
Bisma mengunyah makanan yang sudah tersaji di piringnya dengan sedikit malas. Pasalnya, makanan yang Gendhis masak pagi itu untuk sarapan mereka, terasa hambar. Apalagi sambil memandang ekspresi datar Gendhis yang duduk di seberang meja.
"Nggak enak ya, Mas?" tanya Gendhis, basa-basi.
"Oh, nggak. Cuma kurang asin aja dikit." Bisma berusaha untuk tidak menyinggung Gendhis. Walaupun mungkin perempuan itu tidak peduli. Dilihatnya Gendhis hanya mengulas senyum tipis, sekilas.
"Mas, aku bosen di rumah terus. Kayaknya aku pingin kerja lagi deh." Gendhis memulai pembicaraan serius.
"Owh, gitu? Pingin kerja apa emangnya?" tanya Bisma, dengan berat hati tentunya. Mungkin ia memang egois. Ingin Gendhis selalu di rumah, meminimalisir kemungkinan untuk bertemu dengan Shaka. Tapi, melihat keadaan Gendhis setiap harinya semakin kurus dan pucat, terlebih lagi, ia tidak pernah lagi melihat perempuan itu tersenyum, hatinya mulai merasakan iba. Terkadang rasa bersalah menghantui perasaannya. Meskipun ego-nya yang begitu tinggi, mengalahkan segalanya.
"Permisi bentar, Mas." Gendhis buru-buru berlari ke kamar mandi tamu, dan seperti biasa, memuntahkan apa yang baru saja masuk dalam perutnya.
Bisma menyusul ke kamar mandi untuk melihat keadaan Gendhis. Perempuan itu duduk bersimpuh di depan toilet sembari memegangi perutnya.
"Dhis, ke dokter aja, ya? Kamu tiap hari muntah-muntah terus kaya gini. Kalau menjelang sore juga pasti demam. Aku takut kamu kenapa-kenapa."
"Nggak usah." Gendhis berdiri dan mengambil tisyu di rak kaca yang ada di atas wastafel, lalu membersihkan area bibirnya.
"Udahlah, Dhis. Nurut aja, ya. Kita ke dokter sekarang."
"Mas Bisma kan harus berangkat ke kantor." Gendhis melangkah keluar dari kamar mandi dan melewati Bisma yang berdiri di ambang pintu.
"Nggak papa, nanti aku telpon orang kantor." Bisma menyusul Gendhis yang kini sedang membereskan meja makan. "Aku ambilin dulu sweater kamu," ujarnya seraya melangkah masuk ke dalam kamar.
Bisma muncul dari balik pintu kamar sambil membawa sweater abu-abu milik Gendhis dan memberikannya pada perempuan itu. "Ntar aja nyucinya. Kita ke dokter dulu," pintanya.
Gendhis yang tidak punya cukup energi untuk mendebat Bisma, akhirnya menuruti saja kemauan lelaki itu. Ia memakai sweater untuk menutupi setelan piyama yang membalut tubuh kurusnya.
Perjalanan menuju ke rumah sakit dilalui sepasang suami istri itu dalam diam. Bisma tidak berniat untuk mengajak Gendhis bicara, karena sudah bisa dipastikan, perempuan itu hanya akan menimpali dengan kata-kata pendek. Gendhis yang memang pendiam, menjadi semakin pemdiam. Saat Bisma melirik sekilas ke arah istrinya itu, ia sedang menyandarkan punggungnya seraya memandang keluar jendela. Ada sedikit perih dalam dadanya melihat betapa Gendhis terlihat begitu lemah dan rapuh. Pelan, satu tangan kirinya bergerak meraih telapak tangan Gendhis dan menggenggamnya erat.
"Asam lambung Mbak-nya naik," terang dokter yang memeriksa keadaan Gendhis, seorang lelaki paruh baya yang sebagian rambutnya telah memutih. "Harus jaga pola makan ya, Mbak? Susah makan pasti ini." Ia melanjutkan sambil terkekeh. "Kalau asam lambung terus-terusan naik bisa menyebabkan radang usus halus. Yang terpenting, jangan stres. Mbak-nya harus seneng dulu, biar enak makan." Dokter itu melontarkan selorohannya yang membuat bibir Gendhis menyunggingkan senyum tipis.
Jangan stres. Ucapan sang dokter terngiang-ngiang di benak Bisma. Berat badan Gendhis memang turun drastis beberapa minggu ini karena susah makan. Meskipun ada makanan yang masuk ke dalam perutnya, namun hanya bertahan sesaat saja. Ia terlihat loyo dan pucat.
