Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 47. Daydreaming.



"Gini aja, Pak. Bapak minta berapa? Biar sama-sama enak. Gitu kan intinya?" Shaka menantang lelaki berkumis tebal dan bertubuh gempal yang duduk di seberang meja. Bersama dua pegawai yang sekaligus menjadi pengawalnya, satu orang pengacaranya, siang itu Shaka menemui si pembuat masalah yang mengganggu pembangunan cluster dan taman rekreasi yang sedang ia kerjakan, di kediaman lelaki itu.


"Waduh, gimana ya, Pak? Masalahnya bukan itu. Saya adalah korban dalam kasus ini. Saya yang paling dirugikan. Ini tanah warisan keluarga saya. Saya punya surat wasiat resmi. Nominal berapapun tidak akan bisa membelinya, Pak."


Shaka menggeram pelan mendengar penuturan lelaki itu yang berbelit-belit. Sudah hampir satu jam diskusi alot itu tidak mencapai titik temu. Muak sekali melihat wajah lelaki itu yang begitu menyebalkan di matanya. Jika tidak ada solusi, maka ia harus bersiap untuk melanjutkan permasalahan itu di meja hijau. Dan tentu saja prosesnya akan sangat panjang dan menyita waktu. Memikirkannya saja sudah membuat kepalanya pening.


"Coba sebutkan saja nominalnya, Pak. Kami bersedia untuk mempertimbangkan. Kita cari solusi yang sama-sama menguntungkan." Sang pengacara angkat bicara menyambung ucapan Shaka.


Lelaki itu seperti sedang mengulur waktu agar tidak terlihat senang dengan tawaran pihak Shaka. Ia ingin menunjukkan nilai tawar yang tinggi, karena ia tahu, kunci masalah ada pada dirinya. "Begini, Pak. Saya sudah tekankan kalau ini bukan masalah uang."


"Dua kali lipat dari harga tanah yang sudah saya deal-kan dengan pihak yang memegang sertifikat," ucap Shaka tanpa basa-basi. Ia ingin segera menuntaskan masalah ini. Meskipun, ia belum memikirkan sumber dana yang akan ia gelontorkan, jika si lelaki itu menyetujui tawarannya. Yang jelas, ia harus siap jika harus merogoh koceknya sendiri.


Meskipun sang pengacara sedikit kaget dengan kenekatan Shaka, namun, ia menyadari bahwa itu adalah jalan satu-satunya agar masalah ini selesai.


"Dua kali lipat?" Si lelaki berkumis mulai membuka diri.


"Ya. Dua kali lipat," sahut Shaka. Ia berharap lelaki itu tidak meminta lebih.


Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya, lelaki itu menyetujuinya. Shaka pun bernapas lega. Satu masalah terpecahkan. Kini tinggal memikirkan masalah selanjutnya.


"Nin, bikinin proposal pengajuan dana pengembangan ke Bos, dong." Sampai di kantor, ia langsung menemui Ninda di ruangan gadis itu yang tepat berada di seberang ruangan miliknya, hanya terpisah oleh koridor.


"Udah beres, Bang?" tanya Ninda. Ia yang sedang berkutat dengan keyboard komputer menghentikan aktifitasnya itu begitu Shaka datang.


"Thanks God, yes."


"Ini berarti bikin semacam proposal dana ganti rugi gitu, kan?" Ninda kembali menghadap ke layar komputernya.


"Yep." Shaka menyahut. "Doain semoga si Bos acc, ya?" kekehnya.


"Semisal nggak acc?" Ninda memiringkan kepala, memandang Shaka di balik layar komputernya.


"Yah, terpaksa kocek pribadi."


Ninda mencebik. Lalu memutar sembilan puluh derajat layar komputer sehingga tidak lagi menghalangi dirinya dan Shaka berkontak mata, meskipun ia lebih banyak menatap layar, sedang jemarinya bergerak lincah di atas tuts keyboard.


"Bang, begadang lagi ya semalem?" tanya Ninda sambil melirik ke arah Shaka yang sedang fokus dengan ponselnya.


"Hmm? Oh, dikit," kekeh Shaka.


Ninda menggeleng pelan. Meskipun Shaka tetap terlihat tampan, namun siapa pun bisa melihat sorot lelah di mata coklatnya. "Jaga kesehatan dong, Bang. Masa mau gini terus."


