
"Dhis ...."
Perempuan ayu itu menoleh. Terkejut, sampai-sampai tubuh rampingnya bergerak mundur satu langkah. Bibir tipisnya yang dipoles pelembab berwarna merah muda pun mengatup rapat. Hanya sepasang mata indahnya saja yang beradu dengan iris coklat milik Shaka, dalam diam.
Untuk beberapa saat lamanya, dunia seakan berhenti bergerak dan memberi kesempatan untuk kedua manusia yang sedang memendam rindu itu, saling memindai tampilan luar masing-masing. Semuanya tidak ada yang berubah, masih sama seperti saat pertama kali keduanya dipertemukan oleh alam semesta.
"Mas Shaka," ucap Gendhis setelah berhasil mengendalikan diri dari detak jantung yang kacau, keringat dingin yang membasahi kening, dan hatinya yang terasa perih. Bagaimanapun, apa yang ia lihat malam itu, adalah pertanda bahwa lelaki tampan di hadapannya ini, sudah menjadi milik orang lain.
Ekspresi Gendhis di mata Shaka kini terlihat datar, meskipun untuk sesaat tadi, ia bisa melihat keterkejutan dalam sorot matanya. "A-apa kabar, Dhis?" Di sela-sela suara gamelan pengiring tari-tarian, Shaka berucap.
"Baik." Gendhis hampir saja lupa mengulurkan tangan untuk menjawab Shaka, layaknya dua orang saling mengenal yang kebetulan tidak sengaja bertemu. Shaka menyambut tangan Gendhis, menggenggamnya untuk beberapa saat. Jika perempuan ayu itu tidak menarik tangannya dari gegaman Shaka, maka sejujurnya ia berniat untuk tidak melepaskannya sampai beberapa menit ke depan. "Mas Shaka gimana kabarnya?"
"Seperti yang kamu lihat, nih. Aku nggak tahu apa aku terlihat baik atau buruk," kekeh Shaka. Lihatlah, ia bahkan tidak mampu mengalihkan pandangan dari makhluk berbalut dress bunga-bunga di hadapannya yang sedang sibuk menghindari tatapan matanya itu. "Kamu nggak nari?" tunjuknya ke arah pendopo.
"Nemenin murid tampil, Mas."
"Oh, yang mana muridmu?" tanya Shaka seraya memeriksa satu persatu anak perempuan yang sedang melenggok di dalam pendopo.
"Yang paling kiri."
Oh, Alam Semesta, betapa baiknya diriMu. Shaka mengulas senyum tipis. Marsha murid Gendhis. Ia sudah menduganya. Firasatnya memang tajam. Baiklah, sebaiknya ia bersikap sewajar mungkin pada sang pujaan hati. Jangan menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi. Seperti, sudahkah Gendhis bercerai dari suaminya?
"Mas Shaka kenapa ada di sini?"
Shaka kembali mengulas senyumnya. Ia mendadak bernostalgia akan masa-masa awal mereka bertemu. Canggung dan canggung. Namun, dahulu Shaka mampu mencairkan suasana. Lalu kenapa sekarang rasanya berbeda? Ia yang biasanya bersikap hangat, kini mendadak terserang wabah bingung.
"Nggak tahu tadi lewat deket-deket sini, tiba-tiba pingin mampir aja. Pingin nostalgia kayaknya," kekeh Shaka.
Gendhis mengulum senyum tipis. Wajahnya terasa panas oleh hawa aneh yang tiba-tiba saja menyerangnya. Apa yang harus ia katakan sekarang? Sementara obat dari luka hatinya saat ini berada di hadapannya. Sesaat, melihat wajah Shaka, seakan melepaskan semua beban yang menghimpitnya selama ini. Apalagi jika ia bisa memeluknya, akankah ia terbang oleh perasaan lega yang teramat sangat?
"Aku belum lama balik ke Jogja lagi, Dhis," ucap Shaka tanpa ditanya.
"Owh, Mas Shaka emang sebelumnya tinggal di mana?" tanya Gendhis. Jadi benar, selama dua setengah tahun ini, ia merasa sendirian di kota ini. Rupanya, Shaka memang tidak ada di sini.
"Balik ke Jakarta." Shaka berdiri di samping Gendhis, seraya menonton pertunjukan tari yang ditampilkan oleh Marsha dan teman-temannya.
Gendhis mengangguk-angguk. Sejak tadi tenggorokannya terasa kering. Ia pun harus berkali-kali menelan saliva untuk membasahinya. "Di Jogja dalam rangka apa, Mas?" Ia memberanikan diri untuk bertanya. Semoga saja jawaban Shaka bukan sedang berlibur dengan istri atau pacarnya, perempuan cantik yang ia lihat bersama Shaka malam itu. Tapi, meskipun benar seperti itu, apa dirinya berhak untuk cemburu, atau bahkan marah?
