
"Hello, Alikha ...." Sakha menyapa anak perempuan dalam gendongan Nita. "Eh, lututnya kenapa?" tanyanya saat melihat ada perban menempel di lutut Alikha.
"Jatuh, Om." Yang menjawab Nita, karena si anak mendusalkan kepalanya di leher sang ibu meskipun matanya menatap ke arah Shaka. "Tadi nggak ada guru yang ngawasin." Perempuan berambut sebahu itu memandang sekilas pada Gendhis, bermaksud menyindir gadis itu, namun dalam waktu yang bersamaan ia juga penasaran kenapa si ibu guru kenal dengan Shaka.
"Alikha sudah nggak sakit lututnya?" Gendhis mendekat pada Nita untuk menyentuh kepala anak perempuan itu. Namun, sang ibu sepertinya keberatan, dan segera menghindar. Hati Gendhis pun mencelos seketika.
"Nanti mau dicek ke dokter," ucap Nita dingin.
Shaka bisa melihat dari ekspresi wajah yang dibuat oleh Nita, kalau perempuan itu sepertinya tidak menyukai Gendhis, entah apapun alasannya.
"Shaka, minta tolong, dong," ucap Nita. "Hp-ku ketinggalan di rumah. Jadi aku nggak bisa pesen grab. Bisa anterin, nggak?"
Shaka terkejut dengan permintaan Nita yang baginya sangat membuat dilema. "Aku teleponin Dimas aja ya, Nit." Ia segera merogoh saku jaket semi-parkanya untuk mengambil ponsel.
"Kalau Dimas nggak lagi sibuk sih aku udah minta tolong kamu teleponin dia, Ka," ucap Nita membuat Shaka mengurungkan niatnya menekan tombol panggil pada nomer Dimas.
"Waduh ...." Shaka menatap Gendhis sekilas. Gadis itu pun terlihat canggung. Sejujurnya, situasi di antara mereka begitu canggung. "Ya udah, aku pesenin grab aja, ya?"
"Owh, ya udah, deh." Nita berucap pasrah. Meskipun hatinya sedikit kecewa. "Masih kerja atau ...." Ia tidak tahan untuk menanyakan alasan Shaka menolak permintaannya. Nita kembali memandang sekilas pada Gendhis. Sungguh ia berharap si ibu guru tidak ada hubungan apapun dengan Shaka.
"Lagi istirahat, sih. Cuma, mau ngajakin Ibu Gendhis makan siang," kekeh Shaka. "Oh, aku anter kamu sekalian aja sambil jalan. Ya, Dhis?" Ia meminta pendapat Gendhis, dan gadis itu mengangguk setuju.
"Owh, nggak usah, Ka. Minta tolong pesenin grab aja." Ada gemuruh kecil dalam hati Nita. Apa yang dipikirkannya memang benar adanya. Shaka sedang dalam proses pendekatan dengan gurunya Alikha itu.
"Beneran, nih?" tanya Sakha memastikan.
"Iya, pesenin grab aja." Nita menelan ludah getir. Beruntungnya si ibu guru, batinnya, yang akan segera merasakan perhatian, perlakuan, dan kehangatan sikap Shaka yang dahulu pernah juga dirasakannya, sebelum tragedi itu terjadi. Kenapa ia kini begitu menyesali semuanya? Apakah pantas?
Melihat Shaka yang tidak banyak berubah dari saat pemuda itu masih menjadi kekasihnya, membuatnya bernostalgia ke masa itu. Masih selengean, meskipun sekarang sedikit terlihat rapi. Masih berjiwa bebas, dan memilih untuk tidak bekerja pada ayahnya yang notabene adalah orang kaya. Dan Shaka, dahulu sangat menghormati dirinya. Tidak sekalipun pemuda itu meminta dirinya untuk melakukan hal-hal di luar batas. Hanya sebatas ciuman, pelukan, sentuhan. Itu saja. Sampai, malam naas yang menghancurkan hubungan mereka terjadi. Ah! Dimas sialan! Nita memaki dalam hati.
"Kayaknya udah dateng tuh mobilnya," ujar Shaka seraya melambai pada mobil Toyota Avanza yang bergerak lambat dari kejauhan.
