Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 78. Menghadapi Perempuan Cemburu Itu Tidak Mudah. (THE END).



"Jangan diem aja, dong, Sayang," pinta Shaka memelas. Sejak dalam perjalanan hingga tiba di sebuah rumah makan dengan konsep tradisional yang nyaman dan cocok untuk nongkrong lama-lama, Gendhis hanya diam saja.


Semua itu sudah pasti karena Shaka yang salah ucap. Dan Shaka menyadari itu. Sudah berkali-kali menjelaskan, berkali-kali pula meminta maaf; meskipun sesungguhnya hal itu tidak perlu. Toh, itu terjadi sebelum Shaka kembali bersama Gendhis. Dan yang terpenting adalah, tidak pernah terjadi apapun antara Shaka dan Ninda.


"Iya." Gendhis menjawab sekenanya. Sungguh, mood-nya menjadi buruk saat mendengar nama itu. Hingga saat ini, Gendhis masih curiga telah terjadi kontak fisik antara Shaka dan Ninda.


Memang, jika harus berkaca, Gendhis pun justru telah melakukan hal yang lebih dengan Bisma. Tetapi, pikir Gendhis, dirinya tidak pernah menikmati dan yang ada di dalam benaknya hanya Shaka. Lagi pula, Bisa toh sudah tidak ada lagi di dunia ini.


"Tuh, kan, jawabnya pendek banget. Duh, aku harus jelasin gimana lagi, dong, Dhis." Shaka mengacak rambutnya frustrasi.


"Ya, udah." Kasihan juga melihat wajah suaminya yang kebingungan itu. Tetapi, rasa gengsi untuk memberi Shaka sebuah senyuman begitu tinggi. Gendhis butuh waktu. Tiga puluh menit lagi, mungkin.


"Sumpah, Dhis. Ninda cuma dateng bantuin beberes rumah aja. Itu juga kalau mau berangkat kerja." Ah-entah benar atau tidak yang ia katakan, yang jelas, ia sudah tidak terlalu ingat detailnya.


"Dia kan sekretaris Mas Shaka. Bukannya tugas dia hanya bantu Mas di kantor, kenapa urusan rumah juga dia tangani?" Akhirnya Gendhis tidak tahan untuk melontarkan pertanyaan itu.


"Itu inisiatif dia sendiri, Dhis. Aku nggak minta, loh."


"Oh, gitu."


"Iya, Sayang. Udah, ya, nggak usah dibahas lagi. Aku tuh nggak pernah ada apa-apa sama dia, beneran."


"Yakin?" Sepasang mata Gendhis menatap Shaka. Sebuah tatapan yang masih menuntut penjelasan lebih.


"Beneran. Nggak ada rasa sama sekali juga."


"Nggak ada rasa sayang gitu? Secara tiap hari ketemu. Belum lagi kalau weekend jalan berdua makan di mana, gitu."


"Sayang, sih, ada. Tapi, hanya sebagai teman."


"Oh, jadi sayang sama dia?"


Shaka menepuk keningnya. "Salah ngomong lagi," gumamnya.


Acara makan malam di luar yang seharusnya menyenangkan, terasa begitu berat untuk Shaka. Gendhis benar-benar serius menanggapi ucapannya. Memang cemburu tanda cinta. Tetapi, jika sesulit ini menghadapi perempuan yang sedang cemburu, Shaka lebih memilih berhati-hati ke depannya.


Setelah selesai makan, Gendhis meminta pulang segera. Padahal Shaka masih ingin mengajaknya menikmati malam di Jogja. Tetapi, agar tidak membuat Gendhis bertambah marah, Shaka pun menyetujui.


Di rumah pun, Gendhis masih tidak banyak bicara. Shaka stres sendiri menyikapinya.


"Sayang, udah, dong, ngambeknya, ya?" pinta Shaka seraya merangkak ke atas tempat tidur. Gendhis sudah menutupi badannya dengan selimut, dan berbaring memunggunginya.


