
Gendhis mengetuk pintu bercat putih yang sedikit terbuka itu. Tanpa menunggu orang yang berada di dalam mempersilahkannya untuk masuk, ia mendorong pintu dan melangkahkan kakinya menuju ranjang putih, di mana seorang lelaki sedang setengah berbaring di sana sembari berkutat dengan laptop di pangkuannya.
Namun, begitu melihat kehadiran sosok manis bertubuh ramping dengan balutan dress bunga-bunga a la vintage yang melangkah dengan anggun ke arahnya, wajah tampannya terperangah. Terkejut, namun ada binar bahagia di matanya.
"Hei, Dhis." Mulut Shaka menyapa. Matanya mengikuti gerakan tubuh Gendhis, dari menarik kursi yang berada di bawah meja nakas, hingga mengibaskan ujung roknya dan duduk dengan anggun di sana.
"Mas Shaka udah baikan?" tanya Gendhis.
Tidak langsung menjawab pertanyaan Gendhis, Shaka menutup laptop tanpa melepaskan pandangannya pada makhluk manis di hadapannya itu. "Kok kamu tahu aku ada di sini?" tanyanya.
Senyum malu-malu Gendhis terbit di bibir tipisnya. "Waktu ngelesi Marsha, aku denger Pak Bakti ngomong sama orang di telpon, ngomongin Mas Shaka."
"Owwh, gitu?" Shaka memanyunkan bibir sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Kapan tuh dengernya?"
"Kemarin."
"Trus nggak langsung ke sini, gitu?" Shaka menaikkan alisnya.
Gendhis terkekeh. "Kemarin masih mikir-mikir," ucapnya pelan.
"Harus gitu ya, pake mikir?"
Gendhis tersenyum seraya menundukkan kepala. "Aku tuh ... gimana ya, ngomongnya?"
"Gimana, Dhis? Coba jelasin sama aku. Apapun alasannya, aku bakal terima, Dhis."
Gendhis menatap Shaka lekat. Semalaman ia mencoba mengurai semua benang kusut dalam benaknya yang selama ini membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia mencoba berserah diri pada Sang Pencipta, memohon apapun yang baik untuk dirinya, dan semua orang di sekelilingnya.
Ia flash back semua yang telah terjadi selama ini, dan apa yang membuatnya begitu larut, bahkan menikmati deraan penderitaan. Selama ini ia tidak pernah dihadapkan dengan pilihan, sehingga satu-satunya yang harus ia lakukan adalah menerima, menerima dan menerima.
Mungkin jiwanya mulai kosong, saat ia merasa Shaka sudah tak lagi mampu ia sentuh. Terus begitu setiap hari, memaklumi dan memaklumi hingga ia terbiasa. Terbiasa dengan Bisma, meskipun hanya sebatas kebiasaan akibat dari rutinitas yang repetitf.
Kemunculan Shaka kembali dalam hidupnya, membuat Gendhis kebingungan bagaimana menyikapinya. Sementara ia sudah terlanjur menikmati rasa sakit, yang membuatnya kecanduan.
Namun, ada satu celah kecil dalam hatinya yang nyatanya mampu disusupi oleh Shaka. Menghempaskan Gendhis ke lautan kebimbangan.
Hingga akhirnya, setelah semalaman tidak tidur memikirkan semuanya, di sinilah Gendhis sekarang, duduk di hadapan lelaki yang menjadi takdirnya.
"Auchh!" keluh Shaka saat tiba-tiba Gendhis menghambur padanya, memeluknya dengan erat.
"Eh, maaf, Mas. Kena yang sakit, ya?" Gendhis buru-buru menarik dirinya untuk memeriksa luka di perut samping Shaka.
"Nggak papa, sini aja," ucap Shaka sembari menarik kembali tubuh Gendhis ke dalam pelukannya. "Ya ampun, kangennya aku," bisiknya. Segala rasa tumpah ruah dalam dadanya, berdesakan naik ke kerongkongan, melewati tenggorokan, hingga akhirnya bermuara di pelupuk matanya. Iya, buliran bening di mata Shaka jatuh ke pipi, bersama dengan rasa sakit yang menguap ke udara. "Ini aku nggak mimpi, kan?" tanyanya memastikan.
Gendhis menggeleng dalam pelukannya. Tangan Shaka menangkup pipi gadis itu, memandangi wajah ayu yang kini benar-benar nyata di hadapannya. Yang dipandangi sedang mati-matian menahan agar air yang menggenang di pelupuk mata tidak jatuh.
