Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 30. Ucapan Adalah Do'a.



"Maaf, Pak. Agak telat nganterin Gendhis pulang." Shaka berucap sambil mengangguk kecil pada Pak Sasongko yang sedang duduk di teras rumah, saat ia mengantar putrinya.


Pak Sasongko membalas ucapan Shaka dengan senyum kecil. "Ndak duduk dulu, Nak Shaka?" tawarnya. Mungkin hanya sekedar basa-basi.


"Makasih, Pak. Saya langsung saja. Udah malem." Shaka meraih telapak tangan Gendhis dan menggenggamnya untuk beberapa saat. "Aku pulang dulu, ya?" pamitnya.


Sepeninggal Shaka, Pak Sasongko meminta Gendhis untuk duduk di teras karena ia ingin berbicara dengan putrinya itu. Pembicaraan dari hati ke hati, jika memungkinkan.


"Bapak arep takon, kowe karo Shaka piye (Bapak mau tanya, kamu dengan Shaka bagaimana)?"


"Kulo kalih Mas Shaka saestu, Pak (Saya sama Mas Shaka serius, Pak)."


Pak Sasongko mengangguk-angguk. "Bapak sejujurnya lebih setuju kamu sama Nak Bisma, Ndhuk. Tapi, jenenge ati iku ora iso dipekso (namanya hati itu tidak bisa dipaksa). Ibumu bersikeras menjodohkan kamu dengan Nak Bisma. Kalau Bapak, terserah kamu saja."


Gendhis mengangkat wajahnya. Seulas senyum gembira terbit dari bibirnya. "Matur suwun, Pak."


"Cuma, pesen Bapak, jaga diri ya, Ndhuk. Jangan sampai berbuat sesuatu yang bisa mencemarkan nama baik keluarga."


"Injih, Pak." Gendhis tidak menyangka akan mendapat dukungan dari sang ayah. Selama ini, ia pikir ayahnya itu sependapat dengan ibunya. Ini seperti angin segar untuk hubungannya dengan Shaka. Tinggal meyakinkan sang ibu yang begitu keras kepala. Bu Ningsih bagai ombak ganas di tengah lautan yang siap membuat kapalnya dan Shaka tenggelam. Perempuan itu juga seperti batu karang yang tetap kokoh meskipun disapu gelombang pasang.


"Meskipun kamu bahagia menikah dengan laki-laki pilihan kamu, kalau tidak mendapat restu dari ibumu, yang melahirkan kamu, kebahagiaanmu itu semu." Suatu hari Bu Ningsih berucap pada Gendhis.


"Owalah, Ndhuk, Ibu ki wes tuo, wes wayahe urip tenang, bahagia (Ibu itu sudah tua, sudah waktunya hidup tenang, bahagia). La kok malah kamu buat tertekan seperti ini to, Ndhis?"


"Yang Ibu tidak sukai dari Mas Shaka itu apa, Bu?" Gendhis memberanikan diri untuk bertanya pada sang ibu.


"Banyak. Hampir semua yang ada di diri dia itu Ibu tidak suka. Percoyo karo Ibu. Perasaan seorang ibu itu tajam, Ndhis. Mbok yo manut karo Ibu to, Ndhuk."


"Ngapunten, Bu. Saya berhak memilih siapa yang akan menjadi pendamping hidup saya, Bu. Saya sudah memutuskan kalau Mas Shaka-lah orangnya."


"Nek ngono kuwi, Ndhis. Titenono wae (Kalau begitu, Ndhis. Tunggu saja) ... akan banyak kesialan menimpa keluarga kita. Kamu sudah menyakiti hati Ibu, Ndhis."


Dada Gendhis bergemuruh mendengar ucapan Bu Ningsih yang terdengar seperti sebuah kutukan. Dalam hati ia berdoa, semoga ucapan sang ibu tidak dikabulkan oleh Gusti Allah. Meskipun ada rasa takut tersendiri, mengingat ucapan itu keluar dari perempuan yang telah melahirkan dan membesarkannya.


***


"Anterin aku jemput Mama ke Bandara, Kak, please," rengek Reina pagi itu di rumah Shaka.


"Kamu kan bisa nyetir sendiri, Rei." Shaka yang hendak berangkat ke bengkel merasa begitu terganggu dengan kedatangan Reina yang tiba-tiba.


"Kakiku kemarin terkilir, Kak. Aku tadi ke sini aja naik taksi."


"Ya udah, jemput Mama kamu pake taksi aja. Atau Mama kamu suruh naik taksi aja ke tempat kamu. Beres, kan?"


