Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 59. Faith.



Masalah di proyek rupanya cukup menguras pikiran Shaka. Pasalnya, setelah diusut, memang terjadi kecurangan dengan adanya material yang digelapkan. Laporan keuangan dan semua nota-nota pembelian material lengkap. Namun, ternyata sebagian bahan bangunan telah dijual kembali untuk keuntungan pribadi. Pelakunya adalah salah satu orang kepercayaan Bakti.


Masalah tidak hanya berhenti di situ saja setalah pelaku dikenakan sanksi. Proyek perumahan yang sudah berjalan hampir setengah itu tentunya memiliki kwalitas buruk dengan adanya kecurangan itu. Memang si pelaku dituntut untuk mengembalikan semua yang telah masuk ke kantong pribadinya, namun tentu saja prosesnya akan bertahap. Sementara target perusahaan harus terpenuhi. Shaka tidak mungkin meminta penambahan dana dari perusahaan. Semua murni tanggungannya sebagai penanggung jawab proyek di kota ini. Meskipun ada Bakti yang juga ikut bertanggung jawab karena kecurangan dilakukan oleh salah seorang karyawannya.


Di tambah lagi masalah Gendhis yang juga membuatnya kacau. Seharusnya di saat-saat seperti ini ada seseorang yang memberi kekuatan atau sekedar mendengarkan keluh kesahnya. Satu-satunya orang yang setia berada di sampingnya hanya sang sekretaris, Ninda. Namun, tidak akan sama jika Gendhis-lah yang berada di sisinya.


"Bang, pulang dulu, istirahat." Ninda muncul dari balik pintu ruangan Shaka. Prihatin melihat bos-nya itu dalam keadaan kacau. Rambutnya berantakan akibat sering ia acak kasar sepertinya. Wajahnya kusut meskipun masih terlihat tampan.


"Bentar lagi, Nin. Sini, aku mau ngomong," ucap Shaka.


Ninda melangkah masuk dan mengambil tempat duduk di seberang meja Shaka. "Gimana, Bang?" tanyanya.


"Besok kamu bisa urus semua berkas pengajuan RC ke bank ya, Nin."


"Udah mantep?"


"Mau gimana lagi. Nggak ada solusi lagi."


"Okay, deh."


Shaka mengulas senyumnya. "Makasih ya, Nin."


Ninda mengangguk. "Ya udah, Bang ... sekarang pulang dulu. Udah mau magrib loh ini."


Shaka membulatkan matanya. Seketika ia memeriksa jam di pergelangan tangannya. "Ya ampun. Kok kamu belum pulang, Nin?" tanyanya heran.


"Nungguin Abang. Takutnya ada hal-hal yang perlu aku beresin."


"Aduhh, kenapa nggak ngomong sih?"


"Ya tadinya pas kerjaan selesai udah mau pulang, cuma nggak tega aja ngeliat Abang kayaknya lagi pusing banget. Jadi, ya aku tungguin aja siapa tahu butuh aku gitu," kekeh Ninda.


Shaka meraih jaket parka yang ia sampirkan di kursinya. Lalu menutup laptop dan memasukkannya ke dalam tas. "Pulang, yuk. Aku anter."


Ninda tersenyum dan mengangguk. Ia lalu mengikuti Shaka keluar dari ruangannya, lalu turun ke lantai bawah dan melewati lobi yang lengang. Hanya ada satu orang satpam yang sedang berkeliling mengecek gedung.


"Baru mau pulang, Pak Shaka?" tanya satpam itu ramah.


"Iya, Pak. Mari," sahut Shaka seraya mengulas senyumnya.


"Njih ...."


Shaka melangkah menuju mobilnya yang terparkir di area parkir khusus petinggi kantor, diikuti oleh Ninda. Gadis itu menempatkan diri di kursi penumpang di samping Shaka. "Mau langsung pulang, Bang?"


"Nggak tau nanti. Kamu mau langsung pulang, kan?" tanya Shaka seraya melajukan mobil keluar area kantor.


"Abang nggak butuh temen ngobrol?"


Shaka menggaruk rambutnya. "Ya, butuh sebenernya, sih." Tapi, yang ingin ia ajak berkeluh kesah masih jadi istri orang.


"Kalau Abang mau ke mana gitu buat refreshing, aku siap temenin."


"Makasih, Nin ... tapi kayaknya aku pulang aja, deh. Penuh ni kepala. Mau tidur."


"Jangan lupa makan, Bang. Nanti maag-nya kambuh." Ninda mengingatkan Shaka sebelum membuka pintu mobil.