"Cium," pinta Shaka, dengan tatapan penuh dahaga.
Gendhis terkekeh penuh haru. Ia melingkarkan kedua lengan di leher Shaka, menelusup ke belakang kepalanya yang ditumbuhi rambut setengah panjang. Jemarinya meremas kecil rambut itu sembari bibirnya berpagut dengan bibir Shaka.
Oh, sebuah ciuman yang mengembalikan kenangan malam di mana keduanya menghabiskan waktu bersama, saling melebur, menyatu, mengisi, dan memiliki. Bukankah ini moment yang ditunggu-tunggu? Saat kebahagiaan bermuara di tempat yang tepat.
"Masa iddah-mu udah selesai belum?" Shaka menyeletuk di sela-sela ciuman mereka yang mulai panas.
Shaka berdehem sekali untuk melicinkan tenggorokannya. "Abis itu langsung kawin aja, ya? Aku takut kamu diambil orang lagi."
Gendhis akhirnya meloloskan tawanya mendengar ucapan Shaka yang begitu jujur. Shaka yang hangat, Shaka yang selalu bisa mengimbangi diamnya Gendhis, kini telah kembali.
"Dhis ...."
"Ya?"
"Ini serius, kan?"
"Maumu?" Gendhis meringis.
Shaka mere mas wajah, menyugar rambut, dan memijit kening, kemudian menatap Gendhis dengan tatapan tak percaya. "Gendhis ... astaga!" Hanya itu yang lolos dari bibirnya.
"Maafin aku, Mas Shaka," ucap Gendhis lirih.
"Iya, iya ... aku maafin. Aku maafin seribu kali."
Gendhis mengulas senyumnya. "Makasih ya, Mas. Udah sabar banget nungguin aku yang ternyata masih labil ini."
Shaka menggeleng. Ia menepuk dadanya tiga kali. "Hatiku hanya milikmu, Dhis. Dulu, sekarang dan selamanya."
"Aku tahu, Mas."
"Aku nggak bakal lepasin kamu lagi, tahu?!" tegas Shaka.
"Aku nggak akan ke mana-mana lagi, Mas." Gendhis pun menegaskan.
Shaka mengelus pipi Gendhis dengan punggung tangannya, lalu merapikan anak-anak rambut yang jatuh di keningnya. Kemudian ia menggenggam tangan Gendhis, dan menciuminya berkali-kali.
Lalu, menit-menit selanjutnya, keduanya hanya saling menatap dalam diam. Saling melempar senyum, dan saling mengungkapkan rasa dengan usapan-usapan lembut di pipi, rema san jemari, dan belaian rambut. Hingga tidak terasa jam besuk Gendhis pun berakhir.
Dengan senyum samar yang tidak pernah lepas dari bibirnya, Gendhis keluar dari kamar tempat Shaka dirawat. Wajah ayunya tampak berseri-seri. Keputusan yang ia ambil ini nyatanya, telah membebaskannya dari himpitan beban yang selama ini menyesakkan dada, yang bodohnya, Gendhis justru menikmatinya.
Bruukk
Gendhis yang tidak terlalu fokus pada sekelilingnya menabrak seseorang yang hendak masuk ke dalam kamar. Keduanya meringis sambil mengelus kening masing-masing yang detik.
"Maaf, Mbak ...." Gendhis memandang perempuan cantik berbalut setelan kantoran NIa mengenal wajah perempuan itu. Tapi, di mana?
"Iya nggak papa, Mbak." Si perempuan menyunggingkan senyum sekilas, keduanya masih saling memindai, sebelum akhirnya ia memutar badan dan mendorong pintu kamar yang sedikit juga.
Perempuan itu membawa satu ikat bunga segas dan juga sekotak makanan. Sudah bisa ditebak ia adalah pengunjung Shaka.
Ah, Gendhis ingat sekarang. Ia adalah perempuan yang bersama Shaka, saat pertama kali melihat lelaki itu tanpa sengaja di warung lesehan di daerah Malioboro. Gendhis berdiri mematung menatap pintu kamar yang tertutup rapat.
Tentu, ada kekhawatiran yang tertanam dalam benaknya, bahwa perempuan itu sudah begitu dekat dengan Shaka. Meskipun Shaka pernah mengatakan bahwa hatinya selalu ia jaga selama ini dan tidak menjalin hubungan dengan perempuan manapun.
***