Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 69. Kerikil Kecil Terakhir (2).



Semenjak keluar dari rumah sakit, ini adalah ketiga kalinya Shaka bertemu dengan Gendhis di rumah Bu Ningsih. Mereka tidak saling melakukan janji temu. Namun, alam semesta seakan selalu mempertemukan keduanya.


"Luka Mas Shaka udah sembuh total?" tanya Gendhis sore itu. Kebetulan ia baru pulang mengajar dan mampir ke rumah ibunya. Begitupun Shaka. Ia pulang kerja dan mampir ke rumah Bu Ningsih membawa makanan untuk perempuan paruh baya itu.


"Udah. Nggak parah juga kok," sahut Shaka seraya menyesap cangkir kopi yang beberapa saat lalu disajikan oleh Gendhis.


"Syukurlah. Denger-denger orang yang nusuk Mas Shaka udah ketangkap, ya?"


"Bener. Sebenernya kasian juga, sih. Istrinya lagi hamil gede."


"Owh, trus gimana, Mas?"


"Aku sih udah sepakat sama Pak Bakti buat nanggung biaya persalinan istrinya nanti."


Gendhis menatap Shaka kagum. Sudah dijahati, tapi masih mau menolong.


"Keburukan kan nggak harus dibalas dengan keburukan juga, Dhis," kekeh Shaka begitu melihat Gendhis seperti ingin menanyakan kenapa ia memutuskan untuk membantu orang yang sudah berbuat jahat padanya.


Gendhis mengulas senyumnya. "Bener, Mas."


Kini Shaka yang mengulas senyum. "Dhis ...."


"Ya?"


"Jangan formal-formal gitu dong sama aku," ucap Shaka. Pasalnya ia merasa perempuan yang duduk di seberangnya itu layaknya teman saja. Pembicaraan mereka beberapa hari ini hanya seputaran hal-hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan mereka saat ini. Niat Shaka hanya ingin menguji inisiatif Gendhis tentang sebuah kemesraan yang seharusnya mewarnai hari-hari mereka saat sudah memutuskan untuk kembali bersama. Namun, rupanya ia lupa bahwa Gendhis serupa dengan gamelan yang harus ditabuh terlebih dahulu.


Gendhis terkikik mendengar ucapan Shaka. "Formal gimana, Mas?" tanyanya tanpa berani menatap Shaka.


"Yaa, kita kan udah balikan, udah jadi sepasang kekasih lagi istilahnya, ya kan? Udah beginian, udah begituan," kekeh Shaka. "Ya jangan canggung mulu gitu loh, Dhis, ngerti, nggak?"


Gendhis terbahak pelan. "Ya kan baru ketemu lagi. Baru memulai hubungan lagi."


"Iya, deh. Terserah kamu aja deh, Dhis. Senyamannya kamu aja. Yang penting jangan kabur lagi." Shaka mengangkat alisnya, pertanda ia sedang memberi peringatan.


"Nggak lah, Mas. Capek."


"Nah, iya ... capek." Shaka membenarkan. "Oh ya, kapan mau pindah ke sini, Dhis. Aku nggak mau kamu lama-lama tinggal di rumah mantan mertuamu itu."


"Iya, secepatnya aku pindah dari sana, Mas."


"Yess!" Shaka berseru gembira. Ia lalu beranjak dari duduknya dan berpindah tempat duduk di samping Gendhis. Tangannya pelan meraih telapak tangan perempuan ayu itu. "Kabarin aku pas kamu mau pindahan. Aku jemput. Sekalian aja ngedampingin kamu. Takutnya mantan mertuamu gimana-gimanain kamu."


"Ih, nggak usah, Mas. Biar itu Jadi urusanku aja." Gendhis menggeleng kuat.


"Nggak! Pokoknya aku mau ngedampingin kamu menghadapi apapun. Termasuk mantan mertua kamu yang egois itu. Sekalian aja aku kasih tausiyah kalau mereka macem-macem."


Bibir Gendhis mencebik. "Terserah Mas Shaka, deh," ucapnya pasrah.


"Nah, gitu. Nurut. Jangan keras kepala mulu." Shaka mencubit pelan pipi Gendhis, membuat perempuan itu keki.


"Jalan-jalan berdua kapan, nih? Udah lama banget rasanya nggak nikmatin suasana Jogja berdua."


Bibir Gendhis menyunggingkan senyuman termanis. "Terserah Mas Shaka. Yang sibuk kan Mas Shaka, bukan aku."


