
"Luruskan tangan kanan ke samping, Sayang," ucap Gendhis pada seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh tahun sambil mencontohkan gerakan tari gambyong yang gemulai. "Tangan kiri di depan dada. Tekuk telapak tangan ke atas, jempol dilipat ke dalam seperti ini, Marsha." Ia membantu anak perempuan yang dipanggil dengan nama Marsha itu melipat ibu jari menempel pada telapak tangan.
"Coba sekarang berputar sama Ibu," pinta Gendhis pada Marsha.
"Begini, Bu Gendhis?" tanya Marsha seraya memutar badan mengikuti gerakan guru tarinya itu.
"Iya. Bagus. Sekarang maju pelan, jalan menyilang ya, Marsha. Jangan lupa selendang dilempar ke belakang seperti ini."
Marsha cukup tanggap dengan arahan Gendhis. Bahkan saat diminta mengulang gerakan dari awal diiringi dengan alunan gamelan dari speaker yang ada di ruangan itu, Marsha tidak melakukan kesalahan.
"Bagus, Marsha. Kamu sudah hapal sebagian gerakannya. Besok Ibu tambah lagi gerakan selanjutnya, ya?" ucap Gendhis mengakhiri kelas tarinya hari itu.
"Iya, Bu."
Anak manis. Gendhis senang jika bertemu murid seperti Marsha. Pintar dan tidak rewel. Membuat suasana hatinya menjadi riang.
"Terimakasih, Bu Gendhis. Hati-hati di jalan." Seorang perempuan cantik yang sepertinya hampir satu umuran dengannya berucap ramah saat Gendhis berpamitan meninggalkan rumah besar yang cukup mewah itu. Perempuan itu adalah ibu-nya Marsha, nyonya rumah yang masih terlihat muda. Mungkin umur perempuan itu lebih tua beberapa tahun darinya.
Dengan mengendarai motor scooter mungilnya, Gendhis pun pulang ke rumah setelah sebelumnya mampir ke baby shop untuk membeli stock makanan serta cemilan balita. Tiba di halaman rumahnya, ia disambut rengekan anak bayi laki-laki berusia satu setengah tahun yang sedang digendong oleh asisten rumah tangganya.
"Dena kenapa, Sayang?" Gendhis meraih si bayi dalam gendongan asisten rumah tangganya, seorang perempuan paruh baya bernama Mbok Sugiyem.
"Dena kangen sama Ibu ya," seloroh Mbok Sugiyem sembari mencubit gemas pipi montok Dena.
Gendhis menciumi Dena yang langsung menempel erat padanya, seakan tidak ingin perempuan itu pergi darinya. "Belanjaannya ditaruh belakang ya, Mbok," pintanya pada sang asisten sambil menyerahkan satu bungkus plastik putih berisi barang-barang yang dibelinya dari baby shop.
"Njih, Bu."
"Oh ya, Bapak di mana?"
"Tadi sedang istirahat di kamar, Bu."
Gendhis mengangguk. Lalu sambil menggendong Dena, ia melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Di dalam kamar, Bisma sedang berbaring di atas ranjang.
"Mas," panggil Gendhis sambil mendekat pada lelaki yang sedang memunggunginya itu.
"Owh, sudah pulang, Dhis?" Bisma berusaha menyunggingkan senyum saat memutar badan menghadap ke arah Gendhis yang kini telah duduk di tepi ranjang, dan mendudukkan Dena di dekat Bisma.
"Sini, sini, sama Bapak." Bisma meraih tubuh mungil Dena untuk dibawa ke pangkuannya.
"Hati-hati, Mas ... lenganmu kan masih sakit." Gendhis memperingatkan Bisma seraya memegangi Dena yang berjingkrak-jingkrak riang di pangkuan lelaki itu.
"Nggak papa. Ya Dena, ya?" Bisma menggesekkan hidungnya ke hidung mungil Dena, membuat bocah itu tertawa-tawa kegirangan.
"Udah diminum obatnya, Mas?"
"Udah, Dhis."
Gendhis pun baru tahu, dari cerita orang tua Bisma, bahwa suaminya itu memang memiliki penyakit jantung bawaan. Namun, saat menginjak usia remaja, kondisinya membaik. Orang tuanya bahkan mengira kalau selama ini Bisma baik-baik saja. Nyatanya selama beberapa tahun belakangan, ia menyembunyikan kondisinya yang sebenarnya pada semua orang. Bahkan Gendhis pun sebelumnya tidak tahu jika Bisma intens berobat ke rumah sakit.
