
Gendhis tercekat mendengar ucapan Shaka yang begitu tegas dan lugas. Ia merasa hatinya benar-benar tertohok. Pertama kalinya, ia melihat Shaka marah. π¬πΊππΊπ ππΊππ π½ππ»πΊπ ππ π½πΎπππΊπ ππΊππΊ πΏπππππΊππ ππΊππ π»πΎππππ ππΎππ½πΊπ πΊπ.
"π³πΎπππΎππΊπ ππΊππ π πΊπ, π£πππ. πΈπΊππ ππΎπ πΊπ πππ πππ πππππππ ππΎπππΊπππΊ π»πΊππ-π»πΊππ. π³ππ πππ πππππππ ππΎππΊππΊπΊπππ." π²ππΊππΊ π»πΎππΊπππΊπ π½πΊππ π½ππ½πππππΊ. π²πΎπ»πΎπ ππ ππΎπππ, ππΊ ππΎππΊππΊπ π¦πΎππ½πππ πππππ π»πΎπ»πΎππΊππΊ ππΊπΊπ. "π³πΊππ, ππΊπ πΊπ ππΊππ ππΎππΊππ ππ½πΊπ ππππΊπ πΊπ½πΊ ππΊππΊ πΊππΊπππ ππΊππΊ πΊππ, πΊππ π»πππΊ πΊππΊ, π£πππ. π¬ππππππ ππ½πΊπ ππΊππππππΊ πΊππ ππππΎ-ππ."
π²πΎππΎπ πΊπ ππΎππππΌπΊπππΊπ ππΊπ πππ, π²ππΊππΊ π»πΎππ πΊπ π ππΎππππππΊπ ππΊπ π¦πΎππ½πππ ππΊππ ππΊπππ duduk terdiam di tempatnya. Pandangan matanya kosong, namun hatinya berkecamuk dan dadanya terasa sesak.
Apa aku sejahat itu pada Shaka?
Dan hati kecilnya menjawab, ke mana Gendhis yang dulu begitu jatuh cinta dengan seorang Ryushaka Ardiarta, sampai rela menyerahkan dirinya pada malam terakhir mereka bersama itu. Apakah ia terlalu takut akan dicap sebagai orang yang jahat selama ini, sehingga ia mengabaikan seseorang yang begitu tulus mencintainya? Bahkan menunggunya hingga kini?
Ya Gusti.
Gendhis menoleh ke arah Shaka pergi. Namun ia hanya bisa melihat mobilnya yang sudah melaju meninggalkan halaman rumahnya.
Apa yang ia rasakan kini? Hampa. Kosong. Perih. Nyeri. Sudut matanya pun mengembun. Memang dirinya begitu jahat. Dan satu-satunya orang yang ia jahati adalah Shaka.
"Loh, Dhis, maring ndi Nak Shaka?" Bu Ningsih yang baru saja muncul dari balik pintu keheranan melihat Gendhis duduk sendirian tanpa Shaka.
Gendhis mengangkat wajahnya. "Pulang, Bu."
"Loh, loh, kok pulang? Katanya tadi mau makan malam di sini?" Bu Ningsih semakin keheranan. Apalagi melihat wajah Gendhis yang tampak sedih. "Ono opo to, Ndhuk?" Ia pun akhirnya meloloskan pertanyaan pada putrinya.
Gendhis menggeleng. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Buliran bening di sudut matanya kini jatuh ke pipinya. Ia buru-buru menyusutnya dengan punggung tangan. Namun, Bu Ningsih sempat melihatnya. Perempuan itu pun segera mengambil tempat duduk di samping Gendhis. Ia mencoba melihat wajah putrinya yang kini kembali tertunduk.
"Ono opo, Ndhuk? Cerito kene karo Ibu."
"Nggak papa, Bu."
"Pasti ada apa-apa. Nak Shaka yo ndak pamit sama Ibu loh."
Gendhis tergugu. Dadanya saat ini benar-benar sesak. Seperti ada beban berat yang membuatnya susah untuk bernapas.
"Ndhis ...." Bu Ningsih menyentuh lengan Gendhis pelan. Dan Gendhis pun seketika menghambur ke pelukan ibunya. Tangisnya pun lolos. Tubuhnya terguncang dengan tangisnya. Ia sesenggukkan tidak mampu mengucapkan satu patah kata pun. Seakan-akan dirinya sedang menurunkan beban berat yang selama ini menghimpitnya.
"Wes, wes, Ndhuk. Kene, kene crito karo Ibu, yo. Cep, cep, Cah Ayu." Bu Ningsih mengelus punggung Gendhis. Putrinya itu berada dalam pelukannya. Ia sedih melihat tangis Gendhis yang terdengar pilu, sekaligus gembira karena sepertinya Gendhis sudah memaafkan dirinya secara utuh. Tidak ada yang lebih melegakkan hati selain menghapus semua kesalahan fatalnya di masa lalu. Meskipun dampaknya masih terasa hingga saat ini.
Bu Ningsih menghapus air mata yang membasahi pipi Gendhis saat gadis itu selesai menangis dan melepaskan pelukannya. Matanya sembab dan memerah.
"Aku bingung, Bu." Gendhis berucap lirih. "Aku harus gimana? Aku Jahat banget ya, Bu?"