Reina mendecak sebal. "Mana mau Mama naik taksi."


Shaka menghela napasnya berat. Ia tahu Reina hanya mengarang alasan saja karena semuanya terdengar sangat tidak masuk akal.


"Ini aku mau berangkat ke bengkel, loh." Shaka masih berusaha untuk menolak.


Namun, tidak disangka-sangka, bibir dan mata Reina menukik, dan isakan tangisnya mulai terdengar. "Kak Shaka jahat banget sih nggak mau bantuin aku."


"Aduuuh, malah nangis." Shaka menyugar rambutnya yang sudah sepanjang bahu, dengan kasar. Bingung juga dihadapkan dengan perempuan yang sedang menangis. Jika itu Gendhis, sudah tentu ia akan membawanya ke dalam pelukan. Tapi, ini Reina, yang bukan siapa-siapanya, terlebih lagi tidak ada rasa apapun di dalam hatinya pada gadis itu.


"Abisnya Kak Shaka selalu gitu. Nggak pernah mau bantuin aku. Papa kan udah nitipin aku ke Kakak. Masa aku disia-siain di sini."


Senjata Reina saat mendapat penolakan dari Shaka adalah mengungkit ucapan ayahnya pada Shaka dulu, yaitu mempercayakan dirinya pada Shaka selama berkuliah di Jogja. Dan sialnya memang, Shaka sedikit banyak berhutang budi pada ayah Reina yang dulu membantunya memulai kehidupan baru di kota ini, saat masa-masa kelam pertikaian dengan kedua orang tuanya.


"Ya udahlah, ayo," ucap Shaka menyerah. Toh, hanya mengantar saja tidak membuatnya rugi. Pemilik bengkel adalah teman ayah Reina yang sudah sangat percaya padanya, sehingga jam kerja Shaka pun sebenarnya tidak sama dengan karyawan lain. Ia mendapat banyak kebebasan, asalkan pekerjaan beres.


Betapa gembiranya gadis cantik berambut gelombang itu saat berada satu mobil dengan pria pujaannya itu. Tak henti-hentinya ia bergelayut manja di bahu Shaka yang sedang fokus megemudi.


"Rei, jangan gini dong, ah. Risih aku!"


Gadis manja itu memanyunkan bibir. Namun, sejurus kemudian ia berpikir kalau dirinya memang terlalu berlebihan.


"Duduk yang bener di situ!" perintah Shaka.


Reina meringis. Bukannya marah, ia justru bertambah gemas dengan Shaka. Ia menganggap kalau pemuda tampan itu memang menunjukkan perhatian padanya dengan cara lain. Dengan cara berpura-pura tidak acuh. Yang ia tahu, karakter Shaka memang seperti itu.


***


Perempuan paruh baya berpenampilan sosialita, dengan rambut pendek yang disasak tinggi, tersenyum menghampiri Shaka dan Reina di depan pintu kedatangan penumpang domestik. Namanya Bu Nonik. Ibunda Reina yang baru tiba dari Jakarta.


Bu Nonik memeluk sang putri dengan erat. Lalu bergantian memeluk Shaka. "Kalian ini serasi banget, sih," selorohnya.


"Iya dong, Ma," kekeh Reina sembari menggandeng lengan Shaka dan bergelayut manja.


"Apa kabar calon mantu, nih?" Bu Nonik mengerling pada Shaka. Ucapannya hanya candaan semata, namun syarat akan harapan kalau nantinya Shaka bisa menjadi menantunya.


Shaka mengulas senyum tipis. "Baik, Tante. Sini, biar aku bawain kopernya." Ia mengambil koper dari tangan Bu Nonik dan mendorongnya menuju ke parkiran mobil.


"Tante berapa hari di Jogja?" tanya Shaka basa-basi, saat ketiganya sudah berada di dalam mobil yang melaju keluar dari area Bandara.


"Cuma semingguan aja rencananya. Nih, nengokin pacar kamu, Tante kangen."


Reina yang mendengar ucapan sang ibu, girang bukan kepalang. Selama ini memang kedua orang tuanya tahu kedekatannya dengan Shaka. Mungkin mereka menganggap kalau dirinya dan Shaka sudah menjadi sepasang kekasih. Gadis itu mengamini dalam hati.


Kesempatan satu minggu ini akan Reina manfaatkan sebaik-baiknya. Ibunya tentu bisa membantu dirinya dekat dengan Shaka. Terbayang dalam benaknya, beberapa rencana dadakan yang akan ia wujudkan demi tercapainya tujuan itu.


***