"Aku bolos ke kantor aja hari ini. Mau nemenin kamu," ucap Bisma sekembalinya mereka dari rumah sakit. "Obatnya diminum dulu ya, Dhis. Mau pake pisang apa air?" tanyanya seraya mengeluarkan beberapa bungkus obat dari plastik berwarna putih yang tadi ditebusnya di apotik.
"Pisang aja, Mas." Gendhis yang berbaring di atas sofa ruang tengah, menjawab.
Bisma menaruh bungkusan obat di atas meja, lalu melangkah masuk ke dapur. Tidak lama kemudian, ia kembali dengan dua buah pisang di tangannya. Tadi ia sempat membeli roti di mini market untuk mengisi perut Gendhis.
"Duduk dulu, Dhis." Bisma membantu Gendhis ke posisi duduk. Lalu menyodorkan pisang pada istrinya itu. Ia lalu memperhatikan gerakan Gendhis menelan obat-obat itu sampai selesai.
"Iya, Mas."
"Memangnya pingin kerja apa?"
"Kerja yang nggak tiap hari. Kasih kursus private nari mungkin."
"Owh, gitu. Aku sih nggak keberatan kalau kaya gitu."
Gendhis menoleh ke arah Bisma yang tengah mengulas senyumnya. "Makasih, Mas."
Bisma menyugar rambut Gendhis yang sedikit berantakan. "Yang penting kamu sehat dulu, ya?" Gendhis menangkap sorot sendu dalam tatapan mata Bisma. Lalu pandangannya beralih ke arah tangannya yang kini digenggam erat oleh lelaki itu.
"Dhis, aku minta maaf udah bikin kamu kaya gini."
Gendhis memalingkan wajahnya. Ucapan Bisma kembali menyakiti hatinya. Untuk apa minta maaf kalau semuanya sudah terjadi. Ia telah kehilangan Shaka. Dengan keras ia berusaha menahan buliran bening jatuh ke pipinya.
"Aku tahu, nggak mudah buat kamu melupakan ...." Bisma urung mengucap nama lelaki yang mungkin masih bertahta dalam hati Gendhis. "Aku tahu, aku egois, Dhis. Tapi, cinta memang egois, bukan? Aku cinta banget sama kamu, aku pingin hidup sama kamu. Beri aku kesempatan buat nunjukin kalau aku bisa bikin kamu bahagia."
Tidak ada yang bisa membuatku bahagia selain Ryushaka Adiarta. Di mana kekasihnya itu sekarang? Bagaimana dia melanjutkan hidup tanpa dirinya?
Gendhis meratap dalam hati. Dadanya terasa sesak. Sesak oleh dorongan emosi yang ingin segera ia luapkan.
"Lihat aku, Dhis," pinta Bisma seraya meraih dagu Gendhis dan membawanya menghadap ke arah wajahnya. "Kamu nggak pernah ngasih kesempatan diri kamu untuk melihat aku."
Wajah Gendhis mengarah ke wajah Bisma, namun pandangan matanya tertuju ke arah lain. Sebentar lagi. Ya, sebentar lagi, buliran bening itu pasti lolos.
Aku nggak bisa melihat lelaki manapun kecuali Ryushaka Adiarta. Ya Gusti, di mana dia sekarang?
Air mata Gendhis tumpah. Ia tidak mampu lagi menahan tangisnya. Bahunya terguncang-guncang dan rintihannya terdengar begitu pilu.
Bisma meraih tubuh ringkih itu dan membawanya ke dalam pelukannya. Oh, sungguh dadanya terasa sangat perih melihat perempuan yang begitu dicintainya itu menangis. Sekilas ia berpikir ingin mengembalikan keadaan seperti semula. Namun, lagi-lagi, ego-nya mendominasi pikirannya. Ia ingin hidup bersama Gendhis hingga akhir hayatnya.
Kuatkan hatimu, Bisma. Jangan lemah. Masih banyak kesempatan untuk bisa mendapatkan cinta perempuan dalam dekapanmu. Biar saja Gendhis memuaskan dirinya dengan penderitaan yang sedang ia alami. Ini hanya proses. Waktu akan menyembuhkan luka hati Gendhis. Waktu akan memudarkan ingatan Gendhis akan Shaka.
Bisikan-bisikan dalam kepala, terus saja memberi penghiburan pada Bisma. Ia terus menerus meyakinkan diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.
***