Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 34. Cara Menutupi Kesalahan Adalah Dengan Menyalahkan Orang Lain.



Lingga sudah diizinkan untuk pulang setelah hampir dua minggu dirawat di rumah sakit. Meskipun masih harus menggunakan kursi roda, namun ia sudah mulai pulih. Namun, sikapnya pada Gendhis berubah semenjak kecelakaan terjadi. Lingga yang biasanya cukup akrab dengan kakaknya itu, kini menjadi acuh tak acuh. Alasannya, tentu saja tentang hubungan Gendhis dan kekasihnya yang tidak disetujui oleh sang ibu.


Mungkin, Bu Ningsih sudah mendoktrin anak lelakinya itu untuk menyalahkan sang kakak atas apa yang sudah terjadi padanya. Dan Bu Ningsih, jika saja ada yang bertanya kenapa ia begitu kejam dengan putrinya sendiri, tentu ia akan menjawab, ia melakukan semua itu untuk menyadarkan Gendhis. Bahwa melawan kehendak orang tua, apalagi menyakiti hati, itu hanya akan mendatangkan kesialan. Tidak hanya menimpa diri Gendhis sendiri, namun juga menimpa keluarganya. Contohnya sudah sangat jelas, Lingga yang tiba-tiba kecelakaan. Padahal selama ini putranya itu selalu hati-hati saat mengendarai motor. Dari yang Bu Ningsih tahu, Lingga tidak pernah kebut-kebutan di jalan raya. Ia anak baik dan penurut.


Namun, apa yang terjadi pada Lingga, tidak ada seorang pun dari keluarga yang tahu kronologisnya.


Sebelum kecelakaan terjadi, sore itu Lingga berkumpul dengan teman-temannya di rumah kontrakan milik Rafi, salah seorang teman sekolahnya. Bukan acara berkumpul makan-makan atau mabar, namun ada banyak botol minuman keras yang menemani mereka. Tidak hanya itu, beberapa gadis "bisa pakai" pun ikut serta membuat suasana sore itu menjadi semakin panas.


Lingga, yang terlihat kalem jika berada di rumah, nyatanya begitu liar saat berada di luar. Sore itu dirinya sudah membooking gadis bernama Arini, untuk menemaninya minum, dan mungkin setelahnya bisa ber cinta di kamar sebelah.


"Mlebu kamar wae kono (Masuk kamar saja sana), Ngga." Rafi memberi akses pada Lingga untuk menempati kamar kosong di sebelah kamarnya, saat melihat Lingga dan Arini sepertinya sudah tidak tahan untuk melampiaskan hasrat yang memuncak.


Lingga yang kegirangan meninggalkan teman-temannya yang sudah setengah sadar karena pengaruh alkohol, dengan menggandeng Arini. Keduanya masuk ke kamar dan tanpa basa-basi dirinya mengerjai Arini di sana.


Ini bukan pertama kalinya Lingga meng gauli seorang perempuan. Ia sudah sering melakukannya di kamar kosong yang ada di kontrakan Rafi itu, dengan beberapa gadis "bisa pakai", terkadang juga dengan gadis-gadis nakal di sekolahnya yang dengan suka rela tidur dengannya, asal rokok dan minum tersedia.


Selesai menuntaskan hasrat pada Arini, Lingga kembali melanjutkan acara minum-minumnya hingga malam. Saat berpamitan pulang, ia sebenarnya sudah setengah sadar, namun memaksakan diri untuk tetap pulang mengendarai motor.


Dan terjadilah kecelakaan mengerikan itu karena ia tidak bisa mengontrol dirinya di jalanan. Sialnya, si pengendara mobil yang menabraknya langsung kabur dan meninggalkannya ditolong oleh beberapa orang yang melintas di jalan itu.


Teman-teman Lingga tidak ada yang berani membuka mulut bahwa saat kecelakaan terjadi, Lingga dalam keadaan mabuk. Dan rahasia pemuda itu pun tersimpan rapi.


"Ngga, Mbak bawain ayam penyet nih." Gendhis yang baru saja pulang, menghampiri Lingga di ruang tengah yang sedang asyik berkutat dengan ponsel, sambil menunjukkan satu plastik putih berisi bungkusan kertas minyak.


"Nggak laper." Lingga yang duduk di atas kursi rodanya, menjawab acuh tidak acuh.


"Emang udah maem?" tanya Gendhis sambil berjongkok menyejajarkan diri dengan posisi sang adik.


