Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 11. Tato-mu, Shaka.



"Kowe ki kenal dekne ning ndi, Nduk (Kamu itu kenal dia di mana, Nak)?"


Bu Ningsih berdiri di belakang Gendhis yang sedang menyeduh secangkir kopi untuk Shaka. Gadis itu berdehem sekali untuk melicinkan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering. "Kolo meniko motor kulo bocor teng margi, Bu. Mas Shaka ingkang mbiyantu (Waktu itu sepeda motorku bocor di jalan, Bu. Mas Shaka yang membantu)."


"Owh," gumam Bu Ningsih. "Njuk ngajaki kenalan, ngono kuwi (Terus minta kenalan, begitu)?"


"Njih, Bu." Gendhis mengaduk kopi dengan perasaan tidak menentu. Ia merasa sedang diinterogasi oleh sang ibu.


"Cah ngendi to (Anak mana, sih)?" Bu Ningsih kembali bertanya. Ia masih berdiri di belakang Gendhis. Sementara gadis itu tidak juga menyelesaikan adukan kopinya.


"Jakarta, Bu. Namung, ngasto teng mriki (Tapi, kerja di sini)."


"Kerja di mana?"


Gendhis menghela napasnya dalam-dalam. "Bengkel aksesoris mobil, Bu."


"Owh." Kembali Bu Ningsih bergumam. "Ibu ndeloki tatone kok ngeri yo, (Ibu lihat tato-nya kok ngeri ya), Dhis."


Gendhis memejamkan matanya sejenak. Ia tidak ingin menanggapi ucapan ibunya yang sudah mulai membahas tentang fisik seseorang.


"Cah bagus ngono kuwi kok awake diorak-orek (Anak ganteng kaya gitu kok badannya dicorat-coret)."


"Bu, aku nganter kopi dulu ke depan." Gendhis meletakkan cangkir di atas nampan, lalu membawanya ke teras rumah tanpa memedulikan gumaman ibunya.


Shaka tersenyum melihat Gendhis muncul dari balik pintu membawa secangkir kopi. "Kopinya, Mas," ucap Gendhis.


"Tau aja kamu, Dhis, aku lagi pingin minum kopi," kekeh Shaka. "Kopi item kampung tuh jauh lebih sedep dibanding kopi Starbucks, apalagi dibikinin sama ... wong ayu (orang cantik)."


Gendhis hampir saja tidak bisa menahan tawanya saat mendengar dua kata terakhir yang diucapkan Shaka dengan aksen Jawa-nya yang lucu. Kenapa ia gemas sekali setiap mendengar pemuda itu bicara bahasa Jawa?


"Lah, dia ketawa. Bener, kan, Wong Ayu?"


"Bener kok, Mas." Gendhis menyahut dengan senyum yang tertahan.


"Bukan. Maksudnya kamu ... yang ayu."


"Bisa aja Mas Shaka ini." Gendhis pura-pura menggerutu. Padahal dalam hatinya sudah dipenuhi bunga-bunga bermekaran.


"Yah, dia nggak percaya." Shaka meraih gagang cangkir dan meniup cairan hitam pekat yang masih tampak mengepulkan asap tipis.


"Kalau perempuan ya ayu, Mas. Masa ganteng," seloroh Gendhis membuat Shaka terbahak.


"Iya, deh, iya." Shaka menyesapi cangkir kopinya penuh penghayatan. "Wuahh, manis banget."


"Oh, kemanisan ya, Mas?" tanya Gendhis.


"Iya, soalnya aku minumnya sambil liatin kamu, sih."


Gendhis mendengus sebal. Pipinya kini bersemu merah. Sementara Shaka hanya tertawa-tawa kecil. "Aduh, ngegombalnya receh banget, ya. Sorry, sorry, Dhis," kikiknya. "Boleh ngerokok, nggak?"


"Silahkan aja, Mas." Gendhis yang terlihat gugup mengangguk.


"Enak juga suasana di sini, ya? Nggak berisik."


