
"Kene, Nduk ... lungguh kene (Sini, Nak ... duduk sini)," pinta Pak Sasongko saat Gendhis baru saja masuk ke dalam rumah. Ia meminta gadis itu duduk di seberang meja.
"Wonten nopo (Ada apa), Pak?" Gendhis menelan saliva dengan berat. Bapaknya ini jika sudah memintanya duduk berhadap-hadapan, pastilah ada sesuatu hal penting yang ingin dibicarakan. Dan biasanya ibu-nyalah yang menyuruh bapak untuk menyampaikan pada dirinya.
"Tadi itu temenmu, Dhis?" tanya Pak Sasongko, dengan intonasi suara yang halus, namun penuh dengan maksud tertentu.
"Njih, Pak."
"Teman bagaimana, Nduk?"
Gendhis yang tadinya sedikit menundukkan kepala kini mengangkat wajah dan memandang ke arah sang ayah. "Nggih teman biasa, Pak."
"Hmm ...." Pak Sasongko mengelus dagu. "Begini, Dhis ... bapak ndak melarang kamu berteman dengan siapapun. Tapi, yang namanya berteman dengan lawan jenis itu harus berhati-hati yo, Nduk ... apalagi yang kamu belum tahu asal-usulnya dari mana. Bapak rasa kamu juga sudah mengerti tentang niat lelaki yang mendekati kamu itu karena apa."
Dan kebiasaan Gendhis saat sang ayah sedang mengatakan hal penting padanya, adalah diam dan hanya mendengarkan. Ia tidak menimpali ataupun menyeletuk.
"Syukur-syukur kamu memang ndak ada hubungan apa-apa dengan cah bagus tadi itu. Bapak cuma ingin mengingatkan kalau ada Nak Bisma yang sudah lama kenal sama kamu."
"Keluarga kita dengan keluarga Nak Bisma sudah saling mengenal dengan baik. Seperti apa Nak Bisma kita semua juga sudah tahu. Orangnya baik, sopan, kalem, mapan, lan ndak neko-neko. Usia kalian berdua juga sudah matang untuk menjalin rumah tangga. Ini bapak terus terang saja ya, Dhis, memang bapak sama ibu sangat mengharapkan kamu menikah dengan Nak Bisma."
Gendhis berdehem sekali. "Ngapunten, Pak ... saya sama Mas Bisma juga cuma teman biasa." Ia memberanikan diri menyela sang ayah yang mulai menyinggung ke arah misi terselubung orang tuanya itu menjodohkan dirinya dengan Bisma.
"Pokoke ojo nganti kowe ki getun (Pokoknya jangan sampai kamu itu menyesal), Dhis. Susah, Nduk, zaman sekarang menemukan laki-laki seperti Nak Bisma," ucap Pak Sasongko, mengingatkan.
Kembali Gendhis menelan salivanya. Ia sungguh tidak tahu harus menjawab apa. Memang seharusnya tidak perlu dijawab karena akan menimbulkan perdebatan nantinya. Dan Gendhis adalah orang yang tidak suka keributan. Ia lebih memilih diam meskipun dalam hati ia tidak sependapat.
***
"Kak Shaka ... mobilku mogok, nih. Tolongin, cepetaaaan," rengek Reina pada Shaka di telepon. Gadis itu berjalan mondar-mandir di samping mobil. Beberapa saat lalu, saat selesai berbelanja di sebuah butik, mesin mobilnya tidak bisa dihidupkan.
Bibir Reina menyunggingkan senyum setelah beberapa saat sedikit berdebat dengan Shaka yang sepertinya enggan untuk datang membantunya, akhirnya pemuda itu mengalah dan akan segera menyusulnya di tempat itu.
Setelah sekitar dua puluh menit Reina menunggu, Shaka pun tiba di depan butik tempat mobil Reina mogok. Pemuda itu tampak bersungut-sungut. Namun, Reina tidak peduli. Yang terpenting baginya, si pujaan hati datang menolongnya.
"Dasar cewek! Bisanya cuma make, nggak bisa ngerawat!" sungut Shaka seraya membuka kap mobil dan mencari sumber masalah yang menyebabkan mobil Reina yang terhitung masih baru itu mogok.
"Jadi ... apanya yang rusak, Kak?" Reina melongok dari balik punggung Shaka sembari tersenyum-senyum.
"Akinya. Soak." Shaka mendecak sebal. "Kalau mau dipake tuh diangetin dulu paling nggak sepuluh menit lah." Shaka berjalan menuju mobilnya. Ia masuk dan memosisikan mobil saling berhadapan. Kemudian, ia keluar dan mengambil alat jumper aki di bagasinya.