"Iyaa. Sampai besok, Nin." Shaka melempar senyumnya pada gadis itu. Lalu melajukan mobilnya kembali begitu Ninda menutup pintu.


Sejujurnya ia belum ingin pulang ke rumah. Namun ia tidak tahu harus ke mana. Rasanya ia hanya ingin menemui Gendhis, tapi ia tidak ingin menyulitkan posisinya. Meskipun mulut Gendhis mengatakan ia menyayangi suaminya, namun matanya tidak bisa berbohong. Gendhis mengatakan sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang ia rasakan. Shaka yakin akan hal itu. Ya, ia mengerti, Gendhis adalah perempuan berhati malaikat yang rela menderita demi melihat orang lain bahagia. Inilah yang harus ia luruskan. Hidup ini singkat. Jangan sampai membuang waktu dengan orang yang salah.


Sepertinya ia harus mengatur ulang strategi. Ia melajukan mobilnya menuju arah Kota Gede, menuju satu rumah yang tiba-tiba terlintas dalam benaknya.


Pintu pagar bambu yang dicat putih itu tertutup rapat. Rumah joglo yang asri itu pun tampak lengang. Shaka keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam halaman rumah yang cukup luas lalu menuju teras rumah yang hanya diterangi lampu berwarna kuning.


Ia mengetuk pintu kayu yang sudah lusuh itu pelan. Beberapa saat kemudian, pintu pun terbuka. Seorang perempuan paruh baya muncul dari balik pintu dan langsung mengulas senyum melihat kedatangannya.


"Loh, Nak Shaka ... mari, mari, silahkan masuk." Perempuan itu, Bu Ningsih, menyapa Shaka ramah.


"Di teras aja, Bu," sahut Shaka. Ia memberikan dua kotak makanan dalam bungkus plastik warna putih pada Bu Ningsih yang tadi dibelinya di jalan.


"Loh, apa ini? Repot-repot loh, Nak Shaka." Bu Ningsih menerima pemberian Shaka dengan senang hati.


"Tadi beli makan buat dimakan di rumah niatnya, Bu. Cuman, kayaknya makan sendirian tuh nggak enak," kekeh Shaka. "Jadi, aku putuskan ke sini aja, deh. Makan bareng Ibu."


"Howalah ... Nak Shaka iki loh, tahu saja Ibu belum makan dan ndak masak juga. Niatnya tadi mau pesen gofood saja. Maklumlah, tinggal sendiri." Ia membuka bungkusan plastik dan menyiapkannya untuk disantap berdua dengan calon menantu yang masih dalam proses panjang. Nasi cumi saus tiram yang tampak lezat pun terhidang di atas meja.


"Ibu nggak ada alergi seafood, kan?" tanya Shaka.


"Ndak, ndak ada, Nak Shaka. Makasih loh ini."


"Sama-sama, Bu." Shaka mengulas senyumnya. Ide bagus mengajak Bu Ningsih makan bersama. Hitung-hitung mendekatkan dirinya dengan calon mertuanya itu. Sekalian saja mengobrol tentang Gendhis demi mengobati kegalauan hatinya.


"Aku udah ngomong ke Gendhis, Bu." Shaka berucap di sela-sela aktifitasnya mengunyah makanan.


"Ngomong apa, Nak Shaka?"


"Tentang niatku untuk balikan lagi, Bu." Shaka terkekeh, hambar.


"Oh ya? La terus Gendhis-nya gimana, Nak?"


"Itu dia masalahnya, Bu. Gendhis bilang dia sayang sama suaminya dan nggak mau ketemu lagi sama aku."


"Alon-alon saja, Nak. Ibu sih mendukung kamu balik sama Gendhis. Tapi, Gendhis kan ya memang masih terikat pernikahan dengan Bisma. Yang bisa Ibu katakan cuma sabar dulu."


"Iya, Bu ... aku sabar menunggu. Asal aku tahu Gendhis-nya masih cinta sama aku, Bu."


"Masih, Nak Shaka, masih. Percaya saja." Bu Ningsih menghela napasnya berat. "Semua gara-gara Ibu. Seharusnya Gendhis hidup bahagia dengan kamu, Nak."


"Udah, Bu. Nggak usah diinget-inget lagi. Semua udah terjadi. Yang penting sekarang aku udah di sini lagi dan siap menunggu Gendhis." Shaka mengelus punggung tangan perempuan paruh baya itu. "Nggak tahu ya, Bu. Aku tuh yakin banget bakal ada hal besar yang terjadi, yang buat Gendhis balik lagi sama aku, Bu."


"Amin, Amin, Nak Shaka."


***