Dielusnya lembut punggung Gendhis. Lalu merayap ke pinggang, dan menelusup ke perutnya. Mungkin terlalu berlebihan jika Shaka berharap Gendhis akan bereaksi dengan pancingan-pancingan yang sedang ia buat itu.


Gendhis memang masih diam saja. Tetapi ia membiarkan tangan Shaka bergerilya di seluruh tubuhnya.


"Tapi, Mas Shaka kan pernah ciuman sama dia."


Ah-ternyata masih ingin membahas masalah itu, batin Shaka. "Kan dia yang nyosor."


"Mas Shaka menikmati, kan?"


"Hah? Enggaklah, Dhis. Aku langsung tolak."


"Bohong banget, sih."


"Aduh, kok, nggak percaya, sih?"


Gendhis memutar badan dan menghadap ke arah Shaka. "Dia itu suka sama Mas Shaka. Suka banget."


"Iya, tahu. Trus kenapa? Yang penting kan akunya enggak."


"Tadi pas makan, bilangnya sayang."


Terdengar helaan napas Gendhis berat. Lagi-lagi, sejujurnya ia merasa harus berkaca pada diri sendiri. Shaka pun berhak cemburu pada Bisma, sebab dirinya dan Bisma sudah pernah melakukan hubungan suami istri.


"Mas Shaka kok nggak cemburu, waktu nanya aku sama Mas Bisma?" tanya Gendhis. "Jangan-jangan Mas Shaka nggak sayang sama aku."


Shaka hampir saja terlonjak mendengar ucapan Gendhis. Bisa-bisanya istrinya ini mengatakan hal semacam itu.


"Harusnya kan Mas Shaka cemburu."


"Aku, tuh, rasional aja, lah, Dhis. Toh, pada waktu itu terjadi, kamu nggak lagi sama aku. Dan kamu juga bilang, nggak ada feel apapun saat sama dia. Ya, udah. Nggak ada yang perlu dipermasalahin," terang Shaka. "Lagian, buat apa, sih, cemburu sama orang yang udah meninggal. Mending didoakan."


Hati Gendhis menghangat mendengar ucapan Shaka yang menyejukkan. Dan hal itulah yang membuatnya pasrah saat bibirnya dihujani kecupan oleh Shaka.


Ciuman yang tadinya pelan dan lembut, kini naik level menjadi lebih intens dan liar. Shaka yang sudah tidak tahan lagi membendung hasrat yang sejak tadi ia tahan; karena menunggu amarah Gendhis reda, kini bak singa lapar yang siap menerkam mangsanya.


Mangsanya, seorang perempuan ayu yang selalu membuat gairahnya meluap-luap. Tidak peduli meskipun Gendhis melawan sisi liarnya dengan sekuat tenaga.


Kamar yang tadinya dingin pun kini menjadi panas membara oleh aktifitas kedua pasang suami istri yang sedang mereguk indahnya syurga itu.


"Kasih aku anak, ya, Dhis."


THE END




Hai, terimakasih, ya, sudah mengikuti cerita Shaka-Gendhis hingga tamat. Terimakasih dukungan kalian semua. Aku cinta diriku dan kalian.😍



Kalau masih ingin menikmati novel-novelku yang lain di APK Noveltoon tercinta ini, aku ada dua novel baru yang sedang *on going*.



![](contribute/fiction/4691624/markdown/8994222/1668752664685.jpg)



Silahkan teman-teman tengok di lapakku, ya. Babnya masih sedikit, tapi, boleh tinggalin sendal dulu, ya. Hihihi.



Dan satu lagi, bagi yang ingin baca seru-seruan dan ketawa-ketiwi, bisa baca yang dibawah ini;



![](contribute/fiction/4691624/markdown/8994222/1668752817010.jpg)



Okay, gitu aja, sih, kabar dariku.



Stay healthy and happy, ya, Teman-teman.



Lady