"I'm okay kok, Nin." Shaka mengulas senyum tipisnya. Dua tahun belakangan ini, kata-kata itu bagai mantra ajaib yang membuatnya mampu berpikir waras. Kata-kata yang mensugesti dirinya bahwa ia akan baik-baik saja. Bahwa luka hatinya akan disembuhkan oleh waktu. Meskipun ternyata waktu tidak bekerja dengan baik menyembuhkan laranya.


Sosok di hadapannya ini memang serupa perempuan yang telah memporakporandakan hatinya, namun tidak sama. Tidak akan pernah sama.


"Tumben pake baju warna cerah?" celetuk Shaka, mencoba mengalihkan pikirannya dari kehampaan yang mulai menyusup ke dalam dadanya.


Nina menunduk memandangi baju warna krem di balik blezer putihnya. "Abang lebih suka yang mana? Aku pake warna cerah atau kaya biasanya, kalem?"


Hadap sini, Dhis. Senyum, dong.


Cantik.


Kayaknya di Jogja banyak pantai-pantai asyik, ya.


Boleh juga tuh, tiap minggu eksplore satu-satu pantai yang ada di sini.


Gimana kalau kita eksplore bareng-bareng, Dhis?


Yaa, kalau kamu nggak keberatan, sih.


Kalau dateng berdua, jadi berasa pantai milik berdua, dong?


"Bang Shaka! Bang! Astaga ... malah ngelamun nih orang!" Suara panggilan Ninda membuat Shaka terjaga dari lamunannya.


"Ya? Apa, Nin?" tanya Shaka dengan wajah polosnya.


Ninda mendecak sebal. "Ini loh, pengajuan mau berapa kira-kira?"


"Owh." Shaka meringis sambil menggaruk kepalanya. Daydreaming. Tentang si pemilik wajah ayu itu. Kenapa waktu justru semakin memperdalam rasa rindunya pada Gendhis Ayuning Ratri?


Apa yang kau rencanakan, Wahai Alam Semesta?


***


Pak Yofan bukanlah tipe ayah yang senang memanjakan anak. Meskipun Shaka adalah putra tunggalnya. Sejak dulu, ia memang keras mendidik dalam mendisik Shaka. Semua itu demi mempersiapkan anak semata wayangnya itu untuk melanjutkan bisnis keluarga yang telah lama dirintisnya.


Dan sikap kerasnya itu sempat membuat Shaka lari dari Jakarta dan menetap di kota lain. Ia membiarkan Shaka melakukan apa pun yang ia mau. Sampai akhirnya, entah apa yang terjadi pada putranya itu, Shaka kembali dengan perubahan sikap yang cukup drastis. Pak Yofan tidak melihat lagi sosok Shaka yang keras kepala dan pemberontak. Ia bahkan tanpa banyak bicara menyetujui tawaran untuk masuk ke dalam perusahaan, meskipun awalnya Shaka harus melalui proses seperti karyawan yang lain.


"Perusahaan hanya bisa menyetujui separuh dari dana pengembangan yang kamu ajukan." Pak Yofan berbicara pada Shaka yang kini duduk di seberang mejanya.


Shaka mengulas senyumnya. Setidaknya ia masih bisa mengusahakan separuhnya lagi dan itu cukup meringankan bebannya. "Terimakasih, Pak."


"Ah, satu lagi, Shaka. Setelah melihat kinerja kamu selama dua tahun ini, saya sudah yakin untuk meminta kamu memegang anak perusahaan kita di kota lain."


Shaka mengerutkan keningnya. "Maksud Bapak anak perusahaan yang ada di Bandung?" tanyanya penasaran.


"Bukan yang ada di Bandung. Saya mau kamu pegang yang ada di Jogjakarta."


Dada Shaka berdebar kencang saat mendengar nama kota yang penuh dengan kenangan termanis dalam hidupnya sekaligus paling menyakitkan itu diucapkan dengan jelas oleh sang ayah. Sungguh Shaka tidak menduganya sana sekali. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa mendengar titah dari bos besar.


Jogjakarta? Apa ia sanggup menginjakkan kaki kembali ke sana? Sementara ia tahu pasti, makhluk manis itu berada di pelukan lelaki lain.


***