"Kerjaan sih."
Gendhis menghela napas lega. "Owh, kerja di mana, Mas?"
"Ada lah perusahaan developer kecil, dapet tugas dari bos untuk ngurusin proyek yang di sini."
Sejauh ini, belum ada obrolan yang lebih mendalam dari sekedar saling bertanya kabar dan kegiatan masing-masing. Baik Gendhis maupun Shaka, sama-sama takut mengorek keterangan akan kehidupan pribadi masing-masing. Keduanya benar-benar bagai dua orang asing yang baru saja berkenalan. Bahkan Shaka, yang seharusnya marah karena diputuskan sepihak oleh Gendhis, yang tadinya ingin meminta penjelasan tentang malam panas mereka dan keesokan harinya ia ditinggalkan menikah dengan lelaki lain, kini belum mampu menyinggung hal itu. Hal yang membuatnya luka selama ini.
"Kamu masih sama, Dhis." Shaka menoleh sekilas pada Gendhis di sampingnya.
"Ya semuanya."
"Aku emang nggak merubah apa-apa." Gendhis tersenyum hambar.
Nggak merubah apa-apa? Termasuk pernikahanmu dengan lelaki itu? Apakah masih sama? Apakah dia masih jadi suamimu?
"Anak udah berapa?" Sejujurnya Shaka tidak sanggup mendengar jawaban Gendhis. Keringat dingin mengalir di kening dan juga telapak tangannya.
"Satu." Jawaban Gendhis seperti sebuah anak panah yang menghujam jantung Shaka. "Anaknya adekku, sih. Cuma udah aku anggap anakku sendiri."
Lega. Shaka menghela napas lega. Haruskah ia pancing lagi Gendhis dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih mendalam? Siapkah ia dengan jawabannya?
"Pulangnya dijemput, nggak?" tanya Shaka.
"Enggak sih, aku nganter Marsha pulang naik taksi nanti."
Tidak dijemput siapa-siapa? Ke mana si Bisma itu?
"Masih tinggal di Kota Gede?"
Gendhis menggeleng. "Sekarang di Condong Catur."
"Owh, bareng suami, ya?"
Gendhis tersenyum kecut, lalu menggeleng. Gelengan kepala yang memberikan angin segar untuk Shaka. Ke manapun suaminya itu, yang jelas ia tidak tinggal bersama Gendhis. Kemungkinan mereka terpisah kota karena Bisma yang pegawai negeri dipindahkan kerja, atau kabar terbaiknya, mereka sudah bercerai.
"Minta nomer HP boleh, Dhis?" tanya Shaka hati-hati.
Gendhis terhenyak. Apa dirinya harus memberikan apa yang Shaka minta? Bukankah itu sama saja bersedia menorehkan luka yang lebih dalam lagi di hatinya? Shaka sudah memiliki perempuan lain dan untuk apa mereka berhubungan kembali. Sudah cukupkan saja pertemuan tak sengaja mereka hanya sampai di sini.
"Nggak tahu, Mas. Sebaiknya nggak usah, ya?" tolak Gendhis. Berat memang, tapi ini demi kebaikannya dan juga Shaka.
"Yaah, kenapa?" Shaka memasang wajah kecewanya.
"Nggak papa." Nanti perempuanmu marah kalau tahu ada kontak mantan pacar di ponselmu. Dan aku juga sepertinya tidak sanggup untuk menyaksikan Mas Shaka bahagia dengan perempuan lain.
"Hmm ... ya udah deh." Shaka menghela napas kecewa. Baiklah, mungkin saat ini, cukup sampai di sini dulu pendekatannya dengan perempuan manis itu. Toh ia masih bisa bertemu dengan Gendhis lagi di rumah Bakti. Atau menunggunya sampai selesai mengajar tari Marsha. Masih banyak jalan. Masih banyak waktu untuk mengembalikan apa yang dulu sudah dihancurkan oleh orang-orang egois. Calm down, Shaka.
Tidak terasa obrolan ringannya dengan Gendhis berlangsung hingga Marsha menyelesaikan tariannya. Shaka pun dikejutkan dengan getar ponsel di saku celananya. Ia segera meraih benda pipih itu dan membuka layar.
Bang, aku harus nunggu berapa lama lagi? Tadi bukannya udah bilang lagi otw, ya? Kok hampir dua jam nggak nyampe-nyampe?
***