
"Enak wae dekne saiki menjanda, bebas golek liyone, opo malah mbalik meneh karo sing mbiyen kae. Sementara anakke dewe wes rak ono."
"Ha kuwi kan hak e Gendhis to, Bu. Semisal dia mau kawin lagi, yo ndak papa."
"Aku ndak rela, Pak, si Gendhis kawin meneh, sementara anak' e dewe ilang, Pak."
"Bu, Bu ... mbok dungok e wae Bisma. Ojo malah nggae masalah ngene iki."
Gendhis tidak sengaja menguping pembicaraan Pak Noto dan Bu Ratmi saat ia kembali dari membereskan dapur. Ia mengurungkan niatnya untuk melewati ruang tengah di mana kedua mertuanya itu berada.
"Apa dia sudah gatel pingin kawin lagi?"
Suara Bu Ratmi kembali terdengar. Gendhis memejamkan mata mendengar ucapan kasar perempuan itu, yang tentu saja merujuk padanya.
"Aku ki curiga, jangan-jangan selama menikah dengan Bisma, si Gendhis main serong dengan pacarnya dulu itu? Bukan ndak mungkin penyakit Bisma kambuh gara-gara tertekan dengan kelakuan istrinya itu!"
"Hush! Bu, jangan ngomong sembarangan. Nanti jatuhnya fitnah."
Gendhis mengepalkan kedua telapak tangannya. Ia tidak mengerti kenapa topik pembicaraan itu diangkat oleh ayah dan ibu mertuanya. Sedangkan ia pun tidak pernah membahasnya sama sekali. Jangankan mencari lelaki lain, kembali pada Shaka pun belum terbersit dalam benaknya. Saat ini dirinya hanya ingin menemani dua orang yang sedang berdebat itu, melewati semua ini. Bisma anak satu-satunya. Sekarang Pak Noto dan Bu Ningsih tidak ada yang menjaga lagi. Kalau bukan dirinya sebagai istri Bisma yang merawat kedua orang itu, lalu siapa lagi. Kerabat mereka pun mungkin hanya akan berkunjung sekali-sekali.
"Apa sudah mantep keputusanmu untuk tinggal bersama mereka sementara ini, Dhis?" Bu Ningsih bertanya sore itu, saat Gendhis datang ke Kota Gedhe.
"Nggih, Bu. Mereka kan ndak ada yang nungguin, jadi itu tugasku sebagai istri Mas Bisma."
"Kamu memikirkan keadaan mereka tapi ndak memikirkan keadaanmu sendiri, iki piye to, Dhis?"
Gendhis mengulas senyumnya. "Aku ndak butuh apa-apa, Bu. Aku baik-baik saja begini."
"Terus Nak Shaka gimana? Dia nunggu kamu, Dhis."
Gendhis menggeleng. Ia tidak menjawab pertanyaan ibunya. Sejujurnya, ia merasa hatinya sudah baik-baik saja. Anehnya, tanpa Shaka pun, ia bisa melanjutkan hidupnya. Hari-hari terakhirnya bersama Bisma dan mendapati betapa tulus cinta suaminya itu padanya, membuat luka hatinya dahulu memudar.
Ia kini sendiri. Tidak ada penghalang lagi antara dirinya dan Shaka untuk bersatu. Namun, Gendhis justru memutuskan untuk menjauh.
Terpujilah Dia yang maha membolak-balikkan hati.
Gendhis menjalani hari-harinya dengan ikhlas. Ia tinggal di rumah mertuanya dan meladeni mereka dengan sepenuh hati, meskipun sikap Bu Ratmi begitu buruk padanya. Gendhis maklum. Perempuan itu kehilangan anak satu-satunya yang ia bangga-banggakan. Mungkin dirinya tidak bisa menggantikan posisi Bisma, namun setidaknya ia bisa meneruskan bakti suaminya itu terhadap orang tua.
Pekerjaannya sebagai guru les tari pun berjalan dengan lancar. Dan tentang Shaka, ia dengan sengaja mengabaikan lelaki itu demi hidupnya yang sudah tenang.
Bisma, di saat-saat terakhirnya berpesan bahwa Gendhis harus bahagia. Dan kini ia sadar, bahwa bahagia bisa diraih dengan banyak cara. Gendhis merasa sudah memenuhi pesan terakhir Bisma. Ya, ia sudah bahagia.
***
"Apa-apaan ini?!"
