
Tengah malam Gendhis dikejutkan oleh telepon dari bapaknya Bisma, yang mengabarkan kalau Bisma dilarikan ke rumah sakit karena mengalami anfal. Padahal, tadi sore saat ia mengunjungi suaminya itu, Bisma masih baik-baik saja. Meskipun terlihat lemas, namun, ia masih bisa diajak bicara. Dan mereka sempat berseloroh akan suatu hal.
Gendhis pun segera datang ke rumah sakit di mana Bisma berada. Suaminya itu sedang dalam penanganan dokter di IGD. Ia pun menunggu dengan hati cemas, sementara sang ibu mertua yang duduk di sampingnya terus menangis di pundak lelaki paruh baya itu.
"Tadi sore sebelum kamu datang, Bisma masih baik-baik saja, Dhis," ucap Bu Ratmi di sela-sela isakan tangisnya tanpa melihat ke arah Gendhis. "Setelah kamu pamit pulang Bisma mengeluh sesak napas tapi masih bisa dibawa tidur. Kok sekarang malah jadi begini? Kamu itu ngomong apa sama Bisma, Dhis?"
"Bu ...." Sang suami, Pak Noto menyentuh lengan sang istri pelan, memperingatkannya untuk tidak mengucapkan kata-kata yang bisa menyinggung menantunya itu.
"Tadi, Mas Bisma juga baik-baik saja waktu sama saya, Bu. Kami bahkan sempat bercandaan," terang Gendhis. Lagi-lagi ia dipojokkan. Ingin rasanya ia memberontak, jika saja tidak mengingat kalau perempuan bermulut pedas itu adalah mertuanya, dan juga orang yang umurnya jauh lebih tua serta harus diajeni, meskipun mungkin ia tidak pantas menerima itu.
"Seneng to kowe ndelok Bisma anfal ngene iki ben iso bebas (senang kan kamu lihat Bisma anfal begini biar bisa bebas)!"
"Masya Allah, Bu! Jaga ucapanmu jangan sampai menyakiti perasaan Gendhis. Gendhis itu sama sedihnya dengan kita. Kok tega kamu berkata seperti itu sama dia, Bu?" Suara Pak Noto sedikit meninggi saat berbicara dengan sang istri itu. Lalu lelaki itu menatap Gendhis tidak enak hati. "Maaf ya, Ndhuk."
"Ndak papa, Pak." Gendhis menundukkan kepalanya. Hatinya sakit, tentu saja. Tapi ia sudah terbiasa dengan rasa sakit itu sampai-sampai ia sudah sangat akrab merasa akrab dengan yang namanya terluka. Bagi Gendhis, yang penting ia sudah berusaha untuk menjaga pernikahannya dengan Bisma, meskipun Bu Ratmi selalu menaruh curiga padanya.
"Koma, Dokter?"
Suara pekikan Bu Ratmi terdengar saat seorang dokter memberitahukan keadaan Bisma saat ini. Sang dokter mengatakan kalau Bisma sudah dipindahkan ke ruang ICU. Tapi sayangnya, Bu Ratmi sangat keberatan kalau Gendhis ikut menunggui Bisma di sana.
Pak Noto mencoba untuk menengahi dengan meminta Gendhis untuk pulang dulu kembali lagi besok malam untuk bergantian menunggui Bisma. Gendhis pun pulang dengan perasaan kacau. Ia benar-benar tidak tega dengan Bisma yang kini sedang terbaring tidak berdaya di ruang ICU.
Tidak mungkin dirinya akan meninggalkan suami yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Tidak mungkin ia akan berbahagia di atas penderitaan Bisma, meskipun ia hidup dengan Shaka sekalipun.
***
Sore itu setelah pulang mengajar, Gendhis memutuskan untuk pergi ke rumah ibunya di Kota Gede. Dadanya berdebar saat melihat ada mobil berwarna hitam terparkir di depan pagar. Pasalnya ia mengenal mobil itu milik siapa. Dan dugaannya benar saat masuk ke halaman rumah sambil menuntun sepeda motornya dan memarkirkannga di bawah pohon nangka, ia melihat ibunya sedang berbicara dengan Shaka di teras rumah.
"Loh, Gendhis, panjang umur, Ndhuk. Ibu sama Nak Shaka baru saja ngomongin kamu." Bu Ningsih terkekeh menyambut kedatangan putrinya.
Gendhis meraih punggung tangan sang ibu dan menciumnya. Ia memandang Shaka dan menyunggingkan senyum tipis. "Udah lama, Mas?"
