
"Baik-baik yo, Nduk, di rumah barumu ini. Jadi istri yang baik dan nurut sama suami." Bu Ningsih mengelus pipi Gendhis. Setelah seharian berada di rumah baru milik Bisma, bersama kedua besannya menemani sepasang pengantin baru itu hingga malam, ia dan kedua orang tua Bisma pun berpamitan. Meninggalkan Gendhis bersama Bisma, memberi kesempatan pada mereka untuk berduaan. Begitu yang para orang tua itu pikirkan.
Kenyataannya, Gendhis tidak mengacuhkan Bisma dan masuk ke kamar mandi yang ada di kamar mereka, untuk membersihkan diri. Namun, di ruang sempit dengan suara gemericik air jatuh dari shower itu, Gendhis menumpahkan air matanya. Ia duduk memeluk lutut sambil terisak. Bayangan wajah Shaka tidak pernah lepas dari benaknya, meskipun hanya sedetik saja. Terus dan terus menghantuinya. Hatinya begitu perih. Dadanya begitu sesak. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi hari esok tanpa kehadiran Shaka.
Masih bersimpuh di bawah guyuran air dari shower, Gendhis mengelus perutnya yang rata. Entah kenapa ia begitu berharap ada sebuah kehidupan tumbuh di dalam sana. Jejak yang ditinggalkan sang kekasih dan mampu melipur laranya.
"Dhis, kamu nggak papa? Kok lama banget mandinya?"
"Nggak papa." Gendhis menyahut sembari buru-buru berdiri dan menyelesaikan mandinya dengan cepat.
Keluar dari kamar mandi dengan tubuh berbalut handuk kimono dan rambut basah yang ia tutupi dengan handuk, Gendhis melihat Bisma duduk di tepi ranjang. Sepertinya lelaki itu sudah mandi di kamar mandi tamu. Terlihat dari rambutnya yang sudah disisir rapi dan masih terlihat sedikit basah.
"Sini, Dhis." Bisma menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.
"Aku mau pake baju." Secara tidak langsung, Gendhis meminta Bisma untuk menghadap ke arah lain.
Bisma yang mengerti maksud Gendhis pun mengalah. Ia naik ke atas ranjang dan berbaring memunggungi Gendhis. Perempuan ayu itu pun segera mengambil pakaiannya yang sudah tertata rapi di dalam lemari. Ibu dan beberapa kerabatnya yang sudah mengatur semua barang-barang miliknya dipindah ke rumah ini tadi siang sesuai akad nikah.
"Udah, Dhis?" tanya Bisma tanpa merubah posisinya.
"Udah."
Bisma melihat Gendhis yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin meja rias. Dengan senyum yang tersungging di bibirnya, ia pun mendekati Gendhis. "Cantik ...." Ia berbisik sembari merengkuh tubuh ramping istrinya itu dari belakang.
Akhirnya, setelah menunggu sekian lama, perempuan pujaannya itu kini resmi menjadi miliknya. Meskipun mungkin hati Gendhis belum bisa ia raih, namun, ia memiliki banyak kesempatan untuk membuat Gendhis jatuh cinta padanya.
"Bobok, yuk," bisik Bisma seraya meraih tangan Gendhis dan menggandengnya menuju ranjang mereka.
Di atas ranjang, ia memeluk tubuh indah berbalut piyama panjang itu. Dihirupnya aroma bunga camelia dari rambut panjang Gendhis. Disentuhnya kulit leher jenjang nan halus perempuan yang sebentar lagi akan ia jamah itu.
Gendhis terdiam tanpa merespon apa pun yang dilakukan Bisma padanya. Pun saat tangan lelaki itu meloloskan pakaian yang membalut tubuh indahnya. Ia hanya memalingkan wajahnya ke samping, tidak mau menatap Bisma yang kini sudah berada di atasnya. Memandanginya lekat.
Sungguh Bisma berharap dirinyalah orang lelaki pertama yang menyentuh Gendhis, meskipun keraguan mulai menyelinap dalam benaknya saat ia teringat akan Shaka. Dadanya bergemuruh. Ia berusaha membuang jauh pikiran buruknya. Bisma mengenal Gendhis. Ia tidak mungkin melakukan hal tercela seperti itu.