"Mas Shaka tinggal di daerah mana memangnya?" tanya Gendhis.


"Aku di Jakal."


"Di perumahan, ya?"


"He'em," sahut Shaka seraya menghisap rokoknya dalam-dalam. "Lumayan sepi juga, sih. Tapi rumahmu ini lebih adem rasanya. Bikin betah."


"Mungkin karena rumah kayu, terus banyak pohon juga, jadi adem."


"Kayaknya sih gitu." Lebih bikin adem lagi lihat senyum kamu, Dhis. "Eh, itu bapak kamu, ya?" tanya Shaka saat seorang lelaki paruh baya menuntun sepeda masuk ke halaman rumah. Lelaki berbaju lurik coklat dan bercelana kain hitam itu menyenderkan sepedanya di pagar teras.


"Owh, ada tamu," ucap Pak Sasongko seraya mengulurkan tangan pada Gendhis saat gadis itu akan mencium punggung tangannya. Dari balik kacamatanya, lelaki itu memperhatikan Shaka dan semua yang melekat pada dirinya.


"Selamat sore, Pak." Shaka berdiri dan membungkuk memberi hormat pada Pak Sasongko.


"Temannya Gendhis to? Dari mana ini?" tanya Pak Sasongko ramah.


"Saya Shaka, Pak. Dari Jakal."


"Owh, Jakal. Ya, ya, ya ... monggo dilanjut. Saya tak ke dalem dulu. Baru pulang kerja ini mau bersih-bersih dulu."


"Siap, Pak." Shaka kembali duduk di kursinya, begitu pun Gendhis. Keduanya saling melempar senyum, meskipun setelah itu si gadis buru-buru mengalihkan pandang ke arah lain.


Sementara di dalam rumah, Bu Ningsih menyambut kedatangan sang suami seperti biasa. Namun, kali ini perempuan itu tidak tahan untuk membicarakan pemuda yang dibawa putri mereka ke rumah.


"Piye iki, Pak? Si Gendhis kok malah bawa anak laki-laki ke rumah. Terus Nak Bisma bagaimana?" Bu Ningsih membantu Pak Sasongko melepas kain lurik, dan menyodorkan handuk pada lelaki itu. "Bapak Wes preso to? Awake diorak-orek ngunu kuwi (Bapak sudah lihat kan, badannya dicorat-coret kaya gitu)?"


"Mungkin cuma temen, Bu." Pak Sasongko mengeringkan keringat di wajahnya dengan handuk pemberian sang istri.


"Meskipun begitu kalau Nak Bisma tahu Gendhis punya teman laki-laki berkunjung ke rumah kan yo tetep nggak enak. Mesak ke loh Nak Bisma, Pak. Aku yo nggak enak sama Bu Narti. Kami berdua itu sudah sangat setuju kalau Nak Bisma kawin sama Gendhis."


"Ya liat nanti saja, Bu. Siapa tahu Gendhis sama siapa tadi namanya ... Shaka, cuma teman biasa."


"Aku emoh pokoke, Pak. Kalau sampai Nak Bisma kecewa dan mundur."


"Iyo, iyoo ... nanti bapak bicara sama Gendhis," ujar Pak Sasongko seraya masuk ke dalam kamar mandi.


Bu Ningsih bersungut-sungut. Lalu, rasa ingin tahunya yang besar akan hubungan Gendhis dan pemuda itu, membuatnya menempelkan telinganya ke dinding yang memisahkan ruang tamu dan teras, mendengarkan pembicaraan antara putrinya dan anak Jakarta itu.


"Dhis, aku pamit dulu, ya? Bapak-Ibu di mana?"


Suara Shaka membuat Bu Ningsih buru-buru meninggalkan ruang tamu dan masuk ke dalam kamarnya, kemudian menutup pintu rapat-rapat. Ia tidak menyahut saat Gendhis memanggil-manggilnya beberapa kali. Hingga akhirnya sayup-sayup ia mendengar suara mesin mobil dihidupkan dan perlahan memudar.


***