"Baru sekitar lima belas menit sebelum kamu datang," sahut Shaka dengan wajah berbinar. Ia merasa beruntung sekali bisa bertemu dengan Gendhis sore ini meskipun sejak awal niatnya hanya mengantar cemilan lumpia bom untuk Bu Ningsih.
"Nak Shaka ini sering repot-repot nganterin Ibu makan loh, Dhis."
"Owh ...." Gendhis berusaha mencerna keakraban antara sang ibu dan Shaka. Kenapa tidak dari dulu saja begini? Tentunya semua akan baik-baik saja, dan masalahnya tidak akan serumit sekarang. Tidak dapat dipungkiri, rasa sesal pun datang menghampiri. Namun, tidak ada yang dapat ia lakukan selain berandai-andai.
"Ibu masuk dulu, ya ... silahkan Nak Shaka, barangkali pingin ngobrol sama Gendhis." Bu Ningsih beranjak dari duduknya.
"Bawa aja masuk lumpia-nya, Bu," pinta Shaka saat perempuan itu hendak memutar badan untuk masuk ke dalam rumah.
"Loh, ndak mau ngobrol-ngobrol sambil nyemil gitu, Nak?" seloroh Bu Ningsih.
"Aku juga udah makan, kok."
"Ya sudah kalau begitu. Ini Ibu bawa masuk, ya?" Perempuan itu pun membawa bungkus lumpia masuk ke dalam rumah. Ia ingin memberi kesempatan pada Gendhis dan Shaka untuk mengobrol lebih dalam.
"Beneran Mas Shaka sering ke sini?" tanya Gendhis saat hanya ada dirinya dan Shaka di teras.
"Nggak sering-sering juga kok, Dhis. Paling kalau pas aku nggak lembur di kantor. Kaya sekarang ini, nih. Pulang agak cepet dan bingung mau pulang ke rumah. Soalnya di rumah nggak ada yang nunggu juga," terang Shaka disambung dengan kekehan.
Gendhis menanggapi ucapan Shaka hanya dengan senyuman kecil. Ia sendiri juga merasa kesepian di rumah. Dan itu yang membuatnya memutuskan untuk datang kemari. Ah! Rupanya ia dan Shaka sedang berada di fase yang sama.
"Dhis, aku minta kamu pertimbangin ya semua yang aku katakan sama kamu. Aku serius, aku bakalan nunggu kamu sampai kapanpun."
"Mas, tolong ngerti posisiku. Aku punya suami. Aku nggak bisa ninggalin suamiku."
"Bukan karena kamu sayang sama dia. Tapi karena kamu kasihan. Aku pikir udah saatnya kamu mengasihani dirimu sendiri, Dhis. Kamu berhak bahagia. Dan bahagiamu itu sama aku."
Gendhis menggeleng pelan. Terlihat jelas betapa suram wajah ayunya kini.
"Aku nggak bisa sama perempuan lain, Dhis."
"Karena Mas Shaka menutup diri. Cobalah membuka hatimu, Mas. Masih banyak perempuan yang jauh lebih segalanya dari aku."
"Aku nggak pingin!" Shaka menaikkan intonasi suaranya. "Pokoknya aku bakal nunggu kamu sampai kapan pun. Sampai suamimu ...."
Gendhis terperangah. Ia sudah bisa menebak kelanjutan ucapan Shaka. "Ya Allah, Gusti ... tega banget Mas Shaka ngucapin itu. Suamiku lagi sakit parah, Mas. Bahkan sekarang lagi koma di rumah sakit. Dia lagi berjuang buat bertahan hidup. Sampai hati Mas Shaka ngomong kaya gitu."
"Koma?"
Gendhis tidak menyahut. Hatinya sudah porak-poranda sekarang. Ia marah pada Shaka, pada dirinya, dan pada keadaan. Lalu ia bangkit dari duduknya. "Tolong jangan muncul lagi dalam hidupku, Mas. Tolong jangan mempersulit keadaanku."
Shaka terdiam. Namun rahangnya mengeras karena gigi-giginya beradu menahan geram. "Nggak, Dhis. Sekali ini aja aku pingin egois. Maaf kalau aku terdengar tidak bersimpati dengan keadaan suamimu. Secara kemanusiaan aku bersimpati atas penyakit yang sedang dideritanya. Tapi, bukan berarti itu jadi alasan untuk merenggut kebahagiaan orang lain!" tegasnya.
"Berhentilah bersikap seakan-akan kamu itu malaikat, Dhis!"
***
Uh yeah, aku bikin cerita kocak, dong.