"Iya juga, sih. Kangen berat asli ngebolang sama kamu. Selama ini, yang nemenin jalan-jalan si Ninda lagi si Ninda lagi." Shaka tergelak.


"Oh, bukan gitu. Dia emang nggak ada pilihan lain. Nggak enak kali ya dia kalau bos-nya ini udah minta tolong."


"Ya siapa tahu dia memang seneng nemenin Mas Shaka kemana-mana." Pelan Gendhis menarik tangannya dari genggaman Shaka.


"Yaah, beneran bukan masalah itu. Duh, salah ngomong aku." Shaka menggaruk kepalanya. "Pokoknya aku maunya jalan-jalan sama kamu. Aku kangen berat eksplor tempat-tempat indah di Jogja bareng tour guide paling kece se-Jogja, nih."


Gendhis memutar bola matanya jengah. Meskipun disusul dengan guyonan, tetap saja Gendhis merasa tidak nyaman dengan kehadiran Ninda, sekretaris Shaka yang cantik itu. Apalagi ia pernah menyaksikan bagaimana Ninda memberi perhatian pada Shaka. Bolehkah ia berprasangka kalau gadis itu menyukai Shaka?


***


Shaka melongok ke dalam ruangan Ninda yang pintunya sedikit terbuka. Ia melihat gadis itu sedang mengumpulkan tisyu yang berserakan di atas mejanya.


"Nin, kamu dari mana, sih? Aku cariin dari tadi." Shaka masih berdiri di ambang pintu. Pandangannya pada gadis itu terhalang layar komputer.


"Dari toilet," jawab Ninda pendek. "Ada yang harus aku kerjain, Bang?" Terdengar suara gadis itu seperti sedang membuang ingus.


"Nggak sih, mau makan siang bareng aja tadi. Kamu kenapa, Nin? Pilek?" Shaka berjalan mendekati meja Ninda. "Loh, kamu habis nangis?" tanyanya heran. Wajah cantik gadis itu tampak sembab. Matanya memerah dan bengkak. Sepertinya masih ada sisa air mata di pelupuknya.


"Iritasi mataku, Bang," jawab Ninda sekenanya. Ia berpura-pura berkutat dengan layar komputernya.


Namun, tentu saja Shaka tidak bodoh. Ia bisa membedakan antara orang yang baru saja selesai menangis dan orang yang sedang terserang iritasi mata. "Kamu kenapa, Nin? Ada masalah?" Ia mencondongkan badan menumpu tangan ke atas meja, meneliti wajah sekretarisnya itu.


"Nggak papa, Bang. Beneran," elak Ninda. Ia berusaha menghindari tatapan curiga bosnya itu.


"Halaah, aku kenal kamu, Nin. Kamu pasti lagi ada masalah, kan? Apa sih? Cerita sini," pinta Shaka seraya menggeser kursi yang ada di sampingnya ke dekat kursi Ninda.


Ninda tidak bisa berbohong lagi. Dadanya sedang terasa begitu sesak. Desakan Shaka itu akhirnya membuat tangisnya pecah kembali.


"Hei, hei, Nin ...." Shaka menyentuh lengan Ninda lembut. Berharap Ninda akan segera menceritakan masalahnya.


Selama beberapa saat, Ninda menumpahkan tangisnya di depan Shaka yang hanya bisa menunggu gadis itu mengungkapkan apa yang sedang ia rasa.


Baru kali ini Shaka melihat Ninda yang ceria, dirundung duka. Ia bertanya-tanya apa kira-kira yang membuat gadis ini menangis. Ninda menangis sesenggukkan sambil sesekali mengeluarkan ingus dengan tisyu.


"Bang ...." Ninda akhirnya berucap.


"Iya, Nin, ada masalah apa?"


"Bang Reza mutusin pertunangan."


Mata Shaka membola. "Kok bisa?"


Ninda menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isak tangisnya kian menjadi. Beberapa saat setelah sedikit mereda, ia meloloskan tisyu dari kotaknya dan menyusut air matanya.


"Bang Reza mau aku resign dari sini. Tapi, aku nggak mau."


"Kenapa? Karena LDR?" tebak Shaka.


Ninda masih sesenggukkan ketika ia mengangkat kepala menatap ke arah Shaka. Ia membuka bibirnya, bergetar hendak mengatakan sesuatu.


"Dia nggak suka kedekatanku sama Abang."


***