Setelah menghubungkan jumper dari aki mobil Reina ke mobilnya, Shaka masuk ke dalam mobil gadis itu lalu menghidupkan mesinnya. Mobil Honda CR-V warna silver itu pun menyala tanpa kendala. Ia menginjak gas hingga suara mesin mobil terdengar meraung-raung.
Beberapa saat menunggu hingga aki pulih, ia melepaskan jumper dan menyimpannya kembali di bagasi mobilnya. "Jangan males nyervis mobil dong, Rei. Besok bawa ke bengkel. Akinya harus dibersihin."
"Kak Shaka yang ngurusin?" tanya Reina dengan mata berbinar.
Reina memanyunkan bibirnya. "Tapi, Kakak di bengkel kan besok?"
"Iya, di bengkel, cuma kerjaan lagi banyak. Ada Danang atau yang lain."
"Ya udah, deh. Makasih ya, Kak." Reina merangkul bahu Shaka seraya bergelayut manja.
"Jangan gini, ah, Rei ... malu dilihat orang!" Shaka melepaskan tangan Reina dari bahunya. "Udah, ya? Tuh udah cukup anget mobilnya. Aku pulang duluan."
"Ih, Kakak ... tungguuu," rengek Reina manja.
"Apa lagi, sih?" Shaka menghela napasnya kasar.
"Temenin makan ...."
"Aduh, nggak bisa. Udah ditunggu orang." Shaka buru-buru masuk ke dalam mobilnya. Ia hanya melambai sekilas pada Reina dan tidak memedulikan wajah cemberutnya. Shaka melajukan mobil meninggalkan Reina dengan segala rasa yang berkecamuk dalam diri gadis itu.
Sepanjang mengemudikan mobilnya pulang, Shaka tidak bisa menghilangkan wajah manis Gendhis yang senantiasa memenuhi benaknya. Sungguh gadis itu membuatnya merasa bahagia, namun juga ada semacam perasaan gugup yang melanda saat berada di dekatnya. Gendhis yang sederhana dan pemalu membuat gadis itu terlihat misterius. Meskipun Shaka belum mengenalnya lebih dekat lagi, namun ia sudah bisa membaca karakter Gendhis yang tidak suka menonjolkan diri.
Baru pertama kalinya Shaka bertemu gadis seperti Gendhis. Ayu, lemah lembut, misterius dan ya, semacam itu. Selepas kandasnya hubungan dengan Nita, Shaka beberapa kali menjalin hubungan dengan perempuan. Namun, tidak ada yang bertahan lama. Masalahnya tidak datang dari perempuan-perempuan itu, namun lebih pada dirinya sendiri, yang sepertinya belum mantap untuk menjalani sebuah hubungan serius.
Apa yang alam semesta rencanakan sehingga ia dipertemukan dengan Gendhis dalam moment yang tidak disangka-sangka? Entah, lihat saja nanti. Shaka terus mengulas senyumnya hingga tanpa sadar ia sudah sampai di depan rumah kontrakannya. Ia memutar kemudi masuk ke halaman. Lalu keluar dari mobil dan melangkah riang masuk ke dalam rumah bercat putih itu.
Baru saja ia berniat untuk membersihkan diri di kamar mandi, ponsel yang ia letakkan di atas nakas di samping ranjangnya bergetar. Nama Dimas yang tertera di layar, membuatnya segera meraih gawainya itu.
"Ya, Dim?"
"Ka, kalau Nita nanya ke lo, bilang semalem gue sama lo, ya?" Suara Dimas di seberang.
"Aduh, apaan, nih? Gue nggak paham, Bro." Shaka menggaruk rambutnya bingung.
"Pokoknya gue minta tolong banget sama lo, Bro. Bilang aja semalem gue clubbing ama lo terus pulangnya nginep di tempat lo, okay. Please, ya?"
"Wah, gimana nih, Dim? Gue jadi bingung."
"Tolongin gue ya, Bro. Makasih banget, Bro."
Shaka hendak menolak permintaan tolong Dimas, namun lelaki itu sudah menutup teleponnya. Ia menggeleng pelan. Kenapa dirinya harus dilibatkan dengan masalah rumah tangga kedua orang itu?
Dan saat Shaka masih memikirkan percakapannya dengan Dimas beberapa saat lalu, satu pesan masuk ke layar ponsel yang masih dipegangnya.
Shaka, semalem kamu sama Dimas?
***