memang pasangan calon mantan suami istri itu, pikirnya.


"Ndak nitip pesan apa-apa, loh, Mas Shaka." Perempuan yang dipanggil dengan nama Mbok Giyem itu menggeleng. "Monggo pinarak rumiyen (Silahkan masuk dulu), Bu, Mas Shaka," ucapnya seraya membuka pintu lebar-lebar.


"Makasih, Bu ... kami langsung saja," tolak Gendhis. Ia mengelus kepala Alikha yang kini berada dalam gendongan Mbok Giyem, masih tertidur lelap.


Shaka pun berpamitan pada perempuan paruh baya itu dan mengajak Gendhis meninggalkan tempat itu. Di dalam mobil yang melaju pelan, keduanya terdiam beberapa saat. Sampai akhirnya Gendhis pun bersuara, "Aku kepikiran Alikha, Mas. Untung ada Mbok Giyem, ya?"


"Geblek emang emak-bapaknya," sahut Shaka. "Kalau tiap hari begini ya kamu yang repot, Dhis."


"Ya semoga aja enggak, Mas. Mungkin hari ini memang lagi sibuk banget itu papa-mamanya Alikha." Gendhis berusaha mencari pembelaan.


"Alahh! Sibuk mikirin diri sendiri mereka itu."


"Ish! Mas Shaka! Jangan berpikiran buruk dulu, dong," sela Gendhis.


"Loh, kenyataan, Dhis."


"Mereka kan pastinya lagi mengalami masa-masa sulit. Perpisahan itu bukan hal yang menyenangkan loh, Mas," sindir Gendhis.


"Apapun alasannya. Anak tetap jadi prioritas, kan? Berani bikin, ya, berani tanggung jawab."


Gendhis memanyunkan bibirnya. Memang benar yang dikatakan oleh Shaka. Tapi, ya, sudahlah, pikir Gendhis. Itu urusan intern bapak-ibunya Alikha. Ia tidak berhak menghakimi. Toh, istilahnya I don't walk in their shoes. Artinya, ia tidak mengalami apa yang mereka alami.


"Udah, sih. Nggak usah dipikirin. Alikha ada yang ngejagain, kok."


Gendhis mengangguk. Ia lalu melihat keluar jendela dan mengerutkan keningnya. Kemana Shaka akan mengemudikan mobilnya, rasanya ini bukan jalan ke arah Kota Gede. Apa Shaka memang tidak berniat mengantarnya pulang?


"Mas, aku turun di sini saja, ya."


"Ngapain turun di sini?" Shaka menoleh ke arah Gendhis sekilas. Lalu kembali fokus pada jalanan.


"Ya, biar nggak kejauhan. Rumah kita kan nggak searah."


Shaka terkekeh. "Yang bilang mau pulang siapa?" tanyanya.


"Memangnya mau ke mana?"


Shaka melirik Gendhis seraya menaikkan sebelah alisnya. Pemuda itu menarik sudut bibirnya. "Ke mana enaknya?"


Gendhis melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul setengah lima sore, dan Shaka melajukan mobilnya ke arah Bantul.


"Aku penasaran sama sawah yang lagi viral itu loh, Dhis. Mumpung lagi mendung, nih, pasti seger banget jalan ke sana sore-sore gini," ujar Shaka.


"Sawah?" Gendhis berpikir sejenak. "Owh, yang di daerah Dlingo?"


"Nah, iya itu. Apa, ya, nama sawahnya? Hmmm ...."


"Songgo langit kalau nggak salah."


"Ah, ya ... itulah." Shaka terkekeh. "Arah ke sana, tahu?"


"Daerah Dlingo-nya aku tahu. Tapi, persawahan yang lagi viral, aku kurang tahu."


Gendhis mengulas senyum tipisnya. Menanyakan persetujuannya tapi sudah setengah jalan menuju ke sana. Itu sama saja tidak memberinya pilihan. Tentu saja Gendhis tidak bisa menolak. Atau mungkin sebenarnya ia tidak berniat untuk menolak?


"Kalau udah senyum malu-malu gitu artinya setuju, dong," goda Shaka.


"Nanya setuju atau enggak tapi udah mau masuk Bantul," gerutu Gendhis.


"Biar kamu iyain," gelas Shaka seraya melirik ke arah Gendhis.


Gadis itu mencebik, "Bisa aja, ih, Mas Shaka."


Shaka terbahak. Dilihatnya si gadis manis itu memasang wajah cemberut. Namun, ia menangkap binar di wajah ayu Gendhis sekilas.