"Kamu ndak jahat, Ndhis." Bu Ningsih tahu arah ucapan Gendhis.
"Aku jahat sama Mas Shaka, Bu. Selama ini aku hanya memikirkan kebahagiaan orang-orang yang berada di sekelilingku saja. Nayatanya Mas Shaka-lah yang paling menderita dalam masalah ini." Gendhis semakin pilu saat mengingat cerita Shaka kalau dirinya belum pernah berhubungan dengan perempuan manapun setelah dirinya.
"Ndhuk. Ibu kan sudah berulang kali bilang kalau kamu ndak punya kewajiban untuk tetap tinggal di tempat orang tua Bisma. Dan kamu ndak ada kewajiban untuk merawat mereka."
Ucapan sang ibu mengingatkannya pada ucapan Shaka beberapa saat lalu. Hati kecilnya mengatakan semua itu benar.
***
Setelah meninggalkan rumah Bu Ningsih, Shaka enggan pulang ke rumah. Ia ingin sejenak melupakan keresahan yang membelenggu hatinya. Tidak hanya resah, ia pun marah. Pertama kalinya ia merasa begitu marah pada Gendhis. Bahkan dulu saat Gendhis memutuskan untuk menuruti kehendak orang tuanya menikah dengan lelaki pilihan mereka, ia tidak semarah ini. Karena ia masih punya harapan, karena ia percaya hati Gendhis hanya untuknya.
Tapi kini, ia kehilangan sosok Gendhis yang dulu. Shaka kini hanya melihat seorang perempuan keras kepala yang bodoh. Ya, bodoh. Gendhis yang bodoh, egois dan naif.
"Kayaknya gue udah nggak sanggup lagi deh, Han. Udah limit banget harapan gue sama dia." Shaka berucap. Sementara Handi hanya mengangguk-angguk menanggapi curhatan sahabatnya itu. "Lo bayangin aja, Han. Setelah sekian lama gue didera rasa sakit, gue memupuk harapan, gue ngehibur diri gue sendiri, gue menutup diri dari perempuan manapun, sekarang giliran gue sama Gendhis nggak ada penghalang lagi, Gendhis justru memilih untuk menjaga hati mantan mertuanya itu, ketimbang memilih gue. Gila nggak?"
"Ya mungkin dia punya alasan tersendiri, Ka."
"Alaah, bull ****! Egois banget itu namanya."
"Lah lo masih mau nunggu sampai dia nyadar kalau dia udah nyia-nyiain lo?" tanya Handi. Ia meneguk botol birnya.
"Mau nunggu sampai kapan? Sampai gue mati rasa?" timpal Shaka. "Kayaknya gue butuh minum yang agak berat dikit deh. Mas! Hennessy-nya, dong!" panggilnya pada si bartender yang sedang melayani pengunjung lain. Shaka menunjuk ke arah satu botol berbentuk setengah bulat berisi cairan warna orange di rak yang ada di belakang si bartender.
"Full?" tanya si bartender.
"Dua sloki dulu, Bro." Shaka menyahut.
"Pake es batu?"
"Nggak usah. Langsung aja."
Dua sloki whiskey ukuran medium telah disodorkan pada Shaka dan juga Handi. "Nggak usah minum banyak-banyak lo. Bawa mobil loh." Handi mengingatkan.
"Kagak. Aman!" timpal Shaka. Ia meneguk sebagian isi slokinya. "Sampe di mana tadi? Ah, mati rasa, ya? Nah, iya itu ... sampai gue mati rasa, gitu?"
"Ya itu terserah lo sih, Ka ... kalau lo masih percaya si Gendhis bakal balik lagi, ya ... lo tunggu aja sampai kapanpun itu."
"Gue sih bukannya mau coba membuka hati ke cewek lain ya, Ndi. Gue cuma capek aja sih. Ya gue manusia biasa kali. Pasti ada kalanya gue juga jenuh."
"Iya gue ngerti. Paham gue."
Shaka menggeleng. Saat ini ia memang sedang sangat jenuh dengan hal-hal yang berhubungan dengan Gendhis. Jenuh merasakan sakit hati yang tidak berkesudahan. Jenuh mencintai orang yang tidak mau memperjuangkan dirinya.
Malam itu Shaka habiskan dengan beberapa sloki whiskey dan mengobrol panjang lebar dengan Handi. Meskipun, solusi pun tidak ia temukan dari hasil obrolannya dengan sang sahabat.
Pukul sebelas Shaka mengantarkan Handi ke rumahnya, dan ia pun memutuskan untuk pulang ke rumah, mengistirahatkan fisik dan pikirannya. Beberapa sloki minuman beralkohol sedikit membuatnya merasa rileks. Meskipun kemungkinan di keesokan hari, perasaan resahnya akan kembali menghampiri.
Shaka menghentikan mobil di depan pintu gerbang rumahnya. Ia pun turun untuk membuka pintu gerbang yang terkunci. Dan ia dikejutkan oleh seorang pengendara motor yang berhenti di depannya. Ia tidak sempat menghindar saat pengendara motor itu dengan cepat mengambil sebilah pisau dari balik jaketnya, lalu menusuk perut dan dadanya beberapa kali. Kemudian si pengendara motor kabur meninggalkan Shaka yang terkapar bersimbah darah di depan gerbang rumahnya.
***