Gendhis (Pangrasa Ning Ati)

Gendhis (Pangrasa Ning Ati)
Bab 63. Be Rational, Dhis!



"Kaki sebelah mana yang pegel, Bu?" Gendhis duduk di tepi ranjang Bu Ratmi. Perempuan paruh baya yang sedang berbaring itu memandangnya sinis. "Saya pijitin," lanjutnya.


"Ndak usah!" sahut Bu Ratmi ketus. Namun Gendhis tidak menghiraukan penolakan sang ibu mertua. Ia memijit kaki sebelah kanan Bu Ratmi tanpa memedulikan raut wajah tidak suka perempuan itu.


"Kok bisa keseleo tadi habis ngapain, Bu?" tanya Gendhis. Pak Noto tadi memberitahukan kaki sang istri terkilir tadi sore.


Bu Ratmi tidak menjawab pertanyaan Gendhis. Ia justru menatap sang menantu dengan tatapan penuh selidik. "Kamu sering janjian ketemu sama mantan pacar kamu dulu itu kan, Dhis?"


Gendhis mengerutkan keningnya. "Enggak pernah, Bu." Ia menjawab dengan sejujur-jujurnya.


"Loh, ya itu hak kamu kalau kamu berniat untuk kembali sama mantan pacar kamu."


Gendhis tahu. Perempuan ini hanya memancingnya saja. Memancingnya untuk mengatakan sesuatu yang bisa membuatnya menjadi tersangka.


"Saya setia sama Mas Bisma, Bu. Perlu Ibu tahu, saya tidak pernah menghianati Mas Bisma sedikitpun." Gendhis terlihat tenang. Ia tidak terpengaruh dengan ucapan Bu Ratmi.


"Itu kan yang kamu bilang. Di belakang ya ndak tau."


Gendhis menghentikan pijatan tangannya di kaki sang ibu mertua. "Kenapa Ibu bisa berpikir seperti itu?" tanyanya.


"Loh, siapa tau, kan? Buktinya kan waktu Bisma masih ada, tetangga sebelah liat kamu dianter sama laki-laki. Siapa lagi kalau bukan pacar kamu dulu itu."


Gendhis menghela napasnya dalam-dalam. "Soal itu saya sudah menjelaskannya sama Ibu."


Bu Ratmi tersenyum sinis. "Jangan harap kamu bisa lepas dari rasa bersalah kamu karena sudah membuat anakku sakit, sampai meninggal ...." Perempuan itu tersedu. Bahunya terguncang karena tangis.


"Bu ...."


Bu Ratmi menepis tangan Gendhis yang hendak mengelus punggungnya. "Ndak usah lah kamu berpura-pura simpati dengan keluarga kami. Kamu hanya ingin menutupi rasa bersalah kamu saja, bukan? Bisma meninggal gara-gara kamu!" Ia berseru, mendorong bahu Gendhis sedikit keras.


Gendhis tercengang. Ini pertama kalinya Bu Ratmi mengucapkan kata-kata itu tanpa basa-basi. Menuduhnya menjadi penyebab kematian Bisma. Hatinya yang sudah mulai ikhlas menerima semua ini, kembali tersayat.


Ia masih manusia biasa. Nyatanya tuduhan Bu Ratmi mampu membuat benteng yang ia bangun untuk menjaga hatinya dari semua hal-hal negatif, jebol.


"Sugeng ndalu, Bu." Gendhis pamit undur diri dengan hati yang berkecamuk menahan perih dan juga marah. Bahkan matanya kini mengembun, sebagai reaksi dari luka yang kini sedang ia rasakan.


"Ndhuk, jangan diambil hati kata-kata Ibu, ya." Pak Noto membuat Gendhis terkesiap. Ia buru-buru menyusut buliran bening yang lolos dari sudut matanya.


"Njih, Pak."


"Bapak terimakasih sekali, Ndhis, kamu mau tinggal di sini, mengurus Bapak sama Ibu, padahal kamu seharusnya bisa melanjutkan hidupmu, menggapai kebahagiaanmu. Tapi, kamu memilih untuk menggantikan peran Bisma di sini."


"Saya ikhlas, Pak. Saya tidak ada tujuan apapun. Saya sudah menganggap Bapak sama Ibu, orang tua saya sendiri." Pak Noto menepuk pelan bahu Gendhis sebelum ia pamit masuk ke dalam kamarnya.


Gendhis menutup pintu kamar, lalu menyandarkan punggungnya di sana. Kepalanya mendongak menatap langit-langit kamar, bermaksud menahan buliran bening yang hendak lolos membasahi pipi.


Sudah benarkah keputusannya ini? Hatinya mulai bertanya-tanya. Sejujurnya ia sudah ikhlas. Ia sudah tidak peduli lagi dengan kebahagiaannya sendiri. Sampai beberapa saat lalu Bu Ratmi mengucapkan kata-kata yang benar-benar menyakiti hatinya.


***


"Gendhis masih tinggal dengan mertuanya?" Shaka mengulang ucapan Bu Ningsih saat ia menanyakan keberadaan Gendhis.


"Iya, begitu, Nak Shaka. Ibu bener-bener ndak ngerti jalan pikiran Gendhis." Bu Ningsih menghela napasnya berat. "Gendhis kan sudah ndak ada kewajiban apa-apa sama mertuanya itu."