Saat mobil tiba, Shaka membukakan pintu tengah untuk Nita dan putrinya. Perempuan itu hanya tersenyum tipis nan dingin saat Gendhis mengucapkan salam perpisahan untuk Alikha.
"Dhis, aku ambil mobil dulu, ya," pamit Shaka saat mobil yang membawa Nita dan putrinya berlalu. "Tunggu di sini, bentar doang." Ia mempertegas ucapannya untuk memastikan Gendhis tidak pulang duluan.
"Iya, Mas." Gendhis tersenyum canggung. Saat Shaka berlarian menjauh, ia memutuskan untuk duduk di pot semen yang ada di trotoar, sebagai pembatas dengan jalan.
Ada sepuluh menit ia menunggu Shaka, hingga mobil Honda Civic hitam berhenti di depannya. Shaka turun dan berjalan memutar ke arah depan mobil, membukakan pintu untuk Gendhis.
Meskipun berjiwa bebas dan tidak suka diatur, Shaka masih senang melakukan hal-hal klasik-romantik konservatif dalam memperlakukan perempuan. Apalagi perempuan selembut dan se-ayu Gendhis.
"Mamanya Alikha itu temannya Mas Shaka?" tanya Gendhis saat keduanya telah berada di dalam mobil, menelusuri jalan Gejayan yang padat.
"Owh, di Jakarta berarti?" tanya Gendhis kembali. Padahal seharusnya ia juga sudah tahu jawabannya.
"Iya, di Jakarta." Shaka menginjak rem saat lampu merah menyala. "Sorry nih, Dhis. Kalau aku nanya kaya gini, kamu lagi ada masalah, ya ... sama mamanya Alikha?"
"Itu, Mas ... aku kan ngajar kelasnya Alikha, tapi hari ini guru yang biasa mbantuin nggak masuk. Jadi aku agak kewalahan jagain anak-anak. Sampai-sampai lalai dan Alikha jatuh," terang Gendhis penuh sesal.
"Terus?" Shaka menoleh sekilas pada gadis ayu di sebelahnya itu. Kemudian melajukan mobilnya kembali setelah dilihatnya lampu hijau telah menyala.
"Ya, aku kena omelan mamanya Alikha."
"Waduh, harusnya si Nita nggak boleh gitu, dong," decak Shaka seraya memutar kemudinya keluar dari jalan utama. "Namanya juga kecelakaan." Ingatannya tentang bagaimana karakter Nita, seketika muncul.
"Yaah, nggak papa, Mas. Wajar sih kalau orang tua khawatir. Mungkin omelan Bu Nita hanya reaksi sesaat aja."
"Yang penting kamunya nggak papa, kan?" tanya Shaka.
"Kalau aku lebih ke nyesel kenapa bisa lalai. Ditambah omongan Bu Nita yang pedes juga sih, sebenernya." Gendhis terkikik pelan.
"Jangan, dong. Kan manusiawi itu. Alikha-nya aja yang lagi sial," kekeh Shaka.
Gendhis mengerutkan keningnya sembari menatap Shaka yang sedang sibuk memperhatikan jalan. "Ish! Mas Shaka kok gitu?" protesnya.
"Becanda, Dhis ...." Shaka tergelak. "Ngomong-ngomong dari tadi muter-muter kok belum nemu tempat makan enak, sih?"
"Mas Shaka pingin makan apa?" tanya Gendhis.
"Kamu pingin makan apa? Jangan bilang terserah loh, Dhis."
"Baru mau bilang terserah, Mas," sahut Gendhis seraya mengelus kepalanya pelan. Senyumnya ia sembunyikan.
"Yaelah, cewek nggak kreatif banget asli. Lama-lama kubikin juga restauran waralaba namanya Terserah dengan menu andalan namanya Terserah. Laris pasti itu."
Gendhis tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya mendengar joke yang dilontarkan oleh Shaka. Ia merasa hatinya menghangat, dan mulai ikut mengalir dalam energi positif yang ditularkan oleh pemuda itu.
"Gudeg aja gimana?" tawar Gendhis.
"Deal."
***