Namun, rasa ingin tahunya begitu besar. Bisma ingin memastikan, malam pertamanya dengan Gendhis mejadi penentu kebahagiaan kehidupan rumah tangganya. Bisma mungkin akan sangat kecewa jika Shaka adalah orang pertama yang menjamah istrinya ini. Tidak adil, karena Gendhis akan menjadi perempuan pertama yang akan berbagi kebahagiaan dan gairah pertama kali dengannya.
"Dhis, aku sudah menunggu bertahun-tahun untuk bisa memiliki kamu. Aku nggak pernah berhubungan dengan perempuan manapun selama ini karena aku sangat menantikan saat ini."
Gendhis masih memalingkan wajahnya. Sama sekali ia tidak ingin menyahut ucapan Bisma. Matanya terpejam saat ia merasakan bibir Bisma mulai menyapu lehernya dan bagian-bagian sensitif dalam tubuhnya. Namun bukan kenikmatan yang ia rasakan. Sejujurnya bahkan ia tidak merasakan apa-apa. Tidak ada getaran-getaran halus seperti saat Shaka menyentuhnya. Tidak ada tangan yang bergerak sendiri memeluk punggung kokoh yang menindihnya. Tidak ada lenguhan yang lolos dari bibirnya. Tidak ada respon apapun, dan Gendhis memang tidak ingin.
Hingga Bisma tiba-tiba menghentikan semua yang ia lakukan pada Gendhis, tepat ketika ia tidak menemukan kesulitan yang berarti menyatukan diri dengan perempuan itu. Ia hanya sedikit merasa kesempitan saat awalnya saja.
Sesuatu yang ia takutkan akhirnya menjadi nyata. Kemudian rasa kecewa yang teramat sangat, cemburu, sakit mendapati perempuan yang ia tunggu selama ini ternyata telah dijamah oleh laki-laki lain, perlahan menguasai hatinya. Semua itu membuat bagian tubuhnya yang paling berperan untuk menyatukan diri dengan Gendhis, murung dan tidak mau bekerjasama dengan dirinya lagi.
"Kamu udah sering ya ngelakuin itu sama dia?" tanya Bisma dengan suara bergetar.
"Aku cinta Mas Shaka. Seharusnya Mas Bisma sudah tahu itu dan nggak perlu menanyakan hal itu." Kini Gendhis bersuara. Ia lega, lega sekali. Tangannya pelan meraih baju yang tergeletak di sampingnya, lalu mengenakannya.
"Aku kira kamu nggak kaya gitu, Dhis. Kamu perempuan baik-baik. Kenapa kamu bisa melakukan hal tercela seperti itu?"
Gendhis tersenyum miring. "Aku ngelakuin itu dengan orang yang aku cintai dengan segenap jiwa ragaku. Mas Shaka yang berhak mendapatkannya."
Bisma duduk di tepian ranjang seraya memegangi kepalanya, lalu mengacak rambutnya kesal. Kemudian menurunkan kedua tangan dan mengepalkannya. Matanya tertuju pada bagian tubuhnya di antara dua pahanya yang sedang tertidur. Ucapan Gendhis membuat dadanya begitu bergemuruh. Membayangkan Gendhis dan Shaka melewati malam panas mereka membuatnya terbakar API cemburu. Dan seharusnya hal itu bisa membuatnya menjadi buas dan menerkam Gendhis dengan membabi buta. Menunjukkan bahwa ia bisa membuat Gendhis melayang, bahkan lebih dari yang Shaka lakukan. Namun, keinginan hanya tinggal keinginan. Miliknya itu benar-benar tidak mau tahu apa yang otaknya perintahkan. Kenapa bisa seperti ini? Bukankah selama ini dia baik-baik saja?
Apakah semua karena kekecewaan yang luar biasa terhadap Gendhis? Atau apa?
Bisma mulai frustrasi. Ia membaringkan tubuhnya di samping Gendhis yang memunggunginya. Tubuh istrinya itu sudah berada di bawah selimut. Kini hanya tinggal Bisma yang tersiksa dengan keinginan yang tidak terbendung, namun tidak mampu melampiaskannya.
***