Shaka terkejut bukan main saat keluar dari kantornya dan mendapati roda mobilnya kempes. Bukan hanya satu, namun semuanya. Ia berjongkok memeriksa apa yang terjadi. Sebagai orang yang pernah bergelut dalam dunia otomotif, tentu saja ia tahu roda mobilnya yang kempes ini bukan sebuah ketidaksengajaan. Ada orang usil yang sengaja melakukannya.
"Breng sek!" Shaka menendang roda mobil kesal. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Lalu, ia menelepon Danang, yang dulu menjadi anak buahnya saat ia bekerja di bengkel aksesoris mobil.
"Waduh, Pak Shaka. Ada apa ini, ya?" Seorang satpam kantor tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Ada yang kempesin roda mobil saya, Pak. Bapak lihat ada orang mencurigakan tadi datang ke kantor atau di sekitar parkiran sini?"
"Sialan! Nggak pasang CCTV lagi di sekitar sini." Shaka sedikit kesal juga dengan si satpam yang kurang teliti dalam menjaga keamanan kantor. Apalagi ini adalah mobil miliknya, Bos di sini, yang seharusnya terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti ini. Namun, niatnya untuk memarahi lelaki berseragam putih biru itu urung demi melihat wajah memelasnya.
"Saya telponkan bengkel ya, Pak Shaka," tawar satpam itu. Sepertinya ia merasa sangat bersalah karena telah lalai menjaga keamanan lingkungan kantor.
"Nggak usah, saya sudah telpon bengkel teman saya."
"Oh, nggih, Pak Shaka."
Shaka menyuruh si satpam untuk kembali ke posnya di dekat gerbang kantor. Dirinya tidak ingin membahas masalah ini dengan lelaki itu, karena sepertinya ia terlihat bingung. Namun, Shaka juga penasaran siapa orang breng sek yang telah melakukan hal itu. Baru pertama kalinya ia mengalami kejadian menyebalkan ini.
Setelah masalah roda kempes dibereskan oleh Danang yang datang membawa empat roda baru, Shaka pun meninggalkan kantor dengan penuh tanda tanya. Ia tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan mampir ke kos-an Ninda. Gadis itu sudah pulang beberapa jam sebelum Shaka meninggalkan kantor.
"Ya ampun. Kok bisa sih, Bang?" Ninda menaruh secangkir teh ke atas meja untuk Shaka.
"Nggak tahu aku maksudnya apa." Shaka mengelus kepalanya. Ia sama sekali tidak memiliki clue kenapa ada orang yang menjahilinya.
"Abang punya musuh?" tanya Ninda seraya menaruh pan tatnya di kursi yang ada di sebelah Shaka, di dekat pintu kamarnya.
"Nggak ada lah, Nin." Shaka meraih cangkir dan menyesap teh manis di dalamnya.
"Kompetitor mungkin?"
"Bisa juga. Tapi, aku inget Pak Yovan pernah ngomong kalau di Jogja ini fair kok persaingan antar developer."
"Trus, siapa dong, ya?" Ninda mengelus dagunya.
"Nggak ada clue aku. Bisa aja cuma orang iseng sih."
Ninda mendecak. "Niat banget isengnya. Lagian tuh pak satpam masa sih bisa kecolongan gitu. Secara ini yang dijahilin mobil bos loh!"
Shaka mengangkat kedua tangan. "Nggak tega aku marah-marahin dia." Ia menghela napasnya. "Ya udahlah, moga-moga cuma orang iseng doang dan nggak berlanjut."
"Moga-moga aja ya, Bang."
Shaka mengangguk. "Katanya minggu, tunanganmu dateng, Nin? Jadi?" tanyanya.
"Jadi, dong." Ninda tersenyum malu-malu. Wajah cantiknya tampak bersemu merah.
"Duuh, yang lagi bahagia, ya?" goda Shaka. "Nikahnya kapan, nih?"
"Akhir tahun, Bang."
"Lah, lama banget." Shaka terkaget-kaget.
"Ngumpulin duit dulu, Abang, buat nikah." Ninda memanyunkan bibirnya. "Emangnya Bang Shaka, duit banyak, calonnya kabur-kaburan," ledeknya seraya meloloskan tawa.
"Nggak sopan!" Shaka memukul pelan puncak kepala Ninda. Ia pun ikut meloloskan tawa. Namun, lama kelamaan tawanya terasa hambar. Pasalnya, Ninda benar. Gendhis begitu sulit untuk ia gapai sekarang. Setelah tidak ada penghalang dari pihak eksternal, kini justru Gendhis sendiri yang membangun benteng tinggi di antara mereka.
***