Semakin bertambah hari, melihat sikap Gendhis pada Shaka yang tidak pernah menunjukkan penolakan, atau rasa tidak suka padanya, cara bicaranya yang selalu manis, pipinya yang sering merona merah saat Shaka melontarkan rayuan murahan, bahkan ia terkadang menangkap adanya love sparkle dalam sorot mata teduh gadis itu, membuat Shaka yakin, bahwa hari ini, ia ingin mengungkapkan perasaannya pada Gendhis. Semoga saja alam semesta masih sudi berkonspirasi, seperti saat dirinya bertemu pertama kali dengan gadis itu.


***


Persawahan luas yang dituju Shaka berada di pinggir jalan. Akses mobil masuk pun tidak sulit. Namun, ia dan Gendhis harus berjalan kaki ke spot yang dijadikan tempat wisata.


Langit mendung sore itu membuat lokasi persawahan terasa sejuk dengan angin yang sepoi-sepoi. Dan berjalan di atas jembatan bambu yang membelah tengah sawah adalah sebuah aktifitas yang menyenangkan.


Shaka tentu saja tidak melewatkan spot-spot indah untuk membidik lensa kameranya. Meskipun target lensa terindah tetaplah gadis ayu yang sedang bersamanya. Seragam hijau muda yang tertutup sweater abu-abu membalut tubuh ramping Gendhis. Rambut panjang nan tebal yang dikuncir kuda menambah kesan anggun gadis itu begitu kentara.


"Wah, gerimis, nih, Dhis." Shaka menengadahkan telapak tangan merasakan rintik hujan yang mulai turun. "Ke sana dulu, deh," tunjuknya ke sebuah gubug dengan pagar bambu dan atap jerami yang dibangun di tengah sawah. Sepertinya gubug itu memang dibuat untuk pengunjung bisa bersantai.


"Yah, hujan ...," keluh Gendhis. Keduanya baru tiba di dalam gubug yang bagian depannya terbuka itu, dan hujan sudah datang mengguyur area persawahan.


"Asyik, terjebak di sini," kekeh Shaka. Ia duduk di samping Gendhis, sedikit merapat ke arah gadis itu untuk menghindari air hujan yang terciprat ke arahnya.


"Apanya yang asyik," gerutu Gendhis. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul lima lebih lima belas menit. Meskipun hari belum mulai gelap, tapi kalau hujannya terus besar begini, entah kapan mereka akan beranjak dari tempat itu.


"Hujan-hujan, berduaan di tempat seromantis ini," kekeh Shaka.


"Apaan romantis? Dingin banget kaya gini," sahut Gendhis seraya menggosok kedua lengan bagian atasnya.


Shaka melepas jaketnya lalu memakaikannya pada Gendhis, layaknya seorang gentleman. Tidak hanya sebatas itu, ia merapatkan jaketnya hingga menutupi hampir seluruh tubuh bagian atas gadis itu.


"Pakai aja, Mas ... malah kamu yang kedinginan," protes Gendhis. Ia memandang ke arah Shaka yang hanya mengenakan kaos putih lengan pendek dan celana jeans biru muda.


"Aku gampang. Nggak dingin, kok. Seger ini, sih," gelak Shaka, sok jagoan. Padahal ia mulai merasakan hawa dingin menembus kulitnya. Tapi, tidak mungkin ia membiarkan gadis pujaannya itu kedinginan.


"Beneran, nih?" tanya Gendhis curiga.


"Beneran, Dhis," jawabnya seraya memandang ke arah Gendhis dengan mata sayu. Ia menelan saliva membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering. "Emm, Dhis ...."


"Ya?"


Shaka menyugar rambutnya yang kini sudah tergerai hingga menutupi lehernya. "Gini, Dhis ... kamu bakalan marah, nggak, kalau aku ngomong jujur sama kamu?"


Gendhis menautkan dua alisnya. "Marah kenapa?"


"Yaaa ... siapa tahu, yang mau aku omongin ini sedikit lancang, gitu."


"Mau ngomong apa, sih, Mas?" tanya Gendhis penasaran. Meskipun sepertinya ia sudah bisa menebak apa yang akan disampaikan oleh Shaka. Terbukti dengan hawa panas dan dingin yang tiba-tiba menyergap di dadanya, lalu naik ke telinga dan pipinya.


Shaka menggeser duduknya lebih dekat pada Gendhis, membuat dada gadis itu berdebar kencang. Ia memberanikan diri menatap mata pemuda tampan di hadapannya itu.


"Aku suka sama kamu, Dhis."


***