"Dhis ...," panggil Bisma. Ia masih menggodai Dena. Tangan mungil bocah tampan itu ia gigit-gigit kecil, membuatnya tertawa-tawa geli. "Gimana ngajarnya hari ini?" Ia menoleh ke arah Gendhis.
"Lancar, Mas."
Bisma mengulas senyumnya. Gendhis di matanya tampak begitu cantik. Ia bahagia. Keadaan Gendhis sudah jauh lebih baik. Setelah melalui proses berdarah-darah yang membuatnya hampir depresi. Meskipun ia tidak pernah tahu apa yang Gendhis rasa dalam lubuk hati terdalamnya, apakah ia sudah berhasil melupakan cintanya pada Shaka, yang jelas, melihat dari luar Gendhis tampak sehat dan baik-baik saja, Bisma lega.
Dirinya sadar, ia egois. Ia ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Gendhis. Meskipun ia tidak bisa memiliki hatinya, keberadaan Gendhis di sisinya sudah lebih dari cukup.
"Makasih ya, Dhis," ucap Bisma.
"Makasih untuk apa, Mas?" Gendhis mengerutkan keningnya.
"Untuk mau bertahan hidup sama aku."
Gendhis mengulas senyum tipis. "Aku udah bilang berkali-kali. Pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa dipermainkan," ucapnya. "Aku juga minta maaf kalau selama ini aku membuat Mas Bisma capek dengan sikapku."
Bisma menggeleng. Ia mengusap kepala Dena yang kini bersandar di dadanya sambil menghisap botol susu yang beberapa saat lalu diberikan oleh Gendhis padanya.
"Enggak. Aku yang harusnya minta maaf. Berkali-kali aku yang harus minta maaf sama kamu."
"Sudahlah, Mas. Nggak usah kita bahas lagi sesuatu yang udah berlalu. Aku udah baik-baik aja kok. Yang penting itu Mas Bisma sekarang sehat dulu."
Bisma meraih tangan Gendhis dan menggenggamnya erat. Sementara tangan lainnya mengusap punggung Dena. Bocah itu perlahan memejamkan mata. "Boleh nanya sesuatu, nggak?" tanyanya.
"Apa, Mas?"
"Maaf ya sebelumnya kalau aku lancang. Apa kamu nggak kangen sama Shaka?"
Mendengar nama itu disebut, dada Gendhis tiba-tiba berdetak kencang. Nama yang mati-matian ia sembunyikan dalam ruang terdalam hatinya, dan terkunci di sana. Gendhis berusaha keras nama itu tersimpan dalam sebuah ruang gelap hatinya, dan tidak mengizinkannya untuk keluar membayangi pikirannya kembali.
"Nggak usah membahas itu, Mas. Kan udah berlalu."
"Bukan, Dhis. Bukan gitu maksudku." Bisma menatap Gendhis lekat. "Mungkin hidupku nggak bakal lama lagi, Dhis. Aku pingin kamu bahagia nantinya kalau aku udah nggak ada."
"Mas, tolong jangan ngomong kaya gitu. Mas Bisma pasti sembuh."
Bisma mengeratkan genggamannya pada tangan Gendhis. Bibirnya yang pucat menyunggingkan senyuman. Sebuah senyuman yang sarat akan kebahagiaan, kelegaan dan juga keikhlasan.
"Aku sudah merenggut kebahagiaan kamu selama dua setengah tahun ini untuk kebahagiaanku sendiri. Dan aku merasa sudah cukup bahagia. Keinginanku untuk bisa hidup sama kamu sudah terwujud. Aku sudah merasa cukup, Dhis. Sekarang giliranmu, Dhis. Aku pingin kamu juga mendapatkan kebahagiaanmu."
Ucapan Bisma membuat mata Gendhis mengembun. Ia pandangi wajah teduh namun pucat di hadapannya itu. Untuk pertama kalinya, ia begitu ingin memeluk lelaki itu. Entah kenapa hatinya begitu perih. Dan ia pun tidak mampu menahan buliran bening yang jatuh membasahi pipinya.
***