"Belum," jawab Lingga pendek, tanpa menoleh ke arah sang kakak.


"Mbak ambil piring dulu kalau gitu. Ini enak loh ayam penyetnya. Sambelnya gurih."


Lingga mendecak sebal. "Aku emoh. Mbak krungu ora (Aku tidak mau. Kakak dengar nggak)?!" Ia sedikit menaikkan intonasi suaranya.


Gendhis menghela napasnya. Lalu ia meletakkan plastik ke atas meja. Kembali berjongkok di samping Lingga, dan menyentuh lengan sang adik lembut. Namun, Lingga cepat-cepat menepisnya.


"Pikir dewe wae (Pikir sendiri aja)." Dengan bersikap seperti ini, Lingga bisa terbebas dari interogasi orang tuanya mengenai kronologi kecelakaan yang ia alami. Karena kedua orang tuanya, terlebih lagi ibunya, berpikir bahwa ini adalah kesialan yang disebabkan oleh kakaknya yang membangkang.


"Jadi, kamu pikir yang ibu bilang itu benar?" Gendhis mencoba membuka obrolan dengan Lingga mengenai hal sensitif itu.


"Pancen bener, Mbak ora trimo?" Kini sepasang mata Lingga menatap tajam ke arah Gendhis, sengit.


Gendhis memalingkan wajahnya ke arah lain. Hatinya begitu sakit mendengar ucapan sang adik yang begitu memojokkannya. Di rumah ini, hanya sang ayah yang tidak menyalahkannya atas kecelakaan yang menimpa Lingga.


"Ibu udah cerita semua sama aku, Dhis." Ucapan itu datang dari Bisma, saat suatu hari ia datang berkunjung ke rumah. Bu Ningsih yang mendadak begitu ramah pada Gendhis karena kedatangan Bisma, dengan senang hati memberi waktu pada Gendhis dan Bisma untuk mengobrol berdua.


"Cerita apa?" Gendhis memperlihatkan wajah masamnya di hadapan pemuda itu. Entah kenapa ia kini sedikit membenci Bisma.


"Ya itu ...." Bisma sepertinya sedang menyusun kata-kata yang tepat untuk ia ucapkan. "Tentang kecelakaan yang dialami sama Lingga. Aku sih nggak punya pikiran gimana-gimana, Dhis. Cuma ... yang ibu bilang mungkin ada benarnya, Dhis."


Gendhis mendecih dalam hati. Tentu saja Bisma membenarkan pendapat ibunya. Karena hal itu menguntungkan dirinya. Ia semakin berada di atas angin. Jalan untuk merealisasikan perjodohan ini sedang mulus-mulusnya.


"Coba dipikir bener-bener lagi, Dhis. Kalau misal kamu tetep lanjutin hubungan dengan si Shaka itu ...."


"Mas!" sergah Gendhis cepat. Ia mendadak begitu muak melihat tampang pemuda itu. Wajah tampan dan kalemnya justru membuat perutnya mual. "Aku pamit masuk dulu. Capek." Ia beranjak dari duduknya dan meninggalkan Bisma begitu saja. Saat melewati ruang tamu, ia melihat sang ibu ada di sana, memandangnya dengan heran. Mungkin perempuan itu sedang menguping obrolannya dan Bisma.


Gendhis muak sekali. Ia menutup pintu kamar dan menguncinya. Tidak dipedulikannya gerutuan Bu Ningsih yang sayup-sayup terdengar dari luar kamarnya.


Gadis itu berbaring di atas ranjang dengan mata menerawang. Semua semakin pelik saja. Lebih tepatnya, ia semakin muak dengan sikap orang-orang di rumah ini, dan juga Bisma beserta keluarganya.


Gimana kalau aku bawa kamu lari aja, Dhis?


Gendhis tersenyum saat ucapan Shaka waktu itu, terngiang di benaknya. Meskipun ia tahu, saat itu Shaka sedang bercanda, namun, ide itu sepertinya tidak begitu buruk untuk dilakukan.


Dirinya selama dua puluh lima tahun sudah menjadi anak yang berbakti. Saat remaja Gendhis selalu menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang buruk, demi menjaga nama baik keluarganya. Setelah dewasa, ia pun bekerja dengan penuh semangat untuk membantu perekonomian keluarga. Ia sudah menjadi anak baik selama ini. Sudah saatnya untuk memikirkan kebahagiaannya sendiri.


Dan kebahagiaan yang ingin diraihnya saat ini adalah, bersama Ryushaka Ardiarta.


***