Shaka menggeleng. Kenapa semakin jauh saja rasanya perempuan pujaannya itu. Kenapa bisa jadi begini? Di mana makhluk manis yang dulu rela menyerahkan diri padanya? Di mana sorot mata penuh cinta yang dulu pernah ia temukan di mata indahnya?


Di mana kamu, Gendhis Ayuning Ratri?


"Haaiki gendhuk e teko (Nah ini anak perempuannya datang)." Ucapan Bu Ningsih membuat Shaka spontan menoleh ke luar teras. Ia melihat Gendhis sedang membuka pagar bambu dan melangkah masuk ke halaman rumah.


"Hello, Dhis." Shaka tersenyum penuh harap. Berharap raut wajah ayu yang kini terlihat dingin itu, kembali menghangat. "Baru pulang ngajar?" tanyanya.


"Iya, Mas." Hanya seulas senyum hambar dari bibir Gendhis yang dipoles lipstik tipis warna salem itu.


"Duduk sini dulu, Ndhuk. Diajak ngobrol Nak Shaka-nya. Kasihan loh sudah nungguin kamu dari tadi." Bu Ningsih beranjak dari duduknya lalu menarik lengan Gendhis dan mendudukkan gadis itu di seberang Shaka. "Nak Shaka maem sini, ya? Ini loh Ibu mau masak buat makan malam. Gendhis juga maem sini ya, temenin Ibu."


"Owh, boleh, boleh, Bu." Shaka menyahut dengan gembira. Ia melirik ke arah Gendhis yang tengah mengangguk mengiyakan permintaan ibunya.


"Ya sudah, Ibu ke belakang dulu. Kalian ngobrol-ngobrol saja. Santai saja," ucap Bu Ningsih.


"Siap, Bu," sahut Shaka. Kembali ia melirik ke arah Gendhis. Makhluk manis itu mengulas senyum tipis untuk sang ibu.


Untuk beberapa saat keduanya membisu. Ada yang sedang menyusun kata-kata dalam benaknya, ada pula yang sedang gundah. Shaka sedang memilah milih kata yang tepat untuk memulai sebuah pembicaraan. Sementara Gendhis, yang sebelumnya telah ikhlas melepas Shaka, kini hatinya mulai menuju ke persimpangan jalan.


"Dhis, Ibu bilang kamu tinggal sama orang tua almarhum suami kamu?" Shaka memulai obrolan dengan sebuah pertanyaan yang begitu mengganggunya.


"Iya, Mas." Gendhis mengangguk. Ia melempar pandang menghindari tatapan Shaka.


"Kenapa? Kamu kan udah nggak ada urusan sama mereka lagi?" geram Shaka. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Gendhis.


"Aku pisah sama Mas Bisma karena kematian, Mas. Bukan karena cerai."


"Terus?"


"Orang tua Bisma adalah orang tuaku."


"Terus gimana dengan ibu kandung kamu? Dia tinggal sendirian di sini, nggak ada yang nemenin, nggak ada yang ngurusin. Sementara kamu malah sibuk ngurusin orang lain."


Gendhis menarik sudut bibirnya. "Mas Shaka tentu tahu lah alasannya."


"Dendam?" tebak Shaka. Gendhis memalingkan mukanya. "Kamu nggak lihat effort ibu kamu untuk memperbaiki semuanya?"


"Mas Shaka tahu nggak apa yang udah aku alami selama ini?"


"Aku juga bisa nanya gitu ke kamu. Kamu tahu nggak apa yang udah aku alami selama ini? Tahu nggak, aku tanya sekarang?!"


Napas Gendhis terdengar berat. Ia mengepalkan tangannya.


"Kamu pikir kamu doang yang paling menderita? Kamu pikir kamu doang yang bergulat dengan rasa hampa dan sepi yang nggak ada ujungnya?"


Gendhis mengangkat wajahnya, lalu menatap Shaka lekat. "Ada orang meninggal dalam masalah ini, Mas."


"Terus kenapa? Apa kita yang harus bertanggung jawab atas meninggalnya Bisma? Kamu pikir kita yang pegang takdir, gitu?" Shaka membalas tatapan Gendhis. "Ayolah, Dhis, pikir rasional dikit lah!"


Gendhis kembali memalingkan wajahnya. Sepertinya ada genangan bening di sudut matanya. Ia buru-buru menyusutnya agar tidak sampai jatuh ke pipinya.


"Denger, Dhis ... kamu terlalu fokus dengan masa lalu. Kalau mau ada yang disalahkan, salahkan semua orang yang telah memisahkan kita. Salahkan ibumu, salahkan mertuamu ... bahkan salahkan suamimu yang udah mati itu!" Shaka mengangkat satu tangan, mencegah Gendhis untuk berbicara.


"Jangan dipotong dulu! Aku belum selesai ngomong!" tegas Shaka. Ia menatap Gendhis frustrasi. "Kamu boleh aja merasa bersalah segede apapun atas kematian Bisma. Tapi, pernah nggak kamu mikirin aku gimana? Kamu kaya gini tuh bikin aku sakit, Dhis. Lebih sakit malah, karena sekarang aku nggak hanya kehilangan fisikmu. Tapi aku juga kehilangan jiwamu, Dhis!"


"Aku nggak terima kamu memperlakukan keluarga suamimu yang udah mati itu, seakan-akan merekalah orang yang berperan penting ngasih kamu kebahagiaan. Aku, Dhis, aku orangnya yang berhak diperlakukan seperti itu sama kamu!"